Tetap Jadi Malaikatku

Tetap Jadi Malaikatku
Harapan di hari selanjutnya


__ADS_3

✨Happy Reading...


Lalu, aku masuk ke dalam rumah dan langsung di interogasi oleh mama. Dia bertanya panjang lebar tentang Kakak pembinaku yang ternyata bernama Dipa. Karena malas dengan pertanyaan mama yang semakin banyak aku pun beranjak masuk ke kamarku lagi.


" Dipa....hah ngapain aku jadi inget-inget nama dia!!!" ucapku sendirian sambil menggetok kepalaku dengan tanganku sendiri.


Tak ku sangka aku bisa mengingat nama yang sebenarnya tak pernah mau ku ingat. Seharian yang kulalui di sekolah karena nya begitu membekas rasanya.


Hari pun berangsur mulai gelap, aku yang sedari tadi hanya bermain hape di kamar mulai sayu dan tertidur dengan sendirinya.


Namun, tiba-tiba ku lihat kak Dipa berada di sebelah ku. Dia tersenyum aneh sedang tidur di sampingku. Tiba-tiba ruangan di kamarku menjadi semakin horor. Terdengar suara nafas ku terburu-buru karena di hantui rasa kaget juga ketakutan. Kak Dipa mengulurkan tangannya ke leherku lalu ia pun mencekikku sampai aku hampir kehabisan nafas. Sambil tertawa menggelegar dia tersenyum aneh kembali. Senyumannya tiba-tiba semakin melebar, bibirnya yang merah itu tersenyum menganga dan semakin melebar sampai merobek kulit pipinya.

__ADS_1


"huwaaaaaaaa" Aku pun terbangun dari bantal ku bersandar.


Ku dapati tubuhku telah berada di bawah ranjang tempat tidurku. Aku lalu berucap syukur ternyata hal menakutkan tadi yang ku alami hanyalah sebuah mimpi. Lalu ku tengok jam yang berada di sebelah ranjang ku ternyata sudah menunjukkan pukul enam pagi. Akupun bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap pergi ke sekolah.


Setelah siap aku langsung menuju ke meja makan untuk pergi sarapan. Aku pun mencari-cari mama dahulu namun ternyata Mama telah berangkat duluan ke kantor. Akhirnya aku sarapan sendirian dengan menu nasi goreng yang Mama telah siapkan di meja makan.


Sebenarnya aku hanya tinggal berdua dengan mama, karena kebetulan tahun ini papaku dinasnya di pindahkan ke luar kota. Mungkin sudah sekitar sepuluh bulan papa tidak pulang karena memang proyek yang ia dapatkan benar-benar tidak dapat di tinggalkan.


Sembari menghabiskan nasi goreng di piring, terdengar suara si Fero dari depan berteriak-teriak memanggil namaku. Dia lalu masuk menuju ruang makan dan duduk di hadapanku.


" udah stell aku kenyang banget lagian, aku udah sarapan tadi" ucapnya sambil mencomot sebuah roti yang tersedia di meja makan.

__ADS_1


"hahahha ini cuma nyicil loh fer" riuh suara tawa Fero yang mentertawakan tingkahnya sendiri karena sepotong roti.


Gelak tawa pun memulai pagi di meja makan hari ini.


"oh iya aku lupa Fer, kamu tau gak kakak kelas yang kemarin aku ceritain itu.... ternyata dia tinggal di sebelah rumah". ucapku kepada Fero.


"HAAAAAA... Apa yang kamu bilang? serius ini stel?" sahut Fero ternganga karena tak percaya pada kata-kataku.


Kemudian aku ceritakan semua pada si Fero hal-hal yang terjadi padaku di sekolah kemarin. Tentang betapa jahatnya kak Dipa padaku. Tentang kemarin, dia si pembina tengil yang tiba-tiba muncul di rumahku.


"isshhh tuh orang parah banget sih stelll,,, apalagi sekarang dia jadi tetangga kamu juga" ujar Fero terlihat kesal karena sahabatnya di bully oleh kakak kelasnya.

__ADS_1


"semoga hari ini bisa beda gak kayak kemarin ya Fer" ucapku sambil merapikan kembali meja makan


Terlihat jam sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi. Aku dan Fero bergegas untuk berangkat ke sekolah


__ADS_2