TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
PRIORITASKU


__ADS_3

Vano mendudukkan bokongnya di kursi tidak jauh darinya, dan menatap pada Sinta yang terus memaksanya menikah hari ini juga dengan Meysa. "Apa kamu tidak memiliki cara lain agar aku tidak di kaitan dengan berita itu lagi,"


"Ya ampun!" keluh Sinta dan duduk di kursi yang berada di samping Vano. "Kamu tahu sendiri, selama ini aku yang selalu mencari cara untuk kamu tidak lagi di kaitkan dengan berita itu, tapi aku selalu gagal. Akhirnya Meysa juga yang selalu membantu kamu, kamu tahu itu kan?"


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Vano, karena benar apa yang Sinta katakan.


"Menikahlah dengan Meysa, Van. Ini semua demi kamu sendiri. Apa kamu ingin menyusul Lucas yang sebentar lagi akan di eksekusi mati hah?"


"Sinta, kamu tahu aku sudah berhenti."


"Ya aku tahu, tapi mereka yang tidak menyukai kamu akan terus mengangkat berita ini, paham!" jelas Sinta.


Dimana Sinta tahu, jika Vano pernah menjadi salah satu mafia obat terlarang kelas kakap. Sebelum akhirnya Vano mengakhiri pekerjaan haram tersebut.


Namun, ketika Vano mengakhiri pekerjaan tersebut, berita tentang Vano yang menjadi mafia obat terlarang santer diberitakan, dan berita tersebut di olah oleh rekannya yang masih menjalani bisnis haram tersebut, yang tidak menyukai Vano dan ingin menjadikannya kambing hitam.


"Dan dengan kamu menikahi Meysa, kamu akan aman untuk selamanya. Karena tidak ada satu hukum pun yang bisa menyentuh keluarga Dewangga," ucap Sinta menyebut nama papa dari Meysa, petinggi negara yang sangat disegani.


Vano hanya diam mendengar perkataan dari Sinta.


"Van, jangan egois. Pikirkan ibu kamu, jika dia tahu siapa kamu dulu, pasti dia bersedih. Apa lagi sampai kamu harus masuk jeruji besi,"


"Sinta, aku sedang memikirkan istriku,"


"Ya ampun, dia saja tidak masalah jika kamu menikah lagi, untuk apa kamu pikirkan Van,"


"Tapi aku menyukai istriku,"


"Tidak ada hubungannya dengan kamu menikahi Meysa, kamu cukup menikahinya. Urusan kamu mau menyukai atau tidak itu terserah padamu. Yang penting kamu aman,"


Sebagai manager yang baik, hanya cara ini yang bisa menyelamatkan Vano dari permainan hukum yang sengaja di buat oleh orang-orang yang tidak menyukainya.


"Apakah harus hari ini juga aku menikahi Meysa?"


"Lebih baik, lebih cepat." kini Sinta beranjak dari duduknya. "Aku tunggu di luar,"

__ADS_1


Setelah kepergian Sinta, tidak berselang lama Bita yang sedari tadi menguping pembicaraan keduanya. Kini berjalan mendekati sang suami.


"Pak Vano,"


Suara Bita membuat Vano langsung menoleh pada sang istri yang sudah berdiri di sampingnya.


"Jika itu yang terbaik, menikahlah dengan wanita itu. Aku tidak ingin melihat suamiku mendekam di dalam penjara, karena kebodohannya," ujar Bita.


Dan benar kecurigaan yang pernah Bita pikirkan jika sang suami menjadi pengedar obat terlarang. Setelah ia mendengar pembicaraan Vano dan juga Sinta.


Vano beranjak dari duduknya dengan tatapan terus tertuju pada sang istri. "Sejak kapan kamu ada disini?" tanya Vano, takut sang istri mendengar pembicaraannya dengan sang manager.


"Kenapa Pak Vano tidak jujur padaku saat itu, jika Pak Vano–


Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Vano sudah menempelkan jari telunjuk tepat di bibirnya.


"Untuk apa aku mengatakan hal yang sudah aku tinggalkan. Dan aku mohon, jangan pernah mengatakan pada ibu tentang hal ini. Aku bersumpah padamu aku sudah meninggalkan pekerjaan aku itu," ujar Vano, yakin sang istri akan menanyakan keterlibatannya dengan obat terlarang.


Vano kini meraih kedua tangan Bita lalu menggenggamnya dengan sangat erat. "Maafkan aku, jika harus menikah lagi. Aku berjanji padamu, hanya kamu yang menjadi prioritasku," Vano mengecup kening Bita sebelum pergi meninggalkannya.


Tapi setelahnya Bita menghapus air matanya, menurutnya inilah keputusan terbaik untuk mengikhlaskan sang suami menikah lagi.


Karena Bita masih bisa melihat dan dekat dengan Vano. Berbeda jika Vano suatu saat masuk penjara, yang pasti akan membuatnya sulit untuk menemui sang suami.


Ibu Vivi menyaksikan pernikahan siri sang putra dengan Meysa, sebelum ia sempat menghubungi Hazel dan juga Zain sahabat sang putra untuk meminta bantuan.


Satu tangan ibu Vivi yang sudah renta terus menggenggam tangan Bita, yang duduk di sampingnya menyaksikan pernikahan sang suami dengan wanita lain.


Tidak ada acara lain selain pernikahan siri tersebut, yang hanya menjadi hari bahagia untuk Meysa, karena pria yang selama ini ia sukai sekarang sudah menjadi suaminya.


Papa Dewa yang ingin pulang setelah menyaksikan pernikahan sang putri yang sangat disayanginya. Kini menghampiri dimana Vano berada.


"Aku tahu siapa kamu, jika bukan karena putriku yang sangat mencintai kamu. Aku tidak akan pernah menikahkan dia dengan kamu. Dan ya, jaga baik-baik putri, dan jangan membuatnya bersedih, paham!" seru papa Dewa lalu meninggalkan Vano, sebelum mendapat tanggapan darinya.


Bagaikan pelangi yang muncul setelah hujan, setelah papa Dewa yang menghampiri Vano, kini mama Dewi yang datang mendekati pria yang sudah berstatus sebagai menantunya.

__ADS_1


Senyum terukir dari kedua sudut bibir mama Dewi pada Vano, suami siri dari sang putri.


"Mama pulang dulu ya Van. Jaga Meysa baik-baik, mama percaya padamu," ucapnya kemudian menyusul sang suami yang sudah memanggilnya untuk cepat pulang.


*


*


*


Tentu saja Vano langsung membawa Meysa menuju apartemennya, enggan untuknya tinggal di rumah papa Dewa sesuai keinginannya.


Dan tidak mungkin ia akan membiarkan Meysa tinggal serumah dengan Bita.


Untuk menghargai perasaan Bita yang sudah mulai mengisi hatinya.


Meysa masuk ke dalam kamar dimana Vano berada, setelah tadi sang suami bilang tidak ingin di ganggu dan ingin beristirahat.


Senyum terukir dari kedua sudut bibir Meysa ketika melihat Vano sedang duduk diatas kasur sambil bermain ponsel.


Senyum yang tidak pernah pudar dari bibir Meysa, karena akhirnya ia bisa menikah dengan Vano, pria yang selama ini ia kagumi dan juga cintai, tidak peduli dengan sang papa yang tidak menyukainya, dan juga tidak peduli jika ia hanya menjadi istri keduanya.


"Sayang, makan siang sudah siap. Ayo kita makan bersama," ajak Meysa, yang kini sudah duduk di pinggiran tempat tidur dimana Vano berada.


"Aku tidak lapar!" sahut Vano dengan ketus.


"Tapi ini sudah siang sayang, dan aku lihat kamu belum makan apa pun, makan ya. Aku tidak ingin suamiku sakit, karena telat makan," bujuk Meysa.


Namun, hanya mendapat tatapan dari Vano.


Meysa beranjak dari duduknya. "Tunggu sebentar sayang," kemudian ia bergegas keluar dari dalam kamar.


Tak berselang lama, Meysa kembali ke dalam kamar dengan membawa nampan berisi makan siang untuk sang suami. "Sayang, kamu harus makan, dan aku akan menyuapi kamu,"


Bersambung...................

__ADS_1


Jangan ada yang protes lagi, karena Vano sudah menikah lagi. Dengan wanita yang menghargai suaminya, tidak seperti Bita yang kata kalian tidak pernah menghargai suami. Semoga kalian puas! UDAH BEGITU AJA! 😂🤣


__ADS_2