TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
MAAF


__ADS_3

Wanita tersebut mengukir senyum, melihat Bita yang terus menatapnya.


"Halo, apa Vano ada?"


Pertanyaan dari wanita tersebut, membuat Bita kini fokus menatap wajah wanita yang begitu cantik menurutnya.


"Siapa kamu?"


"Aku?"


"Iya, siapa lagi jika bukan kamu. Setan!" jawab Bita dengan ketus, merasa tidak suka ada wanita yang mencari sang suami.


Kembali lagi wanita tersebut mengukir senyum, mendengar respon dari Bita.


"Tidak usah senyum senyum. Pulanglah! Suamiku tidak ada, dia sedang pergi!" ketus Bita.


"Masa sih? Padahal Vano tadi bilang ada disini,"


Mendengar apa yang wanita tersebut katakan, Bita mengingat saat Vano menghubungi seseorang ketika sedang berolah raga.


Dan Bita meyakini wanita tersebut lah yang sang suami hubungi.


"Tapi sekarang suamiku sedang pergi. Lebih baik kamu juga pergi. Dan ya, jangan pernah menemui suamiku lagi. Carilah pria lain, jangan pernah mendekati pria yang sudah memiliki istri, meskipun dia mau sama kamu, tapi kamu harus tahu. Pria yang sudah beristri tidak mungkin menjadikan kamu prioritasnya, paham!"


Sekarang Bita benar-benar merasa kesal dengan wanita yang masih berdiri di depan pintu, karena lagi dan lagi wanita tersebut malah tersenyum.


"Hai Van," sapa wanita tersebut, sambil melambaikan tangannya, ketika Vano berjalan mendekatinya.


Membuat Bita langsung menoleh pada sang suami. Dan tidak suka ketika Vano menyapa wanita tersebut dan memeluknya sekilas.


"Kenapa tidak masuk?"


"Sebentar, Zain masih di mobil."


"Ngapain?"


"Entah, katanya sedang mempersiapkan kado pernikahan untukmu. Dan ya, sebenarnya aku marah padamu, Van."


"Kenapa? Aku tidak melakukan apa pun,"


"Tidak melakukan apa pun? Kamu tidak mengundang aku dan Zain ketika kamu menikah. Kamu anggap kita apa hah? Dasar!"


"Maaf, ceritanya panjang,"


Bita menyimak pembicaraan sang suami dengan wanita tersebut. Dan kedua matanya langsung tertuju pada seorang pria yang baru saja mendekati wanita tersebut.


Tentu saja Bita sangat mengenal pria tersebut, yang kini memeluk pinggang wanita yang baru saja berbincang dengan Vano.


Zain, nama yang cukup populer di dunia hiburan. Dan sekarang Bita melihat langsung pria tersebut yang begitu tampan, tidak kalah tampan dari Vano.


"Menikah diam-diam. Dasar!" ucapan yang keluar dari pria yang Bita tahu bernama Zain, publik figur yang masih eksis dan tidak lekang di makan waktu.

__ADS_1


"Ceritanya panjang, Zain. Silakan masuk!" ajak Vano pada pria dan juga wanita yang berstatus suami istri, dan juga sahabat baik dari Vano.


Zain menyodorkan sebuah kotak sedang pada Vano. "Kado untuk kalian,"


"Terima kasih," kata Vano, sambil mengambil kotak yang Zain berikan.


Kemudian Vano menoleh pada Bita yang masih mencerna pembicaraan ketiga orang dihadapannya.


Lalu Bita menatap pada Vano, yang tiba-tiba menarik tangannya untuk mendekati.


"Zel, Zain. Kenalin, ini istriku."


Bita benar-benar tidak percaya, karena kembali lagi Vano memperkenalkannya sebagai istrinya, pada orang lain.


"Aku sudah tahu, tadi istri kamu sudah memberi tahu. Jika dia istrimu," ujar Hazel, dan sekarang ia mengulurkan tangannya pada Bita.


Tentu saja Bita segera menjabat tangan wanita yang tadi ia pikir adalah salah satu wanita dari sang suami.


"Aku Hazel, sahabat Vano. Dan ini suamiku," Hazel memperkenalkan diri sambil menunjuk Zain sang suami.


"Zain," Zain bergantian menjabat tangan Bita.


"Bita,"


"Yuk masuk!" ajak Vano, lalu mempersilakan kedua sahabatnya untuk masuk ke dalam rumah.


"Van, sepertinya istri kamu sangat mencintaimu," kata Hazel sambil berjalan bersama sang suami dan juga Van. Mengingat kata kata Bita padanya tadi.


Tentu saja ucapan dari Hazel terdengar hingga telinga Bita yang sedang menutup pintu. Dan ia merasa malu, karena sudah bicara yang tidak tidak pada sahabat Vano.


"Van, enak sekali makanan ini. Apa istrimu yang memasak?" tanya Hazel setelah selesai menyantap makanan yang terhidang di meja makan.


"Ya, dia pintar memasak,"


"Wah beruntung sekali, kau dapat istri yang pintar memasak. Sudah cantik, pinta memasak pula."


Vano tersenyum untuk menimpali ucapan dari sang sahabat.


"Oh ya Van, benar, berita yang beredar tentang kamu itu hanya kebohongan semata?"


"Aku sudah menceritakan semuanya padamu, Zel. Dan jangan bahas lagi, ada ibu." Vano meminta sahabatnya untuk tidak mengatakan berita itu, karena ada sang ibu.


"Ya ampun! Ada tamu. Selamat datang Nak Hazel dan juga Nak Zain." sapa ibu Vivi dan menghampiri keduanya yang masih berada di ruang makan.


"Tante, apa kabar?" Hazel beranjak dari duduknya untuk memeluk ibu Vivi.


"Seperti yang kamu lihat. Tante baik-baik saja. Oh ya, kalian hanya berdua?"


"Iya Tante."


"Ke mana si kembar?"

__ADS_1


"Mereka sedang menginap di rumah kakaknya,"


"Bilang saja di titip di rumah kakaknya, biar kalian bisa berduaan terus!" sahut Vano, memotong perkataan dari sang ibu dan Hazel.


Hazel menoleh pada Vano. "Tau aja kau, Van. Enak bukan, jika berduaan. Apa lagi di kota ini yang udaranya sangat sejuk. Enak untuk berdua duaan di dalam kamar. Seperti kamu tidak saja,"


"Mulai deh, Zain kapan istri kamu kalau ngomong di sering dulu," kini Vano menoleh pada Zain.


"Nanti lah, di kamar. Sambil naik, kita tidak mau kalah dong sama pengantin baru,"


Vano melempar jeruk kearah Zain, dan langsung di tangkap olehnya.


"Dasar suami istri kang mesummmm!"


"Enak Van,"


"Dasar!"


"Eleh separti kamu tidak keenakan saja."


"Jangan bahas hal begitu, selama seminggu di sini mereka tidur terpisah," ibu Vivi memotong percakapan sang putra, membuat Zain dan juga Hazel langsung menatap padanya.


"Loh, ko bisa Tante. Mereka kan–


"Si Bita datang bulan," jelas Ibu Vivi memotong perkataan dari Hazel.


"Syukurin!" seru Zain pada Vano.


"Sialan!"


Bita yang sedari tadi sibuk menyiapkan minuman dan cemilan untuk kedua sahabat sang suami setelah selesai menyantap sarapan.


Kini berjalan mendekati Hazel yang duduk sendiri setelah ibu Vivi yang tadi berbicang dengannya berpamitan untuk kembali ke galeri lukisnya.


Dan suaminya sedang berbicang dengan Vano, jauh dari ruang tengah dimana Hazel berada.


Hazel tersenyum pada Bita yang baru saja duduk tepat di sampingnya.


Tentu saja, dengan segera Bita membalas senyum dari sahabat sang suami tersebut. "Maaf," ucap Bita, mengingat apa yang ia katakan tadi pada Hazel sebelum tahu jika dia adalah sahabat sang suami.


"Untuk apa kamu minta maaf. Aku paham betul dengan perasaan kamu." ujar Hazel, yang tahu pasti Bita tadi mengira jika dirinya adalah salah satu wanita Vano.


"Aku merasa tidak enak sudah mengatakan yang tidak-tidak padamu,"


Hazel menepuk lengan Bita. "Tidak masalah, lupakan saja. Dan ya, jangan berpikir macam-macam tentang Vano. Dia memang pria yang tidak baik, tapi itu dulu, tidak untuk sekarang. Aku tahu persis, Vano sudah lama meninggalkan dunianya itu," jelas Hazel yang tahu jika sahabatnya itu tidak lagi bermain wanita, dan itu sudah sangat lama.


Bita menautkan keningnya mendengar perkataan dari Hazel.


"Percayalah padaku. Buang pikiran negatif kamu tentang Vano, dan cintai dia setulus hatimu. Karena yang dia butuhkan saat ini di usianya yang tidak muda lagi, hanyalah cinta."


Bersambung..............

__ADS_1


Tau kan? Hazel dan Zain itu siapa? Kalau yang belum tahu silakan baca novel aku.


Judul: HOT DUDA VS HOT JANDA


__ADS_2