
Baru beberapa langkah Febry keluar kamar, langkahnya terhenti ketika berada di lorong kamar. Ia tersadar, jika ia panik ia takut akan membuat kedua orang tua nya khawatir.
Ia lantas melanjutkan langkah dengan langkah hati-hati. pencahayaan yang minim membuat suasana rumah serasa begitu horor.
Samar-samar ia melihat sosok seperti sang ayah tengah berada di dapur seorang diri.
"Ayah? Ayah ngapain di dapur?"
Cahaya lilin yang begitu kecil seolah tak mampu menerangi ruangan dapur yang cukup besar itu. Febry menjadi ragu apakah itu benar sosok ayahnya atau bukan. Namun jika memperhatikan sosok itu benar ayahnya.
Ayahnya tak menjawab, ia berdiri membelakangi Febry. Lelaki itu seperti tengah menatap ke arah jendela kaca yang menghadap ke halaman samping.
Febry tak ambil pusing, ia sedikit berjalan cepat ke arah ruang tamu, tempat keluarganya berkumpul.
Namun, jantungnya serasa ingin copot, ketika melihat ayahnya tengah duduk bersama ibu dan adiknya, padahal baru saja ia melihat ayah nya ada di dapur. Bulu kuduk Febry meremang. Belum ada satu hari, ia sudah beberapa kali mendapat gangguan mistis.
***
"Ka, kata ayah di desa sini ada pemandian zaman dulu nya lho, aku jadi penasaran. Besok kita kesana yu," ucap Ryan sembari merebahkan tubuhnya di kasur.
"Pemandian zaman dulu? Jangan! bahaya tau. Biasanya banyak setannya."
"Heleh, kak Febry aja yang kebanyakan nonton horor. Kalau gak mau ikut y gak papa, besok aku sama ayah kesana."
"Udah di rumah aja, bahaya tau. Walau ini kampung halaman ayah, tapi kan ayah udah lama banget gak pulang. Siapa tau sekarang pemandiannya angker, yan."
Hening
Bocah itu tak merespon apa yang di katakan Febry.
"Yan..," Febry mengintip bocah sepuluh tahun yang memunggungi nya.
"Astaga udah tidur aja, percuma aku ngomong panjang lebar." Febry menepuk pelan pergelangan tangan Ryan. Namun tepukan itu tak mengusiknya. Ryan tampak tertidur begitu pulas.
Sementara Febry, matanya seakan belum mau di ajak berpejam. Meski tubuhnya terasa sangat lelah setelah perjalanan jauh, tapi rasa kantuk belum juga menghampiri dirinya.
Ia memilih memainkan ponsel, meskipun koneksi internet sangat sulit. Jemarinya dengan lihai menyentuh layar pipih itu. Ia mengamati pesan WhatsApp. Tampak sebuah pesan masuk belum ia baca.
Ada getaran halus, ketika matanya membaca nama di pengirim pesan. "lelaki tidak peka" ya, itu lah nama baru yang ada di layar ponsel Febry. Ia sengaja mengubah nama terdahulu. Entah karena merasa kecewa atau merasa itu nama yang cocok untuk si lelaki.
"Kalau sudah sampai kabarin y, Feb." Seulas senyum tipis membingkai wajah Febry.
Ia lantas melihat foto profil si pengirim pesan, Desiran halus semakin terasa. Kini, entah mengapa ia juga merasakan rindu pada sosok itu. Padahal, baru tadi pagi ia bertemu dengan nya.
__ADS_1
Senyumnya semakin lebar, ketika foto si lelaki terpampang nyata di depan mata. Cinta ataupun hanya rasa nyaman, tak ada yang tau apa yang saat ini ia rasakan. Namun yang Febry tau, saat ini hanya ada sebuah perasaan. Rindu.
Ia lantas menarik selimut dan mencoba memejamkan mata. Febry berharap rasa kantuk akan segera hadir. Menit berlalu, gadis itu akhirnya tertidur di sisi sang adik.
Stttttsttt
Selimut tebal yang menutupi sebagian tubuh kedua kakak beradik tertarik hingga sebatas lutut. Febry yang setengah sadar, lantas menarik kembali selimut itu dan menggenakan nya hingga batas dada.
Namun, selimut itu kembali tersingkap, hingga hampir jatuh ke lantai. Gadis itu merasa dingin, namun ia memilih membiarkannya.
Di tengah tidur, ia merasakan seperti ada seseorang yang menyentuh kaki mulusnya. Perlahan dan begitu lembut.
Ia begitu mengantuk. Tetapi ia kemudian tersadar jika di kamar itu hanya ada dia dan adiknya. Tak mungkin jika itu Ryan.
Dengan keadaan setengah sadar dan masih begitu mengantuk, Febry membuka matanya. Ia tak melihat siapa pun. Febry meraih kembali selimut tebalnya dan mengenakannya kembali.
Dan dalam hitungan detik, ia kembali tertidur. Ia tak lagi menghiraukan sekitar karena begitu mengantuk. Dan ia tak menyadari jika di salah satu sudut ruangan ada sesosok mahluk tinggi besar yang sedang mengamatinya.
***
Cahaya mentari meringsek masuk melalui tirai jendela, yang sebagian tirainya telah di singkap. Matanya menyipit, lalu meraih ponsel yang ada di sisi bantal. Tampak deretan pesan terpampang di layar ponsel nya.
Gadis itu segara duduk, ia mengucek matanya beberapa kali, ada binar bahagia katika jemarinya perlahan menari di atas layar pipih itu.
[Feb, sudah sampai kan?]
[Feb, jaringan di sana susah ya?]
[Feb?????????]
[Feb, sudah tidur?]
[Apa pak? Banyak bener tanyanya. Udah kaya kehilangan anak aja]
Namun, lagi-lagi lemahnya jaringan internet membuat pesan yang ia kirim tak langsung terkirim. Padahal ia sudah sangat ingin bercerita banyak hal pada lelaki itu.
"Kak, ikut gak? Kami mau ke pemandian zaman dulu." Ryan yang tiba-tiba muncul dari balik pintu, membuat Febry sedikit terpenjat kaget.
"Gak ah, di rumah aja."
"Yakin?"
"Iyoooo."
__ADS_1
"Memang sendirian berani?"
"Memang mamah ikut?"
"ikut dong."
"hedehh, y udah tungguin. Kakak siap-siap dulu."
Febry segera bangun, ia sebenarnya tak berminat pergi ke tempat itu, tapi karena tak ada orang di rumah, ia pun memutuskan ikut.
****
Pemandian itu terletak di ujung desa. Untuk sampai di tempat itu, mereka harus berjalan kaki. Dan yang membuat Febry sedikit bergidik ngeri, ketika mereka harus melewati makan warga desa.
Bukan hanya sekedar makam biasa, di situ juga terdapat sebuah makanm zaman dahulu yang tak di ketahui identitasnya.
Sang ayah bercerita, jika makam itu sudah ada bahka sebelum para tetua kampung membuka lahan untuk menetap di sini.
Dan menurut kepercayaan warga, makan tua itu cukup angker. Jadi di wajibkan untuk menjaga sikap jika melintasi makam tersebut.
Akses untuk menuju ke pemandian pun cukup sulit. Hanya ada jalan setapak kecil dengan pemandangan hutan kanan kiri. HTC di
Febry tak habis pikir, untuk apa kedua orang tuanya mengajak Febry ke tempat seperti itu. Dengan hati yang masih uring-urinngan Febry tetap mengekor di belang sang mama.
Beberapa kali Febry hampir tersandung, ia tak begitu memperhatikan jalan. Netranya kesana kemari mengawasi sekitar. Ia merasa sudah lama berjalan namun belum juga sampai.
Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah tempat pemandian. Warga desa menyebutnya sendang.
Jauh dari bayangan Febry, yang membayangkan jika pemandian itu akan layaknya sebuah pemandia. Namun kenyataannya berbalik.
Ada dua buah kamar mandi yang sebagian dindingnya terbuat dari tumpukan batu dan disebagian lagi terbuat dari papan yang tampak sudah mulai lapuk karena di makan usia.
Terdapat juga sebuah sumur dan mata air kecil di sisi sendang. Sendang itu tampak tak terawat, dinding sendang lebih dominan berwarga hijau kehitaman.
Namun yang membuat Febry begitu penasaran, adalah sebuah kendi air yang berada di samping sendang.
Suasana begitu sepi, hanya ada mereka berempat. Keluarganya tampak begitu penasaran dengan tempat itu. mereka seolah menjelajah kesana kemari mengamati sendang.
Namun, Febry memilih diam di sisi sumur. Ia .efada tak nyaman terlalu lama di tempat ini. Bahkan ia berkali-kali merasakan seperti dengan di ikuti.
Sedari keluar dari rumah, ka merasa sosok itu ikut berjalan di belakangnya. Namun nyatanya hanya ada mereka berempat. Namun fealing Febry benar. Tepat saat ia melayangkan pandangan ke belakang sendang. Ia melihat seseorang seperti tengah mengintip ke arahnya dari balik sendang.
Namun ketika Febry kembali melihat ke arah itu sosok itu menghilang. Sebuah mata merah besar seperti mengintip dari balik sendang. ya Sosok mata itu kembali terlihat. Namun kali ini Febry seolah bisa menebak siapa pemilik mata besar merah tersebut
__ADS_1