
Bita mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Vano, ketika suaminya tersebut memberi tahu masalah yang sedang dialaminya sekarang.
Dimana Vano kembali di gosipkan bukan hanya mengkonsumsi obat terlarang, tapi juga menjadi bandar obat terlarang.
Setelah Vano menceritakan dengan rinci masalahnya. Bita yang masih duduk di samping Vano dan kedua saling tatap.
Kini Bita menautkan keningnya. "Pak Vano yakin, tidak mengkonsumsi obat terlarang itu, dan juga tidak menjadi bandar?" tanya Bita.
Vano hanya menggelengkan kepalanya.
"Yakin Pak?"
"Untuk apa aku berbohong, dan sekarang cepat kemasi barang kamu dan juga ibu, pagi-pagi kita harus pergi!" pinta Vano, yang berniat untuk bersembunyi dengan membawa Bita dan juga sang ibu ke tempat rahasia.
Agar para wartawan tidak bisa mencari keberadaannya. Selain itu, Vano juga tidak ingin sang ibu mengetahui gosip yang menimpanya lagi, takut kesehatan sang ibu kembali terganggu jika tetap tinggal di rumah tersebut, karena Vano yakin. Pasti para wartawan akan mendatangi rumahnya.
"Tapi untuk apa kita harus pergi, jika Pak Vano tidak mengkonsumsi dan juga menjadi bandar barang haram itu?" tanya Bita penasaran. "Harusnya Pak Vano klasifikasi dong,"
"Tidak semudah itu," sahut Vano. "Dunia hiburan itu sangat kejam. Dan kamu tidak akan pernah mengerti, jadi jangan banyak bertanya."
Kini Vano beranjak dari duduknya. "Cepat kemasi barang kamu dan juga ibu!" perintah Vano lagi, kemudian berjalan menuju kamar ganti untuk mengemasi barang barangnya juga.
"Tidak mungkin ada asap jika tidak ada api bukan?"
Pertanyaan Bita membuat Vano kini menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Bita yang sudah beranjak dari duduknya.
"Ya, kamu benar. Tapi kamu juga harus tahu, bisa saja asap itu berasal dari api yang sengaja di bakar oleh seseorang,"
"Tapi jika tidak ada bahan, tidak mungkin orang itu bisa membakar sesuatu, Pak?"
Kini Vano memicingkan matanya. "Apa kamu curiga jika aku adalah seorang pengguna dan juga bandar?"
"Entahlah, sudah sering publik figur yang terjerat kasus seperti itu, Pak."
"Kesimpulannya memang kamu mencurigaiku."
"Maaf Pak, bukan bermaksud seperti itu. Tapi Pak Vano hanya seorang artis dan juga model. Dan kekayaan Pak Vano seperti tidak ada habisnya. Aku bingung Pak Vano memiliki kekayaan itu dari mana, jika bukan memiliki pekerjaan sampingnya. Meskipun ibu pernah memberi tahu usaha Pak Vano selain menjadi publik figur, tapi aku–" Bita menghentikan ucapannya sejenak, dengan tatapan tertuju pada Vano, takut salah berbicara.
Membuat Vano hanya bisa menatap istrinya tersebut sambil menautkan keningnya. "Aku tahu kamu mencurigaiku!"
"Ah, maaf Pak pikiran aku menjadi negatif, jika benar Pak Vano memang menjadi bandar obat terlarang itu,"
__ADS_1
Sudah sejak lama Bita bingung dengan kekayaan Vano yang seperti tidak ada habisnya, dan hampir setiap bulan suaminya tersebut membeli properti dengan nilai fantastis.
Tidak mungkin bukan, jika hanya mengandalkan pendapatan menjadi model dan juga artis bisa memiliki penghasilan yang di luar naral.
Meskipun ibu Vivi pernah mengatakan pada Bita, jika Vano memiliki usaha. Tapi bagi Bita itu tidak masuk akal.
Dan setelah mendengar cerita dari sang suami, mengenai tuduhannya sebagai bandar obat terlarang.
Entah mengapa Bita langsung berpikir jika pundi pundi uang yang di dapatkan oleh sang suami, bisa saja Vano dapatkan dari menjadi mafia obat terlarang.
"Terserah! Jika kamu tidak percaya padaku!" sahut Vano. "Dan jika kamu tidak ingin ikut pergi, kemasi barang ibu saja,"
Vano pun langsung melanjutkan langkah kakinya yang sempat tertunda.
Meninggalkan Bita yang masih menerka nerka tentang Vano, yang belum seratus persen ia kenali.
*
*
*
Tidak mungkin Bita untuk tidak ikut. Meskipun ia masih curiga jika Vano memanglah badar obat terlarang.
Tapi ia ingin selalu berada di samping ibu Vivi, takut jika Bita tidak ikut. Ibu mertuanya tersebut akan bertanya tanya.
"Ya ampun Nak, jika kalian ingin bulan madu kenapa harus mengajak ibu?" tanya Vivi yang duduk di bangku penumpang, sambil menatap pada sang putra yang sedang mengendarai mobil.
Karena ibu Vivi pikir, Vano ingin berbulan madu dengan Bita sang menantu.
"Aku tidak bisa meninggalkan ibu seorang diri," ujar Vano, lalu menoleh pada Bita yang sedang duduk di bangku penumpang tepat di sisi kiri bangku yang di dudukinya.
"Iya Bu, kami tidak ingin meninggalkan ibu," sambung Bita, seolah tahu sang suami menatapnya untuk memintanya mengiyakan ucapan yang Vano katakan.
"Ya ampun kalian ini, harusnya jangan pedulikan ibu,"
"Bagi kami ibu adalah segalanya, bagaimana kami akan meninggalkan Ibu,"
Ibu Vivi terharu mendengar ucapan dari Bita. "Terima kasih Nak,"
Bita yang sedari tadi menatap pada Ibu Vivi, kini menganggukkan kepala, tak lupa mengukir senyum.
__ADS_1
Mendengar ucapan yang Bita katakan, entah mengapa membuat Vano yang sedang sibuk dengan setir pengemudi, juga merasa terharu.
Karena ucapan Bita terdengar sangat tulus di telinganya.
*
*
*
Tidak butuh waktu lama untuk Vano mengendarai mobil seorang diri. Dan sekarang ia tiba di Villa pribadi miliknya yang sama sekali tidak ada satu pun orang tahu, termasuk manager dan juga Tan sang asisten.
Namun, sang ibu tentu tahu Villa mewah tersebut. Yang memiliki lebar lebih dari 7 hektar, dengan semua fasilitas yang ada, karena Villa tersebut peninggalan sang suami.
"Pilihan tepat kalian bulan madu ke sini," ucap Ibu Vivi.
Karena udara di villa tersebut sangat dingin dan juga masih asri, membuat siapa pun akan betah berada di Villa tersebut.
Apa lagi bagi pasangan yang ingin bulan madu, karena cuacanya sangat mendukung.
"Ibu berharap, setelah pulang dari sini kalian akan memberi kabar gembira," ucap Ibu Vivi, kemudian keluar dari dalam mobil terlebih dahulu.
"Tunggu!" Vano menahan tangan Bita yang akan keluar dari dalam mobil.
Membuat Bita mengurungkan niatnya untuk keluar dari dalam mobil, lalu menatap pada sang suami.
"Terima kasih, kamu kamu ikut," kata Vano.
"Tapi bukan berarti aku percaya pada ucapan Pak Vano. Karena aku masih curiga jika Pak Vano memang—
"Terserah padamu!" sahut Vano memotong perkataan dari Bita, kemudian melepas tangan sang istri. "Biarkan barang barang Bibi dan Mamang yang membawanya," kata Vano lalu turun terlebih dahulu dari dalam mobil.
Diikuti oleh Bita, dengan tatapan terus mengikuti sang suami yang sedang menyapa wanita dan pria paruh baya.
"Mang, Bi. Bawa semua barang barang di mobil, jangan biarkan istriku membawanya," pinta Vano pada penjaga Villa mewah miliknya.
"Siap Tuan!"
Bita menautkan keningnya mendengar perkataan dari Vano, karena baru kali ini sang suami mengatakan kata istriku pada orang lain.
Bersambung............
__ADS_1