
"Ma, Mama percaya gak sama adanya mahkluk halus?"
"Percaya, kenapa memang?" Sang Mama yang sedang memotong sayuran menghentikan gerakan tangannya lalu menatap ke arah Febry.
"Pabrik tempat aku kerja horror banget, Ma. Malah kemarin aku benar-benar liat penampakan. Memang Mama pernah ketemu sama hal begituan?"
"Mama sih gak pernah liat langsung, tapi kalau nyium aroma bunga, merinding, itu sering. Kamu kudu hati-hati nak, jangan bikin ulah. Namanya kita hidup di dunia pastilah berdampingan sama hal begituan," ucap Mama lalu melanjutkan memotong kacang panjang menjadi kecil-kecil.
"Febry gak ngapa-ngapain, tapi kalau hantu naksir manusia Mama pernah dengar?"
"Bukan hantu, tapi jin. Pernah, banyak kasus seperti itu. Malah ada jin yang bisa nidurin manusia, makanya kamu sebagai cewek hati-hati. Baca doa sebelum tidur."
"Hah, hantu bisa nidurin manusia, Ma? Gimana ceritanya?" Febry yang masih mengenakan lilitan handuk di kepalanya mendadak penasaran. Ia lantas menarik kursi yang berada di samping sang Mama.
"Dulu tetangga embah kamu di Jawa pernah hamil anak genderuwo, dia cerita. Malam pas suaminya lagi pergi selamatan mendadak balik terus minta jatah, y sudah namanya dikira suami sendiri."
"Terus, Ma?"
"Y tetangga embah kamu hamil, hamilpun semua normal normal aja kaya orang hamil kebanyakan. Pas lahiran juga mudah. Zaman dulu gak pakai bidan tapi paraji. Kamu tau, bentuk anaknya serem. Penuh bulu sekujur tubuhnya."
"Terus sekarang gimana si anak?"
"Kata embah kamu, anaknya pas mau empat puluh hari mendadak hilang waktu Maghrib. Kata orang sih mungkin di ambil sama bapaknya. Bapaknya y si genderuwo itu."
"Terus?"
"Terus...terus, udah kaya kang parkir aja, noh liat jam sudah jam berapa. Memang gak kerja hari ini?" Mama berucap sembari menowel hidung anak gadisnya.
"Ah iya, huftt kembali uji nyali," keluh Febry.
"Jangan gitu ah, harus bersyukur punya kerjaan. Siapa tau di pabrik kecantol jodoh."
"Lalalalalalalaa, gak dengar," ucap Febry sembari menutup kedua telinga dan berlalu pergi menuju ke kamar. Mama hanya menggeleng pasrah melihat tingkah anak gadisnya yang selalu tidak suka jika ia membahas perihal jodoh.
***
Febry meraih ponsel yang baru saja ia charger, netranya membaca satu persatu pesan yang masuk dalam aplikasi WhatsApp. Terdengar ia mendengus kesal saat membaca salah satu nama yang tertera pada layar ponsel.
"Bukan cuma di kantor, di kehidupan nyatapun serasa di terror Pak Ardi," gumam Febry, lalu meletakan ponsel di atas nakas tanpa berniat membaca isi pesan dari atasannya tersebut.
***
"Pagi, Pak Dwi," sapa Febry pada salah seorang OB yang sedang membersihkan ruangan Admin. Ruangan masih sepi, hanya ada Febry dan Pak Dwi. Febry menuju meja kerjanya dan mulai menghidupkan komputer.
"Pagi juga mbak Feb."
"Oh iya, Pak. Bapak ada bersihin pecahan kaca gak? Gelas atau piring gitu di ruangan ini?"
"Gak ada mbak?"
"Serius gak ada, Pak?" Febry mencoba meyakinkan. Karena ia yakin jika kemarin sore ia mendengar suara benda seperti kaca terjatuh dan pecah.
"Iya gak ada, Mbak. Memangnya kenapa?"
"Ah gak papa, Pak. Kali aja ada."
Pak Dwi kembali melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai membersihkan ruangan Admin ia lantas keluar.
"Pagi, Feb." Pak Ardi menyembul dari balik pintu dan menuju mejanya.
"Pak, kemarin sore bapak dengar benda jatuh terus pecah kan?"
"Gak ada," sahut Pak Ardi santai.
"Ah masa sih?" Ia sangat yakin jika Pak Ardi kemarin juga mendengar.
"Mana, Feb, pesananku?"
"Pesanan apa, Pak?"
"Lah, kamu gak buka pesan WhatsApp ku ya? Aku kan nitip nasi bungkus sama kamu."
"Hemm, gak buka. Maaf Pak, soalnya tadi buru-buru," sahut Febry berbohong, padahal ia memang sedang malas membuka pesan WhatsApp dari atasannya itu. Sebenarnya Febry sudah tau jika Pak Ardi mengirimi pesan WhatsApp pagi-pagi pasti tidak jauh dari menitip makanan atau cemilan.
***
"Hesty, Aku hari ini sibuk ngurusin pindahan kamar mes. Jadi kalau ada admin yang perlu minta tanda tangan atau apa tolong kamu handle dulu ya," ucap Pak Ardi yang baru saja kembali dari ruang produksi.
"Maksudnya saya yang tanda tangan gitu, Pak?" Hesty memasang wajah bingung.
"Ngawur kamu, maksudnya dikumpulin dulu ke kamu. Kalau urgent dan aku belum balik-balik antar ke Mes baruku nanti."
"Mes baru yang dekat sama kolam ikan bukan, Pak?"
"Iyo, aku sementara pindah ndek situ. Soale mes lama Arep direhap dulu," terang Pak Ardi yang terkadang masih lekat dengan logat surabayanya.
"Lah kok berani, Pak?"
"Kenapa memang?"
Febry yang sedari tadi cuek dan sibuk dengan pekerjaannya mendadak ikut penasaran. Ia lantas menatap ke arah Hesty dengan raut wajah penuh pertanyaan.
__ADS_1
"Ehhh, gak papa, Pak. Soalnya kan disitu lumayan sepi," terang Hesty.
"Heleh gak papa, di mes lama juga sepi. Yo wess aku balik dulu." Pak Ardi berlalu pergi meninggalkan anak buahnya.
"Memang kenapa sama mes baru nya Pak Ardi, Hes?" Febry yang sedari tadi menahan rasa penasaran akhirnya buka suara.
"Gak papa."
"Ah gak mungkin, ceritain dong. Kenapa memang? Gak mungkin gak ada apa-apa nya," jawab Febry tak percaya. Ia tau jika Hesty menyembunyikan sesuatu darinya.
"Tapi kamu jangan cerita ke Pak Ardi ya, aku gak tau dia sebenarnya sudah tau atau engga. Di mess yang mau dia tempatin itu dahulu ditempati sama cewek, dan dia mati bunuh diri disitu."
Febry terkejut dan reflek menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Serius?"
"Hu-um. Kejadiannya sudah luamaaa. Jauh sebelum Pak Ardi kerja di sini. Dan Dia masih ada di situ. Dia gak galak, tapi kalau merasa terganggu tau dah."
"Kamu tau alasan dia kenapa sampe bunuh diri?"
"Suaminya selingkuh jadi y begitulah. Sudah ah jangan di bahas disini, nanti dia merasa terpanggil." Hesty lalu melanjutkan pekerjaannya. Sementara Febry yang memang penakut mendengar ucapan Hesty mendadak mengelus lehernya dengan perasaan ngeri.
***
**Cause I-I-I'm in the stars tonight
So watch me bring the fire and set the night alight
Shoes on, get up in the morn'
Cup of milk, let's rock and roll
King Kong, kick the drum, rolling on like a Rolling Stone...
Suara boy band BTS menggema dari dalam kamar Febry, gadis berambut lurus itu tengah asik menikmati malam minggunya dengan mendengarkan deretan lagu BTS sambil berguling kesana kemari di atas kasur. Baginya bisa menghabiskan waktu di dalam kamar bernuansa hello Kitty miliknya adalah sebuah kenyamanan. Sebuah ketukan berulang di pintu kamar tak mengusik Febry yang mulai merasa ngantuk.
"Kak Febry," panggil bocah laki-laki berusia sepuluh tahun, merasa tak mendapat jawaban dari sang Kakak, bocah lelaki tersebut lantas masuk dan menepuk kaki kakaknya.
"Astaga," ucap Febry kaget.
"Dipanggil gak nyaut," protes si anak lelaki.
"Kenapa memang?"
"Kakak kedatangan tamu tuh di depan."
"Tamu siapa?" Dahinya mengernyit, mengingat jika ia tak memiliki janji bertemu."
"Teman kakak, tadi bilang namanya Mas ganteng."
"Mas Ardi kalau gak salah?"
"Apaaaa?" Febry melompat kaget dari tempat tidurnya dan langsung berlari menuju ruang tamu. Ia merasa tak percaya dengan ucapan adiknya, tetapi jika mengingat kalimat "Mas ganteng" Febry merasa sangat yakin jika memang benar itu adalah Pak Ardi. Karena tidak ada orang yang paling narsis yang pernah ia kenal selain atasannya tersebut.
Jantung Febry serasa ingin copot saat netranya melihat sosok yang tengah asik berbicara dengan sang ayah.
"Pak Ardi?"
Lelaki itu menoleh, memamerkan deretan gigi ratanya dengan senyuman penuh arti.
*****
Pak Ardi ngapain di sini?"
"Aku bosan di mess Feb. Tadi rencana keluar mau nyari makan, aku ingat cerita Hesty. Katanya bakso dekat komplek kamu itu enak. eh ternyata, ada tiga warung bakso dekat sini, bingung warung yang mana. Jadi y udah aku putusin mampir," terang Pak Ardi sembari mencomot pisang goreng yang ada di depannya.
"Ya kan bisa Wa aku dulu, Pak. Nanti ortu aku salah paham." Febry melirik sang Ayah yang sedang menonton televisi di ruang tamu. Sedangkan ia memilih mengajak Pak Ardi untuk berbicara di teras. Lebih tepatnya Febry lah yang memaksa untuk berbicara di luar.
"Salah paham gimana?"
"Yaa... ya salah paham pokoknya. Terus sekarang Pak Ardi mau ngapain?" Febry bingung menjelaskannya, karena ia tak ingin Pak Ardi keGr an.
"Ngajak kamu makan bakso."
"Hah?" Febry terbelalak kaget.
"Aku sudah minta izin sama Ayah kamu, beliau ngizinin." Pak Ardi menjelaskan santai. Febry masih tidak percaya dengan ucapan lelaki yang duduk di sampingnya itu, "Jadi mau berangkat sekarang apa gimana?"
"Pak Ardi aja y yang kesana, maaf" tolak Febry pelan.
"Aku sudah jauh-jauh lho ke sini, kalau gitu aku ngobrol-ngobrol sama Ayah kamu aja ya di dalam." Pak Ardi menoleh ke arah Ayah Febry yang sedang berbincang dengan sang istri, sembari menyantap martabak yang ia bawakan.
"Y udah... y udah, bentar aku siap-dulu, huft..," Febry masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedikit jengkel. Sementara Pak Ardi tersenyum puas dalam hati.
Tak berselang lama Febry keluar, dengan menggunakan hijab berwarna pink dan balutan sweater berwana senada mereka lantas pamit.
"Eh sebentar, kamu mau duduk dimana?" Pak Ardi menegur Febry yang hendak membuka pintu mobil dibelakang kursi pengemudi.
"Duduk disini."
"Lah dikira orang nanti aku supir kamu, pindah ke kursi depan," perintah Pak Ardi, dan di iyakan oleh Febry dengan raut wajah masam. Tingkah polah mereka disambut tawa geli Ayah dan mama yang menyaksikan dari balik tirai jendela.
__ADS_1
****
"Yang datang malam tadi atasan kamu di kantor, Feb?"
"Iya, Ma," jawab Febry singkat.
Mama yang sedang menggoreng ayam untuk sarapan merasa penasaran dengan sosok bernama Ardi. Bukan tanpa alasan, selama ini jarang ada teman lelaki yang main ke rumah. kalaupun ada mungkin hanya beberapa orang itupun Mama yakin hubungan mereka tidak lebih dari pertemanan.
"Yakin cuma sebagai atasan sama bawahan?"
"Ihhhh, apa sih, Ma."
"Mama liat dia baik kok, sopan, sama lumayan ganteng lah," ucap Mama mencolek pipi anak gadisnya.
"Gak lah, Ma. Dia bukan tipe aku. Rese sama nyebelin gitu."
"Ahh gak suka, gak suka ntar naksir," goda Mama.
Febry mencebik, memajukan bibirnya sekian centi.
***
Suasana ruangan Administrasi terasa hening, para staff nya terlihat sibuk berjibaku dengan laporan bulanan. Mereka fokus mengerjakan laporan yang jika terlambat mengirim, maka HO akan berulang kali menelpon menanyakan laporan.
"Hesty... Hesty..," pekik Pak Ardi saat memasuki ruangan dengan langkah terburu. Hari ini ia terlambat masuk ke kantor.
"Iya, kenapa, Pak?" Hesty menghentikan pekerjaannya.
Pak Ardi mengambil kursi miliknya, lalu meletakan kursi tersebut di depan meja Hesty.
"Hes, kamu bisa liat penampakan kan?"
"Kenapa memang, Pak?"
"Tadi malam aku mimpi aneh," ucap Pak Ardi serius.
Ryo dan Febry yang juga berada di ruangan, ikut mendengarkan ucapan Pak Ardi.
"Mimpi apa?"
"Mimpi, ada perempuan di mess aku yang baru, rambutnya panjang terus yang bikin seram itu, lidahnya menjulur sampai tanah, Hes."
"Oh," sahut Hesty datar.
"Lah kok cuma, Oh. Aku jadi agak parno nih Hes. Ketularan si Febry." Pak Ardi menunjuk ke arah perempuan yang diam-diam telah mencuri perhatiannya itu.
"Kok aku yang dimarahin sih, Pak," protes Febry kesal.
"Lah iya, kamu itu parnoan, selama ini aku gak pernah takut. Sejak kamu disini aku jadi ikutan parno. Jadi gimana Hes, menurut kamu itu cuma mimpi apa gimana?"
"Gak ngerti juga sih, Pak. Mungkin memang ada. Selama dia gak ganggu, biarin aja."
"Biarin gimana? Wong dimimpiin."
Hesty terlihat berfikir sejenak.
"Aku bukan dukun, Pak. Gak ngerti juga sama begituan. Tapi, selama kita gak ganggu sih, mereka gak akan ganggu. Kecuali dia memang bawaannya jahat."
"Ngono Tah? Lah aku gak ngapa-ngapin eh. Mungkin karena mes itu lama kosong kayanya ya. Tapi Yo wess lah. Ngomong-ngomong, laporan ojok pada telat ya hari ini." Pak Ardi menatap ke arah Ryo dan Febry.
"Ini lagi dikerjain, Pak," sahut Ryo dari balik mejanya.
"Oke, sip. Kalau gitu aku mau ke produksi dulu." Pak Ardi beranjak dari duduknya, ia melihat sekilas ke arah Febry. Gadis itu tampak serius dengan menatap layar komputer, hingga tak menyadari jika Pak Ardi tersenyum manis ke arahnya.
"Hes, yang diceritakan Pak Ardi tadi beneran mimpi apa pertanda si cewek menunjukan keberadaannya?" Febry bertanya pada Hesty dengan suara pelan.
"Kalau menurut aku sih dia gak niat ganggu, tapi lebih nunjukin kalau dia ada di situ. Aku sebenarnya penasaran juga, besok kita liat Pak Ardi bawa cerita apa lagi. Tapi dipikir-pikir bener lho, tumben-tumben dia takut."
"Memang selama ini dia pemberani, Hes?"
"Lumayan sih, di pabrik kan sering kejadian karyawan kesurupan. Nah dia tuh nanggepinnya biasa, kaya gak ada takut-takutnya. Ini tadi sampe cerita berartikan dia lagi takut."
"Oh, jangan-jangan kemarin pas dia ke rumahku itu sebenarnya karena takut di mess, jadi..," Febry tak melanjutkan pembicaraannya, ia justru menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"What? Sebentar-sebentar, maksud kamu tadi Pak Ardi main ke rumah kamu?" Pekik Hesty penasaran.
Febry menggeleng, kali ini ia merasa keceplosan. Ia tak ingin orang kantor tau jika tadi malam Pak Ardi main ke rumahnya, jika itu terjadi sudah pasti gosip akan mudah tersebar. Hal yang sangat ia hindari, karena memang Febry merasa tidak ada menaruh perasaan kepada atasannya itu.
"Cerita dong, ayolah... ayolah..," bujuk Hesty, sembari menggerak gerakan tangan Febry.
"Huft.., iya malam tadi ke rumah. Katanya sih mau makan bakso di tempat kita makan dulu itu Hes. Karena warung bakso dekat komplek aku banyak, dia gak tau yang mana warung bakso tempat kita makan. Jadi deh dia mampir," Febry mencoba menjelaskan panjang lebar, agar Hesty tidak salah paham.
"Wihhh, serius? Cuma demi bakso dia sampe ke rumah kamu? Malam Minggu pula."
Febry mengangguk.
"Gak percaya deh aku. Kayanya dia memang ada rasa sama kamu, Feb. Gak mungkin cuma demi bakso sampe dibelain mampir." Hesty tampak berfikir, ia mengetuk-ngetukan jarinya di meja.
"Jangan mikir yang aneh-aneh ya, karena memang hubungan kami cuma sebatas atasan dan bawahan aja, gak lebih. Lagian dia bukan tipe aku," terang Febry meluruskan.
"Iya kamu nganggapnya gak ada apa-apa, tapi dia? Ingat pesan aku ya, kudu hati-hati." Hesty mengusap bahu Febry tetapi di tepis oleh Febry.
__ADS_1
"Hiii, apaan sih. Jangan cerita ke orang lain ya, beb. Aku gak mau digosipin macam-macam. Aku pengen kerja dengan tenang."
"Wani pirooo?" Goda Hesty sembari tertawa penuh kemenangan karena merasa berhasil membuat Febry kesal.