
Tentu saja dugaan ibu Vivi jika yang datang adalah polisi untuk mencari sang putra, salah besar.
Karena yang datang adalah Sinta manager Vano dan juga Tan asistennya.
Vano yang baru saja membuka pintu, merasa bingung kenapa manager dan juga asistennya tahu, sekarang ia berada dimana.
Karena seingat Vano, ia tidak pernah memberi tahu dimana ia sekarang berada.
Dan Vano juga tidak memberi tahu siapa pun jika ia punya villa dimana ia sekarang berada.
"Kalian?"
"Kenapa? Ke mana pun kamu bersembunyi, aku bisa menemukanmu!" sahut Sinta dan masuk ke dalam, sebelum Vano mempersilakannya untuk masuk.
Sekarang Vano menatap pada Tan. "Kenapa kalian tahu dimana aku berada?"
"Tentu saja tahu, apa Bos lupa, dulu pernah sekali bos meminta aku mengantar ke villa ini. Meskipun aku tidak masuk,"
Tentu saja Vano sudah lupa mengenai hal itu. "Untuk apa kalian ke sini? Aku sudah memberi tahu, untuk kamu mengatasi masalah itu."
"Tenang saja Bos, sebentar lagi masalah Bos akan selesai,"
Vano menautkan keningnya mendengar apa yang Tan katakan. "Maksud kamu?"
"Nanti Sinta akan memberi tahu Bos,"
Sinta yang sudah masuk terlebih dahulu, tidak lepas mengamati setiap sudut villa yang baru saja ia tahu, jika villa tersebut adalah milik Vano.
Karena yang Sinta tahu, villa milik Vano bukan yang sekarang ia datangi.
Senyum terukir dari kedua sudut bibir Sinta ketika melihat ibu Vivi berjalan mendekatinya.
"Hai Tante, apa kabar? Sepertinya sekarang terlihat sehat ya,"
"Seperti yang kamu lihat, semenjak Vano menikah. Hidup Tante terasa sangat sempurna. Oh ya, silakan duduk,"
Ibu Vivi mempersilakan untuk Sinta duduk. "Oh ya Sinta. Tante ingin tahu berita tentang Vano." Tentu saja ibu Vivi akan menanyakan langsung hal tersebut pada manager sang putra.
"Tenang saja Tante, berita itu akan hilang dari pemberitaan secepat kilat. Tante tidak perlu kuatir, oke!"
"Kamu yakin Sin?" tanya Vano yang sudah berada di ruang tamu.
__ADS_1
"Tentu saja yakin dong,"
"Caranya?" tanya Vano penasaran.
Sebelum menjawab pertanyaan dari Vano, terlebih dahulu Sinta menoleh pada ibu Vivi. Karena Sinta paham betul, apa pun keputusan yang akan Vano ambil terlebih dahulu pasti meminta persetujuan dari ibu Vivi.
"Tante, sebenarnya untuk Vano terlepas dari berita ini, harus dengan syarat,"
"Katakan saja padaku, jangan pada Ibu!" sahut Vano.
"Tante juga harus tahu, Van. Karena ini sangat penting. Apa lagi kamu sudah menikah,"
"Apa maksud kamu?" tanya Vano penasaran, karena Sinta membawa pernikahannya.
"Kamu tahu Meysa?
Vano mengingat lagi Meysa yang baru saja Sinta sebut, salah satu anak pejabat yang sangat berpengaruh di negeri ini, yang sering bertemu dengan Vano di beberapa Even.
Dan sekarang Vano menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Sinta.
"Menikahlah dengan dia, maka berita miring yang selama ini menghantuimu, akan leyap begitu saja,"
Bukan hanya Vano yang terkejut dengan perkataan Sinta, tapi juga ibu Vivi.
Karena menantu yang ibu Vivi inginkan hanyalah Bita. Dan tidak ingin Vano meninggalkan Bita untuk menikahi wanita lain. Ibu Vivi tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Tante," ucap Sinta dengan halus, tahu jika wanita paruh baya yang duduk di sampingnya, pasti akan menolak mentah-mentah apa yang baru saja dikatakannya.
"Cari cara lain untuk terlepas dari berita ini!" perintah ibu Vivi.
"Tidak ada cara lain Tante. Hanya ini salah satu caranya,"
"Tidak mungkin!" tentu saja Ibu Vivi tidak akan percaya dengan omongan Sinta.
"Tante, untuk apa aku berbohong. Tante tahu, selama Vano berkarir setengah perjalanannya, aku yang selalu berada di sampingnya, hingga detik ini. Dan aku tahu berita semacam ini, akan selalu muncul." kata Sinta, lalu meraih tangan ibu Vivi.
"Tante, banyak orang yang tidak menyukai Vano. Dan bisa saja berita itu suatu saat nanti muncul dan membuat Vano masuk penjara, dan lebih parahnya Vano bisa di hukum mati, karena berita yang sudah di rancang sedemikian rupa oleh pembencinya. Tapi dengan Vano menikahi–"
"Benar tidak ada cara lain?" tanya ibu Vivi memotong perkataan Sinta.
"Hanya cara ini, Tante. Dan tenang saja, Vano tidak akan menceraikan Bita. Karena Meysa tidak mempermasalahkan jika Vano menikahinya secara siri."
__ADS_1
Ibu Vivi menoleh pada sang putra. "Nak, bagaimana dengan kamu?"
"Keputusan ada pada ibu, jika ibu bilang jangan. Aku tidak akan melakukannya, dan juga sebaliknya,"
Hembusan nafas kasar keluar dari bibir ibu Vivi, karena ini adalah keputusan besar yang harus ia tentukan untuk kehidupan sang putra.
"Tante, biarkan Vano menikah lagi. Ini demi masa depannya," Sinta meyakinkan ibu Vivi.
Namun, ibu Vivi kini beranjak dari duduknya. "Tante harus bicara terlebih dahulu dengan Bita istrinya," ucap Ibu Vivi.
"Tidak masalah jika itu yang terbaik untuk suamiku," ucapan dari Bita yang sedari tadi mendengar percakapan semua orang di ruang tamu.
Membuat semua orang yang ada di ruang tamu langsung menatap pada Bita.
"Nak," ujar ibu Vivi, dan berjalan mendekati menantunya. "Apa kamu yakin?"
"Iya Bu, toh ini yang terbaik untuk suamiku," kata Bita, tapi jujur saja. Meskipun ia belum mencintai Vano. Namun, dalam hatinya begitu berat untuk mengiyakan sang suami menikah dengan wanita lain.
Tapi apa boleh buat, Bita tidak ingin suatu saat Vano masuk jeruji besi dengan berita yang beredar, karena berita itu bukan hanya sekali tapi sudah berulang kali.
Mengingat lagi di dunia ini yang tidak salah bisa menjadi salah, dan begitu juga sebaliknya.
Dan Bita hanya ingin, berita yang beredar tentang sang suami segera menghilang, sebelum ada pihak yang menggorengnya lagi dan membuat Vano rugi.
Ibu Vivi menatap intens wajah Bita, tak lupa menitikan air mata. Tidak ingin suatu saat nanti menantunya tersebut meninggalkan dirinya, dengan keputusan yang diambil. Mengingat lagi, Vano dan juga Bita menikah karena terpaksa.
Bita mengusap air mata yang membasahi pipi ibu Vivi. "Untuk apa Ibu menangis?"
"Ibu ingin selalu bersamamu, Nak. Ibu mohon jangan tinggalkan ibu," jawab ibu Vivi, lalu memeluk Bita.
"Aku tidak akan pernah meninggalkan ibu," Bita balik memeluk ibu Vivi.
Entah mengapa mendengar keputusan Bita yang tidak keberatan dengan usul Sinta membuat Vano kecewa. Karena Vano berharap Bita akan melarangnya.
Malam hari, setelah mengemasi pakaian milik ibu Vivi, karena besok pagi rencananya akan kembali ke ibu kota.
Kini Bita masuk ke dalam kamar, untuk mengemasi pakaian miliknya dan juga Vano.
Namun, saat Bita sedang memasukkan pakaian ke dalam koper. Tiba-tiba Vano menghampirinya, dan menahan tangannya.
Membuat Bita menoleh pada sang suami, tak lupa mengukir senyum karena seharian ia selalu menghindar dari Vano. "Eh pak Vano, ada apa?" tanya Bita seolah tidak mengingat jika sang suami akan menikah lagi, padahal ia sangat mengingatnya.
__ADS_1
Namun, bukannya menjawab pertanyaan dari Bita. Yang ada Vano menarik tangannya, lalu memeluk tubuhnya. "Biarkan aku memelukmu seperti ini!" pinta Vano semakin mengeratkan pelukannya.
Bersambung...................