
Bita tidak langsung menjawab pertanyaan dari Bill. Yang ada ia bingung, kenapa pria tampan yang membuatnya terpesona saat pertama kali bertemu, malah ingin mengajaknya makan malam.
Bukannya ia memiliki tunangan, kenapa juga tidak mengajak tunangannya untuk makan malam, kebingungan itu yang sedang Bita rasakan.
Meskipun Bita juga tidak akan pernah menolak ajakan dari Bill tersebut.
Bill yang masih berdiri disisi ranjang perawatan Bita, dan menatapnya, kini mengayunkan telapak tangannya tepat di depan wajah Bita.
"Hei, kenapa kamu diam saja."
Tentu saja hal tersebut membuat Bita segera membuang jauh kebingungannya.
Kemudian senyum terukir dari kedua sudah bibirnya, lalu menganggukkan kepalanya. "Iya aku mau makan malam bersama denganmu,"
"Terima kasih." sahut Bill dan membalas senyum Bita.
Hingga senyum Bill membuat Bita seakan ingin membenturkan kepalanya pada tembok, takut ia sedang berhayal.
Segera Bita menahan tangan Bill yang ingin pergi. "Tunggu!"
Bill mengurungkan niat awalnya untuk pergi meninggalkan Bita, kemudian menoleh padanya. "Iya,"
"Kenapa kamu tidak mengajak makan malam tunanganmu? Kenapa malah mengajak aku?" tentu saja hal tersebut pantas Bita tanyakan pada Bill.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Bita, yang ada Bill menghembuskan nafasnya kasar.
Tautan alis menghiasi wajah Bita ketika melihat wajah Bill tiba-tiba berubah, setelah ia menanyakan tentang tunangannya.
"Mereka sedang berantem!" sahut Putri yang baru masuk kembali ke dalam ruang perawatan Bita.
Tentu saja Putri tahu hal tersebut, karena grup whatshap geng motornya sedang membahas tentang Bill dan juga Anggi sang tunangan.
Bita melepas tangan Bill setelah mendengar apa yang Putri katakan, kemudian ia menoleh pada sahabatnya tersebut.
"Berantem?"
"Iya," jawab Putri, dan ia langsung mendapat pelototan dari Bill, sebelum dia pergi menuju sofa yang ada di ruang perawatan tersebut.
"Idih, seperti anak kecil saja pakai berantem!" cibir Bita.
Namun, Bill yang mendengar apa yang Bita katakan hanya diam, dan memilih bermain ponsel.
"Put, kenapa mereka berantem?" tanya Bita semakin penasaran.
"Dengar-dengar karena Bill tidak mau mengikuti perintahnya,"
"Perintah?"
"Ya, Anggi ingin di lamar oleh Bill di sebuah pulau dengan hamparan bunga, dan Bill harus terjun payung untuk menemui Anggi disana,"
"Idih kekanak kanakan sekali!" cibir Bita.
__ADS_1
"Begitulah orang kaya, lebay!"
"Hooh, dari pada menghambur hamburkan uang, lebih baik beri saja ke orang yang tidak mampu,"
Suara deheman dari Bill membuat Putri dan juga Bita menghentikan pembicaraannya.
Dan sekarang Bita menarik tangan sang sahabat untuk mendekat. "Put, Bill mengajak aku makan malam besok," bisik Bita, karena ia pikir sahabatnya tersebut harus tahu.
"Terus bagaimana dengan suami—
Putri tidak jadi meneruskan ucapannya, karena mulutnya langsung di bekap oleh Bita.
"Ish, jangan bicara tentang suami!" bisik Bita lagi.
"Ya maaf, terus kamu mau?"
Bita menganggukkan kepalanya. Yang sudah bisa di tebak oleh Putri, mana mungkin sahabatnya tersebut akan menolak ajakan Bill.
"Sudah kuduga,"
"Kapan lagi makan malam dengan cogan."
"Terserah, aku lapar mau makan dulu. Kamu mau tidak?"
"Tidak, sudah kenyang melihat Bill."
"Dasar!"
Akhirnya ketiganya keluar dari dalam ruang perawatan, dan tujuannya adalah mengantar Bita pulang ke rumah kakek dan juga neneknya.
Namun, baru sampai lobi rumah sakit. Langkah Bita dan juga Putri yang menggandeng tangannya, diikuti oleh Bill dari belakang harus terhenti.
Ketika ada pria yang sangat Bita kenal tiba-tiba berdiri di hadapannya.
"Pak Vano?" tanya Bita.
Namun, tidak mendapat tanggapan dari Vano, yang malah menatap pada Putri dan juga Bill.
Setelah menatap keduanya kini Vano menatap pada Bita sambil menautkan keningnya. "Kenapa kamu ada disini?"
"Mau pulang lah!" jawab Bita.
"Siapa suruh?"
"Aku sendiri, lagian untuk apa aku terus berada di rumah sakit. Aku sudah sembuh Pak,"
"Baiklah, kamu tunggu disini. Aku akan membayar biaya rumah sakit terlebih dahulu," Vano tidak ingin berdebat dengan Bita dan mengikuti apa yang dia mau.
Padahal Vano ingin tetap Bita berada di rumah sakit hingga benar-benar sembuh.
"Tidak perlu Pak, biaya rumah sakit sudah di bayar," ujar Bita menghentikan langkah Vano yang ingin membayar biaya rumah sakit.
__ADS_1
"Jangan bicara omong kosong, aku tahu kamu tidak membawa uang," Vano tidak percaya.
"Ya aku tidak membawa uang, tapi Bill yang membayar,"
"Bill?"
"Iya teman aku," jawab Bita sambil menoleh pada Bill yang berdiri di belakangnya.
Tatapan Vano kini tertuju pada Bill. "Aku akan menggantinya," ucap Vano lalu meraih tangan Bita. "Kita pulang!"
"Aku mau pulang ke rumah nenek dan kakek,"
Namun, Vano tidak menghiraukan ucapan dari Bita dan terus menarik tangannya untuk meninggalkan rumah sakit tersebut.
Tatapan Bill tertuju pada Bita dan juga pria yang ia tahu sebagai publik figur, tentu saja Bill tahu, karena seringnya ia melihat Vano bukan hanya di televisi tapi juga di media sosial.
"Put, siapa pria itu? Sepertinya mereka sudah saling kenal?" tanya Bill penasaran.
"Dia pemilik rumah dimana Bita bekerja sebagai perawat," tentu saja Putri mengatakan yang sebenarnya, tapi tetap menutupi pernikahan Bita dan juga Vano.
"Oh," hanya itu tanggapan dari Bill.
Vano mengendarai mobil yang ia kendarai sendiri keluar dari rumah sakit, dan beberapa kali menatap pada wanita yang sekali lagi menggagalkan rencananya untuk mengasah pedang.
Ya, tentu saja Vano akan menyalahkan Bita karena pedangnya sekali lagi gagal untuk diasah. Saat ia terus mengingat Bita ketika sedang bersama wanita lain, apa lagi Bita terus menghubunginya berulang kali, membuat pedangnya sama sekali tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya.
Hingga akhirnya Vano memilih pergi meninggalkan Luna, lalu ke rumah sakit dimana Bita berada.
"Pak Vano. Antar aku pulang ke rumah nenek dan kakek." pinta Bita. Lalu menoleh pada Vano yang terus melajukan mobilnya, melewati jalanan yang harusnya menuju ke rumah nenek dan juga kakeknya. "Pak, jalanan menunju ke rumah nenek dan kakek terlewat loh,"
"Sengaja, aku tidak ingin mengantar kamu ke sana. Nanti mereka akan sedih melihat kamu sakit,"
Bita tidak membantah apa yang Vano katakan, karena itu benar adanya.
"Besok kembalikan uang pria tadi,"
"Tidak perlu, dia meminta aku untuk menemani makan malam besok, untuk imbalan setelah tadi ia membayar biaya rumah sakit,"
Vano mengerem mendadak setelah mendengar perkataan dari Bita, untung jalanan yang dilewati sepi, kalau tidak mungkin sudah terjadi tabrakan beruntun.
Bita menatap pada Vano dengan kesal. "Pak, bisa nyetir tidak sih!"
Namun, Vano tidak menjawab pertanyaan dari Bita, yang ada ia tersenyum sinis sambil menatap balik. "Imbalan? Sungguh tidak bisa di percaya. Mana ada pria baik-baik meminta imbalan setelah menolong,"
Sekarang Bita yang menautkan keningnya. "Jadi Pak Vano pikir dia bukan pria baik-baik begitu?"
"Tentu,"
"Semut di seberang sungai terlihat jelas, tapi gajah di depan mata tidak nampak. Ngaca Pak! Pak Vano pikir Pak Vano pria baik? Dasar!"
Bersambung..............
__ADS_1