TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
SEPASANG CINCIN


__ADS_3

Setelah kepulangan Hazel dan juga Zain, yang ingin kembali ke kota setelah beberapa hari menginap di villa pribadinya, yang letaknya tidak terlalu jauh dari villa milik Vano.


Terlebih dahulu Bita membersihkan dan mencuci peralatan makan yang kotor.


Sebelum ia menemui sang suami untuk mengiyakan tawarannya.


Tentu saja Bita sambil mengingat ucapan dari Hazel sahabat sang suami, yang menyatakan jika Vano sudah berubah sejak lama.


Percaya? Entahlah, untuk saat ini Bita belum yakin seratus persen dengan pernyataan Hazel mengenai Vano, meskipun selama menikah dengannya. Bita tidak pernah sama sekali melihat sang suami bersama dan bermesraan dengan wanita lain.


Yang ada Vano sangat baik padanya, dengan menikahinya saat di tinggal kabur oleh mantan calon suaminya.


Dan memberikan nafkah lahir yang lebih dari cukup, dan Bita menyesal selama ini belum mengatakan ucapan terima kasih pada Vano untuk semuanya.


Yang ada Bita terus memaki pria yang berstatus sebagai suaminya itu. Padahal Bita sadar, ia juga bukan perempuan yang baik.


Tentu saja buka perempuan baik. Mana ada perempuan baik hamil di luar nikah.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Bita, mengingat betapa tidak tahu dirinya ia selama ini.


"Kenapa aku baru berpikir sekarang ya, bagiamana pun Pak Vano. Tapi dia sudah membantu aku melewati masa suram." kata Bita, dengan rasa sesal yang tiba-tiba hadir dalam hatinya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Bita segera mencari Vano.


Namun, sudah mencari sang suami di kamarnya, tempat fitness, kolam renang, perpustakaan pribadi dan tempat lain yang sering Vano datangi di villa tersebut.


Tidak membuat Bita menemukan sang suami. "Ke mana Pak Vano, apa di galeri lukis Ibu," Bita baru mengingat tempat favorit ibu Vivi, dan bisa jadi sang suami berada di sana.


Bergegas Bita pun menuju galeri lukis Ibu Vivi, dan benar saja. Bita mendapati Vano sedang duduk di samping ibu Vivi yang sedang melukis.


Ibu Vivi menghentikan aktifitasnya, lalu menoleh pada Vano. "Nak, ada yang ingin ibu tanyakan padamu,"


"Ya Bu, silakan." ujar Vano sambil menatap sang ibu


"Apa kamu sedang ada masalah?"


Senyum terukir dari kedua sudut bibir Vano mendengar pertanyaan sang ibu. "Tidak,"


"Yakin?" tanya ibu Vivi. Ia seorang ibu yang memiliki ikatan batin dengan anaknya, entah mengapa ia merasa sang putra memang sedang ada masalah.


"Untuk apa aku berbohong pada ibu,"

__ADS_1


Ibu Vivi kini mengusap rambut sang putra dengan sangat lembut. "Jika memang kamu ada masalah, ibu berdoa semoga masalah itu bisa cepat teratasi,"


"Bu, aku benar-benar tidak ada masalah," Vano meyakinkan sang ibu.


Ibu Vivi tidak menanggapi ucapan dari sang putra, dan kini ia beralih menggenggam satu tangan Vano.


"Ibu berharap, kamu akan selalu bahagia bersama dengan Bita. Dan benar-benar melupakan masa lalumu itu,"


Vano menautkan keningnya mendengar apa yang sang ibu katakan.


"Ibu sudah lama mengetahui kamu sering bergonta ganti wanita, dan ibu juga sering mengatakan ke kamu untuk jangan bermain main. Tapi kamu keras kepala,"


"Apa Hazel yang mengatakan pada ibu?" tanya Vano, curiga jika sang sahabat lah yang mengatakan pada sang ibu tentang kebenaran tersebut.


"Kamu tidak perlu tahu. Tapi ibu senang, sekarang kamu sudah menikah dengan Bita. Dan telah meninggalkan masa lalumu,"


"Maafkaan aku Bu, atas masa laluku,"


"Semua orang punya masa lalu Nak. Dan sekarang bagaimana caranya kamu untuk menata masa depan bersama dengan Bita istri kamu. Ibu tahu pernikahan kalian tidak di landasi dengan cinta, tapi percayalah, cinta akan hadir dengan berjalannya waktu."


"Bagaimana jika Bita tidak mencintaiku, Bu?" pertanyaan Vano, membuat ibu Vivi segera menatap dengan lekat wajah sang putra.


"Apa kamu sudah mencintai Bita?"


Membuat ibu Vivi tersenyum lebar mendengar apa yang sang putra katakan.


Sedangkan itu, Bita yang berdiri dan bersembunyi di samping pintu galeri lukis yang terbuka, mendengar semua percakapan dari ibu dan juga anak yang ada di dalam.


Entah mengapa ia langsung tersentuh dengan ucapan yang keluar dari bibir Vano, yang terdengar begitu serius di telinganya.


Niat awalnya untuk menemui Vano, kini Bita urungkan. Dan ia langsung pergi meninggalkan galeri lukis.


Jam di kamar menunjukkan pukul sepuluh malam, tapi Bita benar-benar tidak bisa memejamkan matanya.


Bukan lagi karena mengingat percakapan ibu Vivi dan juga Vano tadi siang di galeri lukis.


Tapi mengingat apa yang Vano lalukan hari ini, karena selama menyandang status sebagai istri dari Vano.


Baru hari ini Bita mendapati Vano memasak untuk makan malam. Dan tidak membiarkan Bita melakukannya.


Yang ada Vano menyuruhnya untuk duduk bersama dengan ibu Vivi dan menunggu makanan yang di masaknya matang.

__ADS_1


Bukan hanya itu, Vano juga melayani Bita dan juga Ibu Vivi di meja makan.


Dan hal itu membuat Bita bingung dan bertanya tanya dengan sikap Vano.


Mungkinkah suaminya tersebut melakukannya, karena ingin mencintai Bita seperti apa yang dikatakannya tadi siang.


Ah entahlah, Bita tidak ingin menerka nerka.


Bita sekarang merebahkan tubuhnya, tapi sejurus kemudian ia beranjak dari tidurnya ketika melihat Vano masuk ke dalam kamar.


"Kamu belum tidur?" tanya Vano, dan berjalan mendekati tempat tidur dimana Bita berada.


"Belum, Pak."


Vano menyodorkan kotak pada Bita. "Ini hadiah pernikahan kita dari Hazel dan juga Zain. Kamu buka saja dulu,"


Bita mengambil kotak tersebut dan membukanya, dimana di dalam kotak tersebut terdapat satu pasang cincin berlian. "Pak ini–"


"Jika kamu mau memakainya aku juga akan memakainya," Vano memotong perkataan dari Bita.


Spontan Bita menganggukkan kepalanya.


Vano pun segera mengambil salah satu cincin tersebut, lalu meraih tangan kanan Bita dan memasang cincin tersebut di jari manisnya, karena tidak ada satu pun cincin yang terpasang di salah satu jari Bita. Mengingat lagi tidak ada cincin dalam pernikahan keduanya.


Membuat Bita hanya diam terpaku sambil menatap sang suami.


Setelah memasang cicin di jari manis Bita, bergantian Vano memasang cicin di jari manisnya sendiri.


Kemudian ia berjalan untuk meninggalkan Bita tanpa mengatakan apa pun.


Namun, langkahnya terhenti ketika Bita memanggilnya.


"Pak, aku mau menerima tawaran Pak Vano, untuk mengandung anak pak Vano."


Perkataan Bita alhasil membuat Vano kembali melangkahkan kaki mendekatinya.


"Kamu yakin?"


"Ya, aku yakin Pak. Dan malam ini juga aku akan melayani Pak Vano."


Sekarang Bita meraih tangan Vano untuk mendekat. "Naiklah Pak." pinta Bita untuk sang suami naik ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Bersambung................


__ADS_2