
Vano melepas pelukannya setelah beberapa saat memeluk tubuh Bita yang tidak menolak saat ia memeluknya.
Bita menatap sekilas pada Vano, yang baru saja membuat dadanya berdebar debar setelah mendapat pelukan tiba-tiba dari sang suami, yang semalam untuk pertama kalinya Bita melayani sang suami berada di atas ranjang.
Kemudian Bita kembali memasukkan pakaian ke dalam koper.
"Terima kasih,"
Ucapan dari Vano membuat Bita, menoleh dan menatap pada sang suami yang masih berdiri tepat di dekatnya. "Untuk apa Pak?"
"Semalam kamu–
"Ya ampun Pak, mau berapa kali Pak Vano mengatakan terima kasih padaku," sambung Bita memotong perkataan dari Vano. "Sudah sepantasnya aku sebagai istri melayani Pak Vano diatas ranjang. Mana mungkin aku akan membiarkan wanita lain yang melayani suamiku,"
Entah Bita mengatakan hal tersebut dalam keadaan sadar, atau ia masih belum menerima jika sang suami akan menikah lagi.
Yang pasti, perkataan Bita tersebut, membuat Vano seperti tidak mengenali Bita yang selalu berkata seenaknya saja.
"Jika kamu tidak ingin aku di layani oleh wanita lain, kenapa kamu mengijinkan aku untuk menikah lagi?"
Bita mengurungkan kembali untuk memasukkan pakaian ke dalam koper, setelah mendengar pertanyaan dari Vano.
Dan kembali Bita menatap pada sang suami. Dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Vano.
"Hanya itu yang bisa aku lakukan agar Pak Vano tidak lagi terkena masalah. Karena aku tidak bisa melakukannya apa pun untuk membantu Pak Vano." Untuk kali ini Bita mengatakan yang sejujurnya.
Vano menahan tangan Bita yang akan pergi meninggalkannya. Ketika melihat raut wajah Bita tiba-tiba berubah menjadi sedih.
"Kenapa kamu terlihat sedih?"
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Bita, setelah mendengar pertanyaan sang suami untuk menutupi kesedihan yang sedang ia rasakan.
Karena benar, kali ini Bita benar-benar merasa sedih dengan keputusan yang sudah ia ambil, untuk mengiyakan sang suami menikah lagi.
"Tentu saja aku sedih, Pak Vano sudah berjanji padaku akan memberikan separuh harta Pak Vano, jika aku mau mengandung anak Pak Vano. Tapi nyatanya setelah kejadian semalam, Pak Vano tidak mengatakan apa pun. Apa jangan-jangan Pak Vano ingin membohongi aku, iya?" tanya Bita mengalihkan pembicaraan, untuk menghilangkan kesedihan yang sedang dirasakannya.
"Untuk apa aku berbohong,"
"Terus, kapan Pak Vano akan memberikan separuh harta Pak Vano?"
"Setelah kamu mengandung anakku,"
"Apa?! Bukannya Pak Vano—" Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, baru mengingat jika sang suami akan memberi separuh hartanya ketika mengandung.
"Kenapa tidak di teruskan bicaranya?" tanya Vano penasaran.
__ADS_1
"Tidak jadi!" jawab Bita, dan ingin meninggalkan sang suami.
Namun, langkahnya terhenti ketika Vano menahan satu tangannya, kemudian memeluk tubuhnya dari belakang.
Membuat dada Bita kembali berdebar debar. Tapi Bita tidak ingin melepas pelukan Vano, yang ada ia memejamkan matanya, ketika merasa nyaman di pelukan sang suami.
Vano tersenyum, karena Bita kembali lagi tidak menolak pelukannya. Kemudian ia berbisik di salah satu telinga Bita. "Bagaimana jika kita mengulang kejadian semalam, agar kamu cepat hamil dan aku akan memberi setengah harta yang kumiliki,"
Ajakan Vano membuat Bita membuka kedua bola matanya, lalu melepas pelukan sang suami. Kemudian membalik tubuhnya untuk menghadap pada Vano. "Apa ini modus Pak–
Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Vano tiba-tiba menarik pinggangnya hingga tubuhnya menempel di tubuh sang suami.
Kemudian Vano menarik belakang leher Bita untuk mencium bibirnya, yang tidak mendapat penolakan dari Bita.
Tanpa keduanya sadari jika ibu Vivi melihat apa yang keduanya lakukan dari balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat.
Ibu Vivi menjauh dari kamar sang putra, sambil mengukir senyum. Melihat sang putra dan juga istrinya sedang bermesraan.
"Terima kasih Tuhan, Engkau sudah mendekatkan mereka," ucap Ibu Vivi dan terus mengukir senyum.
Namun, senyum itu memudar ketika mengingat, Vano akan menikah lagi dengan wanita lain.
"Aku tidak bisa membiarkan Vano menikah lagi, aku ingin melihat mereka selalu seperti ini," kata Ibu Vivi.
*
*
*
Sesuai jadwal sebelumnya, akhirnya ibu Vivi, Vano dan juga Bita kembali ke rumah.
Meskipun Bita masih sangat mengantuk dan juga lelah, karena untuk kedua kalinya ia dan juga sang suami mengulang aktifitas panas diatas ranjang berulang kali.
Ketika keduanya sama-sama merasakan kenikmatan yang lebih nikmat, dari pada ketika keduanya melakukan untuk pertama kali.
Mungkin karena keduanya semalam melakukannya dengan perasaan, tidak seperti pertama.
Ibu Vivi yang duduk di samping Bita di bangku penumpang, mengukir senyum melihat menantunya tertidur nyenyak.
Kemudian ibu Vivi menoleh pada sang putra yang duduk di samping bangku pengemudi dimana Tan berada. "Nak,"
"Iya Bu,"
"Jangan bangunkan istri kamu, lebih baik kamu gendong dia ke kamar!" perintah ibu Vivi, karena mobil yang Tan kendarai sudah tiba di rumah.
__ADS_1
Kemudian ibu Vivi keluar terlebih dahulu dari dalam mobil, meninggalkan Vano yang sedang menatap pada sang istri, dari tempatnya berada.
"Sepertinya dia lelah sekali Bos, berapa ronde semalam?" tanya Tan sambil mengukir senyum.
Namun, Vano tidak menimpali ucapan dari asistennya tersebut, dan memilih keluar terlebih dahulu, untuk menggendong Bita seperti apa yang sang ibu perintahkan padanya.
Benar saja Bita tidak sama sekali terjaga dari tidurnya, sampai Vano merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Vano menyelimuti tubuh Bita, dan mengukir senyum mengingat aktifitas panas keduanya semalam.
Kemudian Vano merapikan rambut Bita yang berantakan, diakhiri mengelus pipinya dengan sangat lembut. "Terima kasih," entah sudah berapa kali Vano mengatakan terima kasih pada Bita setelah aktifitas semalam.
Bukan hanya mengelus pipi Bita, tapi Vano kini mendekatkan bibirnya untuk mencium kening sang istri.
Namun, belum juga menciumnya. Bita tiba-tiba membuka kedua bola matanya.
Membuat Vano menjauhkan bibirnya sebelum mencium kening sang istri.
Bita menautkan keningnya, melihat sekarang ia berada di mana. "Pak Vano, kita—
"Ya, kita sudah sampai," Vano memotong perkataan dari Bita.
"Maaf aku ketiduran, Pak."
"Tidak masalah," Vano menahan tubuh Bita yang ingin beranjak dari tidurnya. "Kamu istirahat saja," pinta Vano.
Membuat Bita kembali merebahkan tubuhnya, karena tubuhnya benar-benar sangat lelah.
"Apa kamu masih lelah?" tanya Vano, mengingat lagi. Semalam Bita mengeluh lelah ketika Vano terus menaiki tubuhnya.
Tentu saja Bita langsung menganggukkan kepala, dan menautkan keningnya ketika Vano tiba-tiba naik ke atas kasur.
"Maafkan aku." ucap Vano, dan ia yang sudah duduk diatas kasur langsung meraih kedua kaki Bita dan menaruhnya di atas kedua pahanya.
"Pak, apa yang Pak Vano lakukan?" Bita menurunkan kakinya.
Tapi Vano menaruh kakinya kembali di pangkuannya. "Aku akan meminjat kamu."
"Apa?!"
Bersambung............
NOTE: Jangan protes kalau Vano mau kawin lagi, ini yang kalian mau kan? Yang bilang katanya Bita jadi istri bla bla bla. Mending ini lah itu lah. Nah sekarang aku kabulkan permintaan kalian wkwkwkwk 🤭😅
Eh ya, jangan lupa vote mingguannya ya.
__ADS_1