TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
HAMIL ANAKKU


__ADS_3

Seminggu berlalu, Bita yang masih dengan praduganya jika Vano memang mengkonsumsi obat terlarang dan juga mengedarkannya.


Terus mencari bukti, tapi tidak ada satu pun bukti yang bisa Bita dapatkan, selama seminggu tinggal di villa.


Yang ada ia mendapati Vano benar-benar menjalani hidup sehat dari olah raga yang rutin hingga tidur yang tergolong sangat teratur.


Dimana selama seminggu di villa tersebut, Vano yang selalu tidur dengan sang ibu, pasti tidur lebih awal dan juga bangun pagi.


Tentu saja ibu Vivi akan membiarkan sang putra tidur dengannya. Dan tidak memaksa Vano tidur dengan Bita.


Karena pasangan suami istri tersebut dengan pandainya berbohong, jika Bita sedang datang bulan.


"Nak, kamu sudah tidak datang bulan kan?" tanya Ibu Vivi pada Bita yang sedang membantu Bibi menyiapkan makan malam.


Bukannya menjawab pertanyaan dari ibu Vivi, yang ada Bita mengukir senyum. Kemudian menarik kursi tepat di samping ibu mertuanya dan duduk.


"Masih Bu," bohong Bita.


"Tidak mungkin," tentu saja ibu Vivi tidak percaya dengan jawaban dari Bita.


Karena yang ibu Vivi tahu, batas wajar wanita datang bulan adalah lima hari, paling lama tujuh hari. Dan sekarang sudah malam ke delapan di villa, tentu saja ibu Vivi yakin Bita sudah selesai datang bulan.


"Kenapa tidak mungkin, Bu?"


"Wanita datang bulan normalnya paling lima hari dan paling lama seminggu, Nak."


"Tapi tidak semua wanita datang bulan dengan normal Bu, contohnya aku. Dari dulu jika sedang datang bulan pasti sampai sepuluh hari, kadang lebih," bohong Bita sambil mengukir senyum, untuk menyempurnakan aktingnya.


Padahal sebelum ke villa Bita baru saja datang bulan.


Ibu Vivi tidak lagi membahas tentang datang bulan, karena benar apa yang Bita katakan. Karena ada perempuan yang datang bulan tidak teratur.


"Kalau begini kapan ibu memiliki cucu dari kalian?"


Bita menggenggam sebelah tangan ibu Vivi yang berada diatas meja. "Sabar Bu, pasti nanti kita akan memberikan cucu yang lucu dan juga menggemaskan untuk ibu."


"Tapi kapan? Mungkin umur ibu tidak akan lama lagi,"


"Bu!" teriak Vano.


Membuat Bita dan juga ibu Vivi langsung menoleh pada Vano yang duduk di kursi ujung meja makan tersebut.


"Aku tidak suka ibu bicara seperti itu!" tegas Vano, yang tidak menyukai perkataan sang ibu, perempuan yang sudah melahirkannya ke dunia, dan sang ibu yang sangat Vano hormati dan juga sayangi, melebihi menyayangimu dirinya sendiri.


"Tapi Nak–


"Bu. Jangan bicara apa pun lagi!" sahut Vano memotong perkataan ibu Vivi.


Kemudian Vano beranjak dari duduknya. "Kami akan mewujudkan keinginan Ibu untuk segera memiliki momongan," ucapan yang keluar dari mulut Vano sebelum meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Tentu saja membuat Bita yang mendengar ucapan dari sang suami begitu terkejut, bisa bisanya Vano mengatakan hal seperti itu.


"Menyebalkan! Siapa juga yang mau memiliki anak darimu, dasar teh celup!" batin Bita dengan kedua bola matanya terus mengikuti ke mana sang suami pergi.


Genggaman balik dari tangan ibu Vivi, alhasil membuat Bita langsung mengalihkan tatapannya pada ibu mertuanya tersebut.


Dimana ibu Vivi sedang tersenyum sambil menatap Bita. "Terima kasih Nak,"


Tautan kening menghiasi wajah Bita, mendengar perkataan dari ibu Vivi. "Untuk apa Ibu berterima kasih padaku?" tanya Bita penasaran.


"Karena kamu dan juga Vano akan mewujudkan keinginan ibu untuk segera memiliki cucu,"


"Eh ini tidak, aku–


"Tidak apa-apa, setelah kamu selesai datang bulan baru kalian tidur bersama," ibu Vivi memotong perkataan dari Bita.


"Bu, aku dan–" Bita sendiri yang tidak jadi meneruskan ucapannya, padahal ia akan mengatakan jika dirinya dan juga Vano tidak mungkin akan bersama.


Namun, Bita mengurungkan niatnya mengatakan yang sebenarnya, takut ibu mertuanya terkejut, dan mempengaruhi kesehatannya.


"Aku dan apa? Nak?" tanya ibu Vivi, karena Bita tidak jadi meneruskan ucapannya.


"Tidak ada Bu, mari kita makan malam. Aku sudah sangat lapar." ajak Bita.


*


*


*


Membuat Putri terus menghindari Bill. Dan sejak saat itu, Putri tidak lagi bekerja di kafe milik Bill. Dan juga tidak lagi berkumpul di basecamp geng motor yang di ketuai oleh Bill.


"Gue sudah bilang sama Lo, pelan pelan. Putri tidak seperti perempuan pada umumnya," ujar Brama sambil menepuk pundak Bill.


Dimana Bill baru saja tiba di basecamp, setelah mencari keberadaan Putri yang tidak ada di rumahnya.


"Tapi gue tidak bisa lagi memendam perasaan gue pada Putri!"


"Tapi akhirnya seperti ini,"


Namun, Bill tidak lagi menanggapi ucapan dari Brama, dan menatap pada sahabatnya tersebut. "Apa anak anak belum menemukan keberadaannya?"


Belum juga menjawab pertanyaan dari Bill, ponsel Brama berdering dan dengan segara Brama mengangkat sambungan ponselnya.


"Oke makasih!" Brama menutup sambungan ponselnya setelah berbicara dengan seseorang di balik sambungan ponselnya.


Kemudian menatap pada Bill. "Bill, anak anak tahu di mana Putri berada sekarang,"


Tentu saja dengan segera Bill dan juga Brama mengendarai motor gedenya untuk menuju tempat dimana Putri sekarang barada.

__ADS_1


Dan tak butuh waktu lama untuk keduanya tiba di lokasi diadakannya balap liar.


Dimana Putri akan melakukan balap liar.


Namun, sebelum balap liar tersebut mulai, Bill memaksa Putri turun dari motornya, dan memaksanya untuk menjauh dari arena balap liar.


"Lepasin tangan gua, Bill! Race sebentar lagi mulai."


"Tidak!"


"Bill!" teriak Putri lalu melepas paksa tangan Bill.


"Ini terlalu bahaya, Put."


"Bukan urusan Lo!"


"Tentu saja akan menjadi urusan gue! Gue nggak mau terjadi sesuatu pada Lo. Karena gue cinta sama Lo, Put!"


Putri menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya, sambil menatap pada Bill. "Omong kosong, apa itu cinta hah?!"


Bill menahan tangan Putri yang akan pergi meninggalkannya. "Put, aku sangat mencintaimu," ucap Bill, dengan tulus.


"Buang rasa itu, dunia kita berbeda Bill. Dan ya, jangan pernah temui gue lagi!" tegas Putri, lalu melepas tangan Bill dengan paksa, dan meninggalkannya untuk kembali ke lintasan Race.


*


*


*


Bita yang sedang menonton film di kamar, begitu terkejut. Karena Vano tiba-tiba masuk ke dalam kamar, meskipun kamar tersebut memanglah kamar sang suami.


Tapi Bita tahu sendiri tadi Vano sudah masuk ke dalam kamar ibu Vivi untuk tidur bersama dengan sang ibu, seperti malam-malam sebelumnya.


"Pak Vano?"


"Aku ingin bicara denganmu," kata Vano sambil berjalan dan menatap pada Bita yang berada di atas kasur.


"Bicara apa Pak?" tanya Bita, sedikit risih karena Vano terus menatapnya.


"Aku ingin kita mengabulkan keinginan ibu."


"Maksud Pak Vano, apa?"


"Hamil anakku, maka setengah kekayaan yang aku miliki akan jadi milikmu."


"A... apa?!"


Bersambung..............

__ADS_1


__ADS_2