Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Nonton


__ADS_3

"Kakak febry.... Kak febryyy, bangunnnn..." Suara ketukan dan teriakan Ryan di depan pintu, memecah keheningan di pagi hari. Dengan malas dan mata yang masih mengantuk, Febry menatap layar ponsel miliknya. Jam sudah pukul enam pagi. Ia lantas keluar kamar. Bocah sepuluh tahun itu sudah bangun, bahkan rambutnya basah seperti sudah mandi.


"Napa teriak-teriak?"


"Tolong bikinin makan, aku lapar kak."


"Pagi banget minta sarapan. Eh, kamu udah mandi bocil?"Febry memperhatikan adiknya dari ujung kaki hingga kepala.


"Iya dong, memang kakak masih ternak iler. Gorengin telur y kak. Tadi malam aku gak makan, keburu ngantuk. Please!" Ryan menangkupkan kedua tangannya di depan bibir.


"Elahhh, y udah." Dengan nyawa yang seolah masih belum terkumpul, Febry membuatkan Ryan sarapan. Ia heran dengan adik semata wayangnya itu. Karena sudah begitu rapi pagi ini.


Sebuah pesan masuk, Febry membaca isi pesan tersebut. Berulang kali ia mengulum senyum sembari menatap layar ponsel miliknya.


(Feb, pagi ini aku ke Surabaya, mungkin Senin pagi baru pulang. Oh iya, tadi malam ngorok kamu banter banget😬)


Febry tertegun, ia lantas mengecek panggilan terakhir. Netranya membulat ketika melihat lama nya durasi panggilan telepon hingga lima jam. Ia baru tersadar jika tadi malam pak Ardi benar-benar menemani hingga ia terlelap. Bahkan sepertinya pak Ardi sengaja tidak mematikan telepon meski Febry telah tertidur.


Febry salah tingkah, ia berulang kali mengusap wajahnya. Ia merasa sangat malu dan baru menyadari, jika hal seperti itu biasanya di lakukan oleh sepasang kekasih, tapi mereka? Mereka hanya sebatas atasan dan bawahan.


Suara bell menggema hingga ke ruang tengah. Febry yang sedang menonton televisi lantas bangkit dan berniat membukakan pintu. Baru saja ia melangkah, Ryan yang berada di kamar, tampak keluar lalu bergegas berlari ke depan untuk membuka pintu.


Dengan tingkah yang terlihat begitu kegirangan, ryan membuka kan pintu. Lelaki dengan kaus berwarna putih dan jins hitam, tampak berdiri di depan pintu. Sosok yang begitu familiar di mata Febry.


"Pagi, Feb." Febry hanya tersenyum tipis.


"Sudah siap, Ryan?


Bocah laki-laki itu mengangguk. Febry yang berdiri di samping Ryan terlihat bingung.


"Apanya yang siap?"


"Hari ini aku di ajak kak Riko jalan ke mall. Kami mau nonton. Kak Febry gak usah ikut, ppfffffff," ucap Ryan sembari mengejek Febry.


"Ehhh, memang udah izin ayah?"


"Udah dong kemarin. Dah lah. Kami mau jalan dulu, Kaka di rumah aja. Hati-hati di gondol genderuwo."


"Buset ini bocil. Gak. Kamu gak boleh pergi."


"Kemarin kak Riko udah izin sama ayah ibu, kalau gak percaya, tanya kak Riko iya kan kak? Ryan menunjuk riko yang sedari tadi masih berdiri di depan pintu.


"Iya, bener Feb. Kemarin aku udah izin sama kedua orang tua kamu. Atau kamu ikut kita jalan aja gimana?"

__ADS_1


"Jangan di ajak kak, kak Febry cerewet, makannya banyak lagi."


Febry tampak berfikir sejenak, sebenarnya ia malas untuk ikut, namun ia tak berani jika harus seorang diri di dalam rumah.


"Oke bentar aku siap-siap. Eh bocil, kakak ikut karna takut kamu nyusahin kak Riko nanti."


"Helehhh, paling kak feb takut sendiri di rumah kan? Iya kan iya kan?"


"Huuu dasar bocil." Febry menjentik telinga adiknya sebelum ia berbalik ke kamar nya untuk bersiap. Sementara Riko yang sudah terbiasa melihat kakak dan adik itu bertengkar hanya tersenyum.


Setelah beberapa menit berlalu, febry keluar kamar dan menghampiri Riko yang asik berbincang dengan Ryan. Mereka lalu keluar rumah menuju mobil yang terparkir di pekarangan.


"Ehhh, kakak mau ngapain?" Ryan menghentikan Febry yang ingin membuka pintu mobil.


"Y duduk lah."


"Aku duduk depan samping ka Riko, Kakak di belakang."


"Busett nih bocah." Febry mengomel kecil, namun ia lantas beralih. Sementara Riko hanya tersenyum sembari menggelang-gelengkan kepala melihat tingkah Ryan yang sangat suka mengganggu kakak nya.


***


(Kamu lagi ngapain, Feb?)


Febry membaca sebuah pesan masuk dari pak Ardi. Berulang kali ia mengetik pesan lalu menghapusnya.


"Iya, masih ada waktu, kita makan dulu ya."


"Ayooo, kak riko, aku mau makan masakan jepang yang ada di lantai bawah tadi. Tapi mau beli wafle sm thai tea dulu." Bujuk ryan sembari memegang pergelangan tangan riko.


"Bocil, gak tau malu banget ih. Dah di ajakin nonton, minta ini itu lagi." Febry mencubit pipi Ryan, hingga anak itu merasa kesakitan dan mengelus pipinya berulang kali.


"Biarin weeee, boleh kan kak?"


"Iyaa iyaa boleh." Riko tertawa melihat tingkah Ryan.


"Gak usah di turutin Rik, nanti aku laporin ke ayah nih bocil."


"Gak papa, kan sama adek ipar harus sayang." Riko lantas beranjak meninggalkan Febry yang masih terdiam mendengar jawaban Riko.


****


"Ih kak Febry, tadi ngatain aku minta ini itu sama kak Riko. Lah itu, kenapa kakak ikutan pesan wafle sama minuman?"

__ADS_1


Febry seolah kalah telak oleh ucapan adiknya, ia hanya melengos membuang wajah, menyembunyikan ekspresi malu.


"Ini tempat kesukaan kakak kamu, yan. Dulu setiap ke mall nonton, pasti mampir ke sini," ucap Riko sembari mencuri pandang ke Febry yang seolah salah tingkah.


"Kak, nanti aku mau bilang ke ayah. Aku mau tukar kak Febry sama kak Riko. Kak Riko aja yang jadi kakak aku."


Febry melotot, seolah tak terima dengan ucapan adiknya.


"Memang kenapa?" Riko penasaran.


"Y lah, kalau sama kak Riko minta ini itu langsung di belikan. Kalau kak Febry, dibelikan sih tapi ceramah dulu, terus panjaaaangg lagi. Ga ngerti anime juga, ahhh pokoknya g asik kalo kak Febry," ucap Ryan sembari memasukan potongan kue wafle ke mulutnya. Riko tertawa puas melihat ekspresi Febry yang menjitak gemas kepala ryan, karena tak terima dengan apa yang di katakan adiknya.


"Yan, kamu lebih suka kak Riko apa temen kak Febry yang kemarin?" ucap Riko penasaran.


"Temen kakak yang kemarin? Yang om-om, ehh kak ardi?" Jawab Ryan dan di iya kan oleh Riko.


"Ya tergantung,"


"Tergantung gimana?" Riko memperhatikan bocah sepuluh tahun itu dengan mimik wajah serius.


"Ya tergantung, tergantung siapa yang banyak belikan aku mainan sama makanan sih."


"Bocil kebanyakan akal nih." Febry melempar tisu yang sudah ia remas ke arah Ryan. Riko tertawa mendengar ucapan Ryan, ia lantas menyentil gemas telinga bocah itu.


***


Film telah di putar, Riko duduk ditengah. Ryan tampak asik menikmati film yang mereka tonton. Sementara Riko, diam-diam mencuri pandang ke arah Febry yang duduk di sampingnya.


"Film nya di depan bukan di samping." Febry mendorong pelan wajah Riko yang tengah mengarah ke arahnya.


"Yah, ketahuan deh," ucap Riko malu-malu. Febry salah tingkah sembari mengulum senyum.


"Feb, gak kepingin mengulang masa lalu?" Riko menyandarkan kepalanya lebih dekat ke arah Febry.


"Gak. Masa lalu nya udah kelelep."


Bukannya marah mendengar ucapan febry, Riko malah tertawa kecil.


"Kalau kelelep, nanti biar Abang tolongin. Kalau perlu Abang kasih nafas buatan," goda Riko, dan sukses membuat Febry menoleh ke arahnya dengan mata yang melotot kesal sembari mengulum senyum salah tingkah.


Ponsel Febry yang berada di dalam tas bergetar, Febry lantas mengeluarkan ponsel miliknya dan membaca nama yang terpampang di layar ponsel. Riko yang duduk di samping Febry sedikit mengintip mencari tau siapa yang menelpon Febry.


"Gak di angkat?" ucap Riko. Setelah mengetahui jika pak Ardi yang menghubungi Febry.

__ADS_1


"Gak nanti aja, gak kedengaran juga suaranya," kilah Febry.


Riko hanya mengangguk-angguk, ada perasaan cemburu, namun ia sadar. Jika ia dan Febry tak ada hubungan apa-apa.


__ADS_2