
"Ini rumah kakek, nenek kalian," ucap ayah ketika memasuki rumah.
Rumah itu terlihat begitu kental dengan nuansa jawa. Terdapat beberapa hiasan dinding berbentuk wayang kulit serta kursi tamu yang terbuat dari pohon jati. Namun ada sesuatu yang menarik perhatian febry. Yaitu sebuah gamelan dan gong yang tampak usang, di samping kursi goyang di dekatnya.
Febry mendekat, ia lantas mengusap gamelan itu menggunakan salah satu jari. Tampak debu tipis menempel di jari lentiknya.
"Yah, yang tinggal di sini siapa?" Ryan yang penasaran dengan kursi goyang, lantas duduk dan menggoyangkan tubuhnya pelan. Senyumnya mengambang ketika kursi yang ia naiki bergoyang ke depan ke belakang.
"Rumah ini kosong, yan. Paling pak yatmo tetangga kakek seminggu sekali ke sini buat bersih-bersih."
"Hah kosong? Masa? Tadi pas di depan, Ryan liat ada anak kecil lari ke arah belakang rumah."
Sontak semua menoleh, terlebih Febry. Ia yang sedari tadi di samping Ryan tak melihat anak kecil yang Ryan maksud.
"Ahhh, mungkin anak tetangga," ucap ibu, dan di balas anggukan oleh sang ayah.
"Owhhh." Bocah itu lantas bangun, lalu berjalan kesana kemari seolah mengamati benda-benda yang mungkin menurutnya unik.
Jika Ryan langsung percaya, maka Febry sebaliknya. Rumah peninggalan kakek neneknya cukup jauh dari tetangga.
Dan seandainya memang ada anak kecil, tentu ada orang tuanya di sekitar rumah, karena tak mungkin membiarkan anak kecil bermain seorang diri di rumah kosong yang cukup besar ini. Namun kenyataan nya, tak nampak seseorang selain mereka di halaman rumah tadi.
Ibu dan ayah seolah tak mengambil pusing dengan ucapan Ryan, mereka lantas membuka jendela-jendela rumah, lalu berjalan lebih dalam melihat situasi rumah yang sudah lama kosong itu.
Sementara Febry, masih tertegun di samping gamelan seorang diri. Netranya mengamati sekitar.
Febry yang masih berdiri di samping gamelan, sontak kaget ketika ia merasakan punggung tangannya seperti ada yang mengelus.
Bulu kuduknya meremang. Ia lantas menatap kesana kemari seolah mencari sesuatu. Namun ia benar-benar hanya seorang diri di ruangan itu.
"Dhungggggg." Suara gong menggema, membuat Febry reflek terpenjat kaget.
"Hehehehe, kaget y kak?" Ryan yang tiba-tiba muncul di belakang gong sembari memegang kentongan.
"Bocahhhhhh. Jantung kakak rasa mau copot tau."
"Lah kakak ngapain melamun di sini, jalan-jalan dong kaya aku. Rumah ini unik kak."
"Huh, dasar. Eh tapi tadi kamu ngapain pegang tangan kakak?"
"Aku? Ngapain pegang kakak?"
"Tadi kamu gini kan?" Febry lantas memperagakan gerakan elusan yang ia rasakan.
__ADS_1
"Gak ada. Kakak kebanyakan melamun tuh. Pasti keingetan pak Ardi, kabuurrrr." bocah itu berlari meninggalkan Febry yang masih penasaran. Jika itu bukan Ryan, lantas siapa yang mengelus punggung tangannya.
****
Rumah besar itu terdapat empat buah kamar. Dua kamar Kamar terletak di depan, lalu ada ruang keluarga, dapur. Sementara dua kamar terletak di bagian belakang dan saling berhadapan.
Ayah dan ibu memilih tidur di salah satu kamar yang berada di depan, kamar ketika ia masih muda dahulu. Sementara Rian dan Febry satu kamar yang berada di belakang. Untuk menuju dua kamar itu, harus melewati dapur dan ruang keluarga.
Mau tak mau, Febry harus berbagi tempat tidur dengan ryan, karena kamar yang berada di depan kamar mereka di gunakan untuk gudang.
Tak ada yang aneh dari kamar itu, hanya terdapat sebuah kasur berukuran cukup besar, dengan meja rias, lemari di sisi sisi tempat tidur dan semua terbuat dari kayu jati.
Terdapat sebuah jendela di sisi kamar, jendela itu mengarah ke pekarangan samping rumah. Awalnya Febry merasa tak ada yang aneh dengan rumah itu, namun semakin ia masuk semakin dalam dan merebahkan diri di atas kasur, ia merasa seolah-olah sedang di awasi.
***
"Ah, payah banget. Disini gak ada jaringan, kak. Jaringannya naik turun," ucap Ryan yang baru masuk ke kamar dengan wajah masam.
"Namanya di desa, tengah hutan pula. Lagian kamu paling cuma mau game. Bagus dong gak ada internet, biar ga kecanduan main game."
Bocah itu memanyunkan bibir, sembari berkali-kali melihat ponsel miliknya yang tak bisa di mainkan.
"Anak-anak. Kalau mau charge ponsel sekarang aja ya, soalnya kalau malam listrik di kampung ini mati dari jam tujuh sampai jam sembilan pagi besok baru nyala."
"Udah internet susah, listrik juga, mah?" protes Ryan.
"Iya."
"Tau gitu, Ryan gak ikut. Di rumah aja sama kak Febry. Iya kan kak?"
Febry mengangguk, kali ini ia setuju dengan pernyataan bocah berumur sepuluh tahun itu.
*****
Senja mulai melukiskan warna jingga nya, jalanan desa terlihat mulai sepi. Ryan yang sedang bermain di halaman rumah sedikit bingung ketika sang ibu memintanya untuk masuk ke dalam rumah.
"Ryan," panggil ibu, yang berdiri di ambang pintu.
Ryan yang sedang bermain dengan seekor kucing, menoleh.
"Masuk nak, sudah mau maghrib."
"Memangnya kenapa, mah?" Ryan mendekat ke arah sang ibu.
__ADS_1
"Kalau di sini, surup harus masuk, nak. Gak boleh main di luar rumah."
"Sirup?"
"Surup, yan."
"Memang kenapa?"
"Udah nurut aja, sini." Sang ibu lantas sedikit menarik paksa tangan Ryan agar ikut masuk ke dalam rumah.
"Memangnya kenapa, mah kalau surup main di luar?" Ryan semakin penasaran ketika melihat tingkah ibunya yang langsung menutup pintu dan jendela.
"Di desa sini, hal mistis masih sangat kental, yan. Apa lagi desa ini ada di tengah hutan."
"Owhhhh, terus?"
"Ihh, banyak tanya nih bocah, udah nurut aja. nanti di gondol Wewe mau?" Febry yang sedari tadi duduk di kursi tamu, ikut gemas dengan adiknya yang banyak bicara.
Meski lampu masih menyala, Sang ayah tampak sudah menyalakan beberapa lilin. Lelaki itu meletakan beberapa lilin yang di taruh di atas piring lalu di letakannya di atas meja.
"Memang nya bentar lagi mati lampu, yah?"
"Buat jaga-jaga, yan. Nanti kalian kaget kalau tau-tau mati lampu."
"Oh iya, ponsel aku di kamar." Dengan cepat Febry bergegas berlari kecil menuju kamar. Meski tak ada jaringan internet, namun gadis itu masih berharap jika sewaktu waktu ada pesan yang bisa masuk.
Ia berjalan melewati dapur yang cukup luas dengan jendela kaca berukuran cukup besar yang menghadap ke halaman samping rumah.
Tanpa sengaja netranya menatap ke arah dapur, tepat di jendela kaca yang tirainya belum di tutup sepenuhnya. Langkahnya seolah tertahan, ketika tanpa sengaja melihat sebuah mata merah seperti api yang menyala, tengah mengintip di balik tirai jendela.
Beberapa detik berlalu, seakan mata merah itu menatap ke arahnya, namun ia kemudian tersadar dan memilih berlari ke kamar nya. Jantunga Febry tak karuan, ia lantas teringat sosok mata merah saat ia tengah dirumah sakit dahulu, lantas mengapa ia melihat sosok itu lagi di tempat yang berbeda, apakah itu mahluk yang sama?
Pertanyaan itu seakan memenuhi isi kepala Febry. Tubuhnya berkeringat. Perasaan takut itu tak hilang, meski ia sudah berusaha mengalihkan perhatiannya.
Febry mengeluarkan beberapa isi laci meja rias, ia mencari ponsel miliknya yang ia yakini ada di dalam laci. Namun hingga semua isi laci itu kosong, tak jua Febry menemukan benda pipih itu.
Dupppp
Listrik padam, seketika ruangan menjadi gelap. Hanya ada seulet cahaya dari lilin yang berada di lorong depan kamar. Detak jantungnya semakin tak karuan. Ia seakan panik karena tak juga menemukan ponselnya.
Febry mencoba mencari di dalam tas yang ada di sisi ranjang, namun nihil. Benda itu tak juga berada di situ.
Namun, ketika ia memasukan isi laci yang tadi berserakan di atas meja rias, tangannya tanpa sengaja menyentuh sesuatu.
__ADS_1
dengan sedikit membungkukkan tubuh, ia mencoba mengamati benda itu. Ya, ponsel itu ada di dalam laci. Tepat dimana kali pertama ia meletakan. Febry lantas berlari menuju ruang tamu. Jantung nya berdetak karuan, ia yakin jika kali ini ia telah di ganggu oleh mahluk tak kasat mata.