
Febry baru saja selesai makan siang bersama Hesty. Ia kembali ke meja nya dan hendak mengambil barang di laci miliknya. Ketika laci terbuka sebagian, sebuah paper bag coklat terjatuh hingga isi di dalamnya keluar.
Dengan cepat Febry mengambil paper bag yang terjatuh itu dan memasukannya kembali ke dalam laci meja. Ia takut jika ketahuan oleh Hesty, pasti lah ia akan habis di goda olehnya.
Febry sudah menebak, jika bingkisan itu dari pak ardi. Febry tersenyum kecil. Baginya, meski terkadang pak Ardi menyebalkan, tetapi ia selalu bisa membuat Febry merasa spesial.
*****
Ponsel milik febry berdering, "Ibu" nama yang terpampang di layar ponsel.
"Hallo, Bu?"
"Feb, bisa ke rumah sakit cahaya bangsa, sekarang?"
"Kenapa?"
"Ayah masuk rumah sakit, sekarang y."
Deggggg
Seperti ada sebuah batu besar yang menghantam dada Febry. Tanpa menunggu lama, ia lantas mencari pak Ardi untuk meminta izin agar di perbolehkan pulang lebih awal.
"Ayah kamu sakit apa, Feb?"
"Gak tau, pak, tadi ibu gak bilang. Tapi tadi sebelum berangkat kerja aku liat ayah sehat-sehat aja." Febry merapikan meja kerjanya, memasukan satu persatu barang miliknya ke dalam tas.
"Mau aku antar?"
"Gak usah pak, aku bisa sendiri kok."
"Yakin?"
Febry mengangguk pelan, ia berusaha untuk menutupi kesedihannya agar tak begitu kentara di depan pak Ardi.
Febry lantas beranjak pergi, degup jantungnya tak karuan. Ia takut, takut jika sesuatu yang buruk menimpa ayahnya.
****
Dengan langkah tergesa, Febry menuju ruangan tempat ayah nya di rawat. Berbekal nama ruangan yang dikirim oleh sang ibu, Febry melintasi satu persatu ruangan di rumah sakit. Langkahnya melambat ketika netranya membaca sebuah tulisan bertuliskan "Kamar Jenazah".
Bulu kuduknya meremang, namun ia abaikan. Ia harus cepat bertemu dengan ibu dan ayah.
__ADS_1
Ruangan ICU tempat ayahnya di rawat tak jauh dari ruang jenazah. Hanya di pisahkan oleh beberapa ruangan dan lorong rumah sakit.
Matanya basah, ketika melihat sang ibu duduk tertugun di depan ruangan bersama Ryan. Bocah yang biasanya tampak ceria itu kini terdiam di samping sang.
"Ayah di dalam, Bu?"
Ibu lantas memeluk Febry, air mata mereka tumpah. Seolah tak mampu lagi untuk di bendung.
"Tadi dokter bilang ayah sakit kenapa, Bu." Febry melepaskan pelukannya, menyeka wajahnya yang basah karena air mata.
"Belum tau pastinya, tadi di cek semua normal. Jadi mau MCU biar lebih jelas."
"Tapi kok bisa sampe masuk rumah sakit?"
"Tadi ibu lagi di dapur, gak lama ini dengar jeritan dari kamar. Pas ibu samperin. Ayah sudah tengkurap pingsan. Di lantai."
"Jeritan?"
Ibu mengangguk, Febry enggan menanyakan yang di maksud oleh ibu jeritan apa, karena sepertinya ibu pun tak mengetahuinya.
****
Di dalam ruangan terdapat tiga ranjang yang di sekat oleh tirai. Ayah Febry menempati ranjang yang berada di dekat pintu. sementara ranjang tengah tampak kosong dan ada pasien lain di ranjang paling ujung. Sama seperti sang ayah, pasien itu juga tampak mengenakan banyak alat di tubuhnya.
Suasana tampak hening, hanya terdengar suara mesin dari alat-alat penunjang kehidupan pasien. Dalam diam Febry menatap wajah ayahnya yang terpejam dan tampak pucat. Matanya kembali basah. Samar-samar terdengar suara tangisan. Sepertinya dari ranjang pasien di sebelah. Sama seperti dirinya, menangis dan terluka melihat orang yang istimewa terbujur tak berdaya.
Febry memutuskan untuk keluar, ia lantas duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruangan. Suasana sekitar tampak sepi, hanya ada beberapa orang yang juga duduk di depan ruangan di dekat ICU.
"Febry." Panggil seorang lelaki paruh baya raut wajah pucat dan tampak lemas keluar dari dalam ruangan.
"Ayah?" Febry sontak berdiri dan menghampiri lelaki itu.
"Ayah sudah sehat?"
Lelaki itu mengangguk pelan.
"Ayo kita pulang Feb." Lelaki itu melangkah maju
"Ayah tunggu Febry. Ayah belum boleh pulang." Febry mempercepat langkahnya, namun langkahnya tetap tak mempu mengimbangi ayah yang semakin mempercepat jalannya.
"Cepat Feb, jangan biarkan dia menangkap ayah."
__ADS_1
"Dia siapa?"
"Ayo cepat, Feb."
"Ayah tunggu, Febry."
"Cepat, Feb. Kita harus cepat. Kalau tidak dia akan menangkap ayah dan Ryan." Ayah berucap sembari menarik pergelangan tangan Febry. Karena tarikan sang ayah begitu keras, membuat gadis itu tersandung hingga jatuh.
Sang ayah yang melihat Febry jatuh, tak menghiraukan putri nya, ia tetap berlari meninggalkan Febry yang meringis kesakitan sembari memegangi pergelangan tangannya.
Ayahnya sudah tampak jauh berlari, melewati lorong rumah sakit, namun ia baru menyadari, jika ada sesosok ular sebesar paha orang dewasa tengah mengejar ayahnya.
"Ayah, awas di belakang ayah ada ular." Teriak Febry panik.
Lelaki itu menoleh, melihat ular yang jaraknya kini semakin dekat. Iantas mempercepat larinya. Namun, karena memperhatikan langkahnya, membuat ia tersandung lalu jatuh tersungkur.
Dan dengan cepat ular itu mematuk kaki ayah. Tak hanya itu, ular-ular kecil pun tiba-tiba bermunculan dan mengerubungi tubuh sang ayah hingga tubuh lelaki itu kini telah penuh dengan ular.
Febry yang melihat pemandangan itu hanya bisa berteriak dan menangis histeris sembari memanggil ayahnya. Ia ingin bangun dan membantu ayah nya, namun sesuatu seperti mengikat kaki hingga membuatnya tak bisa bergerak.
"Ayahhhhh....Ayahh..." Panggil Febry histeris.
"Feb...Feb...feb..bangun Feb..." Sebuah panggilan dan tepukan di wajah membuat Febry terkejut.
Perlahan ia mengamati sosok yang berdiri di depannya.
"Pak Ardi?"
"Kamu kenapa tidur di sini? Sampe teriak-teriak?"
"Ayah? Ayah!" Dengan cepat Febry lantas masuk ke dalam ruang ICU, dan melihat sang ayah masih dalam keadaan tak sadar.
Febry tampak lemas, keringat membasahi tubuhnya. Dengan cepat pak Ardi menghampiri Febry dan merangkul gadis iti, lalu .emapahnya menuju kursi di depan ruangan ICU.
"Kamu ketiduran di depan sampe teriak-teriak, memang mimpi apa?" Pak Ardi membukakan botol air mineral, lalu menyerahkannya ke Febry.
"Aku ketiduran?"
"Lah arek iki, iya. Teriak-teriak sampe orang-orang datang, dikira kamu kesurupan."
Febry memperhatikan orang-orang sekitar yang mulai meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
"Huff...mimpi, cuma mimpi, syukurlah." Ucap Febry lirih. Namun ketika ia meraba pergelangan tangan nya, terasa sakit dan nampak memar biru.
Jika semua hanya mimpi, mengapa sakit di tangannya begitu nyata? Batin Febry.