
Namun, Bill tidak menjawab pertanyaan dari Bita yang ada ia kini membuka pintu mobil dimana dirinya berada.
Dan sebelum keluar dari dalam mobil, terlebih dahulu Bill menoleh pada Bita, yang masih terlihat bingung. "Jika kamu tidak mau ikut, tunggu saja di dalam mobil,"
Menunggu di dalam mobil? Oh tentu saja Bita tidak mau. Apa lagi tidak jauh dari mobil Bill terparkir terdapat mobil jenazah, membuat bulu kuduk Bita berdiri.
Kemudian Bita keluar dari dalam mobil mengikuti Bill, dan berjalan mendekatinya. "Bill, siapa yang sakit?" tanya Bita penasaran karena Bill malah membawanya ke rumah sakit, padahal ia sangat lapar.
Bill menjawab. "Semua rekanku," dan ia terus melangkahkan kakinya menyusuri lobi rumah sakit tersebut.
Rekanku? Yang artinya Putri sang sahabat juga berada di rumah sakit pikir Bita.
Bita sedikit berlari mengikuti langkah panjang Bill. "Termasuk Putri?" tanya Bita penasaran.
"Iya,"
"Tapi aku tahu dia tidak sedang sakit,"
"Markas kita di serang segerombolan orang yang tidak di kenal,"
"Apa?!" tentu saja Bita sangat terkejut mendengar perkataan dari Bill.
Bita juga menghentikan langkahnya, ketika Bill terlebih dahulu menghentikan langkahnya.
Bulu kuduk Bita berdiri, ketika baru menyadari tulisan ruang jenazah tidak jauh dari tempatnya berada, dan melihat segerombolan orang yang sedang berdiri di depan kamar jenazah tersebut.
Dengan refleks, Bita memeluk lengan Bill.
Membuat pemilik lengan menoleh kearahnya.
"Aku takut Bill," jujur Bita yang benar adanya.
"Eleh, modus! Bilang saja sengaja ingin memeluk Bill,"
Suara wanita yang sangat Bita kenal, membuatnya segera melepas lengan Bill. Lalu menatap kearah sumber suara.
Bita menautkan kedua aslinya ketika melihat Putri, dan salah satu lengannya terbungkus perban. Kemudian Bita memegang lengan sang sahabat tersebut.
"Dasar bodoh! Sakit pea!"
"Maaf, apa yang terjadi padamu Put?"
Tentu saja Putri tidak menjawab pertanyaan dari Bita, karena jika ia menjawab pertanyaannya dan menjelaskan apa yang terjadi, belum tentu sahabatnya tersebut mengerti.
"Bill, bukan hanya Denis yang meninggal, tapi juga Bara," kata Putri memberi tahu pada Bill tentang rekannya, yang terkena tembakan dari segerombolan orang yang menyerang markasnya.
Bill menunjukkan wajah sedih, lalu meninggalkan Bita dan juga Putri, menuju rekan pria yang sedang berada di depan kamar Jenazah.
Setelah kepergian Bill, Bita menatap pada Putri. "Put–
__ADS_1
"Jangan tanyakan apa pun padaku!" sambung Putri memotong perkataan Bita, lalu menarik tangan sahabatnya tersebut untuk menjauh dari kamar jenazah.
"Sudah aku bilang berapa kali padamu, kamu ini perempuan Putri. Tidak seharusnya kamu ikut para pria dengan hobi yang ekstrem, jadinya seperti ini kan?" nasihat Bita, yang sudah sering sekali mengingatkan Putri untuk meninggalkan hobinya tersebut.
"Ini hanya sakit sedikit, jadi aman. Kamu tenang saja,"
"Tenang kamu bilang? Sungguh tidak bisa di percaya."
"Oh ya, bagaimana makan malammu dengan Bill?" tanya Putri untuk mengalihkan pembicaraan awalnya.
"Baru juga sampai tempat makan malam, dia sudah mengajak aku ke rumah sakit. Menyebalkan bukan?"
"Sabar, jika kamu menyukai dia. Mulai dari sekarang kamu di larang marah atau menuntut apa pun pada Bill, karena Bill setia kawan. Dan dia lebih mementingkan teman temannya di banding pasangannya sendiri,"
Bita memicingkan matanya. "Kamu tidak sedang bicara omong kosong?"
"Untuk apa, aku sudah mengenal Bill lama. Tentu tahu semua tentangnya, jangankan meninggalkan pasangannya, meninggalkan acara penting orang tuanya, dia juga sering,"
"Ish, sungguh tidak bisa di percaya,"
"Ya begitulah Bill, aku memberi tahu. Agar kamu tidak terkejut jika nanti jadian dengannya,"
"Apa menurut kamu Bill menyukai aku, Put?"
"Mana aku tahu,"
Putri tidak jadi meneruskan ucapannya, ketika Bill berjalan mendekatinya. Dimana ia dan juga Bita sedang duduk di bangku tunggu yang ada di lobi rumah sakit tersebut.
"Gue akan nganter lo pulang," kata Bill yang sudah berdiri di hadapan Putri.
"Kapan mereka akan di makamkan?"
Namun, Bill tidak menjawab pertanyaan dari Putri. Yang ada ia menarik salah satu tangannya untuk beranjak dari duduknya, lalu memegang pinggang Putri untuk menuntunnya.
"Kita pulang,"
Putri melepas tangan Bill dengan kasar. "Tapi tidak seperti ini juga kali,"
"Mari," Bill mempersilakan putri untuk berjalan tersebut dahulu.
Tentu saja langsung di tolak oleh Putri, lalu ia menoleh pada Bita sekilas sebelum kembali menatap pada Bill.
"Gue bisa pulang diantar Brama. Lo antar Bita pulang saja, takut kemalaman," kata Putri, tahu mobil yang Bill bawa hanya memiliki dua bangku.
"Brama yang akan mengatar Bita,"
"Tidak bisa, lo yang jemput Bita. Dan lo juga yang harus mengantarnya," Putri melangkahkan kaki mendekati Brama rekannya, yang baru saja menghampirinya. "Anterin gue pulang!"
Belum juga Brama mengatakan sesuatu, Putri sudah terlebih dahulu menarik satu tangannya, dengan tatapan tertuju pada Bita yang sedari tadi hanya diam sambil menatap pada Bill.
__ADS_1
"Ta, aku pulang dulu,"
"Iya!" sahut Bita spontan. Dengan tatapan terus tertuju pada Bill, dimana pria yang sedang di tatapnya terus menatap kepergian Putri sang sahabat.
Hingga deheman dari Bita membuat Bill segera menoleh kearahnya. "Em, maaf. Mari aku antar pulang,"
***
Bita benar-benar bingung dengan Bill yang sedang mengendarai mobilnya, jika keberangkatan keduanya, Bill sangat asik. Berbeda dengan saat ini, mungkin karena Bill sedang bersedih.
Membuat Bita tidak mengatakan apa pun, dan hanya diam di dalam mobil Bill, yang sejak keluar dari rumah sakit terus mengikuti mobil yang ada di depannya.
Dan setelah setengah perjalanan, jalanan yang harusnya Bill lalui jika ingin mengantar Bita pulang, malah terlewat.
Membuat Bita langsung menoleh kearahnya. "Bill jalanan–
"Ya aku tahu. Tapi aku ingin memastikan Putri sampai rumah, aku tidak ingin terjadi sesuatu padanya,"
Bita yang masih menatap pada Bill, kini menautkan keningnya mendengar apa yang dikatakannya.
"Bill, apa kamu—
Bita tidak jadi meneruskan ucapannya, ketika mobil yang dikendarai oleh Bill, kini berhenti di halaman rumah sederhana, yang Bita tahu itu adalah rumah Putri.
"Aku turun dulu," Bill turun dari dalam mobil meninggalkan Bita.
Bita yang juga akan keluar dari dalam mobil, segera menautkan keningnya melihat Bill memaksa Putri menuntunnya hingga masuk ke dalam rumah.
"Apa Bill menyukai Putri? Ah tidak mungkin," kata Bita melihat gerak gerik Bill yang begitu peduli dan juga perhatian pada Putri.
Tentu saja Bita yakin, tidak mungkin Bill menyukai sahabatnya itu. Jika iya, tentu saja sudah sejak lama pasti Putri akan mengatakan padanya.
Tapi nyatanya Putri mendukungnya bersama Bill. Dan Bita yakin, Bill pasti menyukainya, dan perhatian yang Bill berikan pada Putri, hanya sekedar kawan. Seperti yang Putri katakan, jika Bill akan mengabaikan apa pun jika rekan rekannya sedang mendapat musibah.
Kini Bita keluar dari dalam mobil, yang langsung di hampiri oleh Brama yang tadi mengantar Putri. "Cantik sekali bidadari ini,"
"Terima kasih," kata Bita, dan ingin melangkahkan kakinya menuju rumah Putri sang sahabat, tapi tangannya langsung di cekal oleh Brama.
"Mau ke mana? Sini saja, jangan mengganggu Bill. Biarkan dia berusaha mengejar cintanya,"
Mendengar apa yang Brama katakan, membuat Bita langsung menoleh kearahnya, sambil memicingkan mata. "Apa maksud kamu?"
"Bill sudah sangat lama menyukai Putri,"
"Apa?!"
Bersambung...............
Maaf ya guys berapa hari tidak up, karena benar-benar sibuk dengan dunia nyata, yang membuat lelah jiwa dan raga 😅
__ADS_1