TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
TAKUT


__ADS_3

Putri yang awam dengan dunia pernikahan terus mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Bita. Dimana ia sedang menceritakan apa yang sedang dialaminya saat ini.


Merasa sudah terlambat mencintai sang suami yang sudah menikah lagi dengan wanita lain, meskipun Bita yang merestui suami menikah lagi.


"Oh begitu ceritanya, " kata Putri sambil mengangguk anggukan kepalanya setelah mendengar cerita dari Bita tentang suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain untuk menutupi apa yang sudah terjadi.


"Aku harus bagaimana Put?" tanya Bita bingung.


"Gampang, kamu tinggal bicara langsung pada suami kamu itu. Jika kamu memiliki perasaan, mudah bukan? Toh suami kamu itu menikah lagi bukan karena mencintainya bukan?"


"Tapi separti yang sedang aku rasakan, bisa jadi mereka akan saling mencintai dengan berjalannya waktu. Seperti apa yang aku alami saat ini,"


"Ya udah sih. Kalau kamu memang mencintai suami kamu itu, bilang saja gampang kan?"


"Tidak semudah itu Put,"


"Kenapa?"


"Aku malu mengatakannya," jujur Bita yang merasa malu jika harus mengatakan perasaannya terlebih dahulu pada sang suami, setalah sekian lama menikah dengan Vano, apa lagi Bita selalu bersikap kurang ajar pada sang suami.


"Malu? Ada ada saja kamu, Bita. Dia suami kamu untuk apa malu,"


"Kamu tahu sendiri aku dulu tidak menyukainya."


"Itulah mengapa untuk kita jangan pernah membenci seseorang, karena benci dan juga cinta itu beda tipis, mengerti!"


Bita terdiam mendengar perkataan Putri yang benar adanya, karena kali ini ia merasakannya.


"Jadi menurut kamu, aku harus mengatakan perasaanku ini Put?" tanya Bita meminta usul dari sang sahabat.


"Iya dong,"


Namun, Bita tidak lagi mengatakan apa pun yang ada ia termenung.


Putri yang duduk di samping Bita kini menyenggol lengannya. "Ish, malah bengong."


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Bita. "Sepertinya aku akan memendam perasaanku ini, Put."


"Loh, kenapa?"


"Aku takut suamiku tidak menyukai aku,"


"Iya juga ya, dia kan publik figur. Tentu saja selera dia pasti di atas rata-rata."


Bita kini menautkan keningnya sambil menatap pada Putri.


"Kenapa menatap aku hah?" tanya Putri.


"Jadi menurut kamu, aku tidak cantik begitu hah?!"


"Cantik sih, tapi belum di atas rata-rata,"

__ADS_1


"Kurang ajar, sahabat macam apa kau ini hah? Setidaknya hibur aku yang sedih ini, dengan bilang kecantikan aku di atas rata-rata begitu."


"Aku mengatakan yang sejujurnya kali,"


Bita melirik sahabatnya dengan kesal. "Dasar!"


"Eh ya aku lupa, belum menawari kamu minum. Kamu mau minum apa?" tanya Putri.


"Seadanya, kalau bisa yang berwarna,"


"Seadanya tapi minta yang berwarna, dasar!" ujar Putri dan beranjak dari duduknya.


"Put, sebentar!" Bita menarik tangan Putri hingga terduduk kembali di tempatnya semula.


"Apa?"


"Bagaimana hubungan kamu dengan Bill?" tanya Bita penasaran.


Putri menekuk wajahnya murung. "Jangan bahas tentangnya,"


"Kenapa?"


"Jangan tanya kenapa. Kamu tahu sendiri aku siapa dan Bill siapa. Meskipun aku menerima cinta Bill, belum tentu kita akan bersama. Aku dan dia tuh bagaikan langit dan juga bumi, tidak mungkin akan bersatu."


"Kamu menyukai Bill?"


Putri menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Bita.


"Untuk apa aku berbohong. Ah sudahlah aku tidak ingin membahasnya lagi." jawab Putri.


Jam menunjukkan pukul sembilan malam, tentu saja Bita terpaksa harus mengakhiri kebersamaannya dengan sang sahabat.


Karena Bita sudah berjanji pada ibu mertuanya, akan pulang sebelum pukul sepuluh malam.


"Put aku pulang dulu ya,"


"Mau aku antar?"


"Tidak usah, aku sudah memesan taksi online."


"Ya sudah hati-hati di jalan, kapan-kapan kita bertemu lagi," ujar Putri mengikuti langkah Bita keluar dari dalam rumah.


Namun, ketika berada di teras rumah Putri. Bita menghentikan langkahnya ketika melihat pria yang sangat ia kenal sedang duduk di kursi yang ada di teras tersebut.


"Pa... Pak Vano?" tanya Bita terbata melihat sang suami ada di rumah sahabatnya, dan itu membuatnya sangat terkejut.


Bukan hanya Bita yang terkejut, tapi Putri juga.


Vano yang sejak tadi tiba di rumah Putri, setelah tidak menemukan sang istri di rumah kakek dan juga neneknya. Dan mereka memberi tahu di mana rumah Putri, karena Vano yakin Bita mengunjungi sahabatnya tersebut.


Kini Vano beranjak dari duduknya, lalu mendekati sang istri. "Kita pulang," ajak Vano, lalu meraih tangan sang istri untuk membawanya masuk ke dalam mobil miliknya yang terparkir di halaman rumah Putri.

__ADS_1


Sebelum Vano membuka pintu mobil untuk menyuruh Bita masuk. Terlebih dahulu Bita menoleh sang suami. "Pak Vano kenapa tahu aku ada di rumah Putri?" tanya Bita penasaran.


"Nenek yang memberi tahu,"


"Oh, sudah lama Pak Vano ada disini?"


"Baru saja tiba," bohong Vano padahal ia sudah lama tiba di rumah Putri, hingga ia mendengar semua pembicaraan sang istri dan juga Putri karena pintu rumah Putri tidak tertutup rapat. "Masuklah!" Vano mempersilakan Bita untuk masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Putri, Vano maupun Bita tidak ada yang mengatakan apa pun.


Keduanya sedang sibuk dengan pikirannya masing masing.


Dimana Bita yang sudah menyukai sang suami, takut untuk mengatakan perasaannya itu. Takut perasaannya tidak di balas oleh Vano.


Begitu pun dengan Vano yang sudah memiliki perasaan pada Bita, dan tadi mendengar sendiri pembicaraan sang istri dengan sahabatnya, jika Bita menyukainya. Bingung harus mengatakan perasaannya seperti apa.


Jujur bagi Vano jika selama hidupnya ia tidak pernah mengungkapkan perasaan pada seorang perempuan, saking bebasnya kehidupan yang di jalaninya.


Bita menoleh pada sang suami, ketika Vano menghentikan laju mobilnya tepat di halaman sebuah rumah yang cukup besar. "Pak, ini rumah siapa?" tanya Bita penasaran. Karena rumah tersebut begitu asing baginya.


"Nanti kamu akan tahu," Vano terlebih dahulu turun dari dalam mobil. Kemudian membuka pintu dimana Bita duduk. "Turunlah!"


Bita mengikuti perintah dari Vano, dengan bertanya tanya sang suami membawanya ke rumah siapa.


Bita yang sedari tadi mengamati rumah yang ada dihadapannya, kini mengalihkan tatapannya pada salah satu tangannya yang baru saja Vano genggam.


Tentu saja hanya dengan sang suami berjalan sambil menggenggam salah satu tangannya membuat dada Bita berdebar debar tidak karuan.


Tanpa Bita sadari, sang suami sudah menghentikan langkahnya tepat di depan pintu rumah tersebut.


Membuat Bita yang berjalan sambil menatap bergantian pada tangan yang di genggam sang suami dan wajah tampannya.


Alhasil membuat Bita menabrak pintu rumah tersebut.


"Aww, pintu kurang ajar!" ucap Bita kesal, sambil memegangi keningnya yang terjedot pintu.


Refleks tangan Vano memegang kedua bahu Bita, dan membawanya untuk mendekat. "Kamu tidak apa-apa?"


Bita menggelengkan kepada, lalu menendang pintu yang ada di hadapannya.


Brak!


"Sejak kapan ada pintu disini sih!" kesal Bita.


Vano hanya tersenyum mendengar perkataan sang istri.


Tak berselang lama pintu rumah tersebut di buka dari dalam, oleh sosok yang sangat Bita kenal.


"Nenek?"


Bersambung..................

__ADS_1


__ADS_2