
Vano turun dari tempat tidur, ketika Meysa menghampirinya.
"Aku pergi dulu," ujar Vano, dan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar.
Meninggalkan Meysa yang langsung menghembuskan nafasnya kasar. Meskipun sudah menjadi istri dari Vano, tidak mudah baginya untuk mendekati pria yang sangat ia cintai.
Meysa akhirnya turun dari atas kasur dengan nampan berisi makanan yang tadi ingin ia berikan pada Vano.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Meysa ketika melihat Vano masuk kembali ke dalam kamar.
"Sayang, apa ada yang tertinggal?" tanya Meysa.
Namun, tidak mendapat jawaban dari Vano. Yang kembali masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel miliknya yang tertinggal.
"Jangan menunggu aku pulang," kata Vano sambil berjalan melewati Meysa.
"Apa kamu ingin pulang ke rumah kamu? Jika iya, aku ingin ikut."
Vano menghentikan langkahnya ketika mendengar pertanyaan dari Meysa, kemudian menatap pada perempuan yang dibilang sangat berjasa pada Vano.
Karena Meysa selalu menjadi penolong bagi Vano, ketika berita buruk tentangnya muncul ke publik. Dan dengan kekuasaan yang di miliki Meysa, akhirnya pemberitaan buruk tentang Vano langsung hilang ditelan bumi.
Seperti sekarang ini, tiba-tiba pemberitaan buruk yang santer di beritakan akhir akhir ini tentang Vano, bagai hilang di telan bumi.
"Maaf aku tidak bisa mengajak kamu ke rumah," kata Vano pelan.
"Kenapa? Aku juga ingin mengenal istri kamu dan juga ibu kamu, sayang. Apa itu salah?"
"Tidak, kamu tidak salah, tapi aku sudah berjanji pada istri yang sangat aku cintai, jika aku tidak akan pernah membawa kamu ke rumah. Semoga kamu mengerti Mey."
Mendengar perkataan Vano membuat hati Meysa sedih, padahal ia sudah mewanti wanti, untuknya sadar diri karena hanya menjadi istri kedua dari Vano.
"Apa tidak ada sedikit pun cinta yang kamu miliki untukku?"
Pertanyaan dari Meysa membuat Vano menatap lekat wajah Meysa yang terlihat sedih.
"Tidak!" jawab Vano dengan tegas.
Senyum Meysa tunjukkan ketika mendengar jawaban dari sang suami. Meskipun hatinya sangat sedih. "Terima kasih," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Meysa, kemudian keluar terlebih dahulu dari dalam kamar meninggalkan Vano yang terlihat bingung dengan Meysa.
*
*
*
Akhirnya Vano tiba di rumah meninggalkan Meysa tanpa mengatakan apa pun lagi padanya.
Namun, saat tiba di rumah ia tidak mendapati Bita sang istri. Padahal tujuannya pulang adalah menemui istrinya itu, karena jujur bagi Vano. Entah mengapa saat jauh dari Bita ia merasa tidak tenang.
__ADS_1
"Terima kasih Mbak," ucap Vano setelah menanyakan pada asisten rumah tangannya dimana Bita sang istri. Dan mereka bilang, Bita pergi ke rumah kakek dan juga neneknya.
Tentu saja hal tersebut membuat Vano ingin segera menyusul sang istri.
Namun, ketika ia ingin keluar dari dalam rumah. Vano urungkan ketika mengingat sang ibu.
Dan akhirnya Vano menemui sang ibu yang ada di dalam kamarnya.
"Selamat malam Bu," sapa Vano pada sang ibu yang sedang duduk diatas kasur sambil membaca sebuah buku.
Namun, tidak di hiraukan oleh ibu Vivi yang tetap fokus pada buku yang sedang di bacanya.
Vano menautkan keningnya, karena ia yang ingin mencium pipi sang ibu seperti biasa. Dengan refleks tangan ibu Vivi menjauhkan wajahnya.
Dan baru kali ini sang ibu menolak untuk di cium olehnya. Kemudian Vano duduk di pinggiran tempat tidur sambil menatap pada sang ibu.
"Bu, maafkan aku harus menikah lagi."
"Pergilah!"
Untuk pertama kalinya dalam hidup, Vano baru mendengar sang ibu mengusirnya.
"Bu, maafkan aku,"
Vano ingin meraih tangan sang ibu, tapi dengan segera tangannya di tampik.
Ibu Vivi menutup buku yang sedang di bacanya, lalu menatap wajah sang putra. "Ibu kecewa padamu!"
"Sekali lagi maafkan aku, Bu."
Namun, ibu Vivi tidak menanggapi ucapan dari Vano, yang ada ia terus menatapnya.
Dan bulir air mata tiba-tiba jatuh membasahi kedua pipinya yang sudah berkerut. Merasa kecewa dengan sang putra bukan hanya karena memutuskan menikah lagi.
Tapi ibu Vivi juga baru tahu, sang putra pernah menjadi penjahat dengan menjadi mafia obat terlarang. Bukan tahu dari Bita, tapi Ibu Vivi mendengar sendiri pembicaraan Sinta dan juga Vano tadi siang.
"Ibu selalu percaya padamu, tapi kamu tidak pernah mendengar nasihat ibumu ini."
"Bu," Vano menghapus air mata yang membasahi kedua pipi sang ibu.
"Kenapa kamu menjadi penjahat hah? Apa ibu mengajari kamu untuk menjadi penjahat, katakan!"
Tentu saja Vano sekarang bingung kenapa sang ibu mengatakan hal separti itu padanya. "Bu, apa maksud ibu?"
"Ternyata benar berita itu tentang kamu. Ibu sangat kecewa padamu!"
Deg! Tentu saja Vano terkejut karena sang ibu mengetahui kebenaran itu.
Membuat Vano kini menggenggam kedua tangan sang ibu. "Maafkan aku Bu, tapi aku sudah berhenti dari pekerjaan itu. Percaya padaku Bu," ujar Vano agar sang ibu percaya dan tidak bersedih lagi.
__ADS_1
"Ibu sudah gagal mendidik kamu,"
"Jangan katakan hal itu Bu. Dan maafkan aku," hanya itu yang bisa Vano katakan, lalu bersimpuh di depan sang ibu dengan penyesalan yang sangat dalam.
Karena perbuatannya membuat Vano harus melihat sang ibu menangis dan juga bersedih, padahal selama ini ia tidak pernah melihat sang ibu menangis dan bersedih.
Tapi hari ini Vano melihatnya, dan hal tersebut membuat Vano merasa gagal untuk selalu membahagiakan sang ibu.
*
*
*
Bita bukan pergi ke rumah kakek dan juga neneknya, seperti pamitnya pada orang rumah.
Yang ada ia pergi ke rumah sahabatnya Putri.
Namun, saat berada di rumah Putri, Bita hanya menangis, tentu saja hal itu membuat sahabatnya bingung.
"Ya ampun, sampai kapan kamu akan terus menangis? Apa yang kamu tangisi bodoh!" seru Putri kesal, karena Bita datang ke rumahnya dan tiba-tiba langsung menangis. "Apa suami kamu itu melakukan KDRT padamu?"
Bita yang masih menangis hanya menggelengkan kepalanya.
"Terus kenapa kamu menangis bodoh!" Putri mendorong bahu Bita yang duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamu.
Hal tersebut membuat Bita langsung menoleh pada sang sahabat dan menghentikan tangisnya. "Aku sedang sedih bukannya di hibur malah dianianya, sahabat macam apa kamu ini hah?!"
"Kalau sedih setidaknya kasih tahu aku apa yang membuat kamu sedih, bukannya menangis seperti anak kecil,"
"Apa aku belum menceritakan kesedihan aku ini padamu?"
Putri menoyor kepala Bita. "Dasar! Buruan katakan apa yang membuat kamu sedih."
"Entahlah, sepertinya aku mulai menyukai dan memiliki perasaan pada suamiku,"
"Apa hubungannya dengan kesedihan kamu? Jika kamu memiliki perasaan pada suami kamu ya wajar, orang dia suami kamu gimana sih, ada-ada saja."
"Tapi sepertinya, perasaan yang aku miliki saat ini pada suamiku sudah terlambat," ujar Bita.
"Kenapa?"
"Dia sudah menikah lagi,"
"Apa? Menikah lagi? Kamu punya madu?"
Bita pun langsung menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Putri.
Bersambung................
__ADS_1