
"Aku bisa menjelaskan ini semua padamu, sayang," Vano coba meraih salah satu tangan Bita, dan sekarang ia bisa meraihnya lalu menggenggamnya dengan sangat erat.
Bulir air mata terus membasahi kedua pipi Bita yang mulus, tanpa menatap sang suami, pria yang baru saja mengisi penuh hatinya.
Tapi sekarang pria tersebut sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Bita selama ini percaya pada ucapan sang suami, yang mengatakan jika hanya dirinya lah yang menjadi prioritasnya.
Tapi ternyata itu hanya omong kosong belaka.
Harusnya Bita tidak pernah mempercayai ucapan sang suami, apa lagi ia tahu suaminya tersebut adalah pria yang tidak puas hanya dengan satu wanita.
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? Kamu sendiri yang bilang hanya aku prioritasmu?" tanya Bita di sela-sela isak tangisnya, tanpa menatap pada sang suami.
"Tapi aku ingin bersikap adil padamu dan juga Meysa, sayang. Karena kalian berdua istriku,"
Mendengar apa yang Vano katakan membuat Bita yang tadi enggan untuk menatap pada sang suami, kini mengalihkan tatapannya untuk menatap Vano.
"Tapi kenapa harus di kamar ini kamu melakukan hal itu, masih banyak kamar untuk kamu melakukan itu dengan Meysa!"
"Aku sudah tidak tahan lagi sayang,"
Entah ucapan apa yang keluar dari mulut Vano, hingga membuat telinga Bita serasa terbakar, dan api itu menjalar keseluruhan tubuhnya.
Tega teganya Vano mengatakan hal seperti itu pada Bita.
Membuat Bita yakin, jika ungkapan cinta yang baru beberapa hari lalu suaminya tersebut katakan hanyalah bualan semata.
Dan Bita langsung merutuki dirinya sendiri, karena dengan bodohnya ia percaya pada pria yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Sekarang Bita melepas tangannya dengan kasar yang masih di tangan oleh Vano.
Kemudian ia menghentikan tangisnya, merasa seperti orang bodoh menangisi pria yang tidak peduli dengan perasaannya.
Bita menarik nafasnya dalam-dalam dan memejamkan matanya untuk menenangkan diri.
Setelah merasa tenang ia segera membuka kedua bola matanya, lalu menatap pada sang suami yang masih berdiri di hadapannya.
"Aku ingin bercerai denganmu," keputusan yang harus Bita ambil, meskipun sulit karena ia baru mengisi hatinya dengan sang suami.
__ADS_1
Tapi Bita yakin, bisa melewati kesulitan itu, seperti halnya yang pernah terjadi padanya dulu, di tinggal kabur oleh calon suaminya di hari pernikahannya.
Vano meraup wajahnya mendengar apa yang Bita katakan, memang tidak mudah memiliki istri lebih dari satu.
Karena saat ia akan berbuat adil pada keduanya istrinya, malah hal seperti ini yang terjadi.
Vano menatap pada Bita yang sudah tidak menangis lagi seperti tadi. "Aku tidak ingin bercerai denganmu, sayang."
"Kenapa? Karena kamu ingin terus menyakiti hatiku seperti ini, iya?"
"Bukan seperti itu, aku sangat mencintaimu,"
Bita menyunggingkan sebelah sudut bibirnya mendengar ucapan sang suami. "Jika kamu mencintaiku, apa benar yang kamu lakukan ini hah? Meskipun aku tahu Meysa juga istri kamu,"
"Tolong dengarkan aku, sayang. Selain cinta aku punya nafsu, dan aku melakukan dengan Meysa karena nafsu. Bukan karena mencintainya, karena yang aku cintai hanya kamu,"
Tak sanggup lagi Bita mendengar apa yang sang suami katakan, membuat kedua telinga ia tutup menggunakan telapak tangan.
Memang cinta dan nafsu itu beda tipis, hingga orang tidak menyadari apakah pasangan kita mencintai kita memang dari dalam lubuk hatinya terdalam, atau hanya karena nafsu, itulah realitanya.
Setelah tidak mendengar perkataan sang suami yang membuat hatinya semakin sakit, Bita menurunkan kedua tangannya dari telinga.
Dan tatapannya kini tertuju pada Meysa yang sudah menggunakan kimono dress yang begitu sexy di tubuhnya.
Harusnya Bita sedari tadi meninggalkan kamar tersebut, tapi yang ada ia terus menatap pada sang suami dan juga madunya tersebut.
Gelengan kepala Bita lakukan, ketika melihat sang suami memeluk tubuh Meysa.
"Iya sayang, milik kamu lebih enak dan sempit. Dan aku mau melakukan lagi denganmu," Vano menimpali ucapan dari Meysa.
"Dengan senang hati aku akan melayani kamu, sayang,"
Bukan lagi sakit hati yang bita rasakan sekarang setelah mendengar percakapan Vano dan juga Meysa.
Namun, yang Bita rasakan sekarang adalah sebuah kemarahan. Membuatnya langsung mengepalkan kedua tangannya.
Meysa melepas pelukan Vano, lalu menatap pada Bita.
"Maaf, bisa tinggal aku berdua saja. Malam ini Vano menjadi milikku, jadi silakan kamu pergi." usir Meysa dengan halus.
__ADS_1
Namun, bukannya mengikuti perintah dari Meysa. Yang ada Bita mendorong tubuh Meysa dengan kencang, hingga tubuhnya jatuh tersungkur diatas lantai.
"Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanya Vano.
"Sayang, sayang pala kau peyang!" seru Bita, kemudian menendang senjata sang suami dengan kekuatan penuh.
Hal itu membuat Vano mengerang kesakitan, ketika sudah terjatuh diatas lantai.
"Mampus!" Bita, sekarang beralih menginjak senjata milik sang suami dengan membabi buta, berharap senjata milik Vano tidak lagi berfungsi.
"Bita, hentikan!" Meysa mendorong tubuh Bita untuk menjauh dari Vano yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ya ampun Bita, apa yang kamu lakukan hah?!" Meysa coba membangunkan sang suami.
Namun, Vano tidak bangun juga. Membuat Bita yang baru saja memulihkan tenaganya setelah menghajar sang suami, kini mendekati Meysa.
Dimana Meysa sedang menangis setelah memeriksa detak nadi sang suami di tangan dan juga lehernya sudah tidak ada.
"Mey, ada apa?"
"Suami kita meninggal, dan itu karena kamu! Dasar pembunuh!"
Bita yang tidak percaya dengan ucapan dari Meysa, kini memeriksa sendiri detak nadi sang suami. Dan benar saja Vano telah meninggal dunia.
Bita mendudukkan bokongnya di samping tubuh Vano yang tergeletak diatas lantai. Sesal tiba-tiba menghampirinya, karena sang suami meninggal dunia setelah dirinya membabi buta menghajarnya.
Meysa yang berada disisi lain Vano dan terus menangis, menatap pada Bita. "Pembunuh!"
"A... aku..." Bita tidak tahu harus mengatakan apa, air mata yang tidak lagi tumpah setelah merasa kesal dengan Vano.
Kini kembali membanjiri kedua pipinya, sambil menatap pada Vano. "Ma... maafkan aku. Bangunlah sayang," ucap Bita di sela-sela isak tangisnya.
Tak lupa Bita menggoyangkan tubuh sang suami, berharap Vano terbangun.
Namun, tetap saja tidak bangun. Sekarang Bita pun langsung memeluk tubuh Vano.
Dengan penyesalan yang begitu dalam, karena emosinya sesaat dirinya sudah menjadi seorang pembunuh.
"Maafkan aku, sayang." sesal Bita yang hadir belakangan. "Bangunlah, aku mencintaimu." kata Bita, sebenci apa pun dirinya pada sang suami sebelum meninggal, kini hilang sudah.
__ADS_1
Dan itu juga di rasakan oleh seseorang yang ditinggal untuk selamanya oleh pasangannya, tidak akan mengingat keburukan dari pasangannya, yang mereka ingat hanya kebaikan dan cinta yang pernah di berikan, percayalah.
Bersambung...................