
Mendapati senjata apinya tidak lagi memiliki peluru, setelah melesatkan dua tembakan ke arah Vano, tapi tembakannya tersebut malah mengenai tubuh Bita yang tiba-tiba berdiri di depan sang suami.
Papa Dewa segera meninggalkan rumah tersebut tanpa merasa salah. Padahal, seandainya masih ada peluru di dalam senjata apinya, ingin sekali papa Dewa melesatkan tembakan ke arah Vano, agar sepasang suami istri tersebut mati.
Dan Meysa sang putri tidak akan menangis lagi karena Vano.
Tubuh Meysa membeku, setelah sang papa melesatkan dua tembakan.
Dan tembakan itu bukan mengenai Vano, tapi mengenai Bita, yang sekarang sudah berlumuran darah di dalam pelukan Vano.
Teriakan histeris memenuhi kamar mendiang ibu Vivi. Bukan hanya dari Vano yang mendapati sang istri sudah tidak sadarkan diri, dan berlumuran darah.
Tapi Tini dan juga Susi yang melihat Bita pun tidak kalah histeris.
Vano membopong tubuh Bita sang istri keluar di kamar tersebut.
"Tan!" teriak Vano dengan gemetar, lalu air mata membanjiri kedua pipinya.
"Pak, Tan belum lama keluar." ucap Tini yang mengikuti Vano.
"Supir?"
"Sudah pulang, Pak!"
"Sial!" kesal Vano di sela-sela isak tangisnya, disaat sedang genting seperti ini semua yang ia butuhkan malah tidak ada. "Sayang, bertahanlah," ucapnya sambil menatap sang istri yang berada di gendongannya.
Kemudian Vano berlari keluar dari dalam rumah, dan memerintah asisten rumah tangganya untuk mengambil kunci mobil, ingin segera membawa sang istri ke rumah sakit, dan menyelamatkan perempuan yang akhir-akhir ini sudah memenuhi hatinya.
Tak berselang lama, Vano akhirnya tiba di rumah sakit terdekat untuk menyelamatkan nyawa sang istri yang mendapat tembakan dua kali dari papa Dewa selaku papa mertuanya.
Bergegas ia berlari sambil membopong dan berteriak seperti orang gila, pada para perawat.
"Tolong istriku, cepat!" seru Vano ketika perawat dengan cekatan menghampirinya.
Vano terus mengikuti jalannya brankar yang membawa sang istri, dan tak lepas menggenggam salah satu tangan Bita yang sudah lemas tidak berdaya.
Dan Vano terpaksa melepas genggaman tangannya, ketika sang istri harus mendapat penanganan lebih lanjut.
Bulir air mata terus membasahi wajah tampan model dan juga aktor, yang kembali bersedih setelah di tinggal sang ibu untuk selamanya.
__ADS_1
Dan sekarang sang istri tidak berdaya setelah mendapat tembakan dua kali dari papa Dewa.
"Sayang, bertahanlah." ucap Vano di sela-sela isak tangisnya. "Aku tidak suka seperti ini, sayang." ucapnya dan tak berhenti menangis.
Apa lagi dirinya mengingat ucapan sang istri sebelum kejadian. Yang mengatakan tentang umur.
Tini dan Susi yang tadi ikut ke rumah sakit, begitu prihatin melihat majikannya tersebut, padahal selama ini keduanya melihat Vano seperti kulkas, dingin.
Dan saat ibu Vivi meninggal, Vano tidak menangis seperti sekarang ini, itu yang Susi dan juga Tini lihat.
Tak terasa air mata kedua asisten rumah tangga tersebut menetes, mendapati keadaan Bita yang selalu baik pada keduanya.
"Sus, jangan cengeng."
"Kamu juga cengeng," ujar Susi. Lalu keduanya langsung berpelukan, sambil menangis.
Meysa yang tadi menyusul ke rumah sakit, berjalan mendekati Vano sang suami. Yang terlihat begitu sedih, melebihi kesedihannya saat sang ibu meninggal dunia.
Mungkin lebih tepatnya kesedihannya bertambah berkali-kali lipat, setelah kehilangan sang ibu untuk selamanya, kini di hadapkan dengan kenyataan jika sang istri yang sangat Vano cintai, mendapat dua buah timah panas yang bersarang di tubuhnya.
Meysa duduk tepat di samping Vano yang masih terus menitikan air mata. "Sayang, minumlah." Meysa menyodorkan satu botol air mineral ke hadapan sang suami.
Setelah melihat pakaian sang suami berlumuran darah.
"Tenanglah, aku yakin Bita akan baik-baik saja." tutur Meysa dengan lembut.
Membuat Vano, segera menghentikan tangisnya lalu mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.
Setelahnya ia menoleh pada Meysa, kemudian menampik tangan istri sirinya tersebut dengan kencang, hingga botol air mineral yang ada ditangannya jatuh.
"Ini semua gara-gara kamu. Jika terjadi sesuatu pada Bita, aku akan menghabisimu!" kesal Vano, dan kali tidak ada lagi raut wajah kesedihan yang nampak dari wajahnya, yang ada wajah kemarahan ketika Vano menatap pada Meysa.
Karena Vano yakin, kejadian ini tindak lain dan tidak bukan, disebabkan oleh Meysa, seperti apa yang papa Dewa katakan sebelum menghujam peluru ke tubuh Bita.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu jika papa akan bertindak seperti ini."
Vano tidak menanggapi ucapan dari Meysa, yang ada ia mendorong tubuh istri sirinya tersebut untuk menjauh.
"Sayang."
__ADS_1
"Daim!" seru Vano. "Terimalah kenyataan, jika sampai kapan pun. Aku tidak akan pernah menganggap kamu sebagai istriku, ingat itu baik-baik! Harusnya kamu tahu, aku mau menikah denganmu hanya untuk balas budi setelah apa yang kamu lakukan padaku, dan jangan pernah memaksa aku untuk mencintaimu. Karena cintaku hanya untuk Bita, semoga kamu paham!"
Bulir air mata jatuh membasahi kedua pipi Meysa. Sakit? Tentu, itu yang sedang ia rasakan, karena berulang kali Vano mengatakan hal yang sama padanya.
"Pergilah!" perintah Vano, setelah melihat Meysa menitikan air mata.
"Sayang, aku mencintaimu dengan tulus, tanpa mengharap cinta darimu,"
"Terus, untuk akan kamu menangis?"
Meysa tidak menjawab pertanyaan dari Vano, memang di mulutnya ia bisa mengatakan tidak akan mengharap cinta dari suaminya tersebut, tapi jujur di darah hatinya terdalam, ia ingin dicintai oleh Vano.
"Pergi dari hadapanku sekarang juga!" perintah Vano, dan kembali mendorong tubuh Meysa hingga jatuh ke lantai.
Tapi Meysa tidak mengeluh sakit atau apa pun itu, meskipun ia merasa sakit, yang ada ia menatap pada sang suami dan coba beranjak dari lantai.
Namun, baru saja berhasil beranjak dan juga berdiri. Tiba-tiba tubuhnya hilang keseimbangan, dan jatuh ke lantai tidak sadarkan diri.
Susi dan juga Tini yang berdiri tidak jauh dari keduanya, segera menghampiri Meysa, dan coba membangunkan.
Namun, Meysa tidak bergerak sama sekali. "Pak, ibu Meysa pingsan." kata Susi pada Vano yang masih diam di tempatnya tidak peduli dengan Meysa yang sudah tergeletak di atas lantai, karena pikirannya terus tertuju pada Bita sang istri.
"Panggil saja perawat." hanya itu yang Vano katakan.
Dengan segera Susi memanggil perawat, dan Tini coba untuk membangunkan Meysa.
"Ya ampun, Nona Meysa." ucap salah satu perawat yang baru saja di panggil oleh Susi.
"Suster kenal ibu Meysa?" tanya Tini penasaran dengan ucapan perawat tersebut, yang seolah mengenal Meysa.
"Ya, dulu dia pasien tetap di rumah sakit ini, sebelum pindah ke rumah sakit yang memiliki perlengkapan medis modern," jelas perawat tersebut, sambil mengangkat tubuh Meysa.
"Pasien?" tanya Tini lagi.
"Iya, dan maaf aku harus segera membawa Nona Meysa." perawat tersebut pun segera membawa Meysa.
Meskipun tidak peduli dengan Meysa, tapi Vano mendengar pembicara dari Tini sang asisten rumah tangganya, dengan salah satu perawat yang sudah membawa Meysa pergi menjauh.
Bersambung............
__ADS_1