
Febry menghampiri Hesty yang berdiri di depan pintu. Wajahnya pucat karena ketakutan. Seolah mengerti ada sesuatu yang tidak beres dengan Febry, Hesty mencoba menenangkan gadis itu.
Ia merangkul Febry sembari mengajaknya untuk tetap berdiri di depan pintu, menunggu seseorang membuka kan pintu untuk mereka.
Tak berselang lama, pintu terbuka. Seorang wanita berumur sekitar enam puluhan keluar dari dalam rumah.
"Permisi, Bi. Tadi pak Ardi minta saya buat ngambilkan map merah muda di ruang kerja. Boleh minta tolong buat ngambilkan?" Ucap Hesty hati-hati.
"Oh, enggeh mbak. Tadi pak Ardi ada nelpon saya juga. Tapi saya gak tau map nya yang mana, jadi kalau mba saja yang ngambil ke dalam g papa? Biar saya tunjukan ruangannya," ucap bibi sembari mempersilahkan Hesty dan Febry masuk.
Kedua gadis itu berpandangan, mereka mengangguk setuju. Sembari memperhatikan ruangan sekitar Hesty dan Febry berjalan di belakang bibi, mengikuti wanita itu masuk menuju ruang kerja pak Ardi.
Meski terbilang bangunan lama, namun di dalam ruangan terlihat sangat rapi dan terkesan estetik. Mereka dibuat terpana dengan tempat tinggal pak Ardi. Pak Ardi belum menikah, namun mes yang ia tinggali begitu rapi dan nyaman. Bangunan rumah yang dari luar terkesan angker, nyatanya di dalam sangat berbeda
Mereka berjalan menuju ruang kerja pak Ardi. Sebuah rak cukup besar dengan deretan buku yang tersusun rapi menjadi sekat antara meja kerja dan sebuah jendela yang menghadap keluar. Febry ingin mendekat ke arah jendela, namun langkahnya tertahan oleh tatapan Hesty yang seolah tak mengizinkan ia untuk mendekat ke jendela.
"Silahkan non cari map nya yang mana, saya ke dapur dulu mau buatin minuman."
Baru saja Hesty ingin mengatakan untuk tidak perlu repot-repot, bibi yang bernama Darsimah itu sudah terlebih dahulu pergi meninggalkan mereka.
"Hes," Febry berucap pelan.
"Hemm."
"Kamu merasa gak sih, kalau di sini tempat nya nyaman tapi hawanya..,"
__ADS_1
"Sstttttt." Hesty memberi isyarat agar Febry tak melanjutkan ucapannya.
Febry menurut, ia memilih diam dan ikut menyuburkan diri mencari map berwarna merah di atas meja, namun karena banyaknya map yang berwarna sama, membuat mereka harus membuka isi map tersebut satu persatu.
"Hes, aku kok kebelet pengen pipis, duhh."
"Udah sana kebelakang."
Febry lantas pergi meninggalkan Hesty, ia berjalan mencari toilet yang ia fikir mungkin berada di belakang.
Langkahnya berhenti di depan sebuah kamar yang tertutup, ia penasaran dengan ruangan di balik pintu yang terbuat dari pohon jati, lengkap dengan ukuran yang membuatnya terkesan begitu klasik.
Perlahan jemarinya meraih ganggang pintu di depannya.
"Maaf non, lagi ngapain?" Suara bi darsih mengagetkan Febry.
"Oh toilet, ada di pojok belakang. Dari sini belok kiri non. Kalau ini kamar pak Ardi."
"Owhh, kamar pak Ardi ya. Baik saya ke belakang dulu kalau gitu y, bi." Febry berlalu pergi, sementara bibi darsih berjalan menuju ruang tamu sembari membawa nampan berisi teh hangat.
"Buset, gede bener. Salut pak Ardi berani sendirian di tempat begini." Febry berucap lirih.
Langkah kakinya tiba di depan sebuah ruangan yang di maksud bi darsih, ia baru ingin membuka pintu dan melangkah masuk, namun sebuah tepukan di bahu kanan membuat ia terkejut dan menoleh ke asal tepukan.
"Hesty? Bikin kaget aja," ucap Febry sembari mengelus dadanya yang berdebar lebih kencang.
__ADS_1
Hesty hanya tersenyum, ia menatap ke arah Febry yang seolah sudah tak tahan ingin buang air kecil
"Kamu mau pipis juga?"
Hesty mengangguk pelan.
"Bentar aku duluan, ya. Kamu tunggu di sini." Tanpa menunggu persetujuan Hesty, Febry lantas masuk ke dalam kamar mandi. Ia benar-benar sudah tidak tahan lagi.
"Nah, mana Hesty? Katanya mau pipis." Febry celingukan mencari sosok Hesty."mungkin dia gak jadi pipis, y sudah lah." Febry lantas pergi menuju ruangan pak Ardi.
Baru saja ia ingin masuk ke dalam ruang kerja, ia mendengar suara hesty yang tengah berbincang dengan bi darsih. Ja pun lantas mengurungkan didi untuk masuk. Ia berjalan ke ruang tamu menghampiri Hesty.
"Loh Hes, kamu tadi gak jadi pipis?" Ucap Febry sembari duduk di samping Hesty.
"Apanya? Aku gak kebelet pipis kok,"
"Lah tadi bukannya nyusul aku ke toilet?
"Engga, orang aku dari tadi di ruang kerja. Map nya udah ketemu, jadi di ajak bi darsih ke ruang tamu buat ngeteh." Terang Hesty panjang lebar.
"Hah??terus?? Febry menutup mulutnya, ia yakin jika tadi ia berbincang sebentar dengan Hesty. Jika Hesty pak pernah ke belakang, lantas siapa yang menggoda mereka.
"Sudah...sudah... Ayo kita balik, nanti ke sorean." Hesty meggandeng tangan Febry, mengajaknya berpamitan dengan bi darsih, lalu kembali ke kantor.
Sepanjang jalan Febry seperti orang linglung, ia sangat yakin jika tadi berbicara dengan seseorang mirip Hesty, namun nyatanya tadi Hesty bahkan tidak ada ke belakang sama sekali. Lantas, ia tadi berbicara dengan siapa??
__ADS_1
(maaf y guyss lama g update. author lagi sakit jdi ga bisa mikir. lagi bapil dan radang parah. Kalian jaga kesehatan y...♥️)