TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
SUAMIKU JUGA SUAMIMU


__ADS_3

Menyadari keberadaan Bita, membuat Meysa segera melepas pelukannya. Merasa tidak enak dengan istri pertama sang suami yang sedang melihatnya memeluk Vano.


Setelah melepas pelukannya, sekarang Meysa beranjak dari duduknya. "Sayang, aku pergi dulu," pamit Meysa dan langsung meninggalkan sang suami.


Meysa menghentikan langkahnya tepat di depan Bita yang masih berdiri di tempatnya. "Maafkan aku," tak seharusnya Meysa meminta maaf pada Bita setelah memeluk Vano, karena bagaimana pun, Vano juga suaminya.


Tapi entah mengapa Meysa Merasa tidak enak.


Bita mengukir senyum untuk menimpali ucapan dari Meysa. "Untuk apa kamu minta maaf, suamiku juga suamimu," ucapnya tidak ingin egois, meskipun Bita berat berbagi suami dengan madunya tersebut.


Meysa mengelus lengan Bita. "Terima kasih," ucap Meysa merasa dapat angin segar dari Bita. Kemudian melangkahkan kakinya yang sempat terhenti.


Setelah kepergian Meysa, Bita berjalan mendekati sang suami. Dimana Vano sudah tidak menangis lagi, tapi sedang termenung.


Kemudian Bita duduk di samping sang suami. Dan menyodorkan gelas berisi air putih yang ia bawa. "Minum dulu sayang,"


Vano meraih gelas yang ada ditangan Bita, kemudian menghabiskan seluruh isinya.


"Sayang, ada yang ingin aku katakan padamu," ucap Bita.


"Katakan saja." perintah Vano.


"Kamu pernah mengatakan, hanya aku prioritasmu,"


Vano menatap pada sang istri sambil menautkan keningnya setelah mendengar apa yang dikatakannya.


"Aku tidak ingin melihat kamu bermesraan dengan Meysa seperti barusan, kalian berpelukan." jujur Bita


Vano beranjak dari duduknya dengan tatapan tertuju pada sang istri. "Untuk apa membahas hal tidak penting seperti ini hah!" entah mengapa Vano sedikit kesal dengan Bita. Bukannya membuatnya tenang dalam kondisinya saat ini.


Yang ada Bita membahas hal yang tidak penting seperti barusan. Mengatakan bermesraan dengan Meysa. Padahal jelas-jelas Vano tidak sama sekali balas memeluk balik Meysa, karena hanya Bita yang dicintainya saat ini.


Tapi Vano juga tidak bisa menolak pelukan dari Meysa, karena ucapannya membuatnya sedikit tenang.


Mendengar ucapan sang suami yang penuh penekanan bagi Bita, membuatnya juga ikut berdiri. "Sayang, kenapa tanggapan kamu seperti ini, aku hanya mengungkapkan isi hatiku, jika—"


Bita tidak jadi meneruskan ucapannya karena Vano dengan segera meninggalkannya seorang diri.


Membuat Bita merasa diabaikan oleh Vano. "Kenapa jadi seperti ini." ucap Bita. Dan kembali mendudukkan bokongnya diatas kasur ibu mertuanya, bukan hanya itu saja. Tapi Bita merebahkan tubuhnya, sudah tidak tahan lagi menahan lelah seharian ini.


Vano yang ingin menuju kamarnya setelah dari kamar mendiang sang ibu.

__ADS_1


Kini menghentikan langkahnya tepat di depan pintu kamar ketika Meysa menahan tangannya. "Jangan ganggu aku!" seru Vano.


"Maaf sayang," Meysa segera melepas tangannya. "Ada sahabat kamu di bawah,"


"Suruh dia ke kamar."


"Baik." Meysa membiarkan sang suami masuk ke dalam kamar. Dan ia sendiri ingin kembali ke ruang tamu, untuk menemui kedua orang yang Meysa tahu adalah sahabat sang suami.


Hazel dan juga Zain yang baru kembali dari luar negeri segera menuju rumah Vano sang sahabat, setelah mendengar kabar duka jika ibu Vivi telah meninggal dunia.


Dan keduanya merasa bingung, kenapa wanita yang keduanya kenal karena seringnya melihat Meysa selalu ada dalam setiap masalah Vano, dan wanita tersebut selalu punya solusi untuk untuk masalah sang sahabat berada di rumah sang sahabat.


"Kenapa kamu ada disini?" tanya Hazel pada Meysa.


Sebelum menjawab pertanyaan dari Hazel, terlebih dahulu Meysa mengukir senyum. "Nanti kalian akan tahu. Sekarang suamiku menyuruh kalian untuk ke kamar."


Hazel menautkan keningnya lalu menoleh pada sang suami yang berada tepat disamping, setelah mendengar kata istriku dari Meysa.


Dan sekarang Hazel kembali menatap pada Meysa. "Istriku? Kamu—"


"Ya, aku istri dari Vano," Meysa memotong perkataan dari Hazel.


"Tidak mungkin!" tentu saja Hazel tidak akan pernah percaya dengan apa yang Meysa katakan.


"Mungkin suamiku belum memberi tahu kalian, tapi kita memang sudah menikah."


Hazel tidak lagi menimpali ucapan dari Meysa, yang ada dia menarik tangan Zain sang suami untuk segera menemui Vano di kamar.


"Awas saja kalau kau nikah lagi dengan wanita lain. Habis tuh pisang, aku potong sampai kecil-kecil." ancam Hazel pada sang suami. Tidak habis pikir jika sang suami sampai menikah lagi seperti Vano.


"Sayang, kamu bicara apa sih? Mana mungkin aku menikah lagi. Saat aku sudah memiliki bidadari yang sangat sempurna seperti dirimu ini,"


Hazel yang terus melangkahkan kakinya, kini menoleh pada sang suami. "Sejak kapan kamu pandai menggombal, hah?"


"Entahlah, tapi itu kenyataannya sayang,"


Hazel menautkan keningnya. "Ada yang tidak beres nih,"


"Nanti kita bereskan setelah sampai rumah, oke!" Zain mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah ku duga." ujar Hazel ada maksud lain dari ucapan sang suami. Yang semakin berumur semakin agresif di atas ranjang.

__ADS_1


Hazel dan juga Zain yang sudah masuk ke dalam kamar Vano, mendekati sahabatnya itu yang sedang duduk di sebuah sofa yang ada di dalam kamarnya.


"Van, maafkan aku dan juga Zain datang terlambat." kata Hazel yang langsung memeluk Vano. "Kami ikut berduka cita,"


Dan sekarang Zain yang bergantian mengucapkan bela sungkawa.


Setelahnya keduanya menguatkan Vano yang ditinggal oleh sang ibu untuk selamanya. Apa lagi Hazel dan juga Zain tahu, seberapa dekat Vano dengan sang ibu.


Setelah ketiga berbincang untuk beberapa saat, kini Hazel menatap pada Vano. "Van, apa benar Meysa istri kamu?" tanya Hazel penasaran.


Vano menjawab pertanyaan dari Hazel dengan anggukkan kepala.


"Ya ampun Van, terus Bita?"


"Dia juga istriku,"


"Yang benar saja. Kamu gila hah?"


"Aku terpaksa menikah dengan Meysa," ucap Vano, lalu menceritakan kenapa ia mau menikah dengan Meysa.


Hazel menggelengkan kepalanya baru mengetahui sebuah kebenaran baru dari Vano.


"Tapi keputusan kamu menikahi Meysa itu tidak benar, meskipun Bita merestui kamu. Itu hanya terpaksa demi kamu Van."


"Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk saat ini,"


"Apa tidak ada pilihan lain?"


"Ada, sekarang ibu sudah tidak ada. Tidak ada lagi hati yang harus aku jaga. Jadi aku ingin menceraikan Meysa. Meskipun nanti aku akan mendekam di dalam penjara. Tapi setidaknya itu lebih baik, karena aku tidak membuat seorang wanita mengharap cinta dariku."


Hazel juga merasa bingung dengan nasib sang sahabat. Karena apa pun keputusan yang akan Vano ambil pasti serba salah.


"Kalau kamu di penjara, bagaimana dengan Bita, hah?"


Vano menatap pada Hazel setelah mendengar apa yang dikatakannya. Kenapa dirinya tidak memikirkan wanita yang sudah mengisi hatinya itu.


"Terus aku harus bagaimana Zel?" tanya Vano, benar-benar bingung.


"Aku punya solusi," ujar Sinta yang baru masuk ke dalam kamar.


Membuat semua orang yang ada di dalam kamar tersebut langsung menatap padanya.

__ADS_1


"Tinggal kamu ceraikan saja mereka dan menikah denganku, itu solusi yang tepat." kata Sinta.


Bersambung................


__ADS_2