
Vano merasa bodoh, untuk apa ia tetap berada di rumah sakit, hanya untuk menemani Bita yang berstatus sebagai istri tanpa cinta, dimana dia harus rawat inap di rumah sakit.
Padahal hari ini ia akan pergi ke lokasi pemotretan dan selanjutnya pergi ke lokasi syuting.
Bodoh bukan? Jika ia hanya duduk di sofa sambil menatap perempuan yang beberapa kali membuat senjatanya berdiri, dan saat nafsunya sudah di ubun-ubun seketika terlempar ke dasar jurang yang sangat dalam.
"Bodoh sekali, untuk apa aku tetap berada disini," Vano baru menyadari jika dirinya bodoh.
Kemudian ia beranjak dari duduknya, sambil memutar bola matanya melihat Bita yang sudah berada di atas ranjang perawatannya.
"Pak," panggil Bita mengurungkan niat Vano yang akan melangkah meninggalkan ruang perawatan VIP, dimana hanya ada satu ranjang perawatan yang sedang Bita tiduri, dengan selang infus terpasang di salah satu lengan Bita. "Pak Vano tadi tidak jadi memasukkan anu kan?" tanya Bita ambigu.
Ketika mengingat, ia tidak sadarkan diri saat Vano ingin memasukkan senjatanya.
Vano menautkan keningnya mendengar pertanyaan dari Bita, dan ia yang ingin melangkah menuju pintu ruang perawatan tersebut, kini beralih berjalan mendekati ranjang perawatan dimana Bita berada.
"Pertanyaan macam apa itu, hah?! Pakailah bahasa yang baik dan benar!"
"Itu Pak, batang Pak Vano tidak masuk kan?"
"Meskipun aku bejad. Tapi pantang untukku menggauli perempuan pingsan, paham!"
Bita menghela nafas lega, karena apa yang di pikirkan jika Vano sudah menidurinya tidak terbukti.
"Syukurlah,"
Sekarang Vano mengangkat sebelah alisnya, mendengar perkataan dari Bita.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?"
"Tidak apa-apa Pak, sepertinya kita harus jaga jarak,"
"Kita suami istri untuk apa jaga jarak?"
Sebelum menjawab pertanyaan dari Vano, Bita beranjak dari tidurnya lalu duduk diatas ranjang perawatan, tak lupa menatap pada Vano dengan tatapan serius.
"Kita memang suami istri Pak, tapi tanpa cinta. Dan aku tidak ingin tidur dengan Pak Vano. Bukan hanya karena aku tidak mencintai Pak Vano. Tapi lebih menjaga diri, aku tidak ingin hal tadi terulang lagi. Karena aku tahu, Pak Vano mau meniduri aku bukan karena cinta, tapi nafsu,"
Vano mendengar seksama apa yang Bita katakan, dan itu benar adanya. Tidak ada sedikit pun rasa yang Vano rasakan untuk Bita, dan ingin melakukan hubungan badan hanya karena nafsu.
"Dan ya, aku tidak ingin mengulang kejadian. Saat aku sedang hamil ditinggal, karena aku sangat yakin. Cepat atau lambat Pak Vano akan meninggalkan aku," sambung Bita lagi. Yang sudah berpikir jauh hubungannya kedepan dengan Vano seperti apa.
"Mau kamu apa?" tanya Vano setelah mendengar perkataan Bita panjang lebar.
"Ish, Pak Vano bodoh! Bukannya dari awal aku bilang kita jaga jarak,"
__ADS_1
"Kalau ngomong bodoh tidak usah pakai penekanan, tulul!" kesal Vano mendengar kata Bodoh keluar dari bibir Bita.
"Ya maaf,"
"Oke, aku ikuti kemauan kamu. Tapi ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu,"
"Katakan saja!" perintah Bita.
"Jangan meminta cerai dariku, selama ibu masih hidup, mengerti! Aku menikahi kamu hanya karena ibu,"
"Oke!"
Bita memicingkan matanya menatap pada Vano, yang masih tetap berdiri di tempatnya, padahal ia sudah mengatakan oke, untuk mengiyakan apa yang dia mau.
"Untuk apa Pak Vano masih berada disini? Sana pergi!" usir Bita, sekelibat otaknya mengingat benar, sebelum ia jatuh tidak sadarkan diri. Keduanya matanya melihat betapa besar dan juga panjang senjata milik Vano, berbeda dengan mantan calon suaminya, yang memiliki senjata pas pasan. "Jika Pak Vano tetap berada disini, Pak Vano membuat otakku traveling tahu," jujur Bita.
Vano hanya mengangkat sebelah alisnya mendengar apa yang dikatakannya. Lalu berjalan untuk meninggalkan ruang perawatan sang istri.
Namun, sebelum benar-benar keluar dari dalam ruangan tersebut Vano menoleh pada Bita yang masih berada di tempatnya. "Jika ada sesuatu kabari aku,"
"Iya Pak!" sahut Bita.
"Selamat siang," ucap Vano sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Namun, Bita tidak menghiraukan ucapan Vano. Yang ada ia langsung merebahkan tubuhnya kembali, karena pusing di kepalanya juga belum hilang, meskipun demamnya sudah hilang.
***
Tentu beberapa model baru rekan kerjanya hari ini, menghampiri Vano yang sedang duduk beristirahat menunggu gilirannya melakukan pemotretan untuk brand ternama, dan mereka ingin berfoto bersama dengan Vano.
Vano menelisik salah satu model wanita yang belum beranjak dari tempatnya, setelah beberapa model lain pergi setelah foto bersama dengannya.
"Hei, ada apa?" tanya Tan yang berdiri di sisi kursi yang di duduki oleh Vano, pada wanita yang kini menarik kursi dan duduk di samping Vano.
Vano mengangkat sebelah alisnya, melihat wanita tersebut.
"Apa kamu melupakan aku, Van? Jahat sekali kau, padaku," ucap Luna, model yang baru bergabung dengan agensi model, dimana Vano bernaung selama ini.
Vano mengamati wanita tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sempurna, kata yang cocok untuk mendeskripsikan betapa sempurnanya wanita tersebut.
"Kamu siapa?" tanya Vano.
Namun, bukannya menjawab pertanyaan Vano. Wanita tersebut malah memperlihatkan sebuah foto di dalam ponselnya pada Vano.
Vano memicingkan matanya, melihat foto dirinya dan juga wanita tersebut yang begitu dekat.
__ADS_1
"Kamu tidak ingat, Van. Kita pernah menghabiskan malam bersama, di sebuah pulau,"
Tentu saja Vano tidak akan mengingat hal itu, karena seringnya ia menghabiskan malam dengan wanita. Dan setelah itu, ia akan melupakan apa yang sudah dilakukannya.
"Luna, Van. Aku Luna." ujar Luna berharap Vano akan mengingat dirinya. "Apa kamu juga lupa, dengan Joe?"
Mendengar nama Joe disebut, tentu saja Vano semakin intens menatap pada wanita tersebut. "Kamu istri Joe?" tanya Vano, mengingat rekannya yang sudah berpindah negara.
Bukan hanya mengingat Joe, tapi juga sekarang ia mengingat Luna, wanita yang ia tiduri. Malam sebelum Luna dan juga Joe menikah, tentu keduanya melakukan dengan sadar, saat semua orang sedang mabuk ketika sedang menghadiri acara pesta bujang.
"Dulu," jawab Luna singkat.
"Jangan bilang kamu–"
"Aku sudah lama bercerai dengannya,"
"Kenapa?"
"Setelah aku tahu, dia suka pedang dan juga tempe,"
Vano menahan senyum mendengar jawaban dari Luna.
"Van, tidur bareng lagi yuk!" ajak Luna.
Entah mengapa Vano mendapat angin segar mendengar ajakan dari Luna, kebetulan ia yang beberapa kali gagal menusuk sang istri. Ingin rasanya menusuk orang lain untuk menyalurkan hasrat yang beberapa kali harus ia pendam.
"Oke, setelah pemotretan."
***
Dan benar saja, Vano dan Luna langsung menuju kamar hotel setelah menikmati makan malam.
Vano tidak lepas menatap setiap inci tubuh Luna yang sudah tidak mengenakan sehelai benang pun di atas ranjang.
"Came on, Van!" kata Luna.
Membuat Vano segera melucuti pakaian yang dikenakannya, lalu naik keatas ranjang.
"Milikmu tidak berubah, tetap besar dan juga panjang meskipun belum bangun, Van," ujar Luna, dengan satu tangannya memegang senjata milik Vano dan memainkannya.
Namun, bukannya menikmati permainan tangan dan sekarang permainan mulut dari Luna, yang ada Vano mengingat Bita sang istri.
Lalu ia menjangkau ponsel miliknya yang berdering, diatas meja tepat di samping ranjang kamar hotel dimana ia dan Luna berada.
Lalu menautkan keningnya, baru saja Vano mengingat sang istri, sekarang Bita menghubungi ponselnya.
__ADS_1
Bersambung...............