
Vano benar-benar di buat kesal oleh Bita, setelah tadi melihatnya keluar dari dalam karaoke dalam keadaan mabuk.
Sebenarnya awalnya Vano yang baru saja akan masuk ke tempat karaoke, setelah kepulangannya dari luar kota, karena gosip mengenai dirinya tidak terbukti dan sudah bisa diatasi.
Enggan untuk menolong Bita yang sedang mabuk, tapi hatinya tergerak untuk menolong perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu.
Tapi sekarang Vano benar-benar menyesal sudah menolong Bita, ketika mobil yang Tan sang asisten kendarai, sudah berhenti di tempat parkir rumah mewahnya.
Dan saat bersamaan Bita muntah dan mengenai tubuh dan pakaiannya.
"Sialan!" kesal Vano sambil menatap pada Bita yang sepanjang perjalanan terus berbicara tidak jelas.
"Pak, Vano. Kenapa ganteng banget sih?" tanya Bita, yang masih bicara melantur. "Pak Vano, mau tidak jadi pacarku?"
"Menjijikkan!" sahut Vano, dan bergegas keluar dari dalam mobil. Ingin segera membersihkan diri, karena muntahan Bita yang mengenai pakaiannya. "Tan, bantu dia!" perintah Vano pada asistennya tersebut.
"Siap Bos!"
"Pacarku, pacarku! Tidak sudi, aku pacaran dengan perempuan seperti kamu! Menjijikkan!" gerutu Vano dan terus melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Meninggalkan Tan, yang bingung harus memapah tubuh Bita atau menggendongnya.
Dengan susah payah akhirnya Tan memapah tubuh Bita menuju kamar Vano sang atasan.
Dan setelah merebahkan tubuhnya diatas kasur, Tan ingin membuka baju yang Bita kenakan, dimana bajunya terkena muntahan.
Vano yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamarnya setelah membersihkan diri.
Segera menautkan keningnya melihat Tan sang asisten berada diatas kasurnya bersama dengan Bita, dan entah sedang apa. Karena Tan membelakanginya.
"Tan, apa yang kamu lakukan?" tanya Vano penasaran.
"Eh, Bos. Ini, aku mau melepas pakaian istri Bos yang terkena muntahan," jawab Tan yang sudah menoleh kearah Vano, dimana ia berjalan mendekati tempat tidur, dengan jubah mandi berwarna navy yang melekat di tubuhnya.
"Istri, istri! Jangan katakan hal itu,"
"Loh, apa aku salah? Tidak kan, Bos. Memang perempuan ini istri Bos,"
"Hanya status. Dan kamu minggir!" perintah Vano, dengan tatapan tertuju pada Bita yang sudah memejamkan matanya, tapi mulut terus berbicara ngelantur.
"Terus, pakaian dia bagaimana Bos?"
"Biar aku saja yang melepasnya,"
__ADS_1
Tan mengukir senyum mendengar jawab Vano.
"Aku bilang minggir! Kenapa masih saja disitu, dan senyum-senyum sendiri? Apa ada yang lucu?" tanya Vano sedikit kesal pada asistennya tersebut.
Namun, Tan tidak menjawab pertanyaan dari Vano. Yang ada ia langsung turun dari atas tempat tidur. "Selamat bersenang-senang Bos, aku tahu selama di luar kota pedang bos tidak pernah diasah. Dan ini saatnya mengasah padang Bos," kata Tan, tak lupa mengukir senyum.
"Cih, melihat saja sudah tidak selera!" sahut Vano.
"Eleh, tidak selera. Awas nanti ketagihan baru tahu rasa,"
"Mustahil! Keluar dan panggil Mbak untuk datang ke kamarku!"
"Mau main sama Mbak, Bos?"
"Tan!"
"Iya Bos, aku akan segera memanggil Mbak," Tan pun bergegas keluar dari dalam kamar sang Bos, untuk memanggil Mbak, asisten rumah tangga di rumah tersebut, mengikuti perintah Vano.
Setelah salah satu asisten rumah tangganya masuk ke dalam kamar.
Vano segera menyuruhnya untuk melepas pakaian Bita yang terkena muntahan, dan menggantinya dengan pakian baru.
Enggan untuk Vano melepas sendiri pakaian sang istri yang terkena muntahan.
"Sudah, Pak," ucap Tini setelah selesai mengganti pakaian Bita.
Vano yang sedang duduk di sofa tidak jauh dari tempat tidur, hanya menganggukkan kepala untuk menanggapi ucapan dari Tini.
"Ada yang bisa aku bantu lagi, Pak?"
"Jangan katakan pada ibu, jika Bita mabuk."
"Baik Pak,"
"Sekarang keluarlah!"
Tini pun segera keluar dari dalam kamar Vano setelah mendengar perintahnya.
Tentu saja karena jam sudah menunjukkan jam satu dini hari, Vano segera beranjak dari duduknya dan ingin segera tidur. Karena besok ia sudah kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa.
Namun, sesampainya di tempat tidur. Vano langsung menautkan keningnya, ketika melihat Bita.
"Sialan! Apa dia sedang menggodaku!" gerutu Vano, saat kedua bola matanya tertuju pada kedua paha Bita hingga pangkalnya, sampai-sampai celana segitiga warna merah yang Bita kenakan terpampang nyata di hadapannya. Karena Bita hanya mengenakan daster.
__ADS_1
Tapi bukannya, memalingkan wajahnya, yang ada Vano terus menatap kedua paha Bita yang putih mulus tanpa ada noda, tentu saja ia tidak akan menyia nyiakan pemandangan indah tersebut.
"Sialan!" gerutu Vano, ketika hasrat cassanovanya meronta melihat pemandangan menggugah selera di depan matanya.
Apa lagi selama satu bulan lebih di luar kota, ia tidak pernah mengasah pedangnya itu.
Membuat senjatanya perlahan kini mulai berdiri, hanya karena melihat kedua paha mulus, dimana Bita sudah terlelap, dan baru ini jiwa cassanova pada diri Vano memberontak hanya karena karena melihat kedua paha Bita.
"Tidak! Dia bukan seleramu!" ucapan dan tindakan dari Vano tidak singkron, karena ia kini naik keatas tempat tidur, dan langsung mengelus kedua paha Bita bergantian. "Masa bodo, dia sudah membuat aku seperti ini," kata Vano melupakan ucapannya tadi pada sang asisten jika Bita bukan seleranya.
Setelah puas mengelus kedua paha Bita sampai ke pangkal, Vano kini menciumnya.
"Sial, kenapa aromanya sangat nikmat," kata Vano dan terus mencium kedua paha Bita, hingga kepangkal.
Membuat pemilik kedua paha tersebut, merasa geli. Membuat Bita yang tadi tidur terlentang, kini memiringkan tubuhnya.
"Sial, kenapa seindah ini," ujar Vano ketika melihat bokoong Bita yang bulat sempurna.
Plak!
Vano yang gemas dengan segera menabok bokoong Bita.
Membuat tidur Bita terusik, dan membuka satu bola matanya. "Eh pak Vano, ada apa?" tanya Bita dengan kantuk dan pusing efek dari minuman beralkhohol yang tadi ia minum.
Lalu Bita kembali terlentang, membuat Vano langsung mengungkung tubuhnya.
"Pak, apa yang Pak Vano lakukan?" tanya Bita tanpa memberontak.
Tentu saja ia tidak memberontak, mengendalikan tubuhnya saja tidak bisa, apa lagi sampai memberontak.
Namun, tidak mendapat tanggapan dari Vano, yang ada ia langsung mencium bibir Bita, dan kedua tangannya langsung memegang kedua gunung kembar sang istri yang pas di genggamannya.
"Emmmm," desaahan tertahan dari Bita.
Membuat hasrat di tubuh Vano semakin meningkat, dan sekarang ia melepas satu tangannya dari gunung kembar Bita, lalu beralih mengelus perut bawah sang sang istri.
Bukan hanya mengelusnya, tapi sekarang tangan Vano, dimasukkan ke dalam celana segitiga yang Bita kenakan, dan memainkan rawa-rawa di bawah sana.
Kemudian Vano melepas tautan bibirnya, ingin mendengar desaahan yang tertahan dari bibir Bita.
"Emmm ahhh— uwek!" setelah mendesah setengah sadar, Bita kembali muntah. Dan kali ini mengenai wajah Vano.
"SIALAN!!!!!!!"
__ADS_1
Bersambung....................