
Film yang mereka tonton telah selesai, Ryan yang sedari tadi sudah merengek lapar akhirnya mengajak Riko dan Febry untuk makan terlebih dahulu sebelum pulang.
Bocah itu berjalan paling depan, seolah ingin menunjukan tempat mana yang ingin ia datangi.
"Riko...," Seseorang memanggil nama Riko. Riko, Febry dan Ryan pun menoleh ke arah suara yang berasal dari belakang mereka.
Lelaki itu mengamati sosok wanita berambut sebahu yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Dira?"
"Iya, lama gak ketemu ya. Kamu sama siapa?" Wanita yang di panggil Dira itu menatap ke arah Febry. Tatapannya seolah sedang menilai.
"Aku Febry." Febry mengulurkan tangannya, wanita itu menyambut uluran tangan febry sebentar, lalu dengan cepat menarik tangan nya kembali.
Febry tak ingin mengganggu Riko yang seperti masih ingin berbincang dengan Dira, ia dan Ryan lantas berpamitan untuk duluan ke tempat makan yang di inginkan Ryan.
Sebelum Febry dan Ryan benar-benar meninggalkan mereka berdua, Febry masih sempat-sempatnya untuk mencuri pandang ke arah dira. Ia mengamati gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Cantik" itulah yang ada di benak Febry ketika melihat dira. Dengan rambut tergerai sebahu, celana jins dan blazer berwarna cream, membuat gadis itu tampak modis. Ada perasaan tak suka ketika melihat mereka berdua berbincang.
"Kak, cewek tadi siapa?" Ryan yang sedang melihat daftar menu, tiba-tiba berceloteh penasaran.
"Gak tau, mungkin temen kak Riko."
"Oouhhh, tapi cantik sih."
"Eh bocil sok ngerti soal cantik, dah lah. Kamu pilih menu, mau makan yang mana?"
"Ya tau lah, kakak tadi cantik, kalau kak Febry cantik juga, tapi cantiknya kalau habis ngasih aku uang belanja."
"Huuuu dasar." Febry menonyor kepala ryan.
"Ehh, kakak mau kemana?"
"Mau ke toilet. Bentar lagi mungkin kak Riko datang. Kamu tungguin sini ya." Febry lantas berlalu meninggalkan ryan.
Febry berjalan menuju toilet restaurant, namun langkahnya terhenti ketika netranya membaca sebuah kertas yang di tempel di depan pintu toilet. Yang menerangkan jika sedang dalam perbaikan.
Febry pun memutuskan untuk pergi ke toilet mall yang berada tak jauh dari restaurant tempat mereka makan.
Riko tampak sudah datang, lelaki itu duduk di samping Ryan. Membuat Febry tak khawatir meninggalkan ryan untuk ke toilet di luar restoaurant.
Setelah berjalan sembari mengingat-ingat dimana letak toilet, akhirnya Febry telah tiba di depan tolilet wanita. Karena sudah tak tahan ingin buang air kecil, ia pun bergegas masuk.
Ruangan toilet tampak kosong. Tak ada satupun pengunjung. Febry yang mematung di dekat pintu keluar, sempat terpikir untuk kembali, namun karena sudah tak tahan, Febry lantas tetap memutuskan untuk masuk ke dalam, walau ada perasaan takut.
Suara sepatu febry yang meniti lantai terdengar menggema. Ia kesana kemari menatap sekitar yang memang tak ada orang sama sekali. Ada empat bilik pintu yang saling berhadapan. Febry memilih pintu sebelah kanan yang berada di deretan depan.
__ADS_1
Febry bergegas masuk ke dalam bilik toilet. Tak berselang lama Febry mendengar suara pintu toilet yang di buka. Febry menghela nafas lega. setidaknya, ia tak sendirian saat ini, fikirnya.
Namun, di tengah rasa leganya. Febry mencium aroma yang sangat wangi. Seperti aroma bunga-bunga, namun lebih dominan ke aroma melati. Ia teringat ucapan Hesty beberapa waktu lalu.
Jika ia mencium aroma bunga, di tempat dan waktu yang tak wajar, maka bisa dipastikan jika ada sosok yang tak kasat mata berada di sekitar.
Bulu kuduk Febry meremang, terdengar suara kran air yang di nyalakan dari bilik kamar mandi lain.
"Febryyyy...."
Samar-samar terdengar Nama Febry di panggil. Suaranya pelan namun begitu tegas.
Febry yang tertegun seolah tersadar jika ia sedang sendirian, dan tak ada yang mengenalnya, jdi tak mungkin seseorang memanggil namanya. Tanpa berfikir panjang, Febry lantas membuka pintu toilet lalu berlari keluar.
(Brukkkkkkkk)
Febry terpeleset, ia jatuh terduduk. Namun dengan cepat ia segera bangun dan bergegas keluar. Ia tak menghiraukan rasa sakit karena terpeleset.
****
Ryan asik memainkan game di ponsel miliknya. Sementara Riko juga terlihat serius menatap layar pipih di tangannya.
Terdengar suara ponsel bergetar di atas meja. Ryan dan Riko reflek saling bertatapan, lalu baru menyadari jika ponsel Febry tertinggal di atas meja. Ponsel itu tertutup oleh buku menu sehingga tak terlihat oleh keduanya.
"Kayanya ada yang nelpon, yan. Coba angkat. Siapa tau ayah." perintah Riko, dan langsung di iyakan oleh ryan.
Setelah membaca nama di penelpon di layar ponsel, ryan terlihat ragu untuk menjawab panggilan. Ia menatap ke arah Riko seolah meminta pendapat
"Bukan ayah, tapi pak Ardi."
"ouhh, angkat aja. Siapa tau penting."
Ryan mengangguk, lalu menyentuh gambar telepon berwarna hijau itu.
"Hallo," ucap Ryan saat melihat wajah pak Ardi muncul di layar ponsel.
"Ehh Ryan, kak Febry mana?"
"Kak feb lagi ke toilet."
"Lagi di luar ya?"
"Iya, habis nonton tadi. Ini ada kak Riko juga." Ryan mengarahkan sorot kamera ponsel ke arah Riko. Dengan percaya dirinya, Riko melambaikan sekilas tangannya ke arah kamera sembari tersenyum kecil. Seolah ingin pamer jika ia berhasil mengambil hati Ryan dan Febry.
"Okee, y udah, yan. Nanti kalau kak Febry sudah datang, minta tolong bilangin ya. Tadi pak Ardi Vcall."
"Okee siapp."
__ADS_1
panggilan telepon lantas di matikan. Tak berselang lama, pelayan restaurant akhirnya datang membawakan pesanan mereka.
Febry juga terlihat datang dari arah belakang mereka duduk. Namun gadis itu berjalan dengan langkah terpincang sembari merintih kesakitan memegangi tangannya.
"Kamu kenapa, Feb?"
"Gak papa, tadi cuma kepeleset di toilet."
"Paling lari-lari kak di toilet, sekarang kan kak Febry cemen, penakut."
Febry tak menjawab, ia hanya mengangkat bahunya sembari meringis kesakitan.
****
Hari Senin kembali tiba, hari yang sibuk bagi sebagian orang. Termasuk Febry yang sudah bergelut dengan setumpuk map laporan di atas mejanya.
Semua orang sudah tampak hadir di ruangan. Kecuali pak Ardi. Lelaki berlesung Pipit itu belum terlihat batang hidungnya.
Febry ingin mengecek ponsel miliknya yang ada di atas meja, ia penasaran. Apakah pak Ardi ada mengiriminya pesan WhatsApp. Namun tak berselang lama, lelaki itu muncul dari balik pintu.
"Selamat pagi semuaaaa."
"Pagi pak." sahut Hesty dan Ryo.
"Pak Ardi kok sudah pulang. Katanya mau balik ke Surabaya selamanya."
"Ooooo ngawur kamu hes. Kalau aku gak balik kesini, nanti kamu nangis."
"Nangis kenapa memang?"
"Nangis g punya bos ganteng kaya aku lagi."
Hesty mencebik kesal. Ia sadar, jika bosnya adalah mahkluk super PD yang selama ini pernah ia temui.
"Wess gak usah mesem-mesem. Ini ta bawakan oleh-oleh." Pak Ardi meletakan paperbag berukuran cukup besar di atas meja hesty. Dengan cepat, gadis itu menyambar paperbag. Dengan senyum sumringah tangannya mulai mengeluarkan satu persatu isi di dalamnya.
"Makasih pak boss."
"Arek iki, giliran oleh-oleh cepet. Oh iya, Feb. nanti coba kirimi laporan Minggu kemarin ya."
"Dari Senin sampai jum'at, pak?"
"Iya lah, ojo mentang-mentang habis ngedate jadi lali ambek tugas," ejek pak Ardi. Sontak Hesty yang tengah sibuk membuka isi makanan langsung menoleh ke arah Febry.
"Ciyeee habis ngedate, buuu?? Pantesan, aku WA gak di baca gak di balas kemarin." protes hesty
"Hah, memang ada WA?? Sorry, gak kebuka hp nya."
__ADS_1
Hesty hanya menggeleng-geleng melihat sahabatnya itu. Sementara di sudut lain, ada seseorang yang merasa cemburu namun tak biasa berbuat apa-apa.
*****