
Bita membiarkan Vano terus meminjat kedua kakinya bergantian, buka hanya kedua kakinya tapi juga kedua tangannya.
Kedua mata Bita terus menatap pada Vano, merasa bingung dengan sikap Vano saat ini, yang dengan suka rela mau memijatnya.
Meskipun begitu, Bita merasa senang dengan apa yang Vano lalukan.
"Pak, kenapa Pak Vano melakukan ini?" pertanyaan yang harus Bita tanyakan pada sang suami, yang duduk tepat di samping tubuhnya.
"Aku merasa bersalah semalam sudah membuat kamu kelelahan," jawab Vano, kemudian ia mengakhiri pijatannya. "Bagaimana? Kamu sudah lebih baik?"
Bita menganggukkan kepalanya. "Pak, kenapa Pak Vano sekarang sangat baik padaku?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari sang istri, yang ada Vano merebahkan tubuhnya, di samping Bita yang masih tiduran di atas kasur.
"Bukannya dari dulu aku juga baik padamu?"
Bita terdiam sejenak mendengar pertanyaan balik dari Vano.
Karena benar jika Vano memang sudah baik pada Bita dari dulu, jika tidak, mana mungkin mau menikahinya, dan memberikan nafkah lahir.
Dan Bita baru menyadari hal itu. Membuatnya yang sadari tiduran kini beralih posisi, duduk menghadap pada Vano yang sedang tiduran dengan kedua tangannya menjadi bantal.
"Pak,"
Vano yang sedang menatap langit langit kamarnya, sekarang beralih menatap pada Bita setelah memanggilnya. "Ya?"
"Aku ingin minta maaf pada Pak Vano."
"Untuk apa?"
"Karena selama menjadi istri Pak Vano, aku belum bisa menjadi istri yang baik," kata Bita yang menyadari betapa kurang ajarnya ia pada sang suami selama ini, tanpa berpikir jika Vano ternyata sangat baik padanya, terlepas dari sikap yang selalu ia tunjukkan.
"Lupakan saja yang sudah berlalu,"
"Tapi aku berjanji mulai saat ini aku akan menjadi istri yang baik untuk Pak Vano,"
Vano mengukir senyum mendengar apa yang Bita katakan, kemudian ia menarik tangan Bita hingga terjatuh tepat di dadanya.
Membuat Vano dengan segera memeluk istrinya tersebut. "Terima kasih, dan mulai sekarang. Aku juga akan menjadi suami yang baik untukmu," sambung Vano diakhiri mencium pucuk kepala dari Bita, dan semakin erat memeluknya, karena Bita tidak menolak pelukannya.
Yang ada ia menidurkan kepalanya di dada bidang Vano. Jujur bagi Bita, ia merasa nyaman berada di dalam pelukan sang suami.
Meskipun ia tahu, sebentar lagi sang suami akan memiliki istri lain.
Namun, Bita ingin menunjukkan pada Vano jika ia akan menjadi istri yang baik, sebelum sang suami resmi menikah dengan wanita lain.
"Bita,"
"Iya Pak,"
__ADS_1
"Bisakah kamu jangan memanggilku Pak? Panggil saja namaku atau yang lain, jangan lagi memanggil aku Pak, apa kamu bisa?"
"Entahlah Pak, aku sudah terbiasa memanggil Pak Vano,"
"Coba pelan pelan panggil aku nama saja,"
"Pa... pak—"
"Kok, Pak lagi." Vano memotong perkataan dari Bita. "Vano, V A N O," Vano menuntun Bita untuk memanggil namanya saja.
Namun, bukan mengikuti perkataan Vano, yang ada Bita terdiam.
Membuat Vano melonggarkan pelukannya. "Kenapa diam saja?"
"Aku rasa tidak sopan memanggil suami dengan panggilan nama," jawab Bita.
"Tidak masalah bagiku, dari pada kamu memanggil aku Pak. Kamu pikir aku bapak bapak, hah?"
"Bukannya Pak Vano memang sudah bapak bapak, umur Pak Vano kan, sudah kepala empat."
"Jangan ingatkan hal itu," Vano kembali mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin jauh dari Bita.
Dan keduanya tidak ada lagi yang bersuara, karena sedang larut dalam pikiran masing masing.
Bita berpikir apakah keputusan yang diambil saat ini tepat, untuk menjadi istri yang baik bagi Vano. Padahal ia tahu sang suami akan menikah lagi.
Dan Vano sedang berpikir, bagaimana caranya berita miring tentangnya tidak akan muncul lagi, tanpa menikahi Meysa. Karena Vano benar-benar ingin menjalani rumah tangga yang sesungguhnya dengan Bita, perempuan yang sudah sang ibu pilihkan untuknya.
Bita terpaksa melepas pelukan Vano, dan beranjak dari tempatnya.
Ketika mendengar pintu kamar di buka.
"Maaf," ucap Tan, yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kenapa tidak mengetuk pintu dulu!" kesal Vano dan beranjak dari tempatnya.
"Biasanya juga aku tidak–
"Itu biasanya!" sahut Vano memotong perkataan dari Tan. "Dan mulai saat ini juga, kalau kamu mau kesini ketuk pintu terlebih dahulu, paham!"
"Siap Bos."
"Pergilah!" perintah Vano pada Tan.
"Bos, di bawah ada Sinta,"
"Aku tidak ingin menemuinya, suruh dia pulang. Dan jangan sampai dia masuk ke dalam kamarku, paham!"
"Dia bersama dengan Meysa, Bos."
__ADS_1
Vano segera menautkan keningnya mendengar apa yang Tan katakan. "Baiklah, suruh mereka menunggu,"
"Baik Bos,"
Setelah Tan keluar dari dalam kamar, Vano turun dari tempat tidur, dan ingin melangkahkan kakinya.
Namun, ia urungkan. Dan langsung menoleh pada Bita yang masih duduk diatas kasur.
Dimana Bita sedang menatap kearahnya.
Membuat Vano kini duduk di pinggiran tempat tidur, dengan tatapan tertuju pada sang istri. "Aku—"
"Temui saja mereka," sambung Bita memotong perkataan Vano. "Agar masalah cepat selesai,"
Vano tidak menimpali ucapan dari Bita, yang ada ia meraih satu tangan sang istri, lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Aku akan segera kembali," ucapnya, lalu mencium punggung tangan Bita sebelum pergi meninggalkannya.
Bita menatap punggung tangan yang baru saja di cium oleh sang suami yang kini sudah keluar dari dalam kamar.
"Ya ampun, kenapa aku merasa tidak rela jika Pak Vano akan menikah lagi. Apa jangan-jangan aku sudah menyukainya?" tanya Bita sambil memegangi dadanya yang sedari terus berdebar debar ketika sang suami terus memeluknya.
Sedangkan itu di ruang tamu rumahnya, bukan hanya ada Sinta dan juga Meysa seperti apa yang Tan katakan.
Tapi ada kedua orang tua Meysa dan juga ada dua orang lain yang Vano tidak kenal.
Setelah menyapa semua yang ada di ruang tamu, Vano mengajak Sinta untuk menjauh dari ruang tamu.
Senyum terukir dari bibir Sinta setelah Vano mengajaknya ke samping rumah.
"Bagaimana Van, kamu sudah siap?" tanya Sinta.
Hal tersebut membuat Vano bingung. "Maksud kamu apa? Kenapa ada kedua orang tua Meysa, hah?"
"Tentu saja untuk menyaksikan pernikahan kalian,"
Tautan kening menghiasi wajah Vano, setelah mendengar apa yang managernya tersebut katakan. "Apa yang kamu katakan hah?"
"Hari ini kamu dan juga Meysa akan menikah, Van."
"Jangan bercanda!"
"Untuk apa, ibu kamu sudah merestui, begitu pun dengan istri kampung kamu itu,"
"Jaga bicaramu, Sinta! Bita istriku!"
"Wow, ada apa denganmu Van. Apa kamu memiliki rasa pada perempuan kampung itu?"
"Iya," jawab singkat Vano.
Membuat Sinta menahan tawa sambil menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli dengan perasaan kamu pada wanita kampung itu. Yang pasti, hari ini juga kamu harus menikah dengan Meysa, jika kamu tidak ingin di bawa polisi dan menjadi penghuni tetap di hotel prodeo, paham!"
__ADS_1
Bersambung..........