TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
GANAS SEKALI


__ADS_3

Entah sudah sejak kapan Vano bertelanjang dada, bukan hanya ia. Tapi juga Bita, yang pasrah jika sang suami melepas pakaian yang dikenakannya.


Karena memang saat skin to skin dengan sang nenek ketika sedang demam, Bita selalu melepas pakaian yang dikenakannya.


Vano terus menempelkan dada yang sudah bertelanjang dada, pada dada Bita. Ia pernah mendengar metode skin to skin untuk mempercepat menurunkan demam.


Meski Vano belum yakin itu bisa berhasil atau tidak, ia terus mencoba menggunakan metode tersebut, karena memang suhu tubuh Bita begitu tinggi.


Tentu saja sambil menahan hasrat di dalam tubuhnya, yang sejak tadi begejolak melihat tubuh mulus sang istri.


Tapi Ia tidak ingin egois menyalurkan hasrat di dalam tubuhnya pada wanita yang sedang sakit.


Padahal biasanya Vano akan mengasah pedang saat sedang tidak enak badan. Dan itu sangat manjur untuk membuatnya kembali bugar.


Namun, saat ini buka ia yang sedang sakit tapi sang istri.


Entah sudah berapa lama Vano dan juga Bita berpelukan.


Bita membuka kedua bola matanya dengan berat, dan juga mengangkat satu aslinya.


Mendapati sebuah tonjolan yang mengenai kedua pahanya di bawah sana.


Dan ya? Bita sangat tahu tonjolan tersebut apa.


Bita sekarang melepas pelukannya, tapi tidak dengan Vano yang malah semakin erat memeluk tubuh Bita.


"Pak, lepaskan aku!" pinta Bita, karena situasi saat ini berbeda dengan awal mula Vano memeluknya.


Apa lagi tonjolan di bawah sana mulai terasa keras.


"Pak! Lepaskan aku!'


"Hussss, diam dan jangan berisik!" sahut Vano, dengan kepala berada tepat di leher samping Bita.


"Pak! Apa apaan sih!"


Bita mengangkat kepala Vano yang baru saja mencium lehernya.


"Ngantuk," balas Vano dengan kedua mata ia pejamkan, untuk mengurangi hasrat di dalam tubuhnya yang terus melonjak, apa lagi sekarang demam Bita mulai turun.


"Itu, batang pak Vano berdiri," tentu saja Bita tahu hal tersebut.


"Dia ingin mencari kehangatan, yuk!"


Bita memicingkan matanya mendengar apa yang Vano sang suami katakan. "Pak, jangan macam-macam ya. Aku tidak mau,"


"Kenapa? Kita suami istri, hal wajar melakukan hal tersebut bukan?"


"Tidak, aku tidak mau. Kita memang suami istri Pak, tapi itu hanya status. Lepaskan aku Pak!"


Belum juga Bita coba untuk melepas pelukan sang suami, sudah terlebih dahulu Vano melepas pelukannya.

__ADS_1


Bita menatap pada tubuhnya, dan baru menyadari jika ia hanya mengenakan kaca mata pembungkus gunung kembarnya, dan juga celana segitiga.


"Ya ampun ke–" Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Vano kini mengungkung tubuhnya di bawah sana. "Pak, apa yang Pak Vano lalukan? Minggir!"


"Enak saja minggir, kamu harus bertanggung jawab. Karena sudah memancingku, dengan tubuh yang jelek ini,"


"Jelek Pak Vano bi– Pak!" Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, di gantikan teriakan.


Ketika Vano menggesek senjata miliknya yang sudah berdiri tegak di balik celana yang di kenakannya.


"Kamu sudah biasa melakukannya, bukan. Yuk!"


"Pak, jangan kurang ajar ya. Aku melakukan karena cinta,"


"Dan cinta itu akhirnya meninggalkan kamu,"


"Diam!" Bita merasa kesal di ingatkan hal yang ingin ia lupakan.


"Mending melakukan denganku. Tenang, nanti ada imbalannya. Kamu mau berapa? Satu juta, dua juta, atau berapa?"


"Pak Vano kira aku, palaccur!"


"Lah apa bedanya kamu dengan pelaccur, masih mending pelaccur dapat uang. Lah, kamu dapat apa?"


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Bita. Rasa pusing yang sedang ia rasakan, bercampur rasa kesal mendengar perkataan dari Vano sang suami yang dipikir benar adanya, bukan hanya itu saja. Bita juga merasa tubuhnya sangat lemas.


Sekarang Bita membuka kedua pahanya. "Sepuluh juta,"


"Baiklah!"


"Sial!" pekik Vano, lalu menjatuhkan tubuhnya di samping Bita, yang masih terlentang di atas kasur. "Bodoh, apa yang kamu lakukan!" kesal Vano, sambil memegangi senjata miliknya yang baru saja mendapat tendangan dari Bita.


Bita baranjak dari tempatnya, tak ingin lagi ia mengulang hal yang membuatnya hamil.


Ketika Bita mengingat, ia menikah dengan Vano bukan karena cinta, terlebih lagi sang suami bukanlah pria yang baik.


Dan ia tidak ingin hamil dari pria yang tidak baik, karena Bita yakin, Vano suatu saat nanti akan pergi meninggalkannya.


Bita menoleh pada Vano, ketika tangan yang ingin ia gunakan untuk mengambil pakaian ditahan olehnya. "Lepas!" Bita coba melepas tangannya.


Namun, yang ada Vano menarik tangannya tersebut, hingga Bita kembali terjatuh diatas kasur.


"Pak!"


"Sepertinya kamu harus di paksa,"


"Tidak, tolong!!!!!"


Ibu Vivi yang masih berada di ruang tengah sambil menonton televisi. Memicingkan matanya, ketika kedua telinganya mendengar suara minta tolong dari lantai dua rumah mewah tersebut.


Ia pun segera mematikan televisi dan beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Bu, sepertinya itu suara Bita," ujar Susi yang sudah mendekati ibu Vivi, ketika ia mendengar orang minta tolong.


Ibu Vivi menautkan keningnya melihat Susi tersenyum.


"Bu, pasti tuh ramuan bekerja dengan sangat baik. Hingga Bita minta tolong seperti itu,"


Dan kini ibu Vivi yang tersenyum, mengira sang putra sedang mengasah pedang.


"Semoga ibu cepat dapat cucu,"


"Amiin," ibu Vivi menanggapi ucapan dari Susi.


Lalu memudarkan senyum, ketika melihat sang putra keluar dari dalam kamar sambil membopong Bita.


"Ya ampun, apa yang terjadi,"


"Mungkin Pak Vano terlalu bersemangat, jadi seperti itu," sambung Susi, mengira Bita kewalahan melayani sang suami. Seperti dirinya ketika pulang kampung, sangat kewalahan melayani sang suami setelah minum ramuan, seperti yang Vano minum tadi.


"Tan!" teriak Vano panik, setelah berada di lantai satu.


"Nak, kenapa dengan Bita?"


Namun, pertanyaan dari ibu Vivi tidak di jawab oleh Vano, dan terus memanggil Tan hingga datang.


"Antar aku ke rumah sakit!" perintah Vano ketika Tan sudah mendekatinya.


Ibu Vivi menahan lengan Vano yang ingin mengikuti Tan keluar dari rumah. "Nak, ada apa dengan Bita,"


"Dia pingsan Bu. Dan aku harus membawanya ke rumah sakit,"


"Kenapa bisa pingsan, Nak?"


"Apa lagi jika bukan kelelahan, Bu," jawab Susi menjawab pertanyaan dari ibu Vivi, karena Vano bergegas keluar dari rumah tanpa menjawab pertanyaan dari ibu Vivi.


"Ta bahaya ta?"


"Tentu saja tidak Bu, seperti Ibu tidak pernah menjadi pengantin baru,"


Sementara itu, Vano yang belum memakai baju segera mengambil pakaian yang terdapat di dalam mobilnya.


"Bodoh! Kenapa tidak jalan!" kesal Vano, karena Tan belum melajukan mobilnya menuju rumah sakit, padahal ia begitu kuatir dengan Bita yang tiba-tiba pingsan.


"Ganas sekali mainnya Bos, sampai dia pingsan, berapa ronde memangnya Bos?"


"Ronde dari mana, baru mau ketuk pintu, eh sudah pingsan duluan,"


Tan pun langsung tertawa kencang mendengar jawaban dari Vano.


"Jalan woy!"


"Siap Bos! Kenapa tidak di gas saja Bos,"

__ADS_1


"Mana enak, tanpa perlawanan. Dasar bodoh!"


Bersambung...................


__ADS_2