TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
PSIKOPAT DADAKAN


__ADS_3

Melihat kedatangan Bita tiba-tiba, membuat Rian selaku mantan calon suami dari Bita dan juga Dewi, sahabat Bita yang sudah beteman dari keduanya masih berseragam putih abu-abu.


Kini keduanya segera menghentikan aktifitas panas, yang sedang keduanya lakukan belum lama.


Kemudian Rian maupun Dewi sama-sama mengenakan pakaian masing-masing, sambil menatap pada Bita yang masih berdiri di depan pintu kamar kos yang baru saja ia buka.


"Biadab! Anjeng! Bebong kalian!" Bita terus mengumpat.


Hanya itu yang bisa Bita katakan saat ini, ketika melihat dua orang yang selalu ia cintai dan juga sayangi, malah melakukan perbuatan yang tidak pernah Bita sangka-sangka selama ini.


Namun, pemandangan yang baru saja Bita lihat bukan membuatnya sakit hati, tapi lebih ke marah dengan kelakuan keduanya.


Karena sakit hati Bita sudah habis saat di hari pernikahannya, ia ditinggal kabur oleh Rian, pria yang sangat ia percaya, sehingga ia rela memberikan apa pun yang Bita punya. Tapi akhirnya ia harus menelan pil pahit atas semua yang sudah ia berikan padanya, dari tubuhnya dan juga materi yang ia dapatkan dengan bekerja sebagi perawat.


Bita kini berjalan menghampiri keduanya. Tentu sambil mengabsen semua binatang yang ada di kebun binatang.


"Bita, aku bisa menjelaskan semua ini padamu," Dewi berjalan menghampiri Bita, dan meraih tangannya, tapi dengan segera Bita menampik tangan Dewi, salah satu sahabatnya yang pendiam, tapi kelakuan sudah seperti setan.


"Sejak kapan kamu melakukan ini dengan Rian si batang kecil?" tanya Bita sambil menatap sahabatnya tersebut dengan tatapan benci.


Mendengar pertanyaan Bita untuk Dewi, membuat Rian tersinggung dengan kosa kata batang kecil yang diucapkannya.


"Kamu bilang batangku, kecil?" tanya Rian yang sudah mendekati Bita.


"Itu kenyataannya, batangmu memang kecil!"


"Kecil juga bisa membuat kamu mendesaah, ingat itu!"


"Dan aku menyesal, telah mendesaah bersamamu!" sahut Bita, dengan tatapan jijik menatap pada Rian, pria yang sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Plak! Plak!


Tamparan mendarat dikedua pipi Rian yang Bita layangkan untuknya, atas sakit hati yang pernah dirasakannya. Jika di sekitar ada sebuah pisau, mungkin Bita sudah menggunakan pisau tersebut untuk menusuk Rian, agar Bita puas, melampiaskan sakit hati dan juga kekecewaannya pada pria yang pernah sepenuh hati Bita cintai, hingga cintanya menjadi buta.


"Apa yang kamu la—" Rian tidak jadi meneruskan ucapannya, karena ia sekarang mendapatkan tendangan tiba-tiba dari Bita dengan kencang tepat di perutnya, hingga tubuh Rian tersungkur diatas lantai.


"Itu belum seberapa, ingin rasanya aku membunuhmu sekarang juga! Anjeng!" teriak Bita dan ingin menginjak Rian.


Tapi tubuhnya ditahan oleh Dewi. "Ta, hentikan. Jangan sakiti Rian. Dia memang salah karena sudah meninggalkan kamu di hari pernikahan kalian,"

__ADS_1


Sekarang Bita menatap pada Dewi sambil memicingkan matanya. "Sejak kapan kamu memiliki hubungan dengan dia, hah?" tanya Bita seperti pertanyaan awalnya yang belum Dewi jawab, sambil menunjuk Rian yang kini sudah beranjak dari tempatnya.


"Maafkan aku Ta,"


"Jawab! Bebong!" kesal Bita.


"Satu tahun,"


Jawaban Dewi membuat Bita langsung menggelengkan kepalanya, sambil menunjukkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.


Dan Bita merasa menjadi wanita yang paling bodoh setelah mendengar jawaban dari sang sahabat. Satu tahun lalu, artinya saat ia dan juga Rian masih menjalani hubungan. Dan bisa bisanya Bita tidak menyadari hal terserah.


"Maafkan aku, Ta. Aku mencintai Rian."


"Tega kamu padaku, Wi." kata Bita yang mulai membendung air mata di kedua pelupuk matanya.


Ternyata salah satu sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri, tega mengkhianatinya.


"Sekali lagi maafkan aku, Ta. Aku khilaf, dan aku mohon restui hubungan aku dan juga Rian,"


"Anjeng dan juga bebong, memang pantas bersatu. Karena sama-sama najis! Seperti kalian! Jadi aku akan merestui kalian, semoga kalian tidak tersesat." hanya itu ucapan yang bisa Bita ucapannya, saat hatinya kembali hancur, bukan lagi karena Rian, tapi karena Dewi sang sahabat yang telah mengkhianatinya selama ini.


Namun, belum juga keluar dari dalam kamar tersebut membuat Bita kini menghentikan langkah kakinya, ketika Rian memanggil namanya.


"Jika pakaian kamu selalu seperti itu, tidak ada satu pun pria yang akan tertarik padamu," kata Rian yang sudah lama mengkritik pakian Bita yang selalu mengenakan celana panjang dan juga baju tertutup. "Dan contoh lah pakaian yang selalu Dewi kenakan, yang tidak bosan untuk di lihat," kata Rian lagi, karena pakaian Dewi selalu terbuka, yang membuatnya tertarik pada Dewi.


Bita memutar tubuhnya untuk menatap pada Rian, lalu menyunggingkan senyum padanya. "Oke aku akan melakukannya, tapi setelah itu. Seleraku bukan kamu lagi!" sahut Bita dan memutar tubuhnya kembali untuk segera meninggalkan kamar tersebut.


Setelah kepergian Bita, Rian segera menutup pintu kamar kost tersebut. Lalu tersenyum pada Dewi tanpa ada rasa sesal atau rasa bersalah pada Bita. "Wi, yuk kita lanjutkan lagi,"


"Aku tidak mood lagi,"


"Ya elah, kamu tinggal tidur saja, apa susahnya," ujar Rian yang langsung mendorong tubuh Dewi hingga terjatuh diatas kasur.


*


*


*

__ADS_1


Tidak ada hentinya selama perjalanan meninggalkan tempat kos Dewi, Bita terus mengumpat atas perbuatan sahabat dan mantan calon suaminya itu.


Dan tujuan Bita saat ini untuk mengungkapkan kekesalannya adalah pergi ke sebuah kafe, untuk menemui seseorang.


Setelah berada di kafe yang sebentar lagi akan tutup karena sekarang sudah hampir jam sebelas malam.


Bita langsung menghampiri seorang perempuan tomboi yang sedang membersihkan sebuah meja.


"Put, aku mau curhat," ucap Bita sambil menarik kursi dimana perempuan tomboi tersebut sedang membersihkan meja.


"Ampun! Kau Ta. Mengagetkan saja!" sahut Putri, sahabat Bita yang lain. "Dan ya, kenapa wajahmu di tekuk begitu, jelek amat."


"Aku kesal sama Dewi,"


"Aku sudah lebih dulu kesal dengannya," sahut Putri sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Ternyata Dewi dan juga Rian, mereka—" Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, bingung mau menceritakan dari mana.


Putri menghentikan aktifitasnya, lalu melempar lap yang ada di tangannya pada Bita.


"Bodoh! Aku sudah mengatakan padamu sejak lama, Rian dan Dewi itu memiliki hubungan, tapi kamunya tidak percaya! Malah menyalahkan aku, karena menuduh yang tidak-tidak!"


"Maafkan aku Put,"


"Lupakan saja hal itu,"


"Put,"


"Apa lagi?"


"Aku mau ikut denganmu, ke tempat itu, untuk menghilangkan kekesalanku pada Anjeng dan bebong itu,"


"Yakin? Kamu ini tidak pernah kesana loh,"


"Yakin,"


"Ya sudah, tunggu. Kebetulan geng motorku sedang mengadakan acara di tempat karaoke itu,"


Bersambung....................

__ADS_1


__ADS_2