TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA

TERPAKSA MENIKAH DENGAN CASSANOVA
AKU INI ISTRIMU


__ADS_3

Bita beranjak dari tempatnya ketika sang suami tak lagi mengungkung tubuhnya. Dan sekarang bergegas turun dari tempat tidur.


"Sayang, siapa yang berada di rumah sakit?" tanya Bita penasaran, setelah mendengar sang suami mengatakan kata rumah sakit entah dengan siapa dari balik sambungan ponselnya.


Apa lagi sekarang wajah sang suami terlihat bersedih.


"Ibu dilarikan ke rumah sakit, sayang. Aku harus segera pergi ke rumah sakit,"


"Aku ikut." Mendengar jawaban dari sang suami, membuat Bita merasa kuatir dengan keadaan ibu mertuanya, kemudian turun dari tempat tidur.


Bagaimana pun, Bita ingin tahu keadaan ibu Vivi secara langsung yang sudah Bita anggap sebagai ibunya sendiri.


Vano dan juga Bita segera menuju ke rumah sakit, setelah keduanya hanya mencuci muka.


Ingin segera menemui ibu Vivi. Apa lagi Vano yang selalu menganggap sang ibu adalah segalanya, tidak ingin terjadi apa-apa dengan sang ibu, yang kemarin sudah mengetahui jika ia pernah berkecimpung di dunia permafiaan obat terlarang.


Bita yang menyadari sang suami begitu cemas, meraih satu tangan Vano dan menggenggamnya dengan sangat erat.


Vano yang sedang fokus dengan jalan yang dilaluinya, menoleh pada sang istri sambil menunjukkan senyum seadanya yang bisa ia tunjukkan dalam keadaannya sekarang.


"Sayang, aku tahu apa yang kamu rasakan sekarang. Tapi percayalah, ibu akan baik-baik saja," kata Bita agar sang suami tidak cemas lagi.


Vano hanya menganggukkan kepalanya, dengan tatapan terus fokus pada jalanan yang dilalui mobilnya.


Karena saat ini hanya sang ibu yang memenuhi pikirannya, apa lagi Tan sang asisten yang membawa sang ibu ke rumah sakit mengatakan jika ibu Vivi sekarang sudah berada di ruang ICU, yang artinya sang ibu tidak baik-baik saja.


Setelah tiba di rumah sakit, Vano segera berlari menuju dimana Tan sang asisten berada.


Meninggalkan Bita yang tahu sang suami sedang mengkuatirkan sang ibu.


Tapi di hati kecil Bita, ia merasa sedih dengan sikap Vano kali ini, yang langsung meninggalkannya tanpa mengatakan apa pun.


Meskipun Bita tahu, tidak seharusnya ia merasa bersedih dengan sikap sang suami kali ini. Karena bagiamana pun, ibu Vivi adalah ibu kandung sang suami, apa lagi Bita tahu jika Vano adalah salah satu anak yang sangat menyayangi sang ibu, dan rela melakukan apa pun hanya demi sang ibu.

__ADS_1


Namun, bukan mengenani ibu mertuanya yang membuat Bita sedih karena sang suami mengabaikannya.


Tapi pada istri ke dua sang suami, bagaimana jika Vano menginap bersama istri keduanya. Pasti membuat Bita semakin bersedih, di abaikan sang suami dan itu karena ibu mertuanya, Bita saja sudah merasa sedih seperti ini.


Entah mengapa saat ini, Bita hanya ingin sang suami menjadi miliknya, tanpa peduli dengan istri siri Vano, apakah mungkin karena ia sudah mencintai suaminya? Entahlah.


Tangis tidak bisa lagi Vano tahan setelah Tan sang asisten yang membawa sang ibu ke rumah sakit.


Mengatakan jika kondisi sang ibu tidak baik-baik saja, dan belum sadarkan diri di dalam ruang ICU.


Tan menepuk punggung Vano yang sedang berdiri di depan ruang ICU, dimana sang ibu berada.


"Sabar ya Bos," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir Tan. Tahu betapa sedihnya sang bos, mendapati keadaan ibu Vivi.


"Kenapa ini bisa terjadi? Aku menyuruh kamu untuk menjaga ibu semalam?" tanya Vano yang memang menyuruh Tan untuk mengawasi sang ibu. Ketika ia memilih menginap di rumah sang istri.


"Semalam ibu baik-baik saja Bos, dan saat pagi-pagi aku ke kamar untuk membangunkannya, ibu Vivi sudah tidak sadarkan diri diatas tempat tidurnya," jelas Tan yang sebenarnya.


"Arghhhhh!" Vano memukul tembok, untuk merutuki dirinya sendiri, karena semalam memilih menginap di rumah sang istri ketimbang pulang ke rumah.


Begitupun dengan Bita yang sudah menghampiri sang suami, ia terus menguatkan Vano.


"Sayang, makan dulu ya," Bita kali ini membujuk sang suami. Setelah hampir tiga jam di rumah sakit, Vano belum makan apa pun, apa lagi tadi sebelum berangkat ke rumah sakit sang suami tidak makan apa pun.


"Aku tidak ingin makan apa pun." tolak Vano, tanpa menoleh pada Bita yang duduk tepat disampingnya di sebuah ruang tunggu yang ada di rumah sakit tersebut.


Apa lagi dokter yang menangani ibu Vivi mengatakan jika kondisinya tidak baik-baik saja.


"Sayang, jangan–"


"Diam!" bentak Vano memotong perkataan dari Bita.


Tentu saja hal itu membuat Bita terkejut. "Kenapa kamu membentakku hah? Apa aku salah?" tanya Bita sedikit kesal dengan sikap suaminya tersebut.

__ADS_1


Bukannya menjawab pertanyaan dari Bita, Vano hanya menoleh padanya sekilas. Kemudian beranjak dari duduknya. "Maaf," ucapan yang keluar dari bibir Vano sebelum meninggalkan Bita.


Hembusan nafas kasar keluar dari bibir Bita, kenapa juga ia harus menimpali ucapan dan Vano. Harusnya ia tahu kenapa sang suami bersikap seperti barusan.


Mungkin saja jika Bita yang berada di posisi sang suami, melihat kondisi seseorang yang sangat disayanginya, pasti pikirannya akan berkecamuk tidak karuan.


Bita menatap kotak makanan yang ada di tangannya, yang tadi Tan belikan. Kemudian ia memakan makanan tersebut, sebelum menyusul sang suami.


Vano kembali menuju ruang ICU dimana sang ibu berada, meskipun ia tidak boleh masuk tanpa ijin dari dokter yang menangani sang ibu.


Tapi tidak masalah untuk Vano jika tetap berdiri di depan ruang ICU dimana sang ibu berapa. Berharap sang ibu segera sadar.


Namun, belum juga sampai tujuannya. Vano melihat Meysa dan juga kedua orang tuanya sedang berbincang dengan Tan tepat di depan ruangan dimana ibu Vivi berada.


Melihat keberadaan sang suami, Meysa berjalan mendekati Vano dengan kesedihan yang tidak bisa ditutupi, mengetahui ibu mertuanya tidak baik-baik saja.


"Sayang," Meysa yang sudah mendekati Vano, segera memeluk tubuhnya. "Sabar ya sayang," kata Meysa sambil memeluk sang suami.


"Lepas!"


Meysa segera melepas pelukannya mendengar perintah dari sang suami.


"Aku yakin ibu akan segera sadar, sayang."


Vano tidak menghiraukan ucapan dari Meysa dan terus melangkah mendekati ruangan dimana sang ibu berada. Diikuti oleh sang istri dari belakang.


"Sayang, aku baru menyuruh papa berbicara dengan dokter yang menangani Ibu. Jika kamu mau, aku dan papa ingin memindahkan ibu ke rumah sakit yang ada di luar negeri, yang memiliki peralatan medis lengkap dan moderen, dan kata dokter itu ide yang bagus."


Vano menghentikan langkahnya, lalu menoleh pada Meysa yang ada di sampingnya.


"Kenapa kamu baik sekali padaku? Sedangkan aku selalu tidak peduli padamu?" tanya Vano, karena jujur Meysa sejak dulu sangat baik padanya. Apalagi sekarang saat Vano tidak bisa berpikir, Meysa punya solusi yang baik untuk sang ibu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu sayang. Aku ini istrimu, tentu saja aku akan baik padamu."

__ADS_1


Bersambung..............


__ADS_2