
Suasana sudah kembali kondusif, kesurupan kali ini tidak separah ketika Febry awal pertama bekerja. Kali ini hanya karyawan yang kesurupan yang di perbolehkan pulang lebih awal, sedangkan yang lain, tetap lanjut bekerja menyelesaikan jam kerja masing-masing.
"Kamu udah enakan, Feb?" Tanya pak Ardi dari balik meja kerjanya.
"Sudah, pak."
"Ekhhemmmmmmmm, kok seret ya tenggorokan ku." Goda Hesty sembari menatap layar komputer.
"Yo ngombe Hess, iku lho galon di pentry air e full, lek kurang njupo o neng kamar mandi okeh sak jedeng," celetuk pak Ardi.
"Ahahahahaha." Ryo tertawa puas karena tak tahan mendengar jawaban pak Ardi.
Hesty mencebik kesal.
"Ehhhh, Feb. Gimana tawaran aku kemarin?"
"Tawaran apa?"
"Itu, yang soal sepupu aku. Dokter umum di rumah sakit cahaya bangsa? Dia jomblo kamu jomblo, nahhhh pas kan?" Hesty menjentikkan jarinya bersemangat.
"Memang masih musim y, di comblang-comblangin? Kamu nih sok banget jodoh-jodohin aku, kamu sendiri piye?? Dah dapat pengeran berkuda nya?"
"Aku gampang lah, mau ya? Biar aku atur jadwal kita jalan nanti! Atauuuuuuu kamu gak mau karena adaaaaa..." Hesty melirik ke arah pak Ardi, lelaki itu tak memperdulikan ucapan Hesty, ia tengah sibuk menatap layar komputernya, seolah tak menghiraukan tengah di sindir. Padahal kenyataannya ia menunggu nunggu respon jawaban dari Febry, ia khawatir jika Febry meng iya kan tawaran sahabatnya itu.
"Ada-ada aja kamu ini, Hes. Dah lah, aku mau ke ruang pembelian dulu." Febry bangkit dari kursinya.
__ADS_1
"Kamu kalau sudah liat orangnya gak bakal nolak dehh." Ucap Hesty, sebelum Febry benar-benar menghilang dari balik pintu.
***
Febry berjalan melewati lorong kantor, ia berniat ke pantry untuk mengisi gelas minum nya. Pentry dan toilet kantor terletak bersebelahan, dari pantry ia mendengar suara, seperti ada seseorang yang tengah mandi. Siapa orang yang mandi sore-sore begini di kantor, batinnya.
Samar ia mendengar suara cekikikan pelan dari arah kamar mandi, kali ini ia mulai merasa ada sesuatu yang tak beres. Bulu kuduknya seolah berdiri, hingga sebuah tepukan mendarat di bahu kanannya.
"Ngopo melamun, Feb?"
Febry yang tengah membuat teh, tersentak kaget.
"Ih, pak Ardi ini kok demen banget ngagetin orang," protes Febry.
"Aku dengar ada suara orang mandi sama ada yang ketawa cekikikan."
"Dimana? Kamar mandi kosong, aku lho baru dari situ."
"Masa? Aku gak mungkin salah dengar pak."
"Heleh sudah, bikinin aku teh juga." Pak Ardi menarik kursi yang ada di bawah meja, lalu duduk sembari menatap lekat gadis berhijab itu.
"Kamu gak tertarik tawaran Hesty?"
"Tawaran apa, pak?" Sahut Febry sembari menyeduh teh.
__ADS_1
"Itu, tawaran buat di combalangin sama sepupunya."
"Ohhh itu, gak lah."
"Kenapa?"
"Y g papa."
"Kalau sama aku?"
"Apanya?"
"Hee g papa, udah teh nya? Pak Ardi lantas mengambil teh yang ada di meja, lalu pergi berlalu meninggalkan Febry yang masih terpaku dengan pertanyaan pak Ardi. Sebenarnya ia merasa ada sesuatu yang tak beres dengan perasaan pak Ardi padanya. Tapi ia takut, takut jika itu hanya harapan palsu. Karena nyatanya tak pernah sedikitpun lelaki itu mengatakan bahwa ia menyukainya.
*****
"Hes, aku pulang duluan ya." Febry mengemas barang nya dengan tergesa.
"Buru-buru amat, memang mau kemana?"
"Aku ada janji hari ini, duluan y semua, dahhhhh" Febry melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan.
"Okee, hati-hati di jalan beb."
****
__ADS_1