TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
DIA SAUDARIKU


__ADS_3

Bukan hanya Bita yang akan pergi makan malam dengan Bill, tapi juga Vano yang juga akan menghadiri acara makan malam, yang diselenggarakan oleh salah satu pengusaha yang menjadi sponsor di manajemen dimana Vano bernaung sebagai model selama ini.


Sebelum pergi Vano, terlebih dahulu ke kamar sang ibu, hal rutin yang selalu ia lakukan sebelum ia pergi.


Namun, baru masuk ke dalam kamar sang ibu, kedua mata Vano langsung tertuju pada Bita, dimana ia sedang berdiri di depan ibu Vivi yang sedang duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamar tersebut.


Beberapa kali Vano mengedipkan kedua matanya, dan menggelengkan kepalanya melihat pada Bita sang istri.


"Apa dia Bita?" tanya Vano pelan. Karena penampilan Bita berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya.


Dimana Bita mengenakan gaun berwarna putih dengan panjang di bawah lutut, dan itu terlihat sangat sopan, karena gaun tersebut tidak sama sekali mengekspos bagian lengannya.


Namun, dengan gaun yang menempel di tubuh Bita membuatnya semakin elegan, apa lagi gaun tersebut di padukan dengan high heels berwarna hitam yang tidak terlalu tinggi, dan juga Clutch Bag warna senada dengan high heels yang dikenakannya, yang berada di salah satu tangan Bita.


Bita berputar di depan ibu Vivi untuk menunjukkan penampilannya.


"Bu, bagaimana. Aku cantik?"


Ibu Vivi tersenyum, baru kali ini melihat menantunya tersebut begitu cantik dan juga elegan, kemudian ia beranjak dari duduknya, lalu merapikan rambut Bita yang tergerai indah. "Tentu saja cantik, ibu sampai tidak mengenali kamu,"


"Ish, ibu membuat aku jadi terbang tinggi. Terus bagaimana riasan aku, Bu?"


Ibu Vivi membenarkan kacamata yang selalu ia pakai, dan menatap setiap inci wajah Bita, yang hanya mengenakan riasan tipis-tipis. Tapi hal itu membuat Bita benar-benar terlihat sangat cantik natural.


"Cantik sekali,"


"Bohong!" sahut Vano.


Bita menghembuskan nafasnya kasar ketika mendengar suara sang suami. Membuatnya langsung menoleh pada Vano, yang kini berjalan mendekati dimana ia dan juga ibu mertuanya berada.


Begitupun dengan ibu Vivi yang kini juga menatap pada sang putra. "Apanya yang bohong Nak, untuk malam ini Bita sangat cantik loh,"


"Cantik dari mananya Bu? Lihatlah dia itu sangat norak dengan pakaian seperti ini, apalagi dandanannya sangat menor!"


Menor? Sungguh mata Vano buta. Mana ada dandanan Bita Menor, ia saja tidak mengoles lipstik di bibirnya. Hanya mengoles pelembab bibir, itu pun warna bening.


"Ya ampun Nak, mata kamu sepertinya harus di periksa. Orang menantu ibu sencantik ini di bilang menor, ada ada saja kamu,"


"Itu kenyataannya Bu, penglihatan ibu sudah lama bermasalah, tentu saja ibu tidak melihat dengan jelas, jika Bita sungguh sangat jelek dengan pakaian ini, dan juga dandanannya yang menor, seperti ondel ondel," ucapan dan juga isi kepala Vano tidak singkron, karena ia sedari tadi mengagumi Bita yang malam ini benar-benar beda.

__ADS_1


Bita memicingkan matanya menatap pada Vano, hingga tatapan keduanya bertemu. "Sebenarnya Pak Vano ada masalah apa denganku hah?" tanya Bita, yang merasa sang suami sudah menghinanya. Padahal ia yakin dandannya tidak norak seperti apa yang dikatakan oleh sang suami.


"Aku tidak memiliki masalah denganmu, aku mengatakannya yang sebenarnya. Lebih baik kamu ganti pakaian deh."


"Tidak usah mengatur!" Bita mengalihkan tatapannya pada ibu Vivi, enggan untuk berdebat lagi dengan sang suami, karena belum lama Bill mengirim pesan padanya, jika dia sudah menunggu di depan gerbang rumah Vano. "Bu, aku pergi dulu ya,"


Belum juga Bita melangkahkan kakinya, tangannya sudah di tahan oleh ibu Vivi.


"Iya Bu, ada apa?"


"Biar Vano yang mengantar kamu pergi makan malam," kata Ibu Vivi, setelah tadi Bita meminta izin untuk pergi makan malam dengan temannya.


"Tapi—


"Jangan menolak," sambung ibu Vivi memotong perkataan dari Bita. "Ibu rasa, suami kamu juga akan pergi," ibu Vivi menatap pada sang putra, yang sudah berpakaian rapi, dan ibu Vivi yakin sang putra juga akan pergi. "Nak, kamu juga mau pergi kan? Lebih baik kalian pergi bersama. Kalian suami istri, tentu saja ke mana pun, kalian harus bersama,"


"Bu, tapi–


Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, ketika ibu mertuanya tersebut meraih satu tangannya dan satu tangan Vano, kemudian menyatukannya.


Dan sekarang ibu Vivi mendorong bahu Bita dan juga Vano untuk keluar dari dalam kamar. "Pergilah, biar pulangnya tidak kemalaman."


Bita melepas tangannya, ketika sudah berada di teras rumah dan ibu Vivi sudah masuk ke dalam rumah. "Lepaskan!" ucap Bita dan melirik pada Vano, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan Vano.


"Pulangnya jangan malam-malam," kata Vano spontan.


"Iya!"


Vano yang sudah berada di dalam mobil yang di kendarai Tan sang asisten. Menatap pada mobil sport keluaran terbaru dengan harga fantastis yang baru saja Bita naiki.


Kemudian Vano berpikir, siapa pria yang bersama dengan sang istri. Karena ia sangat tahu, mobil sport yang baru di naiki oleh sang istri dan sekarang sudah melaju dengan kecepatan sedang, hanya dimiliki oleh beberapa orang saja, karena mobil itu di buat terbatas dan hanya orang-orang terkaya yang bisa memilikinya.


"Bos, siapa pria yang pergi dengan istri Bos?" tanya Tan.


"Entahlah,"


"Sepertinya bukan pria sembarangan Bos, lihat saja mobilnya limitid edition,"


Namun, Vano tidak ingin menimpali ucapan dari Tan.

__ADS_1


Tentu saja ia yakin, pria yang pergi bersama dengan sang istri bukan pria sembarangan.


***


Bita begitu terkejut karena ternyata Bill membawanya pergi ke sebuah ballroom hotel berbintang untuk menghadiri acara makan malam, yang entah Bita tidak tahu, sedang ada acara apa di ballroom tersebut.


Namun, ia yakin yang menghadiri acara tersebut semuanya orang-orang kaya, terlihat dari pakaian yang dikenakannya.


"Silakan duduk," Bill menarik kursi dan mempersilakan Bita untuk duduk, tepat di salah satu meja yang tertata rapi, dimana meja tersebut tujuh puluh persen sudah terisi.


Senyum terukir dari kedua bibir Bita, baru kali ini ia mendapat perlakuan yang begitu istimewa dari seorang pria. "Terima kasih,"


Bill membalas senyumannya, dan kini duduk di kursi tepat disamping Bita. "Kamu sangat cantik,"


Hati Bita berbunga bunga mendengar perkataan dari Bill. "Dan itu karena pakaian yang kamu berikan ini, dan ya. Terima kasih untuk semuanya ya Bill,"


"Sama-sama, dan ya. Maafkan aku karena tidak memberi tahu kamu jika aku mengajak kamu ke sini,"


"Tidak masalah, oh ya. Kalau boleh tahu ini acara apa?"


Belum juga Bill menjawab pertanyaan dari Bita, tiba-tiba sudah ada wanita setengah baya dengan pakaian elegan menghampiri meja dimana Bita dan juga Bill.


"Bill, mami ingin bicara denganmu," ucap wanita tersebut, dengan kedua matanya menatap pada Bita.


"Aku sedang tidak ingin bicara dengan Mami,"


"Jadi karena perempuan ini kamu memilih mengakhiri hubungan kamu dengan Anggi?"


Bill sekarang beranjak dari duduknya lalu menatap wanita yang baru saja ia panggil mami.


"Mi, aku mohon jangan bahas hal seperti ini disini,"


Namun, Mami Loren yang tak lain dan tak bukan adalah mami dari Bill, kini mendekati Bita. "Siapa kamu? Dan dari keluarga mana kamu lahir? Jika keluargamu tidak berasal dari keluarga terpandang, jangan berani berani kamu dekati Bill, paham!"


"Dia saudariku, Nyonya Loren."


Bita yang sangat mengenal suara pria tersebut, langsung menatap kearah sumber suara. "Pak Vano,"


Bersambung............

__ADS_1


__ADS_2