TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
TERNODA


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi Bita belum juga sampai rumah.


Hal tersebut membuat Vano begitu kuatir, dan terus mengumpat karena ponsel Bita tidak bisa dihubungi.


"Bodoh! Ke mana kau!" kesal Vano setelah sekian kali menghubungi Bita, tapi ponselnya belum bisa dihubungi.


Vano yang sedari tadi terus mondar mandir di lantai ruang tamu, setelah kepulangannya dari makan malam lebih cepat.


Kini menghentikan langkahnya, kemudian menghentikan langkah kaki Tan sang asisten yang akan pergi kearah pintu, dimana bel pintu rumah berbunyi.


Dan Vano yakin, yang datang adalah Bita sang istri, yang malam ini benar-benar membuatnya tidak bisa tenang, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Bita pergi meninggalkan acara makan malam dengan pria lain.


"Pasti itu si bodoh! Biar aku saja yang membuka pintu," ujar Vano yang langsung melangkahkan kakinya menuju arah pintu.


"Bodoh? Bodoh juga sudah membuat anda kuatir Bos! Hingga anda harus meninggalkan acara makan malam sebelum acara itu selesai. Awas nanti bucin!" cibir Tan, mengingat lagi. Sang Bos meninggalkan acara makan malam sebelumnya acaranya selesai hanya karena Bita.


Tentu saja Vano tidak mendengar apa yang asistennya katakan, karena Tan berbicara sambil melangkahkan kakinya menuju kamar dimana ia tidur ketika menginap di rumah sang Bos.


Dan benar saja, setelah Vano membuka pintu rumah. Ia melihat Bita berdiri tepat di depan pintu.


Hal itu membuat Vano sedikit lega, karena perempuan yang sedari tadi ia kuatirkan sudah pulang.


Vano kini menautkan keningnya melihat wajah Bita yang murung, berbeda seratus delapan puluh derajat ketika akan pergi.


Tentu saja melihat wajah sang istri, membuat Vano perpikir negatif. Jika telah terjadi sesuatu dengan istrinya tersebut.


"Dasar bodoh! Kamu tidak belajar dari pengalaman, hah?! Dengan gampangnya mau diajak pergi pria yang baru kamu kenal. Apa yang sudah dia lalukan padamu hah?!"


Namun, bukannya menjawab pertanyaan dari Vano. Yang ada Bita menyingkirkan tubuh Vano untuk menjauh dari hadapannya, dan ia langsung masuk ke dalam rumah.


"Hei, jawab!"


"Diam, aku ingin beristirahat!" sahut Bita dan terus melangkahkan kakinya menuju kamar.


Tentu saja bukan kamar yang dulu ia tempati di rumah belakang, bukan juga melangkah menuju kamar ibu Vivi.


Tapi Bita melangkahkan kakinya menuju kamar Vano, yang tidak di pungkiri juga kamarnya.

__ADS_1


Tautan kening menghiasi wajah Vano, melihat sang istri menuju kamarnya. Membuatnya segera menutup pintu dan berjalan mengikuti Bita.


"Apa yang terjadi padamu?" tanya Vano ketika sudah berada di dalam kamar. Dan Bita akan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaian.


Namun, pertanyaannya tidak sama sekali di jawab oleh Bita, dan hanya menatap pada Vano sebelum ia benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.


Kedua mata Vano terus mengikuti langkah Bita yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.


"Kamu belum—


"Jangan tanyakan apa pun yang ingin Pak Vano tanyakan, aku ingin tidur!" sahut Bita memotong perkataan dari Vano. Lalu ia naik keatas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya tidak jauh dari Vano yang juga berada di atas kasur.


Vano benar-benar bingung dengan Bita yang tidak seperti biasanya, akan selalu menimpali apa pun yang diucapkannya.


"Apa pria itu melakukan sesuatu padamu?" tanya Vano yang benar-benar sangat penasaran.


Dan lagi, Bita tidak ingin menjawab apa pun yang ditanyakan oleh Vano.


"Bita, aku se–


"Berisik!" Sahut Bita yang langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.


Hal tersebut membuat bita kesal dan menatap pada Vano dengan tatapan tajam. "Aku bilang! Jangan ganggu! Apa Pak Vano tidak dengar? Hah?!"


Kemudian Bita menarik selimutnya lagi, tapi belum juga menutupi tubuhnya kembali. Vano sudah terlebih dahulu menahan selimut tersebut.


Hal tersebut membuat Bita kini beranjak dari kasur dan turun dari tempat tidur, dengan tatapan terus tertuju pada Vano. "Dasar menyebalkan!"


"Kamu yang menyebalkan! Tidak tahu apa, karena kamu. Aku harus meninggikan acara makan malam yang penting itu, dan karena kamu juga. Aku begitu kuatir, kamu tahu itu karena apa? Karena aku tidak bisa menghubungi ponselmu. Dan sekarang, aku bertanya padamu, kamu kenapa jadi murung? Malah kamu acuhkan. Jadi kamu yang menyebalkan, bukan aku, bodoh!"


Bita menghentikan langkah kakinya ketika ingin menuju sofa yang ada di kamar tersebut, setelah mendengar apa yang Vano katakan.


Kemudian ia membalik tubuhnya untuk menatap pada sang suami. "Pak Vano kuatir padaku?" tanya Bita untuk menyimpulkan ucapan panjang lebar yang baru saja suaminya tersebut katakan.


"Ya, tapi sekarang tidak! Ya ada aku kesal padamu, paham!"


"Ya sudah!" sahut Bita yang kembali membalik tubuhnya, lalu melangkahkan kakinya kembali menuju sofa yang ada di kamar tersebut.

__ADS_1


Sebenarnya Bita tidak mengantuk, tapi ia ingin istirahat. Untuk melupakan apa yang sudah terjadi malam ini.


Dimana Bita begitu kecewa bukan pada siapa pun, tapi pada dirinya sendiri. Karena ia sudah berharap lebih pada Bill, jika dia menyukainya seperti dirinya menyukai Bill.


Tapi yang ada Bita mendapati kebenaran yang mengejutkannya, ternyata Bill sudah lama mencintai Putri sahabatnya.


Dah hal tersebut membuat Bita memutuskan untuk tidak lagi menyukai Bill, dan mengubur perasaannya dalam-dalam, meskipun perasaanya belum tumbuh.


Bita terpaksa menghentikan langkah kakinya kembali, dan mendengus kesal, ketika Vano memanggilnya. "Ya ampun, apa lagi sih, Pak Vano!"


"Jawab pertanyaan aku, kenapa kamu terlihat murung, hah? Apa pria itu melakukan sesuatu padamu?"


"Tidak, hanya saja aku terlalu percaya diri." jawab Bita dan melangkahkan kakinya menuju sofa, lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa tersebut.


Meninggalkan Vano yang terlihat bingung dengan jawaban dari Bita.


Pagi harinya, Bita menjalani aktifitasnya seperti biasa mengurus segala keperluan ibu Vivi. Meskipun ibu Vivi sudah bisa melakukan sendiri, tapi Bita ingin selalu menemaninya. Bentuk baktinya pada ibu mertuanya tersebut, yang selama ini sangat baik padanya.


Hingga Bita merasa memiliki sosok ibu yang sangat menyayanginya. Sosok ibu yang tidak pernah Bita rasakan sejak lama.


Setelah kegiatan paginya selesai, Bita memutuskan untuk pergi membangunkan Vano untuk ikut sarapan dengannya dan juga ibu mertuanya.


Namun, baru saja masuk ke dalam kamar. Bita tidak mendapati sang suami berada diatas kasur.


Padahal, tadi sebelum ia keluar dari dalam kamar. Bita masih melihat suaminya tersebut tertidur pulas diatas kasur.


"Pak, Pak Vano!" panggil Bita.


"Apa?"


Mendengar suara dari sang suami, membuat Bita segera membalik tubuhnya untuk menatap Vano yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Dan kedua mata Bita langsung mendapat pemandangan indah, dada sang suami yang memiliki otot-otot terbentuk sempurna.


Namun, kemudian Bita membalik tubuhnya ketika menyadari sang suami tidak mengenakan handuk untuk menutupi batangnya di bawah sana.


"Ya ampun! Pagi-pagi mataku sudah ternoda," ucap Bita. Kemudian menoleh, saat menyadari ada yang memegang lengannya. "Pak, Vano! Jangan!"

__ADS_1


Bersambung.................


__ADS_2