TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
PESAN


__ADS_3

"Pak Vano, ada disini juga?" tanya Bita melihat suaminya tersebut juga berada di acara tersebut.


Namun, tidak di jawab oleh Vano, yang malah menatap pada Mami Loren. Tak lupa mengukir senyum, pada salah satu pemilik perusahaan fashion, yang menjadi sponsor utama di rumah agensi, dimana selama ini Vano bernaung sebagai model.


Mami Loren membalas senyum Vano. "Jadi perempuan ini, saudari kamu? Kenapa aku baru tahu jika kamu mempunyai saudari?"


"Tidak perlu di bahas, itu tidaklah penting, Nyonya,"


"Baiklah, mari ikut," Mami Loren mempersilakan Vano untuk mengikutinya.


Setelah mami Loren percaya pada ucapan Vano, jika Bita adalah saudarinya.


Setelah kepergian sang mami dan juga Vano, Bill duduk kembali di kursinya, lalu menatap pada Bita. "Maafkan atas kejadian ini,"


Bita tersenyum. "Tidak masalah,"


"Kamu juga harus berterima kasih kepada atasan kamu itu," kata Bill sedikit tahu dari Putri jika Bita bekerja di rumah Vano.


Bita menautkan keningnya setelah mendengar apa yang Bill ucapkan. "Untuk apa aku harus berterima kasih padanya?"


"Karena dia, mami tidak lagi mencecar pertanyaan untuk kamu,"


"Oh." Bita menganggukkan kepalanya. "Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu,"


"Iya silakan,"


"Jadi kamu sudah memutus hubungan dengan tunangan kamu itu?"


Anggukkan kepala Bill lakukan untuk menjawab pertanyaan dari Bita.


"Kenapa?" tanya Bita penasaran.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Bill, sebelum menjawab pertanyaan dari Bita.


"Aku sudah muak hidup dengan aturan yang orang tuaku tentukan, apa lagi jika itu tentang pasangan."


"Tapi kenapa baru sekarang kamu melakukan ini?"


"Dulu aku coba untuk menerima, tapi aku sadar. Perjodohan harusnya tidak ada lagi di dunia ini."


"Tapi orang tua tahu pasangan yang terbaik untuk anaknya, mungkin bagi orang tua kamu, Anggi adalah wanita yang pantas untuk menjadi pendamping kamu,"


"Siapa bilang? Yang menjalani hidup, aku. Dan aku ingin hidup bersama dengan wanita yang aku cintai dan juga sayangi," ujar Bill yang tidak sependapat dengan Bita.


"Tapi cinta bisa tumbuh dengan berjalannya waktu,"


"Itu kata orang, tapi kenyataannya tidak. Itu yang aku alami setelah orang tuaku menjodohkan aku dengan Anggi, tidak sedikit pun aku memiliki rasa padanya,"

__ADS_1


"Apa karena kamu menyukai perempuan lain?"


Bita mengalihkan tatapannya, ketika sedari tadi ia menatap pada Bill, kini Bill menatap kearahnya, hingga tatapan keduanya bertemu.


"Ya ampun, apa Bill memutus hubungan dengan tunangannya karena dia menyukai aku." batin Bita tak lupa mengukir senyum, entah mengapa ia yakin jika Bill menyukainya.


"Untuk saat ini aku belum menemukan perempuan yang bisa mencuri hatiku,"


Senyum yang terukir dari bibir Bita, kita memudar sudah setelah mendengar jawaban dari Bill, yang tidak sesuai dengan ekspektasinya.


Kemudian ia menatap pada Bill sambil memicingkan matanya. "Terus, untuk apa kamu mengajak aku kesini, dan memberikan semua yang aku kenakan ini, jika kamu tidak menyukai aku, hah?!"


Bisa bisanya Bita bertanya hal semacam itu pada Bill. Harusnya ia akan jual mahal, dan tidak bertanya hal konyol pada pria yang baru ia kenal. Agar terlihat separti barang berharga, tapi yang ada malah menjatuhkan harga diri.


"Jawab! Kenapa kamu malah tersenyum hah?!" tanya Bita lagi karena Bill bukan menjawab pertanyaannya, yang ada dia malah tersenyum.


"Aku hanya ingin berteman dengan kamu saja, kata Putri. Kamu orangnya asyik, dan benar saja, memang kamu sangat asyik dan aku bisa nyambung ketika berbicara denganmu,"


"Hanya berteman?"


Namun, Bill tidak menjawab pertanyaan dari Bita. Yang ada ia mengambil ponsel miliknya yang belum lama ia letakan di atas meja, karena ada yang menghubunginya.


"Ya, gue segera ke sana," ucap Bill setelah mengangkat sambungan ponselnya, kemudian menutup sambungan ponselnya.


Kemudian Bill menatap pada Bita. "Sepertinya, kita harus pergi."


"Ada urusan yang harus aku selesaikan sekarang juga," jawab Bill, kemudian mengulurkan tangannya kearah Bita. "Yuk!"


Sementara itu, di meja lain. Tatapan Vano terus tertuju pada meja dimana Bill dan juga Bita berada, dimana keduanya kini berjalan bersama meninggalkan mejanya, sepertinya akan meninggalkan ballroom tersebut.


Benar dugaan Vano, jika Bill memang bukan pria sembarangan. Hingga dia memiliki mobil sport yang di buat terbatas.


Karena ternyata Bill adalah putra dari seorang pengusaha kaya raya, bukan hanya di dalam negeri tapi juga luar negeri.


Tapi Vano semakin bingung, kenapa Bill mengajak Bita makan malam, karena ia tahu. Makan malam yang ia hadirin adalah makan malam resmi.


Kemudian Vano mengambil ponselnya untuk mengirim pesan pada Bita, dan ingin tahu ke mana istrinya itu akan pergi. Takut jika pria yang bersamanya akan berbuat macam-macam pada Bita. Karena Vano paham benar, gaya hidup pria yang sudah bergelimang harta sejak lahir sangat bebas, meskipun tidak semuanya.


Sekarang Vano menoleh pada Mami Loren yang duduk tepat di sampingnya, karena sebelah pahanya di raba oleh wanita tersebut.


Kedipan mata dari mami Loren, membuat Vano langsung mengalihkan tatapannya, pada pria paruh baya yang duduk berhadapan dengannya di seberang meja, yang tak lain dan tak bukan adalah suami dari mami Loren.


"Setelah acara ini selesai, apa kamu ada waktu luang?" tanya Mami Loren berbisik pada Vano.


Tentu sana Vano tahu kenapa mami Loren bertanya seperti barusan.


Membuat Vano segera menoleh kearahnya sambil mengukir senyum. "Tidak Nyonya, setelah acara ini selesai aku harus ke luar kota karena ada syuting disana," bohong Vano, untuk menghindar dari mami Loren yang sangat agresif pada Pria.

__ADS_1


Meskipun Vano bukan pria baik-baik, pantang untuknya tidur dengan wanita bersuami, apa lagi wanita yang berumur seperti mami Loren.


Dimana mami Loren sering mengajak Vano tidur dengan iming-iming uang cukup banyak, tapi Vano selalu menolek.


"Sebelum ke luar kota, kamu mau apa, aku turutin," bisik mami Loren lagi.


"Maaf Nyonya, mungkin bisa dengan model lain," tolak Vano secara halus sambil mengukir senyum. Lalu fokus ke ponsel yang ada di tangannya, untuk mengirim pesan lagi pada Bita.


*


*


*


[Kamu mau ke mana]


[Woi]


[Jawab!]


[Bita!]


[Aku sedang bicara padamu]


[Ya ampun! Anak ini]


[Kenapa kamu meninggalkan acara, hah?!]


[Bita, awas kau!]


[Cepat katakan, pria itu membawa kamu ke mana hah?!]


[Aku hitung sampai tiga, jika tidak di balas, aku susul kamu!]


[Satu]


[Dua]


[Tiga]


Bita membaca rentetan pesan yang di kirim oleh Vano, tentu saja Bita enggan membalas pesan dari sang suami, yang ada ia kini mematikan ponselnya, karena berisik dengan bunyi pesan yang di kirim oleh Vano.


"Susul saja kalau bisa," kata Bita.


Kemudian ia menautkan keningnya ketika mobil yang dikendarai oleh Bill, kurang lebih tiga puluh menit kini sudah berhenti, lalu ia menoleh pada Bill.


"Bill, kenapa kita ke sini?"

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2