
Selama hidup, baru malam ini Vano merasakan apa itu sial.
Dan semua karena Bita sang istri.
Eh sebentar, karena Bita? Tentu saja tidak, Vano sendiri yang bermain main dengan sang istri dalam keadaan mabuk.
Apa yang Vano alami adalah mutlak kesalahan dirinya sendiri.
"Sialan!" kesal Vano dan terus mengumpat, setelah wajahnya mendapat muntahan dari Bita.
Bukan hal itu saja yang membuat Vano terus mengumpat, tapi nafsu yang sudah di ubun-ubun tiba-tiba terhempas ke dasar jurang yang dalam.
Hingga senjata yang sudah berdiri tegak, langsung lunglai seketika, setelah wajahnya terkena cairan muntahan dari Bita.
"Pakaikan dia piyama panjang!" perintah Vano, yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi setelah kedua kalinya ia membersihkan tubuh setelah terkena muntahan.
Saat Tini sedang mengganti pakaian Bita, yang kembali terkena muntahan. Dimana Bita sudah kembali tertidur, tanpa menyadari Tini dengan susah payah mengganti pakaiannya.
Tentu saja Vano akan menyuruh Tini memakaikan piyama, tidak ingin melihat Bita mengenakan daster, yang bisa jadi akan membuatnya tidak bisa mengendalikan nafsunya seperti tadi, setelah melihat bagian tubuh Bita.
"Maaf Pak, sepertinya piyama milik Bita belum kering semua, dan masih berada di jemuran rumah belakang,"
"Yang benar saja, memangnya dia memiliki berapa piyama?" tanya Vano penasaran.
"Sepertinya hanya dua setel Pak,"
Vano melotot mendengar jawaban dari Tini, lalu menggelengkan kepalanya.
"Yang benar saja, istri dari Stevano hanya memiliki dua piyama, sungguh di luar prediksi BMKG," kata Vano, tanpa disadari ia mengakui Bita sebagai istrinya.
"Jagi bagaimana Pak, tetap pakai daster? Atau mau pilihan lain?"
Vano yang sudah duduk diatas sofa tidak jauh dari tempat tidurnya, yang kini dikuasai oleh Bita, menoleh pada Tini dan mengangkat sebelah alisnya. "Pilihan lain? Apa itu?"
"Tidak mengenakan pakaian,"
"Gila!" sahut Vano.
"Loh, kenapa Pak. Bita istri Bapak loh,"
"Jangan banyak bicara! Cepat pakaikan dia pakaian, lalu lilit tubuhnya dengan selimut,"
"Kasihan Bita, Pak. Kalau tubuhnya di lilit selimut, nanti dia kepanasan,"
"Buruan!"
"Iy— iya Pak."
Semalam adalah malam bersejarah bagi Vano, bukan karena sudah unboxing Bita sang istri, seperti keinginan para readers sesat, yang sudah di bilangin sama author jangan sesat, tapi masih ngeyel. Harusnya mencontoh author yang alim ini.
__ADS_1
Melainkan di dalam kamarnya sendiri, ia harus tidur di sofa tidak jauh dari tempat tidur dimana Bita masih tidur, padahal jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
"Dasar!" ucap Vano saat ia akan menuju kamar mandi, melihat Bita masih tertidur pulas, dengan tubuh masih terlilit selimut.
Setelah mencuci muka dan menggosok gigi, Vano bergegas keluar dari dalam kamar untuk menemui sang ibu, setelah sebulan lebih ia tidak melihatnya langsung dan hanya berkomunikasi lewat sambungan ponsel.
Vano mengembangkan senyum saat melihat sang ibu sedang duduk di ruang tengah sambil menonton televisi.
Dan bergegas ia menghampiri, lalu memeluk dan juga mencium wanita yang sudah melahirkannya ke dunia. Kemudian duduk di samping sang ibu, tak lupa meraih satu tangannya dan menggenggamnya dengan sangat erat.
"Bagaimana kabar ibu?"
"Ibu merasa sangat baik, apa lagi setelah Bita menjadi anggota keluarga kita," jawab ibu Vivi sambil menatap sang putra. "Nak, kenapa kamu tidak memberi tahu ibu?"
Vano paham betul pertanyaan sang ibu tersebut mengarah ke mana, pasti tentang gosip yang baru saja ia lewati.
Apa lagi jika bukan hal tersebut.
"Maafkan aku Bu. Aku sengaja tidak ingin ibu tahu tentang hal itu. Takut berpengaruh pada kesehatan ibu, lagian gosip itu sudah hilang dari peredaran,"
Ibu Vivi mengelus lengan sang putra. "Lain kali beri tahu ibu, apa pun yang sedang kamu alami, entah itu gosip atau pun fakta,"
Vano hanya menganggukkan kepalanya, lalu memeluk sekilas sang ibu.
"Nak, dimana Bita?"
"Tidak masalah, biarkan dia tidur dan jangan mengganggunya, dia butuh istirahat," ibu Vivi tersenyum, karena mengira sang putra dan juga sang menantu semalam baru saja melakukan hubungan suami istri, hal yang selama ini ibu Vivi harapkan, agar ia segera memiliki cucu dari sang putra yang sudah tidak muda lagi
"Ibu sudah makan?"
Ibu Vivi mengganggukan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari sang putra.
"Aku lapar sekali Bu," Vano beranjak dari duduknya. "Aku makan dulu."
"Makanlah yang banyak untuk memulihkan tenaga kamu,"
"Iya, Bu. Tubuhku begitu lelah, semoga setelah makan aku memiliki energi untuk melakukan aktifitas,"
Kedua bola mata ibu Vivi mengikuti ke mana sang putra melangkah, dan senyum semakin mengembang dari kedua sudut bibir, ia semakin yakin. Dari ucapan Vano, memang putranya tersebut dan juga istrinya semalam baru melakukan hubungan badan.
"Ini saatnya,"
Ibu Vivi beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju rumah belakang untuk memanggil salah satu asisten rumah tangganya.
"Susi!" panggil ibu Vivi.
Namun, yang datang dan mendekat adalah Tini.
"Susi berada di taman Bu, sedang menyiram tanaman. Biar saya panggil,"
__ADS_1
"Panggillah!"
Tak berselang lama Susi masuk dan menghampiri ibu Vivi. "Ibu memanggilku?"
"Iya, ikutlah,"
Susi mengikuti ibu Vivi dari belakang menuju dapur, dan saat berada di dapur ia segera menautkan keningnya, melihat majikannya tersebut mengeluarkan bungkusan kecil dari dalam kantong pakaian yang dikenakannya.
Bungkusan yang sangat ia kenal, karena ketika pulang ke kampung halaman sang suami selalu meminum ramuan tersebut agar kuat dan tahan lama.
"Bu, ini untuk siapa? Pak Vano?" tanya Susi setelah menerima bungkusan dari tangan ibu Vivi.
"Iya, pastikan dia meminumnya."
"Siap laksanakan!"
Ibu Vivi yang sudah kembali duduk di sofa ruang tamu tersenyum senang, karena sang putra meminum ramuan yang dipercaya turun temurun bisa membuat stamina pria Power full ketika berada di atas ranjang.
"Bu, aku ke kamar dulu."
Ibu Vivi hanya mengangkat satu ibu jarinya untuk menanggapi ucapan dari sang putra.
"Dasar!" ujar Vano yang sudah berada di dalam kamar melihat Bita masih terlelap. "Bangun woy!"
Vano coba membangunkan Bita dengan menggoyangkan tubuhnya, tapi tidak membuatnya ingin membuka mata.
Hingga akhirnya, perlahan Bita membuka kedua bola matanya, ketika selimut yang melilit di tubuhnya ditarik oleh Vano.
"Enak saja masih molor, bangun!" perintah Vano.
"Pak, aku pusing." Bita meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.
Vano tidak lagi menanggapi ucapan dari Bita, yang ada ia sekarang mendekati sang istri yang terlihat begitu pucat.
"Kamu demam," kata Vano setelah memegang kening Bita, yang begitu panas.
"Iya Pak. Boleh aku minta bantuan Pak Vano?"
"Apa? Jangan bilang minta kerok," sambung Vano mengingat lagi, beberapa waktu lalu Bita minta kerok ketika sedang sakit.
"Bukan Pak, tapi peluk,"
"Apa? Pe—" Vano tidak jadi meneruskan ucapannya, saat tangannya ditarik oleh Bita, dan segera memeluknya.
Hal yang selalu Bita lakukan, ketika ia sedang demam, yaitu minta peluk sang nenek, dan kadang melakukan skin to skin agar demamnya cepat turun. Karena memang Bita alergi dengan obat obatnya, dan hampir tidak pernah minun obat ketika sakit.
"Jangan salahkanku, jika terjadi peperangan." sahut Vano, bukan melepas pelukan Bita, yang ada memeluk balik.
Bersambung.................
__ADS_1