
Vano kembali ke kamar sang ibu, sambil membawa nampan berisi makanan untuk sang istri yang pasti sudah sangat lapar, setelah mimpi buruk.
Dan itu sungguh di luar dugaan Vano, jika Bita bermimpi membunuh dirinya dengan menginjak-injak senjata miliknya yang sangat berharga.
Vano bergidik ngeri, jangan sampai mimpi itu jadi kenyataan. Saat ia ingin membangun rumah tangga dengan wanita yang ia nikahi secara terpaksa karena sang ibu.
Namun, sekarang hatinya terisi cinta yang sangat penuh untuk Sabita, istri yang ia nikahi resmi secara agama dan negara.
Vano tersenyum dan berjalan mendekati dimana sang istri berada, duduk di atas kasur dan menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur mendiang sang ibu. "Makanan datang, sayang." ucapnya.
Namun, tidak mendapat tanggapan dari Bita, yang terus menatap sang suami tercinta dengan rasa haru.
Pria yang dulu sangat kasar padanya, dan sangat Bita benci. Sekarang membawa nampan berisi makanan untuknya.
"Kenapa diam saja sayang?" tanya Vano, setelah duduk di pinggang tempat tidur dimana Bita berada.
Bukannya menjawab pertanyaan dari sang suami, yang ada Bita mengulurkan tangannya lalu mengambil alih nampan yang berada di tangan sang suami, lalu menaruhnya di meja tepat di sisi tempat tidur dimana Bita berada.
Vano menautkan kedua alisnya melihat apa yang sang istri lalukan. "Sayang, aku membawa makanan untuk kamu makan loh. Kenapa di taruh? Kamu bilang tadi lapar kan?"
"Iya aku lapar." jawab Bita sambil mengukir senyum.
"Terus ke—" belum juga Vano meneruskan ucapannya, tiba-tiba Bita memeluknya dengan sangat erat.
"Jangan tinggalkan aku ya sayang," ucap Bita.
Vano tersenyum mendengar ucapan dari sang istri, lalu memeluk balik tubuh yang begitu pas di dalam pelukannya.
"Jangan pikirkan mimpi buruk itu lagi. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu, sayang."
"Terima kasih, dan i love you sayang," ucap Bita.
"I love you juga sayang,"
Setelah beberapa saat keduanya berpelukan, Vano perlahan melepas pelukan sang istri, lalu memengang dagunya, dan ingin mencium bibir ranum milik Bita.
Tapi dengan segera Bita menutup mulut sang suami. "Aku lapar, bukan ciuman yang akan inginkan." ucapnya, lalu mengambil nampan berisi makanan yang tadi ia taruh.
"Sayang, anggap saja ini makanan pembuka,"
"Ada-ada saja ka–" Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena sang suami berhasil mengecup bibirnya.
Bita tersenyum dan tidak ia pungkiri, dirinya menyukai apa yang sang suami lalukan barusan.
Vano mengambil alih nampan yang berada di tangan Bita. "Aku akan menyuapimu, sayang."
__ADS_1
"Aku bisa sendiri, lebih baik kamu istirahat sayang." pinta Bita, tahu sang suami butuh istirahat dan juga menata hatinya.
Setelah hari ini Vano disibukan dengan pemakaman sang ibu tersayang yang meninggal dunia dengan tiba-tiba.
Namun, Vano tidak menghiraukan apa yang sang istri katakan, dan memaksanya untuk membuka mulut.
Dengan telaten Vano menyuapi Bita sang istri, dan baru kali ini ia melakukan hal tersebut pada seorang wanita.
Padahal selama ini, hidupnya selalu di kelilingi oleh wanita yang bahkan lebih cantik dari sang istri.
Mungkin karena Vano sudah mencintai Bita dengan setulus hati, berbeda dengan dulu, dekat dengan berbagai wanita hanya karena nafsu.
"Sayang, apa kamu tidak lapar?" tanya Bita.
"Aku sudah makan,"
"Bersama dengan Meysa?"
Vano tidak ingin menjawab pertanyaan sang istri, hanya semata-mata ingin menjaga perasaannya.
Meskipun benar, jika dirinya makan malam dengan Meysa, yang belum lama pergi dari rumah tersebut, setelah Vano memberikan statmen pada istri keduanya itu, jika dirinya tidak akan mencintai Meysa.
"Jawab saja iya," kata Bita.
Vano menatap pada sang istri. "Sayang, aku sudah mengatakan padamu, jangan bahas tentang dia jika kita sedang bersama."
"Iya, aku makan malam dengannya." ucap Vano akhirnya mengatakan apa yang sebenarnya tidak ingin ia katakan.
"Nah begitu, di jawab kalau ada orang bertanya."
Vano menatap intens wajah sang istri, dan ia tidak melihat kecemburuan di wajahnya, tidak seperti sebelumnya.
"Jangan marah, aku hanya makan malam biasa." Jelas Vano, tidak ingin sang istri salah paham.
Bita tersenyum, lalu mengelus sebelah pipi sang suami. "Tidak, untuk apa aku marah sayang. Aku sadar kamu bukan hanya milikku, tapi juga milik Meysa, dan aku tidak ingin serakah, selain aku, kamu juga akan membutuhkan Meysa. Kamu tahu umur manusia tidak ada yang tahu, jika suatu saat aku meninggal dunia, masih ada Meysa di samping kamu sayang."
Vano menaruh nampan keatas meja nakas padahal Bita belum menghabiskan makanannya. Entah mengapa ia tidak menyukai apa yang sang istri katakan.
"Aku tidak suka dengan apa yang kamu bicarakan!" Vano mengatakan yang sejujurnya.
"Sayang, kita tidak pernah tahu tentang umur manusia sampai kapan, jadi—"
"Diam!" sahut Vano memotong perkataan dari sang istri. "Aku tetap tidak suka kamu membahas hal tersebut, paham!" tegas Vano.
Ia tidak bisa membayangkan jika ucapan sang istri benar, baru saja kehilangan sang ibu untuk selamanya, sudah membuat setengah hidupnya suram, untung masih ada Bita yang menjadi semangatnya.
__ADS_1
Dan jika istrinya tersebut pergi untuk selamanya, entah apa yang terjadi pada Vano, mungkin dirinya juga akan ikut pergi.
Vano ingin turun dari tempat tidur, tapi tangannya segera di cekal oleh Bita.
Setelah menyadari sikap sang suami berubah. "Maaf sayang, aku tidak akan pernah mengatakan hal seperti barusan."
Vano menoleh. "Janji?"
"Janji," jawab Bita sambil mengukir senyum.
Vano duduk kembali di tempatnya. "Sayang, malam ini kita tidur disini ya?"
Bita menganggukkan kepalanya, kemudian menidurkan kepala sang suami di pangkuannya, tak lupa satu tangannya mengusap usap rambutnya.
Entah mengapa Vano begitu nyaman dengan hal tersebut.
"Tidurlah sayang," ucap Bita.
Belum juga menanggapi ucapan dari sang istri, pintu kamar dimana keduanya berada di ketuk dari luar.
"Siapa?" tanya Vano.
"Aku Pak." jawab Tini dari balik pintu kamar. "Pak, ada yang datang marah-marah,"
Bita dan Vano saling pandang mendengar apa yang asisten rumah tangganya itu katakan.
"Siapa?" Sekarang Bita yang bertanya sambil berteriak.
Namun, belum juga di jawab oleh Tini. Tiba-tiba pintu kamar tersebut di buka paksa dari luar oleh papa Dewa.
Melihat keberadaan papa dari Meysa, Vano beranjak dari pangkuan sang istri, dan turun dari tempat tidur.
"Anda? tanya Vano sambil memicingkan matanya melihat kemarahan dari papa Dewa.
"Kurang ajar!" kesal papa Dewa yang masih di selimut kemarahan, mengetahui Meysa sang putri menangis setelah pulang dari rumah tersebut. "Aku tidak terima, melihat putriku menangis karena kamu, brengsek!" seru papa Dewa lalu menodongkan pistol kearah Vano.
"Papa, jangan!" teriak Meysa yang sengaja mengikuti sang papa, tahu apa yang akan papa Dewa lalukan. Kemudian menghalangi pistol tersebut.
Tapi dengan segera papa Dewa mendorong tubuh sang putri untuk menjauh.
Dor! Dor!
"Tidak Pa!" teriak Meysa.
Vano langsung menahan tubuh Bita yang baru saja menghalangi tembakan menembus tubuhnya.
__ADS_1
"Sayang! Tidak!!!!!!!!"
Bersambung...............