TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
BUKTIKANLAH


__ADS_3

"Nenek? Nenek ada di rumah ini? Memangnya ini rumah siapa?" tanya Bita penuh penasaran, melihat sang Nenek yang sangat ia sayangi, dan sudah lama tidak Bita jumpai sekarang keluar dari rumah yang terbilang cukup besar tersebut.


Nenek Rohimah tersenyum mendengar pertanyaan dari sang cucu. "Apa suamimu tidak memberi tahu ini rumah siapa?" pertanyaan dari nenek Rohimah, membuat Bita kini menoleh pada sang suami.


"Permisi Nek," kata Vano, tanpa peduli pada sang istri yang sedang menatap kearahnya. Kemudian Vano masuk ke dalam rumah.


Meninggalkan sang istri yang kembali menatap pada sang Nenek. "Nek, ini rumah siapa?" tanya Bita yang masih penasaran.


"Jadi suamimu belum memberi tahu rumah siapa ini?"


Bita menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sang Nenek.


"Ini rumah kamu,"


"Apa? Tidak mungkin!" seru Bita yang tidak percaya dengan apa yang sang nenek ucapkan.


"Apanya yang tidak mungkin Ta, ini rumah yang suamimu berikan padamu. Dan nenek suruh tinggal di rumah ini oleh suamimu itu." jelas nenek Rohimah pada sang cucu.


Setelah dua minggu lalu asisten dari Vano mendatangi rumah nenek Rohimah yang berada di pemukiman padat penduduk, dan membawanya ke rumah tersebut. Lalu menyuruhnya untuk tinggal di rumah tersebut, karena asisten Vano memberi tahu rumah tersebut adalah rumah Bita sang cucu yang di berikan oleh sang suami.


Tentu saja nenek Rohimah awalnya menolak untuk tinggal di rumah tersebut, tapi akhirnya Vano yang saat itu masih berada di villa menghubunginya, untuk meyakinkan nenek dari istrinya tinggal di rumah tersebut.


"Kenapa Nenek tidak memberi tahu aku?"


"Barusan nenek memberi tahu,"


"Ish, bukan barusan tapi kemarin kemarin."


"Suami kamu melarang nenek,"


"Terus kenapa nenek sekarang belum tidur?" tanya Bita penasaran, karena biasanya sang nenek tidur sebelum jam sembilan malam, dan sekarang sudah lebih dari jam sembilan.


"Tadi nenek mau ke kamar, tiba-tiba mendengar suara. Akhirnya nenek berinisiatif untuk membuka pintu. Nenek tidak ingin menyuruh mbak yang sedang beberes di dapur,"


Bita menautkan keningnya mendengar perkataan dari sang nenek. "Mbak? Siapa Nek?"


"Pembantu di rumah ini, yang mengerjakan semua pekerjaan rumah,"


"Widih nenek punya pembantu nih sekarang,"


"Suami kamu yang memaksa Ta. Nenek sangat bersyukur, kamu punya suami yang sangat baik. Dan kamu juga harus bersyukur, dengan menjadi istri yang baik dan penurut, ya?"


"Iya Nek." ujar Bita. Dan benar apa yang sang nenek katakan.

__ADS_1


Jika ia harus bersyukur mendapat suami Vano terlepas siapa suami itu. Karena setelah Vano datang kehidupannya, hidup Bita menjadi lebih baik.


Setelah berbincang bersama di ruang tengah rumah tersebut, nenek Rohimah meninggalkan sang cucu dan suaminya. Karena nenek Rohimah sudah sangat mengantuk.


"Terima kasih," kata Bita yang duduk tidak terlalu jauh dari Vano.


Namun, Vano yang sedang bermain ponsel tidak mendengar apa yang sang istri katakan.


Hal tersebut membuat Bita menggerutu. "Menyesal aku mengatakan terima kasih, di dengar juga tidak!" kesal Bita, lalu beranjak dari duduknya.


Menuju meja makan untuk mencari makanan, karena tidak Bita pungkiri ia merasa lapar.


Untung saja di meja makan ada makanan. Mungkin sisa makanan untuk makan malam sang kakek dan juga sang nenek.


Dengan lahan Bita memakan makanan yang ada di meja makan, dan tidak melihat jika sang suami sudah berdiri di sisi kursi yang didudukinya.


"Aku juga lapar," ucapan Vano, membuat Bita yang masih mengunyah makanan menoleh pada sang suami.


Refleks tangan Bita menarik kursi yang ada di sampingnya untuk sang suami duduk, mengingat pesan dari sang nenek, jika ia harus menjadi istri yang baik.


Vano duduk di kursi tersebut, dan merasa bingung dengan sikap sang istri. Apa lagi Bita sekarang mengambil piring dan menaruhnya di hadapan Vano.


Namun, saat Bita ingin menaruh makanan di piring sang suami.


"Pak ini makanan a—" Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Vano tiba-tiba memintanya untuk membuka mulut.


Dan saat sudah membuka mulut, Vano menyuapinya. "Makan yang banyak," kata Vano bergantian menyuapi dirinya sendiri dengan sendok yang sama.


"Pak, aku bisa makan sendiri," ujar Bita dengan mulut penuh makanan.


"Kalau sedang makan jangan bicara, mengerti!"


Bita terus menerima suapan dari sang suami, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama menikah keduanya makan satu piring berdua.


Dan hal tersebut membuat Bita semakin menyukai sang suami, padahal ia berniat untuk mengubur perasaannya tersebut. Tapi jika sudah seperti ini akan susah bagi Bita mengubur perasaannya tersebut.


Apa lagi perhatian demi perhatian kini Vano tunjukkan pada Bita selesai menghabiskan makan malam. Contohnya baru saja Vano mengusap bibirnya yang terdapat sisa makanan.


"Untuk malam ini kita menginap disini saja," kata Vano kemudian beranjak dari duduknya. "Aku ke kamar dulu,"


Bita tidak menanggapi ucapan sang suami yang sudah pergi menuju sebuah kamar, dan saat sang suami tidak nampak dalam pandangannya, Bita segera memegangi dadanya sendiri yang berdebar debar tidak karuan.


"Ya ampun, aku tidak bisa begini. Aku harus mengatakan perasaanku ini pada Pak Vano," akhirnya Bita mengubah keputusan awal.

__ADS_1


Sekarang ia beranjak dari duduknya untuk menyusul dimana Vano berada.


"Pak Vano," panggil Bita yang baru saja masuk ke dalam kamar dimana sang suami berada.


Membuat Vano yang sedang berdiri tidak jauh dari maja yang ada di kamar tersebut, langsung menoleh pada Bita.


"Ada yang ingin aku katakan pada Pak Vano," ujar Bita yang ingin segera mengatakan perasaannya.


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu," Vano berjalan mendekati dimana Bita berada.


Lalu menyodorkan sebuah map padanya. "Bukalah!" perintah Vano.


"Apa ini Pak?"


"Buka saja," jawab Vano, lalu ia berjalan menuju tempat tidur dan duduk di pinggiran tempat tidur setelah Bita mengambil map yang baru saja ia berikan.


Bita segara membuka map tersebut, karena penasaran. Dan alangkah terkejutnya Bita, mengetahui isi dalam map tersebut adalah sertifikat kepemilikan tanah dan rumah atas namanya, dan itu jumlahnya ada tujuh lembar.


"Pak ini—"


"Itu untuk kamu semua," sambung Vano memotong perkataan dari Bita.


"Kenapa Pak Vano melakukan ini? Aku belum hamil?" tanya Bita mengingat kesepakatan yang pernah keduanya sepakati.


"Karena aku mencintaimu," jawab Vano, kemudian menarik tangan Bita untuk mendekat.


Ungkapan Vano tersebut membuat Bita terkejut. "Apa? Pak Vano—"


Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena sang suami tiba-tiba beranjak dari duduknya, lalu menaruh jari telunjuk di bibirnya.


"Ya, aku mencintaimu. Seperti kamu mencintaiku,"


Bita menautkan keningnya mendengar ucapan sang suami.


"Aku mendengar semua pembicaraan kamu dengan sahabat kamu tadi,"


"Apa?" keterkejutan tidak bisa Bita pungkiri. "Pak Vano tidak berbohong?"


"Untuk apa aku berbohong, dan ya, mulai saat ini aku akan membuktikan jika aku mencintaimu."


"Sungguh?" tanya Bita.


Anggukkan kepala Vano tunjukkan. Membuat Bita langsung memeluk tubuh sang suami. Saking bahagianya karena perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. "Buktikanlah Pak, dan aku juga akan membuktikan jika aku mencintai Pak Vano."

__ADS_1


Bersambung...............


__ADS_2