TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
TERIMA KASIH


__ADS_3

Udara malam yang begitu dingin, tidak terasa oleh Vano dan juga Bita yang sedang melakukan aktifitas panas diatas ranjang, sejak tiga puluh menit yang lalu.


Yang ada keduanya di penuhi peluh karena aktifitas panas yang di lalukan, bukan karena keduanya sudah saling mencintai.


Tapi keduanya melakukan aktifitas panas tersebut, karena kesepakatan yang menguntungkan satu sama lain.


Dan yang pasti, keduanya juga melakukan aktifitas tersebut dalam ikatan pernikahan.


Bita berulang kali menutup mulutnya sendiri, agar suara desaahan yang spontan keluar dari bibirnya tidak terdengar olah Vano.


Karena tidak Bita pungkiri, ia merasakan kenikmatan yang tidak bisa dikatakan olah kata kata, dan sudah berapa kali tubuhnya menegang merasakan puncak kenikmatan yang menyerang tubuhnya, ketika Vano terus bermain diatas tubuhnya dengan lihai.


Namun, beberapa kali juga Vano melepas tangannya. Membuat Bita sebisa mungkin untuk tidak mendesaah, dan untuk mengontrol desaahan yang keluar, Bita mengigit bibirnya.


"Oh Tuhan!" batin Vano, melihat Bita kembali mengigit bibirnya.


Karena bagi Vano, Bita terlihat begitu seksi saat mengigit bibirnya sendiri, di bawah kukungannya.


Dan hal itu benar-benar tidak bisa mengendalikan tubuh Vano, dan terus memompa tubuh sang istri.


"Sial!" batin Vano lagi, untuk merutuki dirinya sendiri. Baru juga bermain tiga puluh menit, Vano tidak bisa lagi menahan senjatanya untuk mengeluarkan ****** *****.


Padahal Vano mengingat, biasanya lebih dari satu jam senjatanya akan mengeluarkan lava, itu pun harus di pancing dengan beberapa gaya.


Tapi ini, baru juga tiga puluh menit, dan dengan satu gaya sudah membuat senjatanya menyerah.


Apa mungkin karena Vano tidak menggunakan pelindung di senjatanya, dan baru kali ini selama melakukan aktifitas panas, Vano tidak menggunakan pelindung.


Dan sensasinya benar benar sangat nikmat, apa lagi ketika Bita beberapa kali menegang, senjata miliknya seperti di hisap dan di pijat dengan nikmat.


Seperti kali ini, akhirnya Vano menyemburkan cairan cintanya di dalam rahim sang istri, setelah dari tadi ia menahannya untuk tidak keluar.


Bukannya langsung mencabut senjatanya, setelah menuntaskan cairan cintanya tumpah sempurna.


Senjata Vano masih betah berada di dalam milik sang istri, yang masih sangat sempit untuk senjatanya.


Padahal Vano tahu persis, Bita sudah tidak perawan dan juga sudah pernah keguguran. Tapi entah mengapa miliknya sungguh masih sempit.


Membuat Vano kembali menggoyangkan pinggulnya, karena senjatanya belum puas menikmati milik sang istri yang baru sekali ia masuki.


"Pak,"


Mendengar Bita memanggilnya, membuat Vano menghentikan aktifitasnya, lalu menatap lekat wajah Bita yang di penuhi peluh.


Refleks tangan Vano mengelap peluh di wajah Bita. "Iya, ada apa?"

__ADS_1


"Aku haus Pak,"


Mendengar jawaban Bita, kini Vano terpaksa melepas senjatanya yang masih berdiri sempurna.


Senjata yang Bita akui sungguh panjang dan juga besar, tidak seperti milik mantan calon suaminya dulu.


"Minuman lah," Vano menyodorkan gelas berisi air putih yang baru saja ia ambil dari atas meja nakas di samping tempat tidur dimana keduanya berada.


Bita yang sudah beranjak dari tidurnya, segera meraih gelas tersebut dan meminum seluruh isinya.


"Apa kamu sudah lelah?" tanya Vano dan kembali mengusap peluh di dahi sang istri.


"Sedikit,"


"Bagaimana jika sekali lagi kita melakukannya?"


Bita menatap pada Vano setelah mendengar apa yang dikatakannya.


Tidak mungkin apa yang di dengarnya benar kan? Bita sangat tahu, Vano tadi sudah mengeluarkan cairan cintanya.


Mana mungkin mampu melakukannya lagi, seperti yang Bita tahu dan alami. Mantan calon suaminya dulu, tidak sanggup untuk melakukan lagi setelah mengeluarkan cairan cintanya.


"Jika kamu tidak mau, juga tidak masalah," kata Vano, karena Bita malah menatapnya, bukan menjawab pertanyaannya.


"Aku mau," spontan Bita mengatakan hal tersebut. Karena tidak di pungkiri, ia ingin merasakan lagi kenikmatan yang bertubi-tubi Vano berikan padanya.


Jangankan mencapai puncak kenikmatan, menikmatinya juga tidak. Saking singkatnya mantan calon suaminya dulu ketika sedang bermain.


Senyum Vano sunggingkan dari kedua sudut bibirnya, karena Bita tidak menolak ajakannya.


"Terima kasih," ucap Vano, kemudian mencium kening Bita, sambil merebahkan tubuhnya perlahan.


Dan keduanya kembali melakukan aktifitas panas, yang membuat keduanya merasakan nikmat yang luar biasa, nikmat sesungguhnya yang baru keduanya rasakan sekarang.


Vano perlahan membuka kedua bola matanya, dan mendapati jam dinding yang berada di dalam kamar sudah menunjukkan jam sepuluh pagi.


Dan baru kali ini selama berada di Villa, Vano bangun kesiangan, padahal biasanya ia akan bangun pagi buta untuk melakukan olah raga.


Mungkin karena aktifitas panas yang ia lakukan beberapa kali semalam dengan Bita, membuatnya tidur sangat pulsa.


Vano kini menoleh ke samping, lalu mengukir senyum. Ketika melihat Bita masih tertidur pulas.


Refleks satu tangannya menarik selimut untuk menutupi tubuh Bita yang masih polos. Tubuh yang sangat indah menurut Vano.


"Terima kasih," Vano mengecup kening Bita sebelum turun dari atas tempat tidur.

__ADS_1


Vano bergegas keluar dari dalam kamar, berniat untuk memasak sesuatu, bukan hanya untuknya dan juga Bita. Tapi untuk sang ibu, yang pasti sudah menunggu.


Vano menghentikan langkah ketika berada di ruang tengah, karena sang ibu sedang berada di ruangan tersebut sambil menonton televisi.


"Kamu sudah bangun Nak?" tanya Ibu Vivi, sambil mengukir senyum.


Vano menganggukkan kepala. "Maaf Bu, aku bangun kesiangan. Aku akan membuat makanan,"


"Tidak perlu Nak, ibu sudah memasak untuk kalian,"


Vano menautkan keningnya dan mendekati sang ibu. "Kenapa ibu melakukan hal itu? Kalau Ibu kelelahan bagaimana?" tanya Vano, yang selalu meminta sang ibu untuk tidak melakukan pekerjaan apa pun.


"Lihatlah, ibu baik-baik saja. Duduklah!" perintah Ibu Vivi.


Tentu saja Vano segera mengikuti perintah sang ibu.


"Ibu ingin kembali ke rumah, Nak."


"Nanti saja Bu,"


"Kenapa?"


"Tidak ada apa-apa, karena menurut aku. Udara disini lebih baik dari pada di rumah,"


"Bukan karena kamu takut, ibu tahu sebenarnya kamu sedang ada masalah dan menghindar dari masalah itu?"


Vano langsung menautkan keningnya menatap pada sang ibu.


"Ibu baru melihat berita di televisi yang memberitakan kamu men—


"Bu, jangan dengarkan berita yang tidak benar itu," sambung Vano memotong perkataan dari sang ibu.


"Jika tidak benar, kenapa kamu harus menghindar Nak? Seolah olah kamu membenarkan berita itu."


"Aku punya alasan untuk menghindar, Bu."


Ibu Vivi kini meraih dagu Vano, dan menatapnya dengan lekat. "Apa benar kamu melakukan hal itu?"


"Tidak, Bu."


"Jika tidak, secepat mungkin kamu harus membuat kelarifikasi."


Namun, belum juga Vano menimpali ucapan dari sang ibu. Ia mendengar Bel pintu berbunyi.


"Nak, apa jangan-jangan itu polisi yang sedang mencari kamu?" tanya ibu Vivi yang baru tahu, sang putra juga sedang dicari oleh polisi, atas kasus yang sedang menimpanya.

__ADS_1


Bersambung............


__ADS_2