Teror Penunggu Pabrik

Teror Penunggu Pabrik
Diam


__ADS_3

Jam makan siang telah tiba, semua karyawan pergi ke kantin. Namun, Febry memilih tetap di depan komputernya. Ia merasa bersalah dan takut karena telah salah membuat laporan.


Terdengar pintu terbuka, seseorang masuk dan duduk di seberang meja miliknya.


Pak Ardi, lelaki itu terlihat serius menatap layar komputer, seolah tak menghiraukan adanya orang lain di dalam ruangan.


Kali ini Febry merasa canggung, biasanya pak Ardi selalu mengajaknya bicara. Tapi kali ini, lelaki itu seolah tak menghiraukan Febry.


"Pak... Pak Ardi."


Lelaki itu menatap ke arah Febry tanpa bicara sepatah kata pun.


"Pak, kesalahan aku fatal ya? Aku harus apa? Jangan diem aja." Suara Febry bergetar, karena menahan bulir bening yang seakan hampir jatuh.


"Nanti kita bicara di ruang meeting, sekarang aku lagi fokus selesaikan masalah yang udah kamu buat." Pak Ardi berdiri, lalu meninggalkan Febry seorang diri dalam ruangan.


***


"Feb, kamu tau g? Selisih nominal yang kamu buat, hampir 600juta," ucap Hesti sembari menunjuk ke arah layar komputer. Febry yang duduk di samping Hesty tampak tegang.


"Duh, terus aku harus apa Hes??"

__ADS_1


Hesty tak menjawab, ia hanya mengangkat bahu, dan memilih melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Febry, tenggelam dalam perasaan bersalah dan gelisahnya. Di sisi lain ia merasa sedih dengan sikap dingin Hesty terhadapnya.


****


Jam sudah menunjukan pukul lima sore. Sebagian karyawan sudah ada yang pulang. Febry diminta pak Ardi untuk menunggu di ruang meeting.


"Kamu tau salah kamu, Feb?" Ucap pak Ardi sembari menarik kursi untuk duduk di seberang meja Febry.


"Iya tau pak,"


"Kamu tau, karena kesalahan kamu, teman-teman yang lain hari ini harus kde gudang untuk mencek barang. Kamu kok g becus gini?"


Febry yang sedari tadi sudah menahan tangis, seperti tak tahan lagi. Akhirnya bulir bening itu jatuh. Baru kali ini ia melihat pak Ardi marah dan kecewa.


"Ya saya harus ngapain? Saya tanya bapak sama yang lain, mereka g ada yang ngerespon." Febry mulai terisak pelan.


"Happy best day to youuuu.... Happy best day to youuu..." Terdengar suara Febry dan beberapa staf administrasi masuk sembari membawa kue ulang tahun.


Febry masih tidak mengerti, hingga beberapa saat kemudian ia baru menyadari jika hari ini hari ulang tahunnya.


"Selamat ulang tahun, beb. Maaf ya ngerjainnya berlebihan,"ucap Hesty sambil menyodorkan kue ulang tahun untuk di tiup.

__ADS_1


Pak Ardi tertawa puas melihat ekspresi Febry, hingga tawa itu kemudian berubah rintihan karena bahunya di tepuk oleh Febry.


"Pak, tanggung jawab, anak orang dibikin nangis," ucap Hesty.


"Ya nanti ta ajak ke penghulu buat tanggung jawab."


"Ciyeeee....ciyeeeee." Jawaban pak Ardi seketika mendapat respon orang-orang yang ada di ruangan


"Bentar, tapi aku beneran bikin salah gak pak?"


"Iya, kamu memang salah input data, tapi masih bisa aku toleransi. Dan hukuman harus tetap dijalan kan, kamu dapat SP 1."


"Serius, pak?"


"Iyoo, dan besok kamu harus ke gudang buat ngecek barang."


"Ke gudang sama Hesty kan pak?"


"Y engga lah, y kamu sendirian. Hesty punya tugas sendiri besok."


Febry menelan ludah, mendengar ucapan pak Ardi harus ke gudang seorang diri, seolah lebih seram ketimbang dia harus menerima kenyataan jika ia mendapat SP 1.

__ADS_1


***


__ADS_2