TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
TEMPE MAKAN TEMPE


__ADS_3

Selama hidupnya, dan selama berteman dengan Putri salah satu sahabatnya, yang memiliki hobi ekstrem yaitu balap motor liar.


Baru kali ini Bita ikut sahabatnya tersebut ke sebuah karaoke yang tergolong cukup elit di pusat kota, atas keinginannya untuk menghilangkan rasa kesal setelah mengetahui sebuah kebenaran yang mengguncang jiwa dan raganya.


Dimana Putri malam ini datang untuk menghadiri acara ulang tahun salah satu sahabat prianya, yang diadakan di tempat karaoke tersebut.


Tempat yang sudah tidak asing lagi bagi Putri, karena Ia sudah terbiasa mengunjungi tempat karaoke tersebut, sebagai tempatnya berkumpul dengan anak geng motornya.


Bita mengikuti langkah Putri masuk ke dalam sebuah ruang karaoke VIP.


Tentu saja kedatangan Bita menarik semua mata pria yang berada di dalam ruangan tersebut.


"Jaga mata lo semua!" seru Putri pada semua rekannya.


"Put, siapa bidadari cantik ini? Tidak mungkin gebetan lo, kan? Lo kan tempe, masa tempe makan tempe," tanya Brama salah satu rekan Putri.


Tentu saja tatapannya terus tertuju pada Bita, yang merasa risih dengan tatapan semua pria yang ada di ruang karaoke tersebut yang luasnya hampir sama dengan lapangan tenis lapangan.


Meskipun ruangan tersebut di penuhi kerlap kerlip lampu warna warni, tapi masih terlihat oleh kedua mata Bita. Dan rata-rata yang berada di ruangan tersebut memiliki ketampanan diatas rata-rata, membuat Bita benar-benar bisa mencuci mata.


"Sialan! Gue masih normal kali!" sahut Putri sambil menendang kaki Brama yang berada tidak jauh darinya. "Dia sahabat gue."


Brama langsung beranjak dari duduknya, diikuti oleh beberapa rekannya yang lain.


"Duduk kalian semua! Tidak ada yang boleh mendekati sahabat gue untuk berjabat tangan ataupun berkenalan, paham!" tegas Putri yang paham betul dengan rekan rekannya tersebut yang ingin berkenalan dengan Bita.


"Ya elah pelit amat Lo!"


"Hooh, dasar medit!" sambung rekan Putri yang lainnya.


"Lah, suka-suke gue, masalah buat lo!" sahut Putri.


Kemudian ia menarik tangan Bita agar mengikutinya, tidak ingin meninggalkan sahabatnya tersebut, yang pasti akan menjadi incaran rekan rekannya.


Putri mengajak Bita menuju sebuah sofa di sudut ruangan tersebut, dimana ada seorang pria dan juga wanita yang sedang berbicang.


"Bill, selamat tambah tua ya." kata Putri lalu melakukan tos pada pria tersebut, yang hari ini sedang merayakan ulang tahun.


Hanya anggukan yang Bill lakukan untuk menanggapi ucapan dari Putri, sambil melirik pada Bita, yang sedang terpesona dengan pria tersebut yang memiliki ketampanan nyaris sempurna.


"Gue ke sana dulu, Bill." Putri segera menarik tangan Bita menuju sofa yang masih kosong.


"Put, ganteng ya," kata Bita yang sudah duduk.


"Siapa?" tanya Putri sambil menuang soda ke gelas Bita, dan menuang bir dengan kadar alkohol rendah ke dalam gelasnya.


"Yang itu," Bita menunjuk pada Bill.


"Oh Bill,"


"Iya dia, siapa dia?"

__ADS_1


"Rekan aku, sekaligus ketua geng motor,"


"Oh, sudah punya pacar belum?"


Pertanyaan dari Bita membuat Putri yang hendak menenggak minuman beralkhohol yang ada di gelasnya, segera ia urungkan. Kemudian menoleh pada Bita yang terus menatap pada Bill.


Senggolan disebelah lengan Bita, membuatnya terpaksa harus mengalihkan tatapannya untuk menatap pada sang sahabat. "Kenapa Put?"


"Kenapa-kenapa, ingat kamu sudah punya suami," jawab Putri, tentu saja ia sudah di beri tahu oleh Bita semuanya, terutama pernikahannya dengan Vano yang disembunyikan dari halayak publik.


"Ya elah, pernikahan aku dan dia hanya formalitas, mungkin tidak lama lagi akan berakhir. Lagian, kalau bukan karena terpaksa aku juga ogah menikah dengannya,"


Putri menoyor kepala Bita setelah mendengar apa yang dikatakannya. "Apaan sih Put!" kesal Bita.


"Tidak tahu terima kasih kau, ingat pria yang sudah menjadi suami kamu itu. Pria yang sudah menyelamatkan keluarga besar kamu, tahu!"


"Iya juga sih,"


"Makanya itu, selagi kamu masih menyandang status sebagai istrinya. Jadilah istri yang baik, mengerti!" nasihat Putri yang benar adanya.


"Jadi aku tidak boleh berkenalan dengan Bill dong?"


"Boleh," jawab Putri lalu menautkan keningnya ketika melihat Bita baranjak dari duduknya. "Mau ke mana?"


"Kenalan sama Bill,"


Sekarang Putri menarik tangan Bita, hingga duduk kembali di kursinya.


"Jangan sekarang, kamu tahu wanita yang sedang duduk bersamanya?" tanya Putri


"Iya, wanita yang cantiknya mendekati sempurna," jawab Bita mengagumi wanita yang duduk bersama dengan Bill.


"Dia tunangannya, dan saat ada dia. Jangan harap ada wanita lain yang bisa mendekatinya,"


"Lah, kamu tadi mendekatinya. Dan wanita itu terlihat biasa saja,"


"Aku anggota geng motornya bodoh! Dan aku mengenal Bill sudah lama."


"Aku rasa bukan hanya itu saja. Mungkin dia pikir kamu wanita jadi jadian," sambung Bita, karena sahabatnya tersebut berpenampilan seperti pria.


"Kurang ajar, begini juga aku wanita tulen,"


"Berarti suka pria dong?"


"Ya iya lah, masa suka cewek. Gila saja!"


"Tapi kenapa sampai sekarang kamu masih sendiri, hayo?"


"Dari pada punya pacar, terus main belakang dengan sahabat sendiri," jawab Putri menyindir apa yang Bita alami.


"Sialan kau, Put!"

__ADS_1


Putri pun langsung tertawa mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut, apa lagi melihat wajah Bita yang di tekuk. Dan ia ingin menenggak minuman beralkhohol yang berada di gelasnya.


Namun, sekali lagi Putri urungkan. Ketika tangannya di tahan oleh Bita, yang langsung mengambil gelas berisi minuman beralkhohol di tangannya.


"Ta, apa apaan sih. Sini kembalikan!"


"Aku mau mencobanya,"


"Kamu tidak pernah minum Ta. Jangan macam-macam!" Putri ingin meraih gelas berisi alkohol yang ada di tangan Bita.


Namun, belum juga mengambilnya. Bita sudah terlebih dahulu meminum seluruh isi yang ada di gelas tersebut.


"Enak Put, aku mau lagi," kata Bita dan ingin mengambil botol minuman beralkhohol yang ada diatas meja.


Tapi dengan segara Putri menjauhkan botol minuman tersebut agar sang sahabat tidak meminumnya lagi. Putri tahu persis Bita tidak pernah sekalipun meminum minuman beralkhohol, berbeda dengannya yang tidak asing lagi dengan minuman tersebut.


"Put, aku mau lagi!"


"Tidak, cukup aku yang sesat, kamu jangan!"


"Ayolah Put, satu gelas saja,"


"Tidak! Ingat ibu mertua kamu. Pasti akan kecewa bila kamu pulang dalam keadaan mabuk,"


"Ya elah minum sedikit tidak akan membuat aku mabuk, kali."


Putri akhirnya kecolongan, dan sekarang mendapati Bita mabuk. Saat ia tadi keluar sejenak dari ruangan tersebut untuk mengambil kunci motor gedenya yang tertinggal.


Dengan segera Putri membawa Bita keluar dari dalam ruangan tersebut.


Namun, saat sudah berada di lobi tempat karaoke tersebut. Putri menghentikan langkah kakinya, bingung harus mengantar sang sahabat pulang ke mana.


"Ta, kamu pulang ke mana?"


Namun, tidak mendapat jawaban dari Bita yang sedang merancau tidak jelas.


"Bodoh, tanya sama orang mabok." kata Putri pada dirinya sendiri.


Dan Putri ingin melangkah kembali, tapi ia urungkan. Saat ada seorang pria yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.


"Biar aku saja," kata Vano.


Putri langsung melepas tangan yang sedari tadi memapah Bita, dan membiarkan pria yang baru saja berdiri di depannya membawa sang sahabat, karena putri tahu, pria tersebut adalah suami dari Bita.


"Eh, Pak Kano," ucap Bita ngelantur ketika melihat Vano memapah tubuhnya.


"Kano, Kano. Kamu pikir aku dayung!"


"Iya Pak, mendayung hatiku, ae."


"Idih!"

__ADS_1


Bersambung.....................


__ADS_2