TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
MENERIMA TAWARAN


__ADS_3

Semalaman Bita tidak bisa memejamkan matanya, setelah Vano memberikan tawaran yang bisa di bilang cukup menggiurkan untuknya.


Dan langsung pergi meninggalkan Bita setelah mengatakan tawaran itu, sebelum Bita mengatakan apa pun untuk menanggapi tawaran Vano.


Pagi hari saat berada di dapur untuk membuat sarapan, karena Bibi dan juga Mamang yang menjaga Villa tersebut, pulang kampung dadakan. Bita sama sekali tidak fokus dalam pekerjaannya.


Memasak untuk sarapan ibu mertuanya dan juga Vano, ketika masih memikirkan tawaran sang suami yang semalam.


"Ya ampun, aku bisa jadi orang kaya dadakan, jika menerima tawaran itu," batin Bita, tidak bisa ia pungkiri jika dirinya begitu tertarik dengan tawaran Vano.


Tidak peduli lagi dengan apa yang pernah Bita katakan, jika ia tidak mau tidur dengan Vano.


Toh, dengan dia memiliki kekayaan, jika Vano pergi meninggalkannya saat sudah memiliki anak, sesuatu yang terus Bita takutkan selama ini.


Tidak lagi menjadi beban hidup, dengan kekayaan yang sudah dimilikinya, jika ia mau menerima tawaran Vano semalam.


"Oke, aku akan menerima tawaran itu. Masa bodo jika ada yang bilang aku matre. Hidup tuh butuh diut, karena dengan duit semua bisa berjalan lancar, kalau tidak percaya tanya saja sama nitizen yang budiman. Dimana baru saja novel ini 22 bab nitizen yang budiman sudah bilang, aku istri ini itu lah, mbok ya sabar gitu loh. Ngikut apa yang di tulis author."


Bita bicara panjang lebar, dan terakhir menyuarakan isi hati author yang baik hati dan tidak pernah marah.


Dengan cekatan, Bita yang sedari tadi tidak fokus untuk membuat sarapan.


Kini ia fokus, dan hanya butuh beberapa waktu ia membuat sarapan untuk sang suami dan juga ibu mertuanya.


"Ya ampun. Menantu ibu rajin sekali," ucap ibu Vivi, dimana ia baru saja tiba di ruang makan. Dan mrlihat Bita sedang menyiapkan sarapan. "Maaf ibu tidak membantu kamu, Nak."


Bita tersenyum. "Tidak masalah Bu, hanya memasak kecil bagiku," ujar Bita sambil mengedarkan pandangannya untuk mencari sang suami. "Bu, suamiku ke mana?"


"Sepertinya masih olah raga,"


"Kalau begitu, aku panggil suamiku dulu," kata Bita, yang selama berada di villa selalu mengatakan suamiku untuk memanggil Vano, di depan ibu Vivi atas perintah sang suami. "Ibu tidak apa-apa kan, di tinggal?"


"Tentu saja tidak. Pergilah!"


"Baik Bu,"


Bita pun bergegas meninggalkan ruang makan, untuk menemui sang suami yang ia yakini pasti berada di tempat fitness pribadi di villa tersebut.


Dan tidak butuh waktu lama bagi Bita tiba di tempat fitness dengan pemandangan yang begitu sejuk sejauh mata memandang, dimana tempat fitness pribadi Vano yang berada di lantai dua villa pribadinya menghadap pada hamparan bukit hijau yang masih asri.


Benar dugaan Bita jika Vano sedang berolahraga di tempat tersebut. Tempat fitness dengan segala peralatan olah raga yang serba ada.


Vano yang sedang berlari di atas treadmill dengan kecepatan sedang, sambil menatap pemandangan asri sepanjang mata memandang, karena ruang fitness tersebut berdinding kaca.

__ADS_1


Kini menoleh pada Bita sekilas yang berjalan mendekatinya.


"Pak Vano," kata Bita yang sudah berada di samping treadmill dimana Vano berada.


"Sebentar lagi aku selesai, kamu sarapan terlebih dulu dengan ibu," ujar Vano tanpa menghentikan aktifitasnya.


Tahu, pasti sang istri datang ingin memintanya untuk sarapan.


"Pak, aku—


Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, ketika Vano mengisyaratkan untuk Bita tidak melanjutkan ucapannya, kemudian ia mematikan alat treadmill.


"Ambilkan ponselku!" perintah Vano ketika ponselnya yang berada tidak jauh darinya berdering.


Tanpa mendapat penolakan dari Vano, Bita pun segera mengambilkan ponsel sang suami yang tiba-tiba berhenti berdering, dan memberikannya pada pemilik ponsel.


"Terima kasih," ucap Vano.


Bita menganggukkan kepalanya, dengan tatapan tertuju pada Vano. Dimana suami tersebut sedang menatap layar ponsel yang ada di tangannya.


"Kamu harus mengiyakan tawaran itu Ta, sekarang." batin Bita, sesuai niat awalnya menemui sang suami, ingin menerima tawaran Vano semalam.


Bita menarik nafasnya dalam, dan mengeluarkannya. Sebelum benar-benar mengatakan keputusannya. "Pak aku ingin—


Alhasil membuat Bita, tidak jadi meneruskan ucapannya. Padahal ia ingin mengiyakan tawaran Vano.


Setelah berbicang beberapa saat dengan seseorang di balik sambungan ponselnya, kini Vano menoleh pada Bita.


"Kamu masak sarapan banyak?"


"Tidak Pak, tapi cukup untuk kita bertiga,"


"Buat lagi makanan untuk sarapan!" perintah Vano.


"Tapi–


"Buat saja, dan sekarang juga!" perintah Vano memotong perkataan Bita, lalu berjalan meninggalkan ruang fitness tersebut.


Meninggalkan Bita yang sedikit kecewa, karena ia tidak jadi mengiyakan penawaran Vano semalam.


Dan Bita juga merasa aneh dengan sikap Vano, yang tidak lagi membahas tawaran semalam.


Yang ada malah menyuruhnya untuk memasak makanan lagi.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan yang Pak Vano katakan semalam hanya kebohongan semata," kata Bita. "Ah semoga tidak, nanti aku akan menanyakan lagi padanya."


Sesuai dengan perintah Vano, Bita pun memasak lagi.


"Nak, untuk apa kamu memasak lagi?" tanya Ibu Vivi yang menghampiri Bita di dapur.


"Suamiku meminta aku untuk memasak lagi Bu," jawab Bita.


Kemudian keluar dari dapur untuk menaruh makanan yang baru saja di masaknya ke meja makan, di ikuti oleh ibu Vivi dari belakang.


Kemudian Bita menoleh pada Vano sang suami yang berjalan menuju ruang makan.


Tautan kening kini menghiasi wajah Bita, ketika melihat Vano berpakaian rapi. Tidak seperti biasanya selama seminggu di Villa.


"Apa dia mau pergi?" batin Bita, dengan tatapan terus tertuju pada Vano.


"Nak, untuk apa kamu meminta Bita memasak lagi? Siapa yang mau makan semua ini?" tanya Ibu Vivi pada sang putra. "Mubazir jika buang-buang makanan Nak, banyak di luar sana yang masih kekurangan makanan,"


Vano mengukir senyum, mendengar perkataan sang ibu. "Tenang saja Bu, semua makanan ini pasti akan habis. Lebih baik ibu istirahat,"


"Istirahat? Ibu belum melakukan apa pun. Untuk apa istirahat,"


"Kalau begitu kenapa tidak ke galeri lukis Ibu?"


Ibu Vivi tersenyum. "Ide bagus." ucap ibu Vivi yang selalu menghabiskan waktu di galeri lukisnya, hingga ia tidak tahu gosip miring yang sedang menimpa Vano. "Ibu ke galeri dulu,"


Setelah ibu Vivi pergi ke galeri lukisnya, Vano kini menoleh pada Bita yang masih terus menatap kearahnya.


"Jangan menatapku terus! Buka pintu!" perintah Vano pada Bita, ketika bel pintu villa tersebut berbunyi.


Tanpa mengatakan apa pun lagi Bita segera pergi untuk membukanya pintu.


Penasaran siapa yang datang, karena selama seminggu di villa tidak ada satu pun orang yang datang.


Bita menautkan keningnya, ketika sudah membuka pintu. Mendapati seorang wanita cantik yang sudah berdiri tepat di depan pintu.


"Vano ada?" tanya wanita tersebut.


Bukannya menjawab pertanyaan dari wanita tersebut, yang ada Bita malah menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki mengagumi wanita tersebut.


Namun, setelahnya Bita tersenyum kecut. Belum juga ia mengiyakan tawaran sang suami. Sudah ada wanita yang mendatangi Vano.


Bagaimana jika nanti benar Bita mengiyakan tawaran Vano dan mengandung anaknya, bisa jadi ada puluhan anak yang mengaku anak sang suami.

__ADS_1


Bersambung.................


__ADS_2