
Perlahan satu demi satu Febri menuruni anak tangga kecil yang menuju ke sendang. Jantungnya berdegup tak karuan. Dengan perasaan menduga-duga, Febry mendekat ke arah kamar mandi itu.
Terdengar guyuran demi guyuran air, seperti ada seseorang yang mandi. Namun febry tak bisa melihat siapa yang ada di dalam kamar mandi itu. Suasana begitu senyap, waktu seakan berhenti di tempat.
Sayup-sayup ia mendengar seperti suara seseorang yang sedang menyinden lagu Jawa. Suaranya lembut namun begitu pelan. Perlahan langkah demi langkah ia berjalan. Ia berdiri tepat di sisi sendang.
Ia yakin, suara sinden itu berasal dari dalam kamar mandi. Ia berjalan pelan, lalu mendadak diam.
"Ati-ati nduk, perkoro gede ngincer awakmu."
Febry menoleh kesana kemari mencari asal suara, namun ia tak mendapati seorang pun selain dirinya. Kini, suara guyuran air itu tak lagi terdengar. Febry berharap seseorang akan keluar dari kamar mandi, tapi beberapa detik berlalu, tak ada siapapun yang keluar.
Jantungnya berdebar kencang, dengan lutut yang gemetar. Ia menoleh kesana kemari seperti orang kebingungan.
Bukkkkkkkk
Terdengar sesuatu jatuh tepat di belakang kamar mandi, suaranya begitu nyaring, hingg Febry terpenjat kaget.
Ia mundur beberapa langkah
Hihihihihihihi
Suara tawa seorang wanita seakan memecah kehingan, Febry lantas berbalik dan ingin berlari naik ke atas jalan utama.
Namun, ia tak memperhatikan langkahnya, tanah merah yang di bentuk bertingkat itu cukup licin hingga membuat Febry terjatuh, naas kepalanya terbentur bebatuan di dekatnya, seketika semua berubah menjadi gelap.
*****
Aroma minyak kayu putih menyeruak memenuhi indra penciuman Febry. Gadis itu mengedip-ngedip kan matanya pelan.
"Mah, kak Febry udah sadar."
Suara teriakan Ryan, membuat Febry sedikit kaget, ia lantas mengucek matanya beberapa kali, kening dan pergelangan tangannya terasa sakit,
"Feb, syukur lah kalau sudah sadar." Ibu membatu Febry untuk duduk dan bersandar.
"Memang Febry kenapa, mah?"
"Kak Febry tu aneh, tadi ke sendang sendirian. Aku panggil panggil gak dengar, eh malah pingsang di turunan jalan.
Dahu Febry mengernyit, ia tampak mencoba mengingat kejadian beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Ia merasa jika memang tak ada siapa pun di makam.
"Ayah mana, mah?"
"Ayah? Owhh ayah tadi keluar ada urusan. Kamu kok nyariin ayah, kamu tadi kenapa? di panggil panggil gak dengar."
Febry terdiam, ia bahkan bingung dengan apa yang ia alami tadi.
"Mah, di sini susah banget y jaringan internet? Aku kepikiran kerjaan kantor."
"Ya namanya di pelosok, Feb. Mungkin kalau di desa sebelah ada jaringan, soalnya lebih dekat sama kota."
"G asik banget, mah. Gak bisa main game." Ryan menimpali.
"Huu dasar bocah, game Mulu."
"Biarin, weeee."
"Sudah... Sudah, jangan bertengkar terus. Kamu bawa istirahat dulu Feb. Tangan kamu kalau masih sakit, nanti di pijit pelan-pelan, Mamah mau keluar dulu."
"Keluar kemana, mah?"
Sang mama lantas beranjak, Febry dan Ryan hanya berdua di kamar. Febry masih teringat kejadian tadi, ia jadi begitu penasaran, siapa sosok yang ada di dalam kamar mandi tadi.
****
Febry yang tengah tertidur tiba-tiba terbangun, ia merasa kerongkongan nya kering, lalu berniat keluar kamar untuk mengambil segelas air.
Namun, nyali nya mendadak ciut, ketika ia mencium aroma yang begitu wangi tengah memenuhi seisi kamar nya.
Aroma semerbak itu memenuhi seisi kamar, bukan aroma bunga, melainkan bau kemenyan yang tengah di bakar. Seperti nya seseorang memang sengaja menyalakan Kemenyan. Tapi siapa?
Rasa penasaran yang besar membuat Febry memberanikan diri untuk mencari tau dari mana asal kemenyan itu.
Perlahan, Febry berjalan keluar kamar. Terbesit rasa ingin kembali ke kamar. Namun gadis itu tetap melanjutkan langkahnya.
Seluruh lampu di dalam rumah padam, ia mengandalkan ponsel untuk menerangi jalannya. Jemarinya basah karena berkeringat, ia tak berani menerka apa yang akan ia temui nanti.
Suasana begitu senyap, mungkin kedua orang tua nya tengah terlelap. Ia berjalan melewati lorong dapur, tampak tak ada sesuatu yang mengganggu nya. Ia pun dengan mantan melanjutkan kembali langkahnya satu demi satu.
Jantungnya berdebar hebat, ketika hampir sampai di ruang tamu, namun lagi-lagi ia tak menemukan sesuatu, aroma kemenyan itu seakan samar dan bukan berasal dari arah depan.
__ADS_1
Febry berbalik, ia lantas menuju arah kamarnya. Namun ketika sampai di depan kamar, ia mencium aroma kemenyan itu begitu menyengat, seakan aroma itu berasal di sekitar kamar.
Matanya pun tertuju pada kamar yang di jadikan gudang, dan berada tepat di depan kamar miliknya. Ia sedikit ragu untuk masuk, namun ketika mencoba membuka pintu, ganggang pintu itu tak terkunci.
Aroma debu dan pengap menusuk hidung, ketika pintu kamar di buka.
Ia memberanikan diri untuk masuk, tak ada penerangan satupun di dalam kamar. Tubuh nya beberapa kali tertabrak benda yang di simpan di dalam kamar dan di tutupi oleh kain berwarna putih.
Keringat dingin perlahan membasahi pelipis gadis itu. Hanya mengandalkan pencahayaan dari ponsel miliknya, ia mencoba mengamati sekitar.
Dukkkk
Febry terbentur sesuatu, ia hampir berteriak tetapi segera ia bungkam mulutnya menggunakan tangan.
Ia mengarahkan ponsel nya ke depan. Tampak sebuah patung yang berukuran setinggi manusia di tutupi dengan kain putih.
Patung itu tampak seram, seakan menatap ke arah dirinya, Febry mundur beberapa langkah, lalu kembali menyorot ke sisi lain. Jantungnya seakan ingin melompat keluar, ketika cahaya ponsel menyorot sebuah patung berukuran besar dan cukup tinggi.
Ia heran, untuk apa kakek neneknya mengoleksi patung-patung menyeramkan seperti itu.
Febry kembali melangkah, Ia berjalan semakin masuk ke kamar. Langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah tangga yang berada beberapa meter di depannya.
Tangga itu mengarah pada sebuah kamar, ia baru tau jika bagian belakang rumah kakek nenek nya memiliki dua lantai.
Gadis itu pun memberanikan diri melangkah menaiki anak tangga, aroma kemenyan semakin menyengat. Febry yakin jika aroma itu berasal dari kamar yang berada di ujung tangga.
Kini ia berada tepat ada di depan kamar, detak jantungnya berdegup tak karuan. Ia sedikit ragu untuk membuka pintu kamar, namun ia sudah begitu penasaran.
Ceklekkkk
Dengan hati-hati ia mutar ganggang pintu perlahan. Aroma kemenyan begitu semerbak, keluar dari celah pintu yang ia buka sedikit. Febry mendekat kepalanya, mengintip dari celah pintu yang tak berani ia buka lebar.
Sama seperti kamar di bawah, isi ruangan itu banyak terdapat barang-barang yang di tutup kain. Di tengah ruangan tampak beberapa cahaya lilin.
Namun yang membuat ia begitu terkejut, ketika mendapati seseorang tengah duduk di antara lilin yang mengintari tubuhnya dan sebuah tempat yang di gunakan untuk menyalakan kemenyan.
Febry mengernyitkan dahinya, mencoba mengenali siapa sosok yang tampak begitu familiar di mata Febry. Sosok itu seperti tengah berbicara namun dengan kosa kata yang tak Febry mengerti, seolah merapalkan sebuah mantra.
Netra Febry membulat, ketika ia semakin mengamati sosok yang tampak begitu khusyu itu. Dan tubuhnya seolah membatu ketika ia yakin siapa sosok itu.
"Ayah???"
__ADS_1