TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
TIDAK RELA


__ADS_3

"Bangunlah sayang, aku berjanji tidak akan marah melihat kamu dan juga Meysa seperti tadi, tapi bangunlah, aku tidak mau kamu pergi selamanya menyusul ibu, sayang."


Bita terus menangis sambil memeluk tubuh Vano, dan sesekali memukul dadanya berharap sang suami bernafas kembali.


"Sayang, bangun." Vano yang sedari tadi duduk diatas kasur sang ibu, menemani Bita yang masih tertidur.


Terpaksa harus membangunkan istrinya tersebut, karena Bita tidur sambil menangis.


"Sayang," kembali lagi Vano menggoyangkan tubuh Bita untuk membangunkannya.


Membuat pemilik tubuh perlahan membuka kedua bola matanya.


Dan saat kedua bola mata Bita membulat sempurna, dengan segera ia mengusap kedua matanya bergantian. Takut salah melihat, karena sang suami sedang duduk di sampingnya dan menatap padanya.


Bita yang tidak percaya jika sang suami masih hidup, segera beranjak dari tidurnya, lalu menepuk kedua pipi sang suami.


"Sayang, ada apa?" tanya Vano bingung dengan sikap sang istri.


Bita segera memeluk sang suami, setelah mendengar ucapannya. "Terima kasih sayang, kamu telah kembali. Dan aku mohon jangan pernah tinggalkan aku," kata Bita.


Bingung dengan apa yang sang istri katakan, Vano terpaksa melepas pelukan Bita, kemudian maraup wajahnya. "Kamu kenapa, sayang?"


"Sekali lagi maafkan aku, aku benar-benar emosi,"


"Emosi kenapa?"


"Kamu bercinta dengan Meysa, tapi mulai saat ini aku tidak akan melarang kamu bercinta dengan Meysa, asal kamu jangan pergi menyusul ibu,"


Vano semakin bingung dengan ucapan Bita. Bercinta? Sejak kapan Vano bercinta dengan Meysa, setelah berbicang sebentar dengannya setelah makan malam.


Vano segera menyusul Bita yang ada di kamar mendiang sang ibu.


Dan sekarang Vano tersenyum, karena ia yakin, pasti barusan sang istri baru saja bermimpi. "Apa kamu bermimpi, sayang?"


"Mimpi?" tanya Bita bingung, lalu mengalihkan tatapannya pada jam dinding yang ada di kamar tersebut, dimana jam tersebut menunjukkan pukul sembilan malam.


Berbeda dengan waktu saat Bita memergoki sang suami sedang bercinta dengan madunya.


Dan kembali Bita menatap pada sang suami. "Kamu bercinta dengan Meysa?"


Vano menggelengkan kepalanya, lalu membawa sang istri ke dalam pelukannya. "Pasti kamu bermimpi sayang, mana mungkin aku bercinta dengan wanita lain saat ada kamu di samping aku," kata Vano sambil mencium pucuk kepala Bita.


"Tapi Meysa istri kamu juga,"


"Jangan bahas tentangnya, saat kita sedang bersama." Vano enggan untuk membahas Meysa.


Yang ada ia tertarik dengan mimpi sang istri, yang tiba-tiba menangis ketika tidur. "Sayang, apa kamu tidak ingin menceritakan mimpi kamu?"

__ADS_1


"Berarti aku tadi hanya bermimpi?" tanya balik Bita.


"Tentu sayang, coba ceritakan."


Sebelum menceritakan kejadian di dalam mimpinya begitu nyata bagi Bita, terlebih dahulu ia memeluk tubuh Vano. "Aku bermimpi kamu meninggal, sayang. Dan itu karena aku menginjak injak senjata kamu,"


"Kejam amat sayang," Vano menimpali ucapan dari sang istri.


"Itu kan, hanya mimpi." sambung Bita dan kembali menceritakan apa yang dialaminya di dalam mimpi.


Vano mengelus rambut Bita yang masih memeluk tubuhnya. "Makanya kalau sore jangan tidur, jadi mimpi aneh-aneh kan,"


"Aku sangat lelah sayang. Oh ya, setelah mimpi itu, aku jadi paham sayang,"


"Paham apa?" tanya Vano penasaran.


"Untuk aku jangan serakah,"


"Serakah?"


"Iya, selama ini aku tidak rela kamu dekat dengan Meysa. Dan aku salah sayang, aku dan Meysa sama-sama istri kamu. Harusnya aku tidak boleh iri saat kamu sedang bersamanya." Bita menyadari kesalahannya tersebut. "Dan mulai saat ini aku rela kamu dekat dengan Meysa,"


"Sungguh?" tanya Vano untuk menimpali ucapan dari Bita.


Benar apa yang selama ini Vano rasakan jika ucapan Bita yang rela ia menikahi lagi, hanya di mulutnya saja tidak dengan hatinya.


Namun, Vano tidak ingin menjawab pertanyaan dari sang istri yang ada semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang, kamu tidak lapar?" tanya Vano mengalihkan pembicaraan.


Tak ingin membahas tentang Meysa lagi, mungkin saja Bita baru saja mengatakan rela berbagi suami, tapi Vano yakin itu tidaklah seratus persen.


Mana ada wanita yang mau berbagi suami dengan suka rela dengan wanita lain, sama sekali tidak ada. Itu yang Vano pikirkan.


"Lepar sekali, sayang."


Vano melepas pelukannya. "Ya sudah, aku ambil makanan untuk kamu, kebetulan Mbak sudah menyiapkannya untuk kamu."


"Terima kasih sayang," ujar Bita sambil mengukir senyum. "Oh ya sayang, pertanyaan aku belum di balas, Meysa dimana?"


Sebelum pergi mengambil makanan untuk Bita sang istri. Vano sekarang mencubit hidung Bita yang tidak mancung dan juga tidak pesek. "Aku sudah mengatakan padamu, jangan bahas tentang siapa pun jika kita sedang berdua, oke!"


Bita menganggukkan kepalanya.


"Bagus," ucap Vano, dan langsung mencium bibir sang istri sebelum keluar dari dalam kamar.


*

__ADS_1


*


*


Setelah menahan air matanya untuk tidak jatuh selama perjalanan pulang dari rumah sang suami.


Tepatnya, Vano yang menyuruh Meysa meninggalkan rumahnya. Sesuai kesepakatan awalnya.


Sekarang air mata tidak lagi bisa Meysa tahan. Dan meluncur bebas begitu saja, setelah ia berada di dalam kamar yang ada di rumahnya.


Setelah Meysa memutuskan untuk pulang ke rumahnya sendiri, dari pada pulang ke apartemen yang sudah Vano sediakan untuknya.


Air mata yang membanjiri kedua pipi Meysa, bukan air mata karena Vano memintanya pergi dari rumahnya.


Melainkan air mata kesedihan setelah Vano berterus terang, jika dia tidak akan pernah menganggap Meysa sebagai istrinya sampai kapan pun, karena istri satu satunya yang dia miliki hanya Bita.


Maka dari itu Vano mengatakan dengan jujur pada Meysa untuk tidak berharap lebih padanya, karena pernikahan keduanya hanyalah status.


Berbanding terbalik dengan Meysa, terlepas dari pernikahannya karena sebuah timbal balik, tapi Meysa sangat mencintai Vano.


Tapi mendengar ucapan dari Vano setelah meminta menemuinya di dalam kamar, ketika keduanya baru saja menyelesaikan makan malam.


Hati Meysa sudah di patahkan oleh Vano dengan pernyataannya, padahal Meysa dari awal sudah yakin bisa meluluhkan hati sang suami.


Tapi sepertinya itu tidak akan pernah bisa Meysa raih setelah mendengar pernyataannya.


Mama Dewi segera memanggil papa Dewa setelah mendengar sang putri menangis dengan pilu, karena selama ini Meysa sama sekali tidak pernah menangis seperti saat ini.


"Apa yang bajingan itu lakukan padamu?" tanya pada Dewa.


Namun tidak mendapat jawaban dari Meysa yang terus menangis.


"Mey, katakan!" desak papa Dewa.


"Suamiku tidak melakukan apa pun," jawab Meysa di sela-sela isak tangisnya.


"Tidak mungkin!" tentu saja papa Dewa tidak percaya pada sang putri. Melihat Meysa seperti sekarang. "Jika kamu tidak mengatakan, papa yang akan menanyakan langsung padanya,"


"Pa, jangan!" larang Meysa, dan berjalan mengikuti sang papa keluar dari dalam kamar. "Pa, apa apaan ini?" tanya Meysa ketika mengikuti papa Dewa, dan sang papa mengambil senjata api.


"Baru pria bajingan itu yang membuat kamu seperti ini, dan papa tidak rela." jujur papa Dewa. "Dan dia harus membayar ini!"


"Pa, jangan lalukan apa pun pada suamiku," Meysa hanya bisa menatap kepergian papa Dewa sambil terus menangis ketika mama Dewi menahan tubuhnya. "Ma, aku ingin mencegah papa, lepaskan aku!" Meysa coba melepas tangan sang mama yang masih menahan tubuhnya. Karena jika sang papa sudah memegang senjata api tidak ada satu pun orang yang bisa selamat.


"Biarkan papa melakukan apa yang ingin di lakukannya, mama juga tidak rela melihat kamu seperti ini hanya karena pria itu,"


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2