
Bita terus menggerutu setelah keluar dari dalam kamar sang suami.
Tentu saja ia tidak akan mengiyakan ajakan Vano untuk melayaninya diatas ranjang.
Bita sadar, memang benar apa yang dikatakan oleh Vano, jika suaminya itu selama ini sudah memberikan nafkah lahir untuknya, hingga Bita tidak lagi mengalami kesusahan.
Dan Bita juga bisa membuat kakek dan juga neneknya hidup dengan layak, karena uang yang selalu diberikan Vano untuknya.
Namun, Bita harus berpikir berulang kali jika harus melayani sang suami diatas ranjang.
Bukan karena Bita tidak mencintai Vano. Tapi jika tadi ia melayani sang suami diatas ranjang, sama saja ia merasa seperti jalangg. Melakukan aktifitas itu hanya demi uang.
Dan hal itu tidak akan mungkin Bita lalukan.
Apa lagi ia tahu suaminya itu adalah seorang cassanova yang sudah terbiasa menghabiskan malam dengan wanita.
Dan Bita tidak ingin menjadi salah satu wanita itu, yang hanya menjadi pemuas nafsu bagi Vano.
Bukan hanya itu saja, Bita juga sudah berpikir jauh, jikalau ia melakukan ajakan Vano tadi, dan suatu saat nanti ia hamil.
Bita takut author yang baik hati ini, tiba-tiba mengubah nasibnya menjadi sangat menyedihkan. Misalnya Vano tiba-tiba memiliki anak dari wanita lain, atau meninggalkannya saat sedang hamil, dan lebih parah sang suami di buat koit oleh author, itu pikiran yang berada di otak Bita.
"Ya ampun, aku harus meminjam uang pada Siapa? Ibu Vivi? Ah, aku tidak berani," kata Bita yang terus melangkahkan kakinya menjauh dari kamar sang suami.
Malam harinya, sambil menunggu makan malam siap. Bita menemani ibu Vivi melukis, karena ibu mertuanya tersebut sangat menyukai seni lukis, dan baru baru ini ibu Vivi menyempatkan diri untuk melukis setelah sekian lama hobinya tersebut terlupakan karena sakit yang dideritanya.
Tentu saja Bita yang merasa bosan, karena jujur ia tidak menyukai seni lukis, memilih menemani ibu Vivi sambil bermain ponsel.
Tautan kening menghiasi wajah Bita ketika melihat pesan yang di kirim oleh Bill.
Dimana Bill mengirim pesan, kenapa Bita mengirim uang dengan jumlah yang tidak sedikit untuk mengganti semua yang sudah di berikannya.
Padahal Bill memberikan semuanya dengan ikhlas, berharap Bita mau membantunya untuk mendapatkan cinta Putri.
"Ikhlas mbahmu!" ucap Bita setelah membaca rentetan pesan dari Bill.
Dan sekarang Bita beranjak dari duduknya. "Apa Pak Vano yang mengirim uang pada Bill?" tanyanya sendiri. Entah mengapa Bita yakin jika sang suami yang mengirim uang pada Bill.
Kemudian Bita menoleh pada ibu Vivi yang sedang sibuk dengan kuas lukis di tangannya. "Bu, aku keluar dulu,"
"Iya," ujar ibu Vivi, sekilas menatap pada Bita, dan kembali fokus pada hobinya.
__ADS_1
Dan tujuan Bita setelah keluar dari dalam kamar ibu mertuanya adalah menuju kamar sang suami.
Ingin menanyakan langsung, apakah benar dugaannya benar. Jika Vano lah yang mengirim uang pada Bill.
"Pak Vano!" panggil Bita ketika sudah berada di dalam kamar, tapi tidak mendapati ada sang suami. "Pak Vano!" Bita terus memanggil Vano dan mencari ke setiap penjuru kamar tersebut, dari kamar mandi, ruang ganti dan juga balkon kamar, tapi tidak mendapati sang suami.
"Ke mana Pak Vano ya?" Bita pun keluar dari dalam kamar untuk mencari keberadaan sang suami, tapi tetap saja Bita tidak mendapati Vano.
Hingga akhirnya Bita menuju dapur untuk menanyakan pada mbak Tini dan juga Mbak Susi dimana sang suami.
"Mbak, lihat Pak Vano?"
"Belum lama keluar rumah, Ta. Ada apa kamu mencarinya? tanya Mbak Susi balik.
"Iya, tumben sekali mencari Pak Vano. Mulai ada rasa ya? Cie." sambung Tini, yang tahu pernikahan Bita dan juga Vano tidak di landasi dengan cinta.
Sekarang Bita menoleh pada Tini yang umurnya hanya beda beberapa tahun dengannya. "Kalau ngomong di jaga bisa kan?!"
"Lah kenapa? Salah? Tidak bukan? Kalian tuh suami istri, wajar dong jika memiliki rasa. Apa lagi rasa menganu,"
"Ish, ngomong apa sih Mbak!"
"Eleh sok polos, orang biasanya juga di polosin kan, sama pak Vano,"
Bita sekarang duduk di sofa yang ada di ruang tamu, untuk mengirim pesan pada Vano, yang kata kedua asisten rumah tangganya belum lama pergi.
Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit. Belum juga Vano membalas pesan Bita yang menanyakan, apakah sang suami yang sudah mengirimkan uang pada Bill, untuk mengganti barang-barang yang sudah Bill berikan padanya.
Membuat Bita kini beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar ibu Vivi untuk mengajaknya makan malam.
*
*
*
"Dasar sok sibuk!" seru Bita kesal karena Vano tak kunjung membalas pesan yang di kirim. Padahal ini sudah pukul sepuluh malam dan Bita ingin segera tidur.
Alhasil Bita menaruh ponselnya, dan mulai memejamkan matanya. Karena esok hari ia akan menemui Putri sang sahabat, yang belum sembuh dari luka yang dideritanya.
Namun, Bita kembali membuka kedua bola matanya. Ketika lampu kamar dimana ia berada tiba-tiba dinyalakan.
__ADS_1
"Pak Vano?" tanya Bita mendapati sang suami sudah berada di dalam kamar. Karena memang Bita memilih tidur di kamar sang suami, sembari menunggunya pulang untuk menanyakan tentang pesan yang belum juga di balas oleh sang suami.
"Kenapa tidur di sofa?" tanya Vano.
Namun, Bita tidak menjawab pertanyaan dari Vano. Yang ada ia beranjak dari tidurnya diatas sofa dan kedua bola matanya mengikuti ke mana Vano melangkah.
"Pak Vano, kenapa tidak membalas pesanku? Sok sibuk. Aku tahu hari ini pak Vano tidak ada pekerjaan!"
"Tidak penting!"
Bita kini berjalan mendekati sang suami yang sudah duduk di pinggiran tempat tidur. "Tidak penting Pak Vano bilang, tentu saja ini penting. Aku tidak mau melayani Pak Vano diatas ranjang. Jika benar Pak Vano yang sudah mengganti uang Bill."
"Tidak masalah,"
Bita menautkan keningnya mendengar perkataan dari sang suami. "Jadi, Pak Vano yang sudah—
"Iya, aku yang sudah mengganti uang itu," sahut Vano memotong perkataan dari Bita.
"Baiklah, aku akan mengganti uang Pak Vano itu, tapi tidak langsung semuanya. Aku akan menyicilnya setelah aku mendapat pekerjaan,"
"Pekerjaan?"
"Iya Pak, kondisi ibu sudah lebih baik. Dan aku berniat untuk mencari pekerjaan,"
"Tidak boleh, kamu tetap harus menjawab ibu,"
"Tapi—
"Tidak ada kata tapi! Aku tidak ingin, kamu mengembalikan uang itu padaku. Yang aku ingin, kamu tetap bersama dengan ibu, mengerti!" tegas Vano memotong perkataan dari Bita.
"Yakin hanya itu? Pak Vano tidak akan menyuruh aku untuk melayani Pak Vano diatas ranjang?"
"Tidak!"
"Janji?"
"Aku berjanji,"
Bita tersenyum lega, mendengar apa yang Vano katakan. Membuatnya ingin kembali menuju sofa, tapi tangannya langsung di cekal oleh Vano. "Pak!"
"Aku sedang ada masalah, apa kamu mau membantuku?"
__ADS_1
Bersambung...............