
Di tempat lain, papa Dewa yang memang tidak menyukai jika Meysa menikah dengan Vano, hingga akhirnya terpaksa harus merelakan sang putri menikah dengannya.
Papa Dewa terus berceloteh ketika mendatangi tempat tinggal sang Putri yang baru. Pasalnya papa Dewa hanya mendapati Meysa seorang diri di unit apartemen yang ditempati, tanpa ada sang suami. Padahal ini adalah malam pengantin keduanya.
"Dasar bodoh!" seru papa Dewa pada Meysa, tak lupa menggelengkan kepalanya.
Setelah sang putri terus membela Vano, ketika papa Dewa mengatakan yang tidak tidak tentang sang suami.
"Pa, aku tidak mempermasalahkan jika malam ini suamiku memilih tidur dengan istri pertamanya." ucap Meysa lagi.
Membuat papa Dewa kini beranjak dari duduknya. Dengan kemarahan yang tidak bisa di pungkiri.
Papa Dewa adalah seorang ayah, mana mungkin dia tidak marah mengetahui, suami dari putrinya pergi disaat malam pertama.
Kemudian papa Dewa menatap ada Meysa yang sedang duduk tidak jauh darinya. "Jika bukan karena kamu sebentar lagi–"
"Pa, jangan katakan apa pun." Mama Dewi yang tadi duduk berdampingan dengan sang suami kini beranjak dari duduknya, dan memegang lengannya untuk menghentikan perkataan sang suami.
"Ini semua juga karena kamu! Jika kamu tidak mengikuti keinginan putri kita, ini semua tidak akan pernah terjadi!" seru papa Dewa. "Lihatlah putri kita, di malam pengantin malah di tinggal oleh suaminya, apa kamu tidak kasihan hah!"
"Pa, jangan marahi Mama. Aku yang menginginkan pernikahan ini. Karena aku mencintai suamiku!" sambung Meysa memotong perkataan kedua orang tuanya.
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir papa Dewa, lagi dan lagi kata Cinta yang papa Dewa dengar dari sang putri.
Sekarang papa Dewa menatap pada sang putri dengan tatapan teduh, tidak seperti tadi.
"Hanya kamu yang mencintainya, tidak dengan Vano, Mey. Papa hanya tidak ingin kamu merasakan sakit hati." nasihat papa Dewa, entah sudah berapa puluh kali mengatakan hal tersebut. Sampai akhirnya harus merelakan sang putri menikahi pria yang sangat dicintainya. Dan lebih menyedihkan lagi untuk papa Dewa, jika sang putri hanya menjadi istri siri pria yang di cintanya.
"Mungkin untuk saat ini hanya aku yang mencintainya Pa, tapi suatu saat nanti dengan berjalannya waktu suamiku itu juga akan membalas cintaku. Aku yakin itu Pa," ujar Meysa sambil mengukir senyum.
Karena Meysa percaya cinta hadir karena terbiasa, tentu di barengi dengan usaha untuk mendapatkan cinta itu.
"Sampai kapan? Sampai kamu pergi dari dunia ini, hah?!" Setelah keceplosan mengatakan apa yang seharusnya tidak papa Dewa katakan. Membuatnya segera merutuki dirinya sendiri.
"Pa, kenapa Papa bicara seperti itu hah? Apa papa mendoakan agar putri kita cepat pergi hah? Papa macam apa kamu ini!" kesal mama Dewi.
"Maafkan papa, Ma. Papa tidak berniat untuk mengatakannya. Sekali lagi maafkan papa,"
Papa Dewa yang merasa bersalah karena ucapannya, kini mendekati sang putri, kemudian duduk di samping Meysa dan memeluknya bahunya. "Maafkan Papa, Mey."
__ADS_1
Meysa tersenyum mendengar permintaan maaf dari sang papa. "Tidak usah minta maaf Pa, mungkin dokter sudah menentukan kapan aku akan pergi untuk selamanya. Tapi aku percaya, Tuhan yang menentukan umur manusia, bukan dokter. Dan Tuhan akan memberikan umur panjang padaku," Meysa terus optimis, tidak peduli dengan dokter yang sudah mengvonisnya tidak akan lama lagi hidup di dunia, dengan penyakit yang di deritanya.
Dimana Meysa sudah lama mengidap penyakit kanker sumsum tulang belakang yang sudah memasuki stadium akhir. Dan dokter sudah mengvonis umur Meysa tidak lama lagi, setelah pengobatan yang selama ini dijalani tidak ada pengaruhnya sama sekali.
Dan salah satu kenapa papa Dewa mengijinkan Meysa sang putri menikah lagi dengan pria yang tidak disukainya, hanya ingin mengabulkan keinginan sang putri menikah dengan Vano, sebelumnya ajal menjemput Meysa.
"Papa percaya pada Tuhan kan? Bukan percaya pada dokter?"
"Ya," jawab papa Dewa singkat agar Meysa senang, lalu papa Dewa menitikan air mata, untuk mengingat perkataan dokter yang selama ini menangani sang putri, jika umur Meysa tidak lama lagi.
Begitu pun dengan mama Dewi, yang tahu persis keadaan sang putri. Tak tahan untuk tidak menitikan air mata. Tapi setelahnya ia menghapus air matanya, tidak ingin Meysa melihatnya bersedih.
Kemudian mama Dewi mendekati sang putri dan duduk disisi lain Meysa. "Mama juga percaya, Tuhan akan memberikan umur panjang padamu, Mey."
Meysa hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, apa lagi papa Dewa dan mama Dewi kini memeluknya bersamaan.
"Pa, Ma. Menginap disini ya. Besok pagi antar aku menemui dokter. Dan ya, jangan pernah memberi tahu suamiku tentang ini semua ya?"
Papa Dewa dan juga mama Dewi pun segera menganggukkan kepalanya. Karena sang putri selama ini terus menutupi penyakit yang di deritanya, dan hanya kedua orang tuanya yang tahu.
*
*
*
Namun, Bita maupun Vano yang sejak semalam tidur sambil terus berpelukan, tanpa melakukan adegan panas diatas ranjang.
Karena dengan keduanya saling berpelukan dan saling mengucapkan kata cinta. Sudah membuat keduanya sangat bahagia.
Mungkin itulah definisi cinta dari dalam hati, bukan cinta karena nafsu.
Meskipun keduanya sudah sama-sama bangun dari tidurnya, tidak membuat Bita dan juga Vano ingin melepas pelukannnya masing masing.
"Apa kita akan terus seperti ini, sayang?" tanya Vano memanggil Bita dengan sebutan sayang.
Kesepakatan yang keduanya ambil semalam untuk memangil satu sama lain.
Bita menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan dari sang suami.
__ADS_1
"Kalau begitu lepaskan pelukanmu,"
"Kenapa tidak kamu saja yang melepasnya?"
"Aku tidak ingin,"
"Aku juga tidak ingin," balas Bita.
"Ya sudah, kita seperti ini saja,"
"Ya sudah," kata Bita mengikuti perkataan sang suami.
Namun, setelahnya Bita melepas pelukannya, ketika di bawah sana ia merasa ada sesuatu yang perlahan mulai menegang dari balik celana yang sang suami kenakan.
"Kenapa sayang? Katanya kita akan terus berpelukan?" tanya Vano sambil menahan senyum. Karena sang istri mulai menyadari senjata miliknya mulai berdiri sempurna.
Mungkin semalam Vano bisa menahan nafsunya diatas ranjang, karena saking bahagianya.
Tapi untuk kali ini Vano tidak bisa lagi menahan hasrat di dalam tubuhnya, dan ingin sekali mencari kehangatan di pagi hari yang dingin.
"Milik kamu berdiri." jawab Bita, dan ingin beranjak dari tidurnya.
Namun, segera di tahan oleh Vano yang sekarang sudah mengungkung tubuhnya.
"Sayang, ini pagi loh." kata Bita tahu apa yang sang suami inginkan, apa lagi Vano sekarang menggesek senjata miliknya di paha Bita.
"Justru karena pagi, aku ingin kehangatan sayang. Jangan menolak ya?"
"Baiklah, aku akan menghangatkan kamu," jawab Bita diakhiri dengan senyuman.
Membuat Vano yang sangat bahagia, segera mendekatkan bibirnya pada bibir sang istri.
Namun, baru saja akan menempelkan bibirnya diatas bibir sang istri, ponselnya berdering.
"Sayang, angkat dulu," pinta Bita.
Vano menganggukkan kepala dan langsung meraih ponsel yang ada diatas meja nakas tidak jauh dari jangkauannya. "Halo." kata Vano setelah mengangkat sambungan ponselnya. Dan langsung menautkan keningnya. "Rumah sakit?" tanyanya.
Bersambung............
__ADS_1