
Tubuh Febry terdiam ,ketika samar-samar ia melihat sosok di balik sendang, mahluk bertubuh besar berbulu dengan mata merah menyala.
Jantung nya berdebar tak karuan, namun di sisi lain ia begitu penasaran dan bertanya-tanya, apa benar mahluk yang ia lihat itu adalah genderuwo seperti yang selama ini sering ia dengar.
Jika mahluk itu bertubuh besar dan berbulu. Lalu, mengapa ia seakan sering mengikuti Febry. Febry mengelus-elus lengannya, ia teringat akan ucapan Hesty dahulu. Jika mahluk sejenis genderuwo bisa menyukai manusia dan bahkan meniduri wanita yang ia sukai.
"Kak, ngapain diam di situ. Sini! Air nya seger banget." Ryan mengguyur wajahnya dengan air dari kendi berukuran cukup besar, yang berada di dekat sendang.
"Air di sendang ini gak pernah kering, yan. Meski kemarau. Disini gak boleh melakukan hal yang gak sopan."
Ayah menjelaskan panjang lebar, sementara bocah sepuluh tahun itu hanya cengengesan.
Perlahan Febry berjalan menghampiri sang ibu, matanya menatap kesana kemari mengamati sekitar. Namun sosok yang tadi sempat ia lihat kini sudah tak nampak lagi.
"Mah, ngapain kita kesini sih? Aku rada takut," ucap Febry, setengah berbisik.
"Habis ini kita mau ke makan kakek nenek, Feb. Makam itu masih jauh di sana, jadi ngelewatin sendang ini." Sang ibu menunjuk ke arah jalan setapak kecil, di kanan kirinya tampak deretan tumbuhan bambu yang tinggi dan begitu rimbun.
"Hah? Jadi mau ke makam? Ishhh gak bilang-bilang."
Ayah seakan memberi isyarat untuk melanjutkan perjalanan. Febry yang kurang berhati-hati nyaris beberapa kali hampir terpeleset. Karena jalanan yang menanjak dan cukup licin.
Mereka berjalan beriringan, dengan ayah yang memimpin di barisan paling depan, Ryan, dan Febry yang mengekor di belakang sang ibu.
Bulu kuduknya kembali meremang, tatkala melewati deretan tanaman bambu. Walaupun waktu masih menunjukan pukul sepuluh pagi, tapi suasana senyap, dan cuaca yang sedikit mendung, membuat semua terasa tak nyaman bagi Febry.
Febry lantas mempercepat langkahnya, hingga tak berapa lama, mereka akhirnya tiba di sebuah makam. Lagi-lagi Febry di buat bergidik ngeri melihat area pemakaman di desa sang ayah.
Area pemakaman itu seolah di apit oleh rinbunnya tanaman bambu yang tinggi menjulang dan pohon-pohon besar di sekitar makam.Tak ada siapa pun selain mereka berempat.
Makam lama dan makam-makan baru seolah di pisah, terlihat dari model batu nisan yang tampak berbeda. Makam-makam lama berada di bagian belakang dan tampak tak begitu terawat. Terlihat dari rerumputan yang terlihat lebih tinggi dari pada undukan tanah kuburan.
__ADS_1
Febry memperhatikan langkahnya, ia takut jika tanpa salah menginjak tanah. Karena beberapa kuburan hanya berupa undukan tanah yang sebagian bahkan hampir sama tingginya dengan tanah yang ia pinjak.
Ia semakin masuk ke dalam area pemakaman, namun, samar hidungnya mencium aroma busuk yang begitu menyengat. Ia bahkan hampir muntah tatkala aroma itu seolah berputar-putar di sekitar tubuhnya.
"Uhukk...uhukkkk." Febry terbatuk kecil, karena aroma busuk yang ia cium terasa semakin pekat dan sangat dekat.
Sang ibu lantas menyodorkan botol air mineral yang ia bawa. Namun anehnya, Febry merasa jika kedua orang tua dan adiknya tak mencium aroma busuk yang ia cium sedari tadi.
"Mah, mamah ada nyium bau gak?" Febry menutup hidunga dengan kerah baju miliknya yang ia angkat.
"Bau apaan? Gak ada bau apa-apa.
Febry semakin yakin, jika kali ini hanya ia seorang yang mencium bau busuk itu.
Langkah mereka terhenti di sebuah makam yang sudah di beri kijing batu. Febry yakin jika makam yang berdampingan itu adalah makan kakek nenek nya.
"Hueeekkkk." Febry merasa sangat mual, ia bahkan nyaris muntah namun ia coba tahan sekuat tenaga.
Febry menggeleng, karena ia yakin jika Ryan tak mencium aroma busuk seperti dirinya.Sang ibu mengelus-elus punggung Febry.
"Baru jalan bentar udah masuk angin aja, Feb," ucap sang ibu.
"Makanya tadi pake jaket kak."
Kedua orang tuanya lantas berjongkok mengintari makam, Ryan pun demikian. Namun tidak dengan Febry, ia merasa jika aroma busuk itu berasal dari makam kakek neneknya.
Ia hanya berdiri dan memilih mundur beberapa langkah. Bau busuk itu seperti aroma bangkai menyengat. Febry mengosok gosok hidung nya hingga memerah, berharap aroma busuk yang ia cium itu hilang, namun nyatanya masih ada.
Anehnya, ketika ia melangkahkan kaki mencoba mendekat ke makam kakek dan nenek, aroma busuk itu seolah semakin tercium, seakan-akan bau busuk itu berasal dari kedua makam itu.
Febry tak tahan lagi, ia semakin mual dan benar-benar hampir muntah. Ia lantas memilih sedikit menjauh dan benar, aroma busuk itu semakin samar tercium.
__ADS_1
Gadis itu memilih duduk di gubuk yang terletak di depan area pemakaman, sembari memperhatikan keluarganya yang tampak masih berdoa dan membersihkan rerumputan di sekitar makam kakek neneknya.
Suasana terasa hening, hanya terdengar kicauan burung dan jangkrik. Angin seakan bertiup lembut, membuat bulu kuduk Febry perlahan meremang.
Kali ini, ia tak berani memperhatikan sekitar, ia takut jika melihat sesuatu yang menakutkan. Namun ia masih merasa heran, mengapa hanya ia yang mencium aroma busuk itu, dan lebih mengherankan mengapa aroma busuk itu seperti berasal dari makam kakek neneknya.
"Febry..,"
Suara seseorang memanggil nama nya. Suara itu terdengar lirih, namun negitubjelas menyebut namanya. Febry menoleh kesana kemari, memperhatikan sekitar. Namun tak tampak siapapun selain dirinya.
Gadis itu mulai gelisah, ia yakin jika tadi seseorang benar memanggil namanya. Ia kembali mengamati keluarga nya dari kejauhan, namun jantung nya berdegup hebat, ketika netranya tak menemukan Ryan ataupun kedua orang tuanya.
Mungkinkah mereka sudah pulang lebih dulu? Batin Febry dalam hati. Ia lantas berdiri, kesana kemari matanya mencari, namun benar. Tak ada siapa pun selain dirinya.
Ia ingin berteriak memanggil adik dan kedua orang tuanya, namun suaranya seperti tertahan di kerongkongan.
Febry panik, ia mulai merasa ketakutan. Ia lantas berjalan cepat, berniat meninggalkan area pemakaman. Mungkin keluarganya belum jauh berjalan, fikirnya.
Febry berjalan menyusuri jalan setapak. Beberapa kali ia tersandung kecil dan hampir terjungkal. Hatinya seakan tak karuan, merasa takut dan juga kebingungan.
Berulang kali ia menoleh kesana kemari, namun tak melihat siapapun. Pipi nya basah, ia menangis dalam diam.
"Febry...."
Langkah Febry terhenti. Ia menatap ke arah sendang. Suara itu seperti berasal dari sendang yang berada di bawah jalanan utama.
Ia ragu untuk turun, namun ia berfikir mungkin itu ibu nya. Ia berniat kembali melanjutkan langkahnya, namun suara itu kembali terdengar.
"Febryy..."
Febry semakin yakin, jika suara itu benar berasal dari bawah sendang. ia kembali bimbang harus turun ke bawah atau melanjutkan langkahnya untuk pulang.
__ADS_1