
"Kamu sendirian nunggu ayah?" Riko memulai pembicaraan. Mereka berjalan melewati lorong rumah sakit.
"Iya."
Riko memperhatikan penampilan gadis yang berjalan di sampingnya dari atas hingga ke bawah.
"Ini bukan jaket kamu kan?"
"Owhh ini? Iya, tadi pak Ardi minjemin sebelum dia pulang. Kok kamu tau, kenapa?"
"Engga, cuma tumben aja kamu pakai bombeer model gini, ternyata benar punya pak Ardi."
Febry tak ambil pusing, ia tau, mungkin ada perasaan cemburu yang menyelusup di hati Riko, namun bagi Febry cemburunya tak masuk akal. Karena dia dan pak Ardi tak ada hubungan spesial.n ruang ICU, ruangan yang tadi sepi tak ada orang, kini tampak ramai. Ada beberap or
Mereka hampir sampai di depaang yang duduk dan berdiri di depan ruangan ICU.
Mungkin keluarga dari pasien yang meninggal tadi.
Febry dan Riko berdiri di depan ruangan, tampak nya pasien yang meninggal tadi akan di pindahkan ke ruangan pemulasaraan jenazah sebelum di bawa pulang oleh keluarga.
Terdengar Isak tangis dari para kerabat pasien yang juga sedang berdiri di depan ruangan ICU. Pintu ruangan di buka, Isak tangis mengiringi ranjang pasien yang di dorong keluar oleh dua orang perawat.
"Ibu.... Maafkan maya baru bisa datang. Ibuuuu.....," Tangis seorang wanita sembari ikut mendorong ranjang pasien.
Ranjang pasien tersebut kemudian berhenti tepat di depan Febry dan Riko, para keluarga ingin melihat almarhum sebelum di bawa ke ruang pemulasaraan jenazah.
Keluarga almarhum, sontak langsung mendekat. Membuat Febry melangkah mundur hingga hampir terjatuh, namun Riko dengan sigap merangkul Febry.
Kain yang menutup wajah almarhum di buka, Febry yang penasaran mengintip dari balik punggung seorang ibu-ibu yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Jantung Febry seperti mau melompat keluar ketika melihat sosok berwajah pucat yang tengah terbaring di depannya.
Wajah itu mirip dengan sosok ibu-ibu yang menatap nya di depan ruangan rawat inap saat ia lewat seorang diri tadi. Bulu kuduk Febry meremang, Febry kembali memperhatikan pakaian yang di gunakan. Dan semakin membuat Febry bergidik ngeri. Karena baju yang almarhum gunakan sangat mirip dengan ibu- ibu yang ia temui tadi. Ibu-ibu berumur yang mengenakan daster merah tua dengan wajah pucat dan tatapan yang begitu dingin.
Febry terhuyung hampir terjatuh, Riko yang berdiri di sampingnya langsung merangkul dan memapah Febry untuk duduk di kursi.
"Kamu kenapa, Feb?"
Febry terdiam, ia masih begitu kaget hingga bibirnya terasa kelu untuk bicara.
"Ini kamu minum dulu." Riko membukakan botol air mineral lalu menyerahkan nya ke Febry.
Jenazah pasien itu lalu kembali di dorong menuju ruangan jenazah. Febry menatap tubuh dingin yang tertutup kain itu hingga hilang di balik pintu.
Bagaimana mungkin ia tadi bisa melihat penampakan ibu itu, sementara keluarga yang lain tak mengalami apa yang Febry alami beberapa saat tadi. Mungkinkan ini yang di maksud dengan salam perpisahan dari seseorang yang telah meninggal?
****
"Itu cuma mitos, banyak juga yang sembuh."
"Banyak juga? Berarti hampir sepenuhnya benarkan?" Febry menatap lelaki yang berdiri di samping nya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu jangan pesimis. Ya memang saat ini kita cuma bisa berdoa dan berusaha. Tapi tidak ada salahnya jika kita juga tetap percaya ayah kamu akan pulih."
Febry memalingkan wajah. ia menatap ayahnya yang masih terdiam di atas ranjang. Ada ketakutan yang menyelusup di dalam hati nya, ia takut jika ayah akan meninggalkan merek untuk selamanya.
"Feb?"
Febry menoleh. Kali ini tatapan mereka bertemu. Febry tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan di hatinya. Air matanya luruh. Riko perlahan meraih Febry untuk menangis dalam pelukannya. Tak ada penolakan dari gadis itu, ia membenamkan segala kesedihannya dalam dekapan hangat Riko.
__ADS_1
*****
Waktu sudah menunjukan pukul 3 pagi, Febry termenung di ruang ICU menemani sang ayah seorang diri. Ia meletakan kepalanya di sisi ranjang pasien, mencoba memejamkan mata untuk tidur sebentar namun tak juga tertidur.
Ia mendengar suara Isak tangis lirih yang entah berasal dari mana. Ia hanya tertegun sembari mendengarkan suara tangisan yang semakin lama ia dengarkan semakin terisak.
Beberapa saat ia tertegun, karena ia menyadari jika di ruangan ini hanya mereka berdua. Febry yang penasaran mencoba mencari asal tangisan tersebut. Namun, baru ia ingin melangkah, tanpa sengaja ia melihat ke arah ayahnya yang matanya tampak terbuka, namun hanya terdiam dengan pandangan kosong.
"Ayah...ayah sudah bangun?" Febry yang kegirangan lantas berlari ke ruangan dokter jaga untuk memberitahukan kondisi ayah nya yang sudah sadar.
Tak berselang lama, Febry kembali bersama Riko dan seorang perawat. Namun, ketika pintu ruangan terbuka, ayah Febry masih tampak terpejam dan dengan posisi seperti sebelumnya.
Febry bingung, karena ia tadi yakin jika ayah nya memang sudah bangun namun hanya terdiam. Riko tak menyalahkan, ia berfikir mungkin Febry hanya begitu terlalu berharap ayahnya sadar, hingga membuat ia berhalusinasi.
****
Hari ini ia bergantian dengan sang ibu untuk menjaga ayah, namun malam nanti ia akan kembali lagi ke rumah sakit.
Febry seorang diri di dalam rumah, ia baru saja ingin merebahkan tubuhnya di atas kasur, namun ia mendengar suara seperti seseorang tengah memukul dinding dengan sebuah benda. Suara itu tampaknya berasal dari kamar kedua orang tuanya.
Ia takut, namun rasa penasaran nya begitu besar hingga membuat ia nekat untuk mencari tau asal suara tersebut.
Dengan mengendap-endap ia berjalan menuju kamar kedua orang tuanya yang berada tepat di samping kamar miliknya.
Jantungnya berdegup tak karuan, tangannya berkeringat. Semakin lama semakin nyaring ketukan tersebut. Terbesit niatnya untuk mundur dan berlari keluar, namun ia masih penasaran.
Perlahan ia membuka pintu kamar yang tak terkunci, lalu mengintip dari pintu kamar yang terbuka sedikit. Namun anehnya tak ada seseorang pun yang berada di kamar. Jika suara binatang pun rasanya tak masuk akal.
Kali ini ia membuka pintu kamar sedikit lebih lebar, namun tetap. Ia tak menemukan sesuatu yang mencurigakan.
__ADS_1
Namun tiba-tiba, tubuhnya seperti di dorong oleh seseorang dari belakang. Dorongan itu begitu kuat hingga membuat tubuh Febry terdorong ke depan, kerasnya dorongan itu membuat tubuhnya tertabrak lemari pakaian yang berada di depannya. Seketika semua menjadi gelap.