
Setelah izin cuti beberapa hari, Febry akhirnya kembali bekerja. Ketika memasuki ruangan admin, ia tak melihat sosok pak Ardi. Mungkin laki-lakinl itu tengah berkunjung ke ruang produksi.
"Hes, ada yang mau aku tanyakan sama kamu." Febry yang melihat Hesty tengah menatap layar komputer, lantas menarik kursi dan duduk di sampingnya.
"Hes, ayah aku beberapa hari ini masih di ICU. Yang bikin aku penasaran. Aku berkali-kali mimpi ketemu nenek-nenek."
"Nenek-nenek?" Hesty tampak penasaran.
"Yup. Jadi dia bilang kalau janji harus di tepati. Aku penasaran tapi gak nemu janji apa yang di maksud."
"hemm,, apa ya? Mungkin baiknya kamu tanya ke ortu kamu aja deh. Soalnya yang beginian rasa serem."
"Kenapa?"
"Maaf nih ya, kalau menurut aku. menurut aku lho ya, takutnya ayah kamu ada terikat janji sama mahkluk begituan. Dan kebanyakan yang kaya gitu taruhannya nyawa sih."
"Masa sih, Hes? Aku jadi parno ah."
"Ya makanya kamu ajak mamah kamu ngomong. Semoga aja gak seperti yang aku bilang."
Febry tertegun, ia mencoba menemukan jawaban yang masuk akal dengan mimpi dan apa yang di katakan Hesty. Namun semua seolah tak ada titik temu.
"Selamat pagi." Sapa pak Ardi sembari melempar senyum. Febry melengos, tak mau memperhatikan lelaki yang selama ini memPHP dirinya.
"Lho, kamu sudah masuk, Feb. Ayah kamu gimana?"
[Hem...gak usah sok gak tau, perasaan kemarin habis dari rumah sakit ikut nginap.] batin Febry dalam hati.
"Iya ayah kamu gimana? Aku belum sempat jenguk karna ada urusan."
"Ya masih seperti itu."
"Sabar y, feb. Semoga lekas siuman. Eh kemarin katanya di rumah sakit ketemu mantan. Gimana? Ada perasaan susah move on gak?" Hesty menggoda Febry. Sontak gadis itu salah tingkah. Sementara pak Ardi, pura-pura sibuk, sembari menatap layar komputernya yang masih mati.
"Ahahah inget aja ya kamu sama WA aku, padahal aku udah lupa lho."
"Ingat dong, aku jadi penasaran sama si mantan, foto di hp masih ada gak sih? Masa di hapus semua."
Febry mendadak kikuk ketika Hesty menanyakan soal foto.
"Dah lah, aku mau ke produksi dulu." Febry mencoba mengalihkan pembicaraan, ia lantas mengambil buku di atas mejanya lalu beranjak pergi. Ia sama sekali tak memperdulikan pak Ardi.
"Cieee...cieee yang sebenernya belum bisa move on." ledek Hesty sebelum Febry benar-benar menghilang dari balik pintu
****
Febry masih terus teringat akan mimpi-mimpinya. Ia begitu penasaran, terlebih ibunya seolah menutupi sesuatu darinya.
"Feb, ikut aku ngecek barang ke gudang belakang." Pak Ardi yang tiba-tiba datang kini sudah berjalan di sampingnya.
Gadis itu tampak enggan namun tetap berjalan menuju tempat yang di maksud pak Ardi.
"Kamu opo o?"
"Apa nya?"
"Kok kaya diemin aku, memange aku ada salah?"
"Engga, pak. Ini yang di cek dimana?" Febry memperhatikan isi ruangan yang tampaknya sudah selesai di periksa, karena ada label hijau besar di depan deretan barang. Yang menandakan barang telah sesuai dan siap untuk di kirim.
__ADS_1
"Jawab aku dulu." pak Ardi menarik pergelangan Febry. Sontak gadis itu terkejut.
"Apa yang di jawab, pak. Aku gak marah. Marah karna apa juga."
"Kamu kecewa sama jawaban aku semalam?"
"Yang mana?"
"Soal hubungan kita."
Febry membeku, ia tak seolah kehabisan kata-kata.
"Ya hubungan kita ya begini kan, atasan dan bawahan. Di sini dingin banget pak, aku gak kuat lama-lama." Febry mengusap-usap kedua tangannya. Meski ia sudah mengenakan jaket tebal, namun suhu di gudang penyimpanan membuat jaket tebal itu tak ada gunanya.
"Yo wess, ayo ke kantor. Kita sudah selesai juga."
"Selesai apa?"
"Selesai ngomong nya." Pak Ardi beranjak, meninggalkan Febry yang sebenarnya masih ingin tau perasaan lelaki itu. Namun pak Ardi selalu seperti itu, ia tak pernah memberi kepastian. Hanya menjadikan hubungan mereka layaknya sebuah layangan, yang bebas ia tarik ulur tanpa arah tujuan.
****
Sepulang dari kantor, Febry langsung menuju rumah sakit. sesekali ia memperhatikan sekitar, nampak sekelebat bayangan yang seolah mengikuti dirinya sejak di kantor tadi.
Febry merasa ngeri, namun ia tak tau pasti apakah ia benar-benar di ikuti oleh mahkluk tak kasat mata, atau semua hanya imajinasinya saja.
"Feb, syukur kamu sudah pulang, Ayah..," Ibu yang berada di depan ruang ICU tampak mondar mandir seperti tengah menunggu dirinya.
"Ayah kenapa, mah?"
"Ayah kamu sudah sadar," ucap ibu dengan raut wajah berbinar.
****
Ayah sudah tak lagi berada di ruang ICU, ia telah di pindahkan ke ruang rawat inap. Bagi Febry, semua terasa aneh. Mendadak ayahnya yang terlihat sehat tiba-tiba harus terbujur lemas di ruang ICU dengan segala alat penompang kehidupan.
Namun, kini sang ayah sudah terlihat lebih baik bahkan seperti tak ada sesuatu yang fatal. Ia begitu penasaran, namun ia mencoba menunggu waktu yang apa untuk menanyakan semua kejanggalan ini.
***
Semua anggota keluarga sedang bersantai di ruang tengah, mereka asik menonton acara sintron yang ada di TV.
Termasuk Febry, meski ia tak menyukai sinetron, tetapi ia memilih bergabung di ruang tengah sembari memainkan game di ponsel.
[Prankkkkkk]
Semua saling tatap, terdengar dari dapur sebuah benda seperti piring atau gelas terjatuh di lantai hingga pecah.
"Pasti molly naik-naik meja makan, tuh." Ryan beujar.
Tetapi nyatanya molly tengah meringkuk tidur di dekat kaki febry.
Kedua orang tua nya tak ambil pusing, mereka kembali fokus menonton sinteron di tv. Karena penasaran, Febry memutuskan untuk mengecek ke dapur.
Ia mengamati sekitar, lantai terlihat bersih tak ada pecahan piring atau gelas yang berserakan. Febry berjalan mengintari meja makan dan mengamati sela-sela meja dapur, namun nihil. Ia tetap tak menemukan benda yang di maksud.
"Apa yang pecah, Feb?" tanya sang mamah
"Gak ada, mah. Aku sudah nyari sekitaran tapi gak ada. Padahal tadi nyaring kan suaranya?"
__ADS_1
Febry mengarahkan tatapannya pada Ryan, mencoba meyakinkan jika tadi Ryan juga mendengar suara benda yang jatuh di lantai.
Bocah itu pun mengangguk, seolah meyakinkan jika ia juga tadi mendengar suara benda terjatuh itu.
"Ah mungkin rumah belakang," ayah menimpali. Dan di iyakan oleh ibu. Tapi tidak dengan Febry. Ia yakin jika tadi suara benda terjatuh itu benar-benar berasal dari dapur mereka. Dan juga rumah di belakang jaraknya sangat jauh, jadi rasanya tak mungkin jika suara benda itu berasal dari rumah belakang.
****
"Pak, hari kamis kan tanggal merah. Jadi Senin, Selasa, Rabu sama Jum'at saya izin cuti ya."
Lelaki itu lantas meraih kalender di mejanya, ia memperhatikan tanggal yang di maksud oleh Febry.
"Memange mau ngapain cuti lama bener?"
"Mau nikahan."
Pak Ardi yang tadinya terlihat santai, lantas membenarkan posisi duduknya.
"Seng genah aee kamu, Feb."
Febry mengangguk. Hesty yang duduk di samping nya pun sontak kaget mendengar ucapan Febry.
"Kamu serius. Sama siapa?" Hesty menimpali. Kali ini ia begitu tampak penasaran.
"Tenang...tenang, sepupu aku yang mau nikah, bukan aku, jadi kami sekeluarga mau datang."
"Owaallaahh, tak kira kamu. Hampir patah hati," ucap pak Ardi. Namun Febry hanya tersenyum datar. Ia sudah lelah dengan gombalan palsu pak Ardi.
"Dimana memangnya nikah? Jadi cuti lama, Feb?"
"Di Ngawi, Hes."
"Berarti kamu sekalian pulang kampung?" Pak Ardi menimpali.
Febry mengangguk.
"Aku sih iyes, asal kerjaan kamu beres sama laporan harus tetap jalan."
"Oke, bos." Febry mengangkat jempolnya tanda setuju.
*****
Semua barang telah siap, tas dan koper sudah masuk ke dalam bagasi mobil. Ibu baru ingin mengunci pintu, sebuah mobil Honda jazz berwarna merah memasuki pekarangan. Lalu parkir tepat di samping mobil milik si empunya rumah.
Tak berselang lama, lelaki berlesung Pipit itu lantas keluar dari dalam mobil.
"Yahhhhh, kira in tadi kak Riko." Ryan tampak kecewa.
"Hussttt," ia ibu reflek menegur Ryan yang memang sangat dekat dengan Riko.
"Saya ikut ngantar ke bandara y, Bu."
"Mobil udah penuh, om. Eh kak." Ryan memasang wajah tak suka.
"Boleh, Febry ikut mobil kamu aja." Ibu kemudian beranjak.
Termasuk Ryan, bocah sepuluh tahun itu lantas membuka pintu mobil. Namun sebelum ia masuk ke dalam mobil, dari jauh ia sempat mengarahkan kedua jari ke matanya lalu ke arah mata pak ardi. Seolah memberi isyarat jika ia mengawasi pak Ardi.
Sontak tingkah konyol bocah itu membuat pak Ardi terpingkal. Ia menyadari jika restu tersulit yang kelak harus ia dapatkan bukan dari kedua orang tua Febry, tetapi dari adik semata wayang gadis itu.
__ADS_1