
"Dasar teh celup!"
Bita melempar ponsel yang ada di tangannya, setelah beberapa kali ia menghubungi Vano. Tapi sambungan ponselnya tidak diangkat oleh sang suami.
"Hanya batang yang bisa di pegang dari seorang pria, tidak dengan ucapannya! Ingat itu baik-baik!" kesal Bita.
Ia masih mengingat ucapan dari Vano sebelum pergi meninggalnya, untuk menghubungi pria yang berstatus sebagai suaminya itu jika ada apa-apa.
Nyatakan setelah Bita menghubunginya berkali-kali, panggilan ponselnya hanya diabaikan.
Padahal Bita ingin pulang ke rumah, setelah merasa kondisinya baik-baik saja.
Pasalnya, saat tadi ibu Vivi mengunjunginya. Bita yang ingin ikut pulang bersama dengan ibu mertuanya tersebut, di larang oleh ibu Vivi. Yang ingin sang menantu tetap berada di rumah sakit hingga benar-benar sembuh.
Namun, Bita saat ini benar-benar sudah merasa sehat. Dan ingin segera pulang, tidak ingin menginap di rumah sakit seorang diri, apa lagi ia takut dengan hal goib.
Bita begidik, sambil mengedarkan tatapannya keseluruh ruang perawatan dimana ia berada.
"Pocong, kuntil anak, suster ngesot, gaderuwo, tuyul," Bita mengabsen satu persatu makhluk halus yang ia takuti dan terus begidik takut. "Ya ampun! Aku takut,"
Bita meraih ponsel yang baru saja ia lempar, dan kali ini menghubungi Tan asisten dari sang suami.
Ingin minta tolong padanya, untuk membawanya keluar dari rumah sakit tersebut.
Meskipun sebenarnya, Bita bisa melepas selang infus yang ada di pergelangan tangannya, karena ia dulu pernah bekerja menjadi perawat di salah satu rumah sakit.
Tapi ia tidak bisa begitu saja keluar dari rumah sakit, tanpa membayar biaya rumah sakit terlebih dahulu, saat Bita tidak membawa sepeser uang pun. Ponselnya pun, ibu Vivi yang membawakannya ke rumah sakit.
"Lebih parah. Dasar tulang lunak!" seru Bita, karena ponsel Tan tidak bisa di hubungi.
Bita segera mengedarkan tatapannya, saat mendengar sesuatu. Dan seketika bulu kuduknya berdiri.
"Tolong, hantu!!!!!!" teriak Bita, dan langsung menutupi tubuhnya dengan selimut ketika mendengar suara lagi.
Suara derap langkah kaki yang mendekat membuat Bita semakin takut. "Pergilah! Dasar setan!!!!!!" teriak Bita dengan kencang, ketika selimut yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya di tarik. Dan dengan segara ia memejamkan matanya, tidak ingin melihat makhluk halus. "Jangan ganggu aku, setan!!!"
"Kurang ajar! Aku manusia weh!"
Bita sangat mengenal suara siapa yang baru saja ia dengar.
Membuatnya segera membuka kedua bola matanya, dan langsung menghembuskan nafasnya lega, setelah tahu, Putri sang sahabatlah yang datang.
"Ya ampun Put, kamu membuat aku takut," ucap Bita lega.
"Ya elah, takut apa? Makhluk halus?" tanya Putri, yang sangat tahu sahabatnya tersebut takut dengan hal mistis. "Jaman sekarang masih saja takut dengan hal begitu,"
"Tentu saja takut lah. Kalau aku di bawa ke alam goib bagaimana?"
__ADS_1
"Tidak mungkin mereka membawa kamu, yang ada mereka takut denganmu," jawab Putri, dan langsung duduk di pinggiran ranjang perawatan dimana Bita berada. "Bagaimana? Sudah lebih baik?" tanya Putri yang belum lama mendapat kabar dari Bita sendiri, ia sedang di rawat di rumah sakit.
"Aku sudah lebih baik,"
"Makanya, jangan sok sokan minun minuman beralkhohol, pasti ini efek dari minuman yang kamu minum kemarin malam," Putri berpikir sahabatnya tersebut sakit karena minum minuman beralkhohol kemarian malam. "Ingat! Cukup pertama dan terakhir minum minuman itu!"
"Iya." ucap Bita singkat. "Put, aku ingin pulang sekarang juga. Apa kamu mau membantu aku, membayar biaya rumah sakit. Besok aku ganti uangnya, karena aku sama sekali tidak membawa uang,"
"Yakin kamu ingin pulang sekarang?"
"Iya Put. Aku tidak betah berada di rumah sakit,"
"Baiklah, jika itu yang kamu mau. Apa sih yang tidak buat sahabat aku yang bodoh ini," Putri mencubit hidung Bita.
"Aku tidak bodoh ya!"
"Oh ya, jika tidak bodoh. Mana bisa tidak mengetahui jika pacar dan juga—"
"Jangan di bahas lagi. Iya aku bodoh!" sahut Bita memotong perkataan Putri, tahu apa yang akan dikatakannya.
"Pakai ini saja, Put." suara dari seorang pria.
Membuat Bita yang baru saja beranjak dari tidurnya, langsung menatap kearah sumber suara. Dan alangkah terkejutnya Bita melihat sosok pria tampan yang kemarin malam terus menjadi objek tatapannya, ketika ia pergi ke tempat karaoke bersama dengan Putri, untuk menghadiri pesta ulang tahun pria tersebut.
Kemudian Bita mengalihkan tatapannya pada Putri yang baru beranjak dari duduknya.
"Tadi ingin ikut denganku menjenguk kamu," sambung Putri memotong perkataan dari Bita.
Dan sekarang Putri menatap pada Bill, temennya yang menjadi ketua geng motor dan juga pemilik Kafe dimana Putri selama ini bekerja.
"Pakai ini saja untuk membayar biaya rumah sakit," ucap Bill lagi, lalu menaruh kartu debit di tangan Putri.
"Gue punya uang Bill. Kamu tenang saja."
"Pergilah!" Perintah Bill, sambil mendorong bahu Putri.
"Oke, pinnya tanggal tunangan lo dengan Anggi?" tanya Putri menyebut nama tunangan dari Bill.
"Tanggal ulang tahunku."
"Tumben!" sahut Putri, karena selama ini ia tahu, Anggi yang menguasai segala hal yang Bill milik.
"Jangan banyak bicara pergilah!"
"Siap Bos! Oh ya Bill, sekalian gue pesan makanan restoran depan ya?"
"Pakai saja!"
__ADS_1
Setelah kepergian Putri sang sahabat, kedua mata Bita tidak lepas menatap pada Bill yang begitu tampan dan juga rupawan, dan baginya definisi pria sempurna ya ada pada Bill.
Untuk Vano? Ya, sebelas dua belas lah dengan Bill, itu menurut Bita. Tapi kalau di suruh memilih. Jelas Bita akan memilih Bill, di banding sang suami yang tukang teh celup.
"Lain kali jangan lagi meminum minuman beralkhohol, karena itu tidak bagus untuk tubuhmu,"
Ucapan Bill membuat hati Bita berbunga bunga, karena mendapat perhatian dari pria tampan yang masih berdiri disisi ranjang perawatannya.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Bita, lalu menganggukkan kepalanya untuk mengiyakan apa yang Bill katakan.
"Oh ya, terima kasih. Dan besok aku akan mengembalikan uangmu," kata Bita.
"Tidak perlu,"
"Tapi aku merasa tidak enak. Sudah merepotkan kamu, padahal kita tidak saling mengenal,"
Bill mengulurkan tangannya kehadapan Bita, kemudian menjabat tangannya. "Aku Bill, dan mulai sekarang kita akan saling mengenal,"
"Bita,"
"Ya, aku sudah tahu dari Putri,"
Bita menautkan keningnya mendengar apa yang Bill katakan. "Apa saja yang Putri katakan padamu?" tanya Bita penasaran, takut sang sahabat sudah memberi tahu pernikahannya dengan Vano.
Jika iya, Bita pasti akan dimarahin oleh Vano, yang menginginkan pernikahannya di sembunyikan.
"Tidak banyak, hanya kamu pernah batal menikah,"
"Hanya itu?"
Bill menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan dari Bita.
Hal tersebut membuat Bita lega.
"Oh ya, aku tetap akan mengembalikan uangmu," ujar Bita.
"Tidak perlu, anggap saja itu sebagai imbalan,"
Bita menautkan alisnya sambil menatap pada Bill, bingung dengan apa yang dikatakannya.
"Imbalan? Maksud kamu?"
"Aku ingin meminta bantuan padamu,"
"Bantuan apa?"
"Pergilah makan malam denganku besok, apa kamu mau?"
__ADS_1
Bersambung............