TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
TIDAK MUDAH


__ADS_3

Vano hanya diam mendengar apa yang Meysa katakan, karena benar apa yang dikatakan olehnya. Jika perempuan yang sedang di tatapnya sekarang adalah istrinya juga, terlepas pernikahan yang Vano jalani hanya sebuah timbal balik.


"Sayang, jika kamu mau, hari ini kita proses kepindahan ibu," kata Meysa.


Namun, kembali lagi Vano tidak menanggapi ucapan dari Meysa. Setelah melihat dokter yang menangani sang ibu berlari di ikuti beberapa perawat menuju ruang ICU dimana ibu Vivi berada.


Membuat Vano segera menahan tangan dokter tersebut yang baru ingin masuk ke dalam ruangan sang ibu. "Dok, ada apa?" tanya Vano penasaran.


"Hanya ingin memeriksa pasien," jawab dokter tersebut yang langsung masuk ke dalam ruangan.


Namun, Vano tidak percaya dengan ucapan dokter tersebut. Karena dokter tersebut seperti sedang terburu-buru memeriksa ibu Vivi.


"Sayang, ibu akan baik-baik saja." Meysa yang sudah mendekati sang suami, hanya bisa menenangkannya.


Tanpa peduli dengan kondisinya sendiri, karena Meysa baru saja mendapat beberapa suntikan di dalam tubuhnya. Karena baginya hanya sang suami yang menjadi prioritasnya tanpa peduli dengan kondisinya.


Sekarang Meysa meraih salah satu tangan Vano, dan menggenggamnya. Tanpa mendapat penolakan darinya.


Kemudian Vano menoleh pada pintu ruangan dimana sang ibu berada. "Pak Vano, dokter menyuruh anda untuk masuk," ucap perawat yang baru saja keluar dari dalam ruangan tersebut.


Terpaksa Meysa melepas genggaman tangan sang suami dan membiarkannya masuk ke dalam ruangan.


Mama Dewi yang berada tidak jauh dari sang putri langsung memeluk bahu Meysa. "Mey, kamu butuh istirahat, lebih baik kita pulang," ajak Mama Dewi yang paham benar dengan kondisi sang putri saat ini.


Senyum terukir dari kedua sudut bibir Meysa. "Lihatlah aku baik-baik saja Ma. Dan aku akan selalu berada di samping suamiku, disaat seperti ini," tolak Meysa.


"Mey, pikirkan kesehatan kamu dulu. Baru pikirkan yang lain." sambung papa Dewa.


"Pa, aku baik-baik saja percayalah padaku,"


Tan yang berada tidak jauh dari ketiganya hanya bisa menautkan keningnya mendengar pembicaraan keluarga baru dari sang Bos.


Sedangkan itu disisi lain, Bita yang ingin menyusul sang suami. Menghentikan langkahnya ketika melihat ada Meysa dan orang tuanya, tepat di depan ruangan ibu Vivi.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Bita, sebelum kembali melangkahkan kakinya. Dan coba untuk tidak berpikir negatif tentang madunya itu.


Karena bagiamana pun, pernikahan Vano dan juga Meysa terjadi karena restu darinya.


"Tan, dimana suamiku?" tanya Bita lebih memilih mendekati Tan ketimbang madunya.


"Dokter memanggilnya masuk ke dalam ruangan." jawab Tan sambil mengamati wajah Bita. "Kamu sedang sakit?" tanya Tan ketika melihat wajah Bita terlihat pucat.


"Tidak, hanya lemas saja. Kenapa memangnya?"

__ADS_1


"Kenapa wajah kamu pucat?"


"Mungkin karena telat makan, tapi sekarang aku tidak lemas lagi setelah makan," jawab Bita bohong, karena ia masih merasa lemas.


Tanpa ia sadari Meysa sudah berdiri tepat disampingnya. "Halo apa kabar?" tanya Meysa menyapa Bita.


Bita tersenyum. "Baik." jawabnya singkat.


"Benar apa yang dikatakan oleh Tan, wajah kamu terlihat pucat. Lebih baik kamu pulang dan beristirahat, biar aku yang tetap berada disini. Nanti setelah kamu lebih baik kita gantian," usul Meysa.


Sungguh sulit untuk Bita membedakan apakah Meysa menyuruhnya pulang agar madunya tersebut bisa dekat dengan sang suami. Atau memang Meysa peduli padanya. Bita benar-benar tidak bisa menebaknya.


"Aku akan tetap berada disamping suamiku." ujar Bita.


Dan Meysa hanya tersenyum mendengar ucapan yang kaluar dari bibir Bita.


"Ma, ada apa?" tanya Meysa ketika mama Dewi mendekatinya.


"Biarkan mama bicara dengannya," jawab mama Dewi sambil menunjuk pada Bita.


Tapi dengan segera Meysa menurunkan tangan sang mama yang masih menunjuk pada Bita. "Tidak sopan Ma,"


Mama Dewi menatap pada Bita. "Aku ingin bicara padamu,"


Karena Meysa yakin sang mama akan mengatakan hal yang tidak-tidak pada Bita.


Dan Meysa tidak mau itu, karena bagiamana pun. Ia merasa harus berterima kasih pada Bita karena sudah mengijinkan sang suami menikah dengannya.


Bita menautkan keningnya ketika mendengar teriakan dari sang suami.


Begitu pun dengan Meysa, membuat keduanya langsung mendekati pintu ruangan dimana ibu Vivi berada.


"IBU!!!!!!!!!" teriak Vano sekencang mungkin, dan tangis langsung pecah.


Ketika ia harus menyaksikan sang ibu yang sangat ia sayangi, kini telah meninggalkannya untuk selamanya.


"Ibu, jangan tinggalkan aku, Bu. Bangun Bu," suara pilu dari bibir Vano yang keluar di sela-sela tangisnya. Sambil memeluk jasad sang ibu, yang baru saja dinyatakan meninggalkan dunia oleh dokter.


Dimana dokter tersebut ikut menitikan air mata melihat kesedihan dari seorang putra yang kehilangan seorang ibu.


Bita dan juga Meysa berbarengan masuk ke dalam ruangan tersebut, setelah mendengar beberapa kali sang suami berteriak memanggil sang ibu, hingga suaranya terdengar sampai keluar ruangan.


Bita segera mendekati sang suami yang sedang menangis sambil memeluk ibu Vivi.

__ADS_1


Sedangkan Meysa menatap pada dokter yang masih berada di ruangan tersebut. "Dok, apa yang terjadi?" tanyanya.


"Ibu Vivi meninggal dunia,"


Tanpa mengatakan apa pun lagi setelah mendengar jawaban dari dokter, Meysa segera mendekati sang suami.


Dimana Vano tidak lagi memeluk jasad sang ibu, melainkan sedang memeluk Bita.


"Sayang, jangan menangis," kata Bita sambil memeluk tubuh sang suami, dimana Vano terus menangis di dalam pelukannya, tanpa Bita menyadari jika air matanya sudah meluncur bebas.


Kemudian Bita menghapus air matanya sendiri, karena jujur ia sangat bersedih mengetahui ibu mertuanya yang ia rawat selama ini harus pergi untuk selamanya.


"Ini yang terbaik untuk ibu, Sayang. Karena ibu tidak akan lagi merasakan sakit yang selama ini dirasakan," ucap Bita, untuk menenangkan sang suami kembali.


"Benar itu sayang," Meysa yang sudah mendekati sang suami kini mengelus bahunya. "Jangan membuat ibu bersedih, melihat kamu seperti ini sayang," Meysa juga menenangkan Vano. "Ikhlas kan ibu, biarkan dia pergi dengan tenang,"


Vano melepas pelukannya, dan perlahan menghentikan tangisnya mendengar nasihat dari kedua istrinya. "Terima kasih," kata yang Vano ucapkan untuk kedua istrinya.


*


*


*


Tidak mudah untuk Vano menghilangkan kesedihan ditinggal sang ibu untuk selamanya. Dan rasa bersalah terus menyelimuti hatinya setelah kepulangan dari pemakaman.


Ketika Vano mengingat betapa kecewanya sang ibu kemarin, setelah mengetahui masa lalunya. Dan Vano berpikir jika sang ibu meninggal karena dirinya.


"Sekali lagi maafkan aku, Bu." bulir air mata meluncur bebas membasahi pipi Vano yang sedang berada di kamar sang ibu.


"Sebesar apa pun kesalahan seorang anak. Seorang ibu akan memaafkannya," ucap Meysa mendekati Vano. "Sekarang bagaimana caranya kamu benar-benar menjadi orang baik. Dan buktikan itu pada ibu, sayang. Agar ibu bangga melihat kamu dari sana," Meysa kini duduk tepat disamping Vano.


Namun, tidak di hiraukan oleh Vano. Yang tetap menangis.


Membuat Meysa segera menghapus air mata sang suami, dan membawa ke dalam pelukan tanpa penolakan dari Vano.


Bita yang baru kembali sambil membawa segelas air putih untuk sang suami, setelah tadi menemaninya.


Melihat sang suami di peluk oleh Meysa tanpa penolakan, membuat hatinya terasa di tusuk oleh duri, sakit.


Bersambung....................


Silakan kalian mau tim mana? Bita atau Meysa. Sebelum aku bikin Vano beristri tiga wkwkwkwk

__ADS_1


__ADS_2