TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
LAYANI AKU DIATAS RANJANG


__ADS_3

"Pak, ingat! Pak Vano bilang tidak akan melakukan apa pun padaku. Tolong menjauh dan jangan paksa aku untuk melakukan hal yang tidak ingin aku lakukan Pak, aku mohon jangan lakukan,"


Bita memohon sambil menutup kedua matanya, tidak sanggup untuk melihat senjata sang suami yang sudah terlihat besar dan panjang, padahal belum bangun. Berbeda dengan milik mantan calon suaminya, mungkin besarnya hanya setengah dari milik Vano.


Vano melepas tangan yang masih memegang lengan Bita, setelah mendengar apa yang sang istri katakan.


Dan sekarang Vano menonyor kepala dari sang istri.


Membuat Bita mau tidak mau terpaksa membuka kedua bola matanya.


"Pak Vano! Tidak sopan!"


"Kamu bicara apa hah?"


Sebelum menjawab pertanyaan dari Vano terlebih dahulu Bita melihat bagian bawah tubuh sang suami yang tadi tidak tertutup sehelai benang pun, hingga ia melihat dengan jelas senjatanya.


Dimana senjatanya sekarang sudah di tutup menggunakan selimut, setelahnya Bita kini menatap pada wajah sang suami.


"Pak Vano mau memperkaos aku kan? Hayo jawab!"


Kembali lagi Vano menoyor kepala sang istri.


"Pak!"


"Berisik! Ambilkan aku handuk! Punya istri tidak becus ngapa ngapain. Apa kamu tidak tahu, di kamar mandi tidak ada handukku, hah?"


Bita tersenyum dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal setelah mendengar apa yang sang suami katakan.


Bita baru menyadari handuk milik Vano, tadi ia gunakan dan langsung di taruh tempat kotor, dan Bita lupa mengambil handuk baru.


"Maaf Pak, aku akan mengambil handuk baru untuk Pak Vano,"


"Buruan!"


Dengan segera Bita berlari untuk mengambil handuk Vano.


"Aku pikir Pak Vano akan memperkaos aku, tadi." kata Bisa setelah kembali sambil memberikan handuk pada Vano.


"Apa kamu berharap aku akan melakukan itu padamu? Baiklah, aku akan mengabulkan harapan kamu,"


"Tidak!" teriak Bita.


Kemudian ia berlari keluar dari dalam kamar sang suami.


Meninggalkan Vano, yang hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


Bita tahu hari ini Vano tidak ada kegiatan, dan tetap berada di dalam rumah.


Membuat Bita yang sedang bersantai karena ibu Vivi sedang tidur siang, kini memutuskan untuk ke kamar menemui sang suami.


Setelah berada di dalam kamar, Bita segera menghampiri sang suami yang sedang berbincang dengan Tan di sofa yang ada di dalam kamar tersebut.

__ADS_1


"Pak,"


Vano menghentikan pembicaraannya dengan Tan, ketika mendengar dan mendapati Bita sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya. Membuatnya langsung menatap wajah perempuan sang semalam benar-benar membuatnya begitu kuatir.


"Pak Vano sedang sibuk?" tanya Bita.


"Kenapa?"


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan Pak Vano,"


Vano mengalihkan tatapannya pada Tan yang duduk tepat di sampingnya. "Kita bahas lagi nanti, dan sekarang tinggalkan aku!"


"Siap Bos!"


Tan pun segera pergi mengikuti perintah dari Vano, padahal keduanya sedang membicarakan hal yang begitu serius.


Sekarang Vano kembali menatap pada Bita. "Kamu ingin bicara apa?"


Sebelum Bita mengatakan apa yang harus dia bicarakan pada sang suami. Terlebih dahulu ia mendekati Vano dan juga duduk di sampingnya.


Membuat Vano segera menautkan keningnya, mendapati sang istri yang tiba-tiba duduk di sampingnya.


Padahal biasanya Bita enggan untuk duduk berdekatan dengan suaminya tersebut.


"Pak Vano. Aku ingin meminjam uang,"


Perkataan yang keluar dari bibir Bita benar-benar membuat Vano bingung, padahal baru beberapa hari ia memberikan uang yang lebih dari cukup, tapi sekarang sang istri mengatakan ingin meminjam uang.


"Apa uang yang aku berikan tidak cukup?" tentu saja Vano akan menanyakan hal tersebut.


Vano menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, dan benar seperti pendapatnya jika semua perempuan mata duitan.


Ia rutin memberi uang sepuluh juta seminggu sekali kadang lebih pada Bita untuk biaya sehari hari, di luar belanja bulanan ataupun yang lainnya karena itu sudah memiliki anggaran sendiri, tapi sang istri bilang tidak cukup.


Dan itu sungguh di luar dugaan Vano.


"Apa kamu ingin memeras aku hah? Sepuluh juta seminggu dan kadang lebih itu sudah banyak untuk kamu gunakan sendiri!"


"Iya aku tahu,"


Vano menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Bita. "Kalau sudah tahu, harusnya kamu bersyukur setiap minggu aku memberi uang padamu,"


"Aku sudah bersyukur,"


"Bersyukur? Bersyukur dari mana hah?! Sudah jelas jelas tadi kamu mengatakan itu tidak cukup,"


"Ya memang tidak cukup untuk mengganti barang-barang itu, aku baru saja melihat harga barang barang itu di internet, dan aku sangat tercengang melihat harganya, karena uang yang aku kumpulkan selama ini tidak cukup sama sekali untuk menggantikan barang itu,"


Vano merasa bingung dengan apa yang Bita katakan. "Barang barang? Maksud kamu apa?"


"Itu Pak, gaun, tas dan juga high heels yang aku kenakan semalam. Aku ingin mengganti barang barang yang sudah Bill berikan padaku,"

__ADS_1


"Maksud kamu?"


Bita pun langsung mengatakan niatnya untuk mengganti barang barang yang sudah Bill berikan padanya dengan uang.


Karena ia merasa tidak nyaman sudah di beri itu semua oleh Bill yang ternyata mencintai Putri, dan mendekatinya hanya ingin meminta bantuan padanya.


Bukan hanya itu saja, Bita juga mengatakan pada Vano tentang perasaannya pada Bill sebelum ia tahu sebuah kebenaran.


Vano dengan seksama mendengar semua yang Bita ceritakan. Dan setelah Bita selesai bercerita ia langsung menoyor kepala Bita.


"Ish Pak Vano, senang sekali menoyor kepalaku."


"Biar otak kamu benar. Bisa bisanya baru mengenal seorang pria, kamu mengira pria itu menyukaimu. Sungguh tidak habis pikir,"


"Dia tampan Pak,"


"Apa aku kurang tampan?"


"Tampan sih,"


"Kenapa kamu tidak menyukai aku?"


"Entahlah, aku benar-benar tidak tertarik dengan Pak Vano,"


"Aku suamimu."


"Ya aku tahu,"


"Kalau begitu, mulai sekarang coba untuk menyukai aku."


Bita menautkan keningnya, karena Vano malah mengajaknya berbicara yang tidak-tidak. Dan melupakan tujuan awalnya meminjam uang pada suaminya tersebut.


"Ish, Pak Vano bicara apa sih. Aku kesini hanya ingin meminjam uang pada pak Vano, kalau tidak salah semua barang yang Bill berikan padaku, totalnya hampir dua ratus juta. Dan aku hanya memiliki uang simpanan sekitar lima puluh juta."


"Dan kamu ingin meminjam seratus lima puluh juta?" tanya Vano menimpali ucapan dari sang istri.


Bita pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Terus kamu mau bayar utang kamu itu padaku, pakai apa hah?"


"Potong dari uang yang setiap minggu Pak Vano kasih,"


"Kalau dari sekarang aku tidak akan memberikan uang lagi padamu bagiamana?"


"Pak Vano dosa, karena tidak memberi uang pada istrinya,"


"Dan kamu lebih dosa, karena tidak melayani suami kamu diatas ranjang, padahal suami kamu sudah memberi nafkah lahir,"


Bita terdiam sejenak mendengar apa yang Vano katakan.


"Kenapa diam saja? Benar bukan apa yang aku katakan? Dan sekarang layani aku di atas ranjang, setelah itu aku akan memberi uang yang kamu inginkan, tanpa ada kata hutang. Bagaimana? Deal?"

__ADS_1


Bersambung.................


Tuh udah di kasih dauble up, awas saja kalau tidak like, komen dan tonton iklan, aku NESU!


__ADS_2