
Hazel meraih bantal sofa yang ada di dekatnya, lalu melemparnya kearah Sinta setelah mendengar apa yang di katakan oleh manajer Vano.
"Sinta sama dengan sinting, dasar sinting! Kalau bicara tidak di saring dulu tuh mulut!" kesal Hazel.
Namun, hanya mendapat senyuman dari Sinta yang berjalan mendekatinya. "Aku tidak kalah cantik dengan kedua istri Vano, Zel. Dan aku rasa goyangan aku lebih mantap, iya kan Van?" tanya Sinta sambil menoleh pada Vano.
Hazel kembali melempar bantal sofa pada Sinta. "Mulut ya, Vano sedang berduka, malah bicara yang tidak-tidak, dasar salome!"
"Biar dia tidak bersedih mulu Zel."
"Dasar, otak pikirannya hanya ke pisang siram mayones. Vano baru saja kehilangan orang yang sangat berarti dalam hidupnya. Tentu saja bersedih!" kesal Hazel yang tahu siapa Sinta, wanita yang sering begonta ganti pria.
"Aku tahu. Bagaimana usul aku tadi oke kan? Ceraikan saja kedua istri kamu dan menikah denganku, pasti masalah kamu beres Van."
"Beres dengkulmu, itu namanya melepas kebahagiaan terus dapat masalah. Jangan mengada-ada kamu itu Sin."
Vano hanya mendengar ucapan dari Hazel dan juga Sinta, tanpa mengatakan apa pun. Karena pikirannya sedang berperang untuk memutuskan langkah yang harus ia ambil.
Menceraikan Meysa dan bisa saja dia langsung masuk penjara, yang artinya Vano akan jauh dari Bita istri yang benar-benar ia sayangi.
Atau bertahan dengan Meysa, yang mungkin saja akan menyakiti hati Bita. Dan Vano menyadari hal itu, setelah beberapa kali Bita berkata yang seharusnya tidak ia katakan karena rasa cemburunya.
"Ya sudah, Zain nikahi aku. Pasti kamu akan puas dengan goyangan aku."
Hazel melotot dan menoyor kepala Sinta, yang duduk tidak jauh darinya.
"Enak saja, dasar rahim hangat lihat pria bening dikit langsung mau ngajak tidur. Insyaf Sin, Insyaf."
"Berbagai dikit tidak apa-apa lah Zel, milik Zain kecil apa besar. Pasti kecil kan?"
"Sok tahu!" sahut Hazel.
"Pasti sih,"
"Enak saja, tentu saja besar, panjang, keras dan tahan lama,"
"Tidak percaya kalau aku belum lihat dengan mata kepalaku sendiri."
Hazel menautkan keningnya menatap pada Sinta. "Kau pikir aku akan terpancing dengan ucapan kamu? Tidak!"
Sinta tertawa. "Untung kamu masih waras Zel,"
"Kau pikir aku gila seperti kamu!"
"Diamlah kalian, jika tidak bisa mencari solusi untukku." sambung Vano memotong perkataan dari keduanya.
Sedangkan Zain hanya menggelengkan kepalanya mendengar pembicara Hazel sang istri dengan Sinta, yang ia ketahui adik dari sahabat baik Hazel yang bernama Aca. Dan keduanya memang sudah mengenal satu sama lain, terlepas jika Sinta adalah menager dari Vano.
"Solusinya ya tadi seperti—"
"Sin, jangan mengada-ada." sambung Hazel memotong perkataan dari Sinta.
"Bersyanda bersyanda," ucap Sinta.
__ADS_1
"Tidak lucu!" sambung Hazel.
"Emang, aku kan. Bukan pelawak,"
"Ah sudahlah." Hazel tidak ingin berbicara omong kosong lagi dengan Sinta. "Kamu kan, manager Vano. Pasti kamu tahu tindakan apa yang harus kamu lakukan, jika artis kamu sedang ada masalah. Meskipun saran kamu menikahkan Vano dengan Meysa itu tidak masuk akal."
"Kata siapa tidak masuk akal, karena dengan aku menikahkan Vano. Aku jadi menemukan berita yang sangat penting, dan kalian harus tahu berita apa itu," ujar Sinta.
"Berita apa Sin?" tanya Hazel penasaran.
"Burung suami kamu kecil,"
"SINTA!!!!!!"
"Bercanda Zel, jangan marah." ujar Sinta sambil tersenyum, senang sekali ia jika harus meledak sahabat dari kakaknya tersebut. "Zel,"
"Apa lagi?"
"Ini serius."
"Katakan!"
"Aku butuh bantuan kamu, untuk mengusut berita yang baru segelintir orang tahu,"
"Oke, aku akan membantumu. Tapi berita apa?"
Sinta pun langsung memberi tahu berita penting yang baru ia ketahui, setelah kerja kerasnya untuk membersihkan nama Vano dari pemberitaan miring yang salama ini melekat padanya.
"Hanya itu? Setidaknya jadikan aku istri ketiga kamu, Van."
Hazel mendorong bahu Sinta. "Jangan macam-macam. Sadar diri,"
"Bercada Zel, mana mau Vano sama aku. Maunya tuh sama yang polos-polos. Kamu tahu tidak, Zel. beberapa waktu lalu ketika pulang dari Villa, ganas sekali Vano pada Bita. Aku melihat tanda kepemilikan bukan hanya di leher Bita," Sinta menceritakan dengan serius.
Tentu saja membuat Hazel begitu antusias. "Terus dimana?"
"Betis Zel, betis. Gila bangat kan si Vano. Sampai betis Bita jadi sasaran, maruk banget kan."
"Ish, ish, ish. Kau ini–" Hazel tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Vano keburu melempar bantal sofa kearahnya. "Keluar kalian berdua!"
"Cie, malu ya." ledek Sinta.
"Berisik!"
Setelah kepergian kedua sahabatnya dan juga Sinta sang manager. Vano akhirnya makan malam bersama dengan Meysa dan juga Tan.
Setelah Tan terus memaksanya untuk makan.
Tapi tidak dengan Bita yang masih tidur, dan Vano tidak ingin membangunkan istrinya itu.
"Sayang, kasihan Bita." ucap Meysa, di sela-sela makan malamnya. "Biarkan aku bangunkan dia ya,"
"Tidak usah, biarkan dia istirahat." larang Vano, kemudian beranjak dari duduknya, lalu menatap pada Meysa. "Susul aku ke kamar setelah kamu selesai, aku ingin membicarakan sesuatu padamu."
__ADS_1
Belum juga Meysa mengiyakan perintah dari sang suami, sudah terlebih dahulu Vano meninggalkannya.
Senyum mengembang dari kedua sudut bibir Meysa mendengar perintah dari Vano. "Apa ini akan menjadi malam pertamaku dengan suamiku?"
Meysa sudah membayangkan jika malam ini dirinya akan menjadi istri yang sesungguhnya untuk Vano.
Membuatnya segera mengakhiri makan malamnya yang belum habis, ingin segera menyusul sang suami.
"Sayang," panggil Meysa setelah membuka pintu kamar dimana Vano berada.
Vano yang sudah duduk diatas kasur sambil menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur, menatap pada Meysa sambil menautkan keningnya, pasalnya istrinya itu sekarang sudah berganti pakaian, menggunakan kimono dress sebatas lutut. "Sudah selesai makannya?"
"Sudah sayang."
"Naiklah!" perintah Vano. "Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu."
"Baik sayang," Meysa segera menyusul Vano keatas tempat tidur.
Bita membuka kedua bola matanya, setelah bermimpi bertemu ibu Vivi sekilas. Kemudian menatap pada jam dinding yang ada di kamar tersebut yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Ya ampun, sudah jam sebelas."
Bita segara beranjak dari tidurnya, lalu memegangi perutnya yang terasa lapar.
"Apa suamiku melupakan aku, ini sudah jam berapa. Setidaknya saat makan malam bangunkan aku kan, bisa." Bita merasa Vano mengabaikannya.
Tentu saja setelah keluar dari kamar mendiang ibu mertuanya, semua lampu sudah di matikan.
"Apa suamiku sudah tidur?" tanya Bita, mengurungkan niatnya untuk ke dapur mencari makanan yang bisa ia makan.
Kemudian menuju kamar sang suami, kamar yang pernah menjadi saksi jika keduanya sama-sama merasakan kenikmatan bersama dalam bercinta.
Baru juga membuka pintu kamar, kedua mata Bita sudah di sambut pemandangan yang seharusnya tidak ia lihat, dimana sang suami sedang melakukan hubungan intim dengan madunya.
Bita memegangi dadanya yang begitu sesak dan sakit melihat pemandangan itu, dan satu tangannya yang lain, menghapus air mata yang tiba-tiba jatuh tanpa aba-aba.
"Ka... kalian," ucapan lolos begitu saja dari bibir Bita.
Membuat Vano dan juga Meysa langsung menatap ke arahnya.
"Sayang," Vano turun dari atas tubuh Meysa.
Lalu turun dari atas kasur setelah memakai celana miliknya.
"Sayang aku—"
"Aku tidak sanggup seperti ini," ucap Bita memotong perkataan dari Vano, dan air mata kembali mengalir deras dari kedua bola matanya.
"Maafkan aku," Vano ingin meraih salah satu tangannya, tapi Bita segera menampiknya
"Jangan sentuh aku!"
Bersambung..................
__ADS_1